Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Kedekatan Nathan dan Mutia Part 2


__ADS_3

"Maksudnya aku ingin membawa Safa ke Singapura untuk berobat" jelas Nathan.


Mutia langsung berdiri dan lama menatap wajah Nathan.


"Pak, Safa itu anakku!. Anda tidak berhak untuk membawa Safa kemana-mana. Aku yang mengandung Safa selama sembilan bulan, melahirkannya, membesarkan Safa. Anda tidak tahu bagaimana kehidupan kami berdua, dan sekarang anda seenaknya mau membawa Safa ke Singapura. Aku tidak akan mengizinkannya" ucap Mutia emosi.


"Tapi Safa anakku juga, aku berhak Mutia. Dan aku tetap membawa Safa ke Singapura".


"Anda memang ayahnya, tapi Anda tidak tahu semua tentang Safa. Dan sekarang seenaknya anda mau membawa Safa, dan Satu hal lagi yang harus anda dengar Jangan pernah sentuh anakku karena anda tidak berhak" teriak Mutia dan langsung pergi dari hadapan Nathan.


Sepanjang jalan Mutia menangis dan semua orang melihati Mutia.


"Aku tidak akan membiarkan dia membawa anakku. Dia tidak berhak atas Safa, seenaknya" gerutu Mutia dalam hati.


"Aku tidak akan mengambil Safa, dia juga ikut. Seharusnya dia selesaikan dulu apa yang akan aku bicarakan. Bukan mengambil kesimpulan seperti itu" batin Nathan dan memijat kepalanya.


Mutia duduk di dekat ruang ICU, kebiasaan Mutia kalau lagi cemas atau banyak pikiran pasti dia akan mengigit kukunya. Nathan datang dan di dekatinya Mutia, Mutia sadar kalau disampingnya sekarang ada Nathan yang lagi menatapnya.


Mutia menggeserkan posisi duduknya agar jauh dari Nathan, tapi yang ada Nathan selalu mengikuti Mutia.


"Pak bos kenapa mengikuti saya" tanya Mutia tanpa melihat Nathan yang duduk disampingnya.


"Suka-suka saya" jawab Nathan santai.


"Tapi seharusnya pak bos itu, duduknya disana bukan disini" ucap Mutia ketus.


"Kalau lagi marah seperti ini, kamu kelihatan manis" rayu Nathan.


"Maaf pak, jangan coba merayu aku. Aku tidak akan tergoda" ucap Mutia lagi.


Nathan hanya bisa menarik napas mendengar ucapan Mutia.


"Mutia kita harus bicara, kamu salah paham dengan apa yang aku katakan" pinta Nathan dan berjongkok didepan Mutia.


Kedua Suster jaga hanya senyum-senyum melihat mereka berdua.


"Aku tidak akan mengambil Safa, aku ingin Safa mendapatkan pengobatan yang bagus. Disini juga bagus tapi disana lebih bagus. Kamu salah mengerti dengan apa yang aku katakan" jelas Nathan.

__ADS_1


Mutia hanya diam, dan dia menunduk tanpa menatap mata Nathan.


"Kalau Safa kesana, aku sendirian disini. Aku tidak ingin jauh dari anakku pak bos" ucap Mutia akhirnya walaupun dengan isak tangis.


Nathan pun menepuk kepala Mutia "Kamu juga ikut kesana, kita pergi berdua kesana untuk pengobatan Safa".


"Tapi pekerjaan aku...".


"Siapa bosnya, akukah".


"Iya...".


"Jadi tenang saja". Mutia mendengus kesal mendengar ucapan Nathan.


Nathan tersenyum melihat tingkah Mutia, "Akhir-akhir ini semenjak aku bertemu dengan mereka berdua, selalu ada senyum di bibir ini" batin Nathan waktu melihat Mutia yang merajuk seperti anak kecil.


Mutia melanjutkan mengigit kukunya, tapi tiba-tiba Nathan mengambil tangan Mutia dan di pegangnya tangan Mutia.


"Pak bos" ucap Mutia pelan.


"Ya pak bos, aku kalau lagi cemas memang sering melakukan hal ini" kata Mutia.


Nathan pun mengusap kepala Mutia "Ada aku disini" gumam Nathan pelan.


Tapi apa yang di gumamkan oleh Nathan masih terdengar di telinga Mutia, Mutia tersenyum menatap wajah Nathan.


