Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Kedekatan Nathan dan Mutia


__ADS_3

"Dia seharusnya tahu, kalau Safa punya ayah sebelum dia menikahi dirimu" kata Nathan dan kembali sibuk dengan Handphonenya.


"Aku tahu itu pak bos, tapi jangan bicara seperti itu dengan mas Aman. Aku tidak enak pak, mas Aman sangat baik dengan aku" kata Mutia pelan dan duduk disamping Nathan. Tapi perkataan Mutia tidak didengarkan oleh Nathan yang sibuk dengan pekerjaannya yang dikirimkan oleh Sadam.


Mutia hanya bisa menarik napas, dengan sikap Nathan seperti inilah yang membuat Mutia tidak bisa mengerti Nathan.


"Tunggu tadi pak bos bilang mas Aman mau menikahi aku. Aku dengan mas Aman tidak ada hubungan apa-apa. Dia itu sering bantu aku dan Safa dalam segala hal" jelas Mutia.


Nathan tersenyum kecil mendengar penjelasan Mutia, "Ohhhh....aku kira dia pacar kamu. Tapi tidak salahkan kalau kamu pacaran dan menikah. Umur kamu masih muda, masih banyak pria yang suka dengan kamu..."


"Stop pak bos, hidup aku hanya untuk Safa. Lagian aku dan Safa tidak butuh siapapun, enam tahun ini kami terbiasa hidup berdua. Dan insyaallah semua kebutuhan Safa bisa aku penuhi, jadi aku dan Safa tidak butuh siapapun" tegas Mutia.


"Tapi Safa anakku, dan aku berhak atas diri Safa" jelas Nathan yang tidak terima dengan ucapan Mutia.


"Tapi pak bos tidak pernah mengurusi Safa dari kecil dan pak bos juga tidak tahu bagaimana perkembangan dan kehidupan Safa dari kecil" ucap Mutia.


"Karena aku tidak tahu kalau kejadian malam itu, akan menghasilkan sesuatu" ucap Nathan tak mau kalah.


"Salah siapa tidak pakai pengaman, aku kan tidak tahu soal seperti itu. Itu pertama bagi aku, sedangkan pak bos sudah berpengalaman" kata Mutia polos.


Nathan langsung menatap Mutia tajam.


"Kenapa pak bos?, aku benarkah" ucap Mutia lagi.


Mutia memilih menjaga jarak dengan Nathan, Mutia berpikir sejak tadi sikap Nathan sungguh sangat aneh.


"Lebih baik kamu bersihkan dirimu, tidak malu apa dengan suster-suster disini. Dan sekalian makan, kamukan baru sibuk dari sakit" kata Nathan akhirnya setelah setengah jam mereka saling tidak bicara.


Mutia menatap Nathan dan kemudian dia berdiri "Titip Safa pak bos" kata Mutia.


Mutia berjalan meninggalkan ruangan ICU "Pak bos aneh, tadi berdebat tidak mau kalah dari aku dan akhirnya bersikap lembut" gerutu Mutia dalam hati.


Mutia memilih untuk pulang sebentar, sekalian mengambil baju ganti karena kemaren Mutia tidak sempat membawa baju ganti.


Di rumah Sakit, Nathan pusing melihat keadaan Safa yang tidak sadar-sadar. Sudah satu Minggu tapi tidak ada perkembangan yang berarti untuk Safa sadar atau tidak.


"Sadam, kirimkan nomor Dokter Johannes kepadaku" perintah Nathan yang tiba-tiba menelepon Sadam.

__ADS_1


"Ya Allah Nathan, tidak pakai salam langsung ngomong tidak jelas. Lagian untuk apa juga kamu minta nomor Dokter Johannes?".


"Jangan banyak tanya, cepat kirimkan" pinta Nathan tapi dengan nada agak sewot dan mematikan panggilannya.


Sadam hanya bisa mengusap dadanya melihat tingkah Nathan seperti itu. dia pun langsung mengirimkan nomor Dokter Johannes yang sudah ada di buku agenda Nathan.


Suntuk dengan pekerjaan, Sadam mencoba menelepon Sherina. Karena Sadam tahu jam seperti ini Sherina pasti mau istirahat.


Sekali dua kali panggilan Sadam tidak diangkat Sherina sedangkan Sherina online.


"Apa yang dilakukan Sadam?, bisa tidak dia tidak menganggu aku lagi" gerutu Sherina yang lagi istirahat kerja.


"Angkat mbak, jangan buat aku gila mbak. Dan memaksa mbak seperti dulu lagi, aku bukan Sadam tiga tahun lalu sekarang aku bisa buat mbak menjadi isteriku. Lihat saja nanti mbak" kata Sadam sendiri.


Sherina melihat handphonenya yang tidak ada lagi panggilan dari Sadam.


"Sadam, lupakanlah semuanya" batin Sherina.


"Maaf pak bos, tadi aku ketiduran sebentar. Bagaimana Safa?" tanya Mutia yang nafasnya seperti orang habis berlari beberapa meter.


"Atur nafasmu, nanti sesak" perintah Nathan.


Nathan pun terkekeh melihat sikap Mutia yang seperti anak kecil, sedangkan sekarang dia sudah mempunyai anak kecil.


"Ayo pak bos, jangan melamun" ucap Mutia lagi


Yang ada Mutia mendapatkan satu jintakkan di kepalanya.


"Siapa yang melamun?" kata Nathan.


"Tadi pak bos, pak bos lagi mikirin pacar pak bosnya" ledek Mutia.


"Aku lagi mikirin kamu, berarti kamu pacar aku" goda Nathan balik.


Mutia langsung terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Nathan. Malahan Mutia pergi dari hadapan Nathan dan dia memilih duduk di dekat pintu ICU. Mutia ingin dia orang pertama yang tahu kalau Safa sadar.


Nathan ketawa melihat Mutia yang hobi mengigit kukunya (Ini seperti aku banget).

__ADS_1


"memang enaknya, gigit kuku seperti itu?. Itu sama saja jorok" ucap Nathan.


Mutia langsung menghadap ke samping, agar Nathan tidak melihat yang dia lakukan. Yang ada ketawa Nathan meledak melihat tingkah Mutia.


"Pak jangan ribut" tegur seorang suster.


"Maaf" kata Nathan.


Mutia ketawa dan menjulurkan lidahnya kearah Nathan. Yang ada Nathan pun berdiri dan berjalan menuju kearah Mutia yang masih ketawa. Nathan melihat Suster jaga yang juga sibuk. Nathan pun memeluk Mutia dari Samping.


"Pak bos" kata Mutia pelan. Dan sekarang Nathan yang ketawa, melihat sikap Mutia yang terkejut.


Nathan melepaskan pelukannya karena Mutia mau teriak, dua tidak mau dimarahi lagi oleh suster. Handphonenya Nathan berbunyi dan dilihatnya rupanya panggilan dari Dokter Johannes. Nathan berdiri dan meninggalkan Mutia yang sendiri.


"Mutia, ada yang mau aku bicarakan" ajak Nathan.


"Iya pak bos" sahut Mutia.


"Tapi bukan disini kita bicara" ucap Nathan.


"Tapi Safa sendirian pak bos" jawab Mutia.


Nathan pun mendekati suster jaga dan Mutia tidak tahu apa yang di bicarakan mereka.


"Ayo nanti suster yang menjaga Safa dan kalau ada apa-apa dengan Safa mereka akan menghubungi kita" ucap Nathan. Nathan langsung menarik tangan Mutia