
Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela yang ada di apartemen Nathan. Mutia membuka matanya dan dilihatnya Nathan yang lagi tertidur sambil memeluk dirinya.
Mutia tidak ingat beberapa kali mereka Melakukannya, yang Mutia tahu sekarang badannya terasa sakit. Mutia menyingkirkan tangan Nathan yang memeluk dirinya. Mutia berusaha untuk bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi dengan menahan sakit di bawahnya.
Mutia membasahi seluruh tubuhnya dan mengosok tubuhnya agar kejadian semalam hilang dari tubuhnya. Tapi yang dirasakan sekarang oleh Mutia adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Mutia keluar dari kamar Nathan dan dilihatnya Nathan masih tertidur dengan sangat pulas.
Mutia pun menyiarkan sarapan untuk Nathan. Walaupun sejujurnya Mutia tidak tahu makanan kesukaan Nathan seperti apa.
Setelah selesai masak, Mutia menyiapkan Semuanya di meja makan dengan meninggalkan sebuah memo untuk Nathan
"Terima kasih sudah membantu nenekku, dan ini aku buatkan makanan spesial untuk bapak".
Itu adalah pesan yang Mutia tulis untuk Nathan sebagai ucapan terima kasih. Mutia mendapatkan pesan dari bank kalau ada sejumlah uang yang masuk di rekening Mutia.
Mutia hari ini izin tidak masuk kerja, dia mau menjenguk neneknya. Setelah selesai semuanya, Mutia pergi dari Apartemen milik pak bosnya.
"Semoga nenek cepat sembuh, ya Allah" batin Mutia sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Mutia langsung pergi keruang IGD tempat nenek dirawat. Mutia ingin melihat nenek dulu, baru ke ruang admistrasinya untuk membayar biaya operasi nenek.
"Suster, aku boleh melihat nenekku" tanya Mutia kepada suster jaga yang ada didepan ruang IGD.
"Mbak, cucunya nenek Siti" tanya suster balik. Mutia menganggukkan kepalanya.
"Maaf mbak, nenek Siti satu jam yang lalu telah menghembuskan nafas terakhirnya" Suster itu berkata.
"Sus, itu tidak mungkin terjadi. Aku sudah membawakan uang untuk operasi nenek. Suster pasti bercanda".
"Tidak, ayo mbak ikut aku" sahut Suster dan mengajak Mutia untuk menemui neneknya.
Sekarang yang ada hanyalah tangisan Mutia, Mutia merasakan dunia dia hancur. Demi sang nenek, Mutia harus merelakan keperawanannya Tapi itu tidak ada gunanya lagi nenek sudah meninggalkan Mutia untuk selama-lamanya.
Setelah mengantar nenek ketempat peristirahatan terakhirnya, Mutia memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Fitri pun tidak bisa menemuinya, tetangga-tetangga disekitar rumah Mutia tidak terlalu peduli dengan Mutia dan nenek karena itu membuat Fitri selalu kesal dengan tetangga-tetangga Mutia.
POV Nathan
Sudah satu Minggu ini, aku tidak melihat OB yang menghabiskan malamnya bersama aku. Rasanya ingin aku ulang lagi malam itu, kenapa tubuhnya membuat aku ketagihan.
Tapi waktu aku tanya dengan salah satu OB, katanya dia memang mengambil cuti selama satu Minggu karena neneknya meninggal. Apakah neneknya tidak sempat di operasi??.
__ADS_1
Ada rasa bersalah di dalam hati ini, setelah tahu bahwa neneknya tidak selamat.
Setelah satu Minggu meninggalnya nenek, Mutia kembali lagi ke tempat kerjanya. Mutia bersikap santai seakan tidak terjadi suatu apapun dengan dirinya.
Mutia juga tidak pernah mendengar kabar tentang pak bosnya, dari pagi Mutia selalu merasakan sakit di perutnya. Mutia sudah minum obat tapi rasa sakitnya belum juga berhenti. Seharian bekerja Mutia menahan rasa sakit, tapi dia membuat seolah-olah dirinya sehat.
Hari ini sebelum pulang ke rumah, Mutia mampir dulu ke apotek untuk membeli obat pereda rasa sakit. Mutia tiba-tiba pingsan waktu sudah tiba di depan pintu rumahnya.
Mutia mencium bau alkohol didalam sebuah ruangan.
"Kamu sudah sadar" sapa seorang perempuan.
"Iya, aku dimana?" tanya Mutia balik.
"Kamu sekarang berada di klinik tempat aku bertugas, namaku Alisa. Aku dokter disini" ujar Alisa.