"Lihat mbak mereka berdua, aku juga ingin punya suami seperti tuan itu" ghibah suster jaga dengan temannya.


"Iya suamiku maksudku calon mantan suami tidak pernah seromantis seperti tuan itu" Suster satunya mengingat suaminya yang akan menjadi mantan suami.


"Iya mbak" dan mereka berdua asyik melihat kedekatan Nathan dan Mutia.


"Mutia aku tinggal dulu, ada pekerjaan yang harus aku urus" ucap Nathan.


"Pak bos mau pulang ke Jakarta" tanya Mutia.


"Tidak mengurusi pabrik tekstil di sini".

__ADS_1


"Ohhhh... hati-hati pak bos" kata Mutia menunduk karena dia tidak mau Nathan tahu kalau sekarang pipinya sudah merah Semerah tomat.


"Iya" jawab Nathan dan menepuk kepala Mutia.


"Malu aku, seharusnya aku tidak usah berkata seperti itu" batin Mutia dan kedua tangannya memegang pipinya.


"Kenapa ada rasa bahagia waktu Mutia berkata seperti itu, seumur hidupku tidak ada satu pun orang yang berkata seperti itu" batin Nathan dan sepanjang lorong rumah sakit tak henti-hentinya Nathan tersenyum-senyum kala menginginkan perkataan Mutia tadi.


"Mbak, mbak beruntung mendapatkan suami seperti suami mbak tadi. Sudah tampan, perhatian pula dengan mbak" celetuk salah satu suster jaga.


"Iya mbak" jawab Mutia.


Nathan kembali ke pabrik tekstil, karena Nathan harus menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda. Dan semua pekerja di pabrik tekstil tidak tahu kalau selama satu Minggu ini Nathan dan Mutia selalu bersama. Mutia untuk sementara cuti bekerja dalam waktu yang tak terhingga. Sebenarnya kepala pengawas marah dan tidak menyetujui cuti Mutia, malahan dia mau memecat Mutia. Untung ada Nathan dan Nathan menerima cutinya Mutia.


Dan gara-gara masalah ini, sempat beredar gosip tentang Nathan dan Mutia. Tapi untung di klasifikasi oleh Nathan dan Nathan juga membuat aturan "SIAPA YANG BERANI MEMBICARAKAN TENTANG DIA DAN MUTIA AKAN DI PECAT SECARA TAk TERHORMAT".


Aturan itu berlaku untuk semua orang yang ada di pabrik. Nathan masuk ke dalam pabrik rupanya semua karyawan pabrik sudah pada mau pulang. Bertemu dengan Nathan yang notabene adalah bos mereka, mereka hanya bisa menundukkan kepala mereka.


Walaupun badannya Nathan ada di pabrik tapi pikiran Nathan ada di rumah sakit. Ingin menelepon Mutia tapi Nathan binggung mau bicara apa dan apa yang mau ditanyakan. Yang bisa dilakukan oleh Nathan sekarang adalah menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar dia bisa ke rumah sakit.


"Assalamualaikum" salam seorang mengetuk rumah Mutia.


"Aduh kemana ini mereka, biasanya jam seperti ini Mutia sudah pulang bekerja tapi sudah setengah jam berlalu tidak ada jawaban dari pemilik rumah" ucap seorang sendirian didepan rumah Mutia.


Orang itu pun kembali kedalam mobil untuk mengambil handphonenya yang tertinggal di dalam mobil. Tapi waktu dia mau menelepon rupanya ada panggilan masuk.


"Assalamualaikum, beb".


"Wa'alaikumsalam, kamu dimana sayang?. Aku sudah ada di depan rumah kita" tanyanya.


"Maaf beb, aku lagi berada di depan rumah Mutia, tapi sudah setengah jam aku disini tidak ada yang membukakan pintu" ucapnya sedih.


"Mungkin Mutia lagi mengajak Safa jalan-jalan sebentar, sudah pulang saja. Nanti malam kita kesana lagian aku sudah kangen".


"Salah siapa" gerutunya. Orang yang menelepon dia diseberang sana ketawa mendengar gerutuannya.


Setelah selesai berteleponan, orang itu langsung mengendarai mobilnya keluar dari rumah Mutia.

__ADS_1


__ADS_2