Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Kecemburuan Nathan


__ADS_3

"Bunda, besok adik ikut Bunda ke pabrik. Adik tidak betah dengan nenek lampir itu bunda" rengek Safa waktu mereka mau tidur.


"Sayangnya bunda tidak boleh bilang seperti itu, adik harus memanggilnya nenek jangan ditambahi lampir" kata bunda.


"Tapi adik ikut bunda ke pabrik ya, bunda" rengek Safa dan ujung-ujungnya menangis.


"bagaimana jika lusa?, sepulang adik dari sekolah nanti langsung kepabrik" bujuk Mutia.


"Bener bunda, asyik adik bisa ketemu dengan om Nathan" sorak Safa yang kesenangan karena akhirnya dapat kepabrik lagi dan bertemu dengan om kesayangannya.


Mutia hanya bisa tersenyum melihat Safa yang senang.


"Apakah ini akhir dari semuanya?, Ya Allah apa yang harus aku lakukan?. Aku tidak mau kehilangan Safa" batin Mutia.


Mutia memandangi wajah Safa, Mutia tidak mau kehilangan Safa. Mutia takut Nathan akan mengambil Safa darinya waktu Nathan tahu Safa anak kandungnya. Mutia memeluk Safa dan sambil menangis.


"Maafkan bunda, bukan maksud bunda untuk memisahkan Safa dari ayah kandung Safa. Tapi bunda takut kehilangan adik, bunda takut adik pergi meninggalkan bunda dan pergi dengan ayah" ucap Mutia sendiri.


Setelah selesai bicara dengan Farel, Nathan membaringkan tubuhnya dan memikirkan perkataan pak Usman tentang Mutia.


"Aku tahu, aku salah memakai nama nenekmu untuk memuaskan nafsuku. Tapi aku juga bersyukur kalau kamu tidak mengugurkan Safa. Dan sudah merawat Safa dari bayi walaupun kamu di hina oleh semua orang disekitarmu Mutia" gumam Nathan.


Nathan melihat foto Mutia yang diambilnya diam-diam.


"Kenapa aku suka memandangi wajah Mutia?.


Mutia memang tidak cantik dan sexy seperti kebanyakan perempuan yang aku tiduri, tapi kenapa aku tidak bisa melupakan malam itu dan gara-gara kejadian itu aku tidak bisa menjadi pria seutuhnya lagi" keluh Nathan melihati foto Mutia.


Keesokan harinya di kediaman Mutia, Mutia yang sibuk di dapur. Di kejutkan dengan suara ketukan di depan rumahnya.


"Siapa pagi-pagi ini bertamu" gerutu Mutia.


Safa yang mendengar gerutuan sang bunda langsung kedepan dan waktu Safa membuka pintu wajahnya langsung berubah cemberut.


"Pagi adik cantik" sapa Aman.


"Pagi om, bunda lagi buat sarapan untuk adik" sahut Safa dengan nada tidak suka.


"Safa siapa tamunya" teriak Mutia dari dapur.


"Om Aman Bun" jawab Safa.


Mutia pun mematikan kompor dan kedepan, Mutia tidak enak dengan Aman yang selalu baik dengan dia dan Safa.


"Mas ayo masuk, kita sarapan bersama" ajak Mutia.

__ADS_1


"Memangnya nenek lampir tidak buat sarapan, harus sarapan di rumah orang" gumam Safa tapi masih bisa didengar Mutia.


"Boleh aku numpang sarapan, tidak apa-apa" ucap Aman.


"Tidak ayo mas masuk" sedangkan Safa sudah duluan duduk dimeja makan. Mutia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat kelakuan Safa.


"Safa, Minggu ini bagaimana jika kita bertiga pergi jalan-jalan" ajak Aman.


"Adik mau dirumah saja om, malas kemana-mana" jawab Safa yang kemudian memakan makanannya.


"Maafkan Safa mas" ucap Mutia.


"Tidak apa-apa" jawab Aman.


Tanpa mereka sadari, dari tadi Nathan sudah melihat semuanya dari pertama Aman datang, senyum dan sifat ramah Mutia dengan Aman dan sekarang Aman masuk kedalam rumah Mutia.


"Siapa laki-laki yang bertamu pagi-pagi kerumah Mutia" batin Nathan yang tidak suka dengan kehadiran laki-laki lain selain dirinya.


Nathan pun turun dari mobilnya, dan berjalan kearah rumah Mutia.


"Bun, ada yang mengetuk pintu" ujar Safa.


"Siapa" Mutia pun berangkat dan berjalan untuk membukakan pintu.