"Terima kasih Dok" ucap Mutia.
"Nama kamu siapa?, kamu itu harus banyak istirahat. Kasihan bayi yang ada didalam kandunganmu" sahut Alisa memperingati Mutia.
"Maksud Dokter, aku sekarang hamil" tanya Mutia terkejut dan memegangi perutnya.
"Iya Dok" Mutia tidak bisa menahan tangisannya. Dia pun menangis sambil mengusap perutnya.
"Tenang nak, aku akan menjagamu. Kamu adalah penganti bagi orang-orang yang telah pergi meninggalkanku" gumam Mutia.
Alisa pun menatap Mutia yang masih menangis.
"Kasihan ini perempuan, masih muda tapi sudah hamil" kata Alisa dalam hati.
Hari itu, Mutia sudah diizinkan untuk pulang. Dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih dengan Alisa.
Mutia pulang kerumahnya, tapi semua warga kampung sudah menunggui Mutia di depan rumahnya.
"Pergi kamu dari kampung ini, kami tidak ingin kampung kami tercemar karena keadaan kamu yang hamil di luar nikah" ucap salah satu warga.
"Aku....".
"Tidak usah banyak ngomong, pergi sana. Jangan buat kampung ini tercoret dengan keadaan kamu yang hamil tanpa suami" sahut seorang warga.
__ADS_1
Mutia hanya bisa menangis, dia tidak tahu lagi harus kemana. Dengan membawa pakaian secukupnya, Mutia pergi meninggalkan rumah peninggalan orangtuanya.
Hari sudah malam, Mutia berjalan tanpa tujuan. Tiba-tiba hujan turun, Mutia berusaha untuk mencari tempat berteduh tapi tidak ada tempat untuk berteduh. Dengan basah kuyup Mutia duduk dipembatas jalan sambil menangis.
Dan tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya.
"Mutia" panggil seorang.
"Dokter Alisa" ucap Mutia.
Alisa membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Mutia untuk masuk. Dokter Alisa mengajak Mutia kerumahnya.
"Ayo masuk Mutia" ajak Alisa.
Mutia pun menuruti ajakan Alisa, Alisa menyuruh Mutia untuk mandi dan membersihkan dirinya. Alisa memesan makanan. Setelah Mutia membersihkan tubuhnya dan melaksanakan Shalat. Mutia keluar dari kamar dan menuju meja makan karena disana sudah ada Alisa yang menunggunya. Mutia duduk di depan Alisa.
"Ayo di makan" ujar Alisa.
Mutia mengambil makanan dan sambil menangis dia memakan makanannya.
"Mutia ada apa" tanya Alisa dan duduk di samping Mutia.
"Aku mau kemana lagi Dok?, aku tidak punya keluarga yang ada sekarang ini hanya bayi ini bersamaku" ucap Mutia. Alisa pun memeluk Mutia dan mengusap belakangnya.
"Ada aku Mutia, aku juga sendirian. Orang tuaku ada di luar negeri. Jadi kamu jangan sedih dan takut dengan keadaan kamu sekarang".
"Tapi aku tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan Dok".
"Aku ada rumah di Tangerang kamu bisa tinggal disana dan soal pekerjaan aku punya kenalan dia kerja di pabrik tekstil disana" ucap Alisa.
"Dan satu hal lagi jangan pernah memanggil aku dengan sebutan Dokter cukup panggil aku mbak Alisa" ucap Alisa lagi. Mutia menganggukkan kepalanya.
Keesokan harinya, Alisa mengajak Mutia kerumahnya yang ada di Tangerang. Dan memperkenalkan Mutia dengan kenalannya yang merupakan kepala pengawas di pabrik testil. Satu Minggu dari sana, Mutia masuk kerja di pabrik tekstil. Mutia bekerja dengan keadaan hamil dan untung orang-orang yang ada di pabrik tekstil sangat baik dengan dirinya.
Alisa satu Minggu sekali datang ke Tangerang untuk melihat keadaan Mutia yang sudah seperti adiknya sendiri. Tak terasa kehamilan Mutia sudah memasuki sembilan bulan, disini Mutia harus hati-hati tapi dasar ceroboh Mutia terpeleset di tempat wudhu waktu dia mau mengambil air wudhu.
Mutia harus di operasi kalau tidak bisa membahayakan keduanya. Alisa langsung datang setelah dia mendapatkan panggilan dari kepala pengawas pabrik.
Mutia melahirkan seorang bayi perempuan yang di beri nama Siti Safa Khumaira. Untung keduanya selamat dan tidak ada hal yang diinginkan.
__ADS_1