
Selesai mandi, dan berpakaian yang rapi Mutia pun turun kebawah. Dan dilihatnya Nathan yang lagi membaca koran.
"Orang pembisnis memang sarapannya selain makan pasti baca koran". Mutia tersenyum karena memikirkan kata hati dia tadi.
Nathan melipat koran dan meletakkannya di atas meja, Nathan melihat Mutia yang turun kebawah.
"Kenapa jantungku berdetak kencang," ucap Nathan memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Pak bos, aku sudah siap," kata Mutia yang sudah berdiri di depan Nathan. Tapi Nathan diam terpaku melihat Mutia yang sangat berbeda dari hari biasanya.
"Pak bos,"ucap Mutia sambil melambaikan tangannya.
"Ada apa Mutia?" tanya Nathan yang agak terkejut dengan lambaian tangan Mutia didepan wajahnya.
" Ayo pak bos kerumah sakit!, aku rindu Safa", ajak Mutia sambil menarik tangan Nathan. Nathan hanya bisa terdiam dan mengikuti Mutia.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya saling diam tanpa berkata apapun. Tak sekali-kali Nathan memandangi wajah Mutia yang lagi asyik menikmati pemandangan di jalani.
"Mutia kenapa?, memangnya dia tidak pernah melihat seperti ini?" tanya Nathan dalam hati.
"Pak bos terima kasihnya," ucap Mutia tiba-tiba.
"Terima kasih untuk apa?". Nathan heran dengan ucapan Mutia.
"Terima kasih sudah mau membantu Safa."
"Itu kewajiban aku sebagai ayah kandungnya, walaupun aku tidak mengurusi Safa dari dia dalam kandungan. Tapi sekarang aku ingin mengurusinya."
Mutia terdiam mendengar perkataan Nathan, Mutia sadar bagaimana pun Nathan adalah ayah kandungnya dan walaupun Mutia menolaknya tapi Nathan akan tetap kekeh pada pendiriannya untuk mengurusi Safa.
"Iya aku tahu itu pak bos, bagaimanapun Safa adalah anak kandung pak bos?. Tapi pak bos tidak akan mengambil Safa dariku kan?. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Safa." Mutia menangis.
Nathan yang mendengarnya langsung menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Tidak akan ada yang mau mengambil Safa, aku dan kamu akan mengurus Safa secara bersamaan. Dan aku berjanji kalau kamu menemukan cinta dan dia cocok menjadi ayah Safa. Aku akan melepaskan kamu tapi Safa tetap akan aku urus sebagai mestinya seorang ayah dengan anaknya."
Mutia terdiam tapi ada perkataan Nathan yang dia tidak suka. "Kenapa pak bos bilang seperti itu?, tidak suka kalau aku terus bersama pak bos merawat dan mendidik Safa," ucap Mutia tanpa sadar.
"Kamu bilang apa?"
"Tidak lupakan pak, aku salah bicara. Ayo kita jalan." Mutia menutup mulutnya setelah dia sadar apa yang dia katakan.
Nathan tersenyum kecil mendengar perkataan Mutia yang tadi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Tidak sekali-kali Mutia menatap Nathan yang fokus menyetir.
Tak terasa mereka sudah sampai ke rumah sakit tempat Safa dirawat.
Mutia selalu berdoa semoga Safa terbangun dari tidurnya.
Mutia sangat merindukan Safa, Mutia ingin bilang kalau ayahnya Safa sudah datang.
__ADS_1
Mutia dan Nathan berjalan ke kamar ICU kelas VIP, khusus untuk satu orang dan itu semua Nathan yang melakukannya.
Mutia boleh masuk, tapi Mutia memilih melihat Safa melalui kaca, Mutia tidak tega melihat Safa seperti itu. Yang ada nanti Mutia menangis. Jadi cuma Nathan yang masuk untuk mengajak Safa bicara.
"Sayang, ayah datang. Lihat bunda selalu menangis. Ayah dan bunda sangat merindukan Safa, bangunlah nak" Nathan menyentuh pipi Safa.
Nathan sangat merindukan Safa, merindukan suaranya, dan ketawanya.
Bagi Nathan jika seandainya Safa tidak mau menerimanya sebagai ayahnya, setidaknya menjadi teman juga tidak apa-apa. Yang penting Safa bisa bersama dia.
Nathan berjalan meninggalkan ruangan Safa, dan dia duduk di dekat Mutia yang menangis.
"Mutia, ayo!"
