Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Menemukan Mutia dan Safa


__ADS_3

"Sayang, tidak salah ini tempatnya" tanya Yama.


"Iya, kenapa?" tanya Alisa.


"Jauh banget" ucap Yama.


Mereka menggunakan dua mobil, dan Nathan satu mobil dengan pasangan abad dua satu. Yang ada Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pasangan di depannya.


"Aku kangen banget dengan Safa" ucap Nathan dalam hati.


"Nathan, ingat janji kamu dengan aku. Jangan marahi Mutia" ucap Alisa mengingatkan janji Nathan padanya.


"Iya nona cerewet" jawab Nathan.


"Cerewet-cerewet begini, Alisa ini kesayanganku" kata Yama.


"Kalau tidak sayang, tidak mungkin aku hamil. Bukan seperti Nathan karena *****" ucap Alisa blak-blakan.


Yang ada Yama dan Nathan hanya tersenyum tidak enak mendengar ucapan Alisa.


"Tapi gara-gara kejadian itu, aku tidak berfungsi lagi sebagai lelaki sejati" ucap Nathan sedih.


"Hhaaaaa, iya juga. Mungkin Mutia yang sudah menyumpahi kamu atau nenek Mutia dari alam sana" kata Alisa ketawa ngakak.


"Sayang, kamu lagi hamil. Tidak baik orang hamil ketawa seperti itu. Lagian kasihan Nathan, dia juga mau menikah mungkin dengan maaf dari Mutia. Nathan bisa kembali normal" ucap Yama.


"Aku tahu beb, hanya saja aku lagi ingin ketawa" ucap Alisa santai.


"Dasar ibu hamil orgil" gumam Nathan.


"Aku dengar Nathan, apa yang kamu ucapkan" kata Alisa.


Yama terkikik mendengar perkataan Alisa "Sepertinya orang waras juga harus mengalah" kata Yama dalam hati.


"Beb, jangan ngomong macam-macam tentang aku didalam hati. Mau tidur di luar sampai anak ini lahir" ancam Alisa.


"Tidak sayang" ucap Yama dan memegangi tangan Alisa.


Nathan mengelengkan kepalanya, melihat feel didepannya.


"Sebentar lagi aku akan menemukan kamu Mutia" ucap Nathan dalam hati.


Mutia sangat gelisah menunggu giliran dia di panggil, dilihatnya Safa yang lagi tertidur.


"Bunda, kangen Adek. Pokoknya kalau Adek sembuh, bunda akan menuruti semua keinginan Adek" ucap Mutia memegangi wajah Safa.


Setelah dua jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ketempat tujuan.


"Ini tempatnya" tanya Nathan.


"Iya ini tempatnya" ucap Alisa.


Mereka berenam pun turun dari mobil.


"Seperti tidak ada kehidupan" celetuk Yama.

__ADS_1


"Rumah penduduk di sini jarang-jarang, dan dari subuh sampai magrib mereka semua ada di sawah atau di ladang" ucap Ryan.


Nathan langsung mengetuk pintu rumah yang di maksud oleh Alisa semalam.


"Mau mencari siapa dek" tanya sang pemilik rumah waktu dia membukakan pintu.


"Eyang, masih kenal dengan aku. Aku temannya Mutia" sahut Alisa.


Eyang pun berpikir cukup lama "Neng Alisa, apa kabar Neng?" tanya eyang.


"Alhamdulilah baik eyang" jawab Alisa.


"Ayo masuk" ajak eyang. Mereka berenam pun masuk kerumah eyang.


"Ada apa perlu apa neng" tanya eyang.


"Eyang, maksud kedatangan aku kesini mau mencari Mutia. Mutia mengajak Safa yang lagi sakit" kata Alisa.


"Mutia, semalam Mutia kesini dan dia menangis menceritakan tentang Safa" ucap eyang.


"Jadi sekarang dimana Mutia dan Safa, eyang" tanya Alisa.


"Aku mengajak Mutia ke dukun untuk pengobatan Safa" ucap eyang.


"Apa" teriak Nathan.


Alisa langsung melihat Nathan dan menyuruh Nathan untuk diam.


"Dimana tempatnya eyang" tanya Sadam.


"Tahan emosimu Nathan" ucap Farel.


"Lihat saja kamu Mutia, enak saja kamu membawa anakku ketempat seperti itu" ucap Nathan.


Mereka berjalan kaki dan di sepanjang perjalanan mereka bercerita dengan eyang, kecuali Nathan yang diam karena sekarang Nathan menahan marah yang bisa meledak kapanpun.