"Pak bos" kata Mutia terkejut waktu dia membuka pintu didepannya sudah berdiri Nathan dengan tampang dinginnya.


"Boleh aku masuk" ucap Nathan.


"Boleh masuk pak bos" Mutia mempersilakan Nathan masuk. Nathan duduk di tikar yang disediakan Mutia di ruang tamu, kalau ada orang yang bertamu.


"Maaf pak, beginilah rumahku seperti pondok tapi aku dan Safa nyaman tinggal disini" kata Mutia lagi, Nathan hanya diam melihat Mutia yang sepertinya sudah bersiap mau berangkat bekerja.


Safa yang menunggu bunda untuk melanjutkan acara makannya tidak datang juga. Safa pun kedepan untuk melihat bunda bicara dengan siapa. Dan Aman pun menyusul Safa kedepan.


"Bunda...., om ganteng" teriak Safa dan langsung memeluk Nathan. Nathan yang tidak siap hanya bisa terjungkal ke belakang.


"Safa, tidak boleh begitu dengan om Nathan" tegur Mutia.


"Tapi adik rindu dengan om Nathan, om kangen tidak dengan adik" tanya Safa.


"Om kangen dengan adik" jawab Nathan tapi matanya langsung melihat Mutia yang lagi bicara dengan Aman.


"Dia siapa Mutia" tanya Aman yang penasaran dari tadi.


"Pak bos tempat aku bekerja" jawab Mutia yang melihat kedekatan Nathan dan Safa. Apalagi senyum dan tawa yang berkembang di bibir Safa, beda terbalik waktu Safa bersama dengan Aman.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan di sini" tanya Aman.


"Aku juga tidak tahu mas" jawab Mutia karena memang tidak tahu apa-apa soal Nathan yang tiba-tiba sudah ada di depan rumahnya.


"Mutia, aku lapar" sahut Nathan.


"Aku lihat dulu pak bos, masih ada tidak nasi gorengnya" Mutia pun berjalan kedapur dan rupanya nasi gorengnya masih ada. Mutia pun menyediakan nasi goreng dengan teh manis dan dibawahnya kedepan.


"Pak bos hanya ini yang ada" kata Mutia meletakkan sepiring nasi goreng dengan segelas teh manis hangat.


"Mas, kalau mau nanti aku bawakan nasi goreng dengan tehnya disini" ucap Mutia lagi.


"Tidak usah mas mau berangkat bekerja" sahut Aman. Aman pun permisi pulang dengan Nathan tapi tanpa berkenal terlebih dahulu tadi.


Nathan juga tidak tersenyum dengan Aman apalagi waktu melihat Mutia mengantar Aman kedepan.


"Itu siapa bunda" tanya Nathan dengan Safa.


"Om Aman temannya bunda, anaknya Bu'dek yang mempunyai kontrakan ini" jelas Safa.


Nathan mengangguk mengerti dengan penjelasan Safa.


"Safa, siap-siaplah bunda mau berangkat kerja" panggil Mutia dan berjalan masuk kedalam untuk menyiapkan keperluan Safa.


"Mau kemana Safa?" tanya Nathan yang melihat Mutia sibuk bolak-balik.


"Mau kerumahnya Bu'dek, ibunya om Aman tadi" jawab Safa.


"Mau ngapain kesana" tanya Nathan lagi.


"Bunda nitipkan adik disana om, tapi besok pulang sekolah adik bisa kepabrik lagi om" ucap Safa.


Nathan pun berjalan menuju ke dapur dan dilihatnya Mutia yang lagi beres-beres bekas masak tadi.


"Kenapa kamu menitipkan Safa di tempat pacarmu itu?, jangan-jangan sebentar lagi kalian mau menikah jadi supaya lebih akrab" kata Nathan dengan nada ketus.


Mutia menghentikan kegiatannya dan membalik tubuhnya, dan dilihatnya Nathan dengan tampang dinginnya.


"Itu bukan urusan anda pak bos, Safa anakku jadi mau aku titipkan dengan siapapun itu bukan urusan anda pak" jawab Mutia emosi.


"Memang bukan urusan aku, tapi aku tidak suka" sahut Nathan.


"Apa alasan anda tidak suka, ini hidup aku dan Safa jadi anda tidak boleh mencampuri semuanya. Anda adalah atasan aku di pabrik dan Safa bukan anak anda" ucap Mutia.


"Bagaimana jika Safa adalah anakku?, dari kejadian enam tahun yang lalu" tanya Nathan.

__ADS_1


Seketika tubuh Mutia tegang dan dia terkejut mendengar pertanyaan Nathan dan Mutia juga tidak tahu apa yang harus dia jawab.


__ADS_2