"Mau kemana pak!"
"Masuk keruangan Safa."
"Aku tidak mau pak!, aku tidak tega melihat Safa seperti ini."
"Kalau tidak tega, kenapa kemaren kamu mengajak dia pergi?"
"Itu karena aku ingin Safa sembuh, tapi kejadian kemarin membuat aku kepikiran terus pak."
Nathan mengambil tangan Mutia "Kamu bundanya, dia pasti sangat rindu dengan bundanya. Ayo kita masuk!"
Mutia tidak bisa menolak perintah Nathan, bisa-bisa nanti Nathan marah. Dan Mutia tidak mau itu terjadi.
"Anak bunda, bunda kangen adek. Ayo bangun, adek mau lihat ayah. Ayah adek sudah datang dan semua keinginan Adek aja terpenuhi," ucap Mutia menangis.
Nathan mengusap Kepala Mutia yang tertutup jilbab.
"Pak bos, Safa pasti sibukkan?"
"Kita doakan saja biar Safa kita sembuh. Mutia disini dulu aku mau keruang Ryan."
"Ohh... Dokter yang ganteng itu pak bos?" Mutia dengan polosnya bertanya. Nathan langsung menatap tajam Mutia.
"Memangnya aku tidak ganteng?."
"Maaf pak bos!" Mutia menutup mulutnya karena apa yang dia katakan tadi.
"Gawat aku bangunin macan yang lagi tidur," gerutu Mutia didalam hatinya.
Nathan pergi meninggalkan Mutia.
"Pak bos!" panggil Mutia tapi Nathan tidak memperdulikan panggilan Mutia
"Pak bos maaf," ucap Mutia lirik.
"Jagalah Safa, nanti aku kesini lagi," kata Nathan dingin.
"Tapi...." Nathan langsung pergi meninggalkan Mutia yang belum menyelesaikan pembicaraannya.
__ADS_1
"Lihat ayahmu dek, bunda sudah minta maaf tapi dia masih marah. Bunda tidak sengaja berkata seperti itu, ayo adek harus bangun jadi nanti ada yang bela bunda." Mutia memegangi tangan Safa dan tangan satunya memegangi pipi Safa yang hangat.
"Bunda kangen adek, bangunlah." Mutia menangis lagi.
Nathan keruangan Ryan, Nathan tidak perlu mengetuk pintu lagi. Disana dia melihat Nathan yang lagi sibuk membuat laporan medis pasien-pasiennya.
"Hai bro," sapa Nathan dan duduk di depan Ryan.
"Baru datang?"
"Iya tadi dengan Mutia, sekarang Mutia lagi bersama Safa."
"Bagaimana kabar Mutia?"
Nathan diam mendengar pertanyaan Nathan
"Kamu suka Bundanya Safa?"
Ryan langsung melihat wajah Nathan dan dia langsung ketawa mendengar pertanyaan Nathan.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Iya lucu saja, Seorang Nathan bisa cemburu juga."
"Siapa yang cemburu?, Mutia adalah ibu dari anakku dan dia...."
"Adalah orang yang sekarang di sukai oleh Nathan. Bukan hanya sekedar suka tapi sudah jatuh cinta."
Nathan yang mendengarnya terdiam.
"Nat, ingat kita tidak boleh mengambil pacar sahabat kita sendiri walaupun kita suka. Tapi kamu tahu sendiri, hatiku dengan siapa?."
Nathan tahu hati Ryan untuk siapa?.
"Maaf Bro."
"Kalau kamu suka dengan Mutia bilang jangan diam saja, nanti dia diambil orang."
"Aku belum yakin dengan perasaanku. Tapi aku selalu suka dengan apa yang dia lakukan dan ekspresi wajahnya Yan membuat aku ingin selalu membahagiakan dirinya."
"Itu cinta bro, oh ya aku lupa seorang Nathan tidak pernah merasakan jatuh cinta. Jadi dia tahu apa yang dia rasakan sekarang."
Nathan menggaruk kepalanya mendengarkan perkataan Ryan.
"Ryan aku kesini mau bertanya tentang kondisi Safa?." Nathan mengalihkan pembicaraannya tentang Mutia.
Ryan pun melihat hasil medis Safa.
"Hasil Safa bagus, kita lihat pengembangannya dalam dua empat jam ini," tutur Ryan.
Nathan terdiam mendengar penjelasan Ryan.
Sudah lama tidak up Cinta Kita...
__ADS_1