"Ini tempatnya" tunjuk nenek. Nathan langsung lari naik tangga, dan mencari keberadaan Mutia dan Safa tapi hasilnya nihil. Nathan mengelilingi rumah itu, dan di bagian belakang rumah Nathan melihat Mutia yang lagi memangku Safa.


"Mutia" ucap Nathan.


Mutia mencari suara yang memanggil dirinya. Mutia melihat orang yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat.


"Pak bos" ucap Mutia, Mutia mempererat pelukannya di tubuh Safa. Nathan mendekati Mutia.


"Jangan ambil Safa dariku" ucap Mutia marah.


Tapi Nathan tidak peduli, dia langsung mengambil paksa Safa dari gendongan Mutia.


"Diam kamu Mutia" kata Nathan yang juga marah. Nathan membawa Safa, Mutia mencoba mengambil Safa dari Nathan tapi Mutia kalah jauh dari Nathan.


"Pak bos kembalikan Safa denganku" kata Mutia memohon tapi Nathan tidak memperdulikan perkataan Mutia.


"Urus adik angkatmu Alisa, aku mencoba menahan amarah diriku. Jadi jangan buat dia mendekati aku" kata Nathan.


Alisa berjalan mendekati Mutia, sedangkan yang lainnya menyusul Nathan.

__ADS_1


"Mutia".


"Mbak Alisa" ujar Mutia dan memeluk Alisa.


"Mbak, Safa di bawa oleh pak bos" jelas Mutia sambil menangis.


"Mbak tahu Mutia, ayo ikut mbak" ajak Alisa.


Mutia mengikuti Alisa, dan dilihatnya Nathan membawa Safa masuk kedalam mobil.


"Mbak, Safa di bawa oleh pak bos" isak Mutia.


"Kamu jangan khawatir, mbak sudah tahu semuanya. Mbak tidak menyangka kalau Safa anak kandungnya Nathan. Akhirnya Nathan bisa merasakan kebahagiaannya sendiri" kata Alisa.


Mutia tidak terlalu memikirkan perkataan Alisa, yang di pikirkan oleh Mutia sekarang adalah bagaimana dia bisa mendapatkan Safa.


Nathan membawa Safa kerumah sakit tempat pertama Safa dirawat. Tapi sekarang Safa ditangani oleh Ryan.


Nathan menunggu Safa, dan dia hanya menatap tajam Mutia yang datang bersama Alisa.


"Jaga emosimu" ucap Sadam.


"Aku tahu Sadam, tapi aku kesal kenapa Mutia punya pikiran mau mengajak Safa ke dukun" omel Nathan.


Nathan berjalan mendekati Mutia yang ada di pelukan Alisa


"Kita harus bicara" tegur Nathan.


"Nathan, jangan kasar-kasar dengan Mutia" ucap Alisa.


"Aku tidak akan kasar, aku ingin bicara dengan dia berdua Alisa" sahut Nathan.


"Sayang, biar mereka bicara" ucap Yama.


"Baiklah, tapi kalau kamu Mutia menangis kamu harus berhadapan dengan aku" ancam Alisa.


Nathan mengelengkan kepalanya mendengarkan nada ancaman dari Alisa. Nathan pun membawa Mutia menjauh dari mereka semua, ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Tapi Nathan sudah menitipkan Safa dengan Sadam dan Farel.


Nathan membawa Mutia ketaman belakang rumah sakit, dan tempatnya sepi cocok untuk bicara.


"Kenapa pak bos membawa aku kesini, jangan-jangan dia mau membunuhku" batin Mutia.


"Ayo duduk" ajak Nathan. Tapi Mutia masih berdiri dan tidak berani menatap wajah Nathan.


"Ada apa?, kamu takut dengan saya" tanya Nathan.


"Tidak pak bos" ucap Mutia sok-sok berani. Nathan tersenyum melihat tingkah Mutia yang sok berani tapi sebenarnya takut.


Mutia pun duduk di samping Nathan.


"Kenapa kamu membawa lari Safa?, dan kenapa juga ketempat seperti itu" tanya Nathan langsung.


"Jangan sok tidak tahu pak bos, pak bos sudah melanggar perjanjian kita soal Safa". kata Mutia tanpa melihat wajah Nathan.


"Perjanjian yang mana aku langgar, memang kita membuat perjanjian" tanya Nathan.

__ADS_1


"Ishh... menyebalkan pura-pura lupa" kata Mutia yang mau hampir menangis, sedangkan Nathan memijat keningnya. Nathan merasa binggung perjanjian mana yang pernah dia buat dengan Mutia.


__ADS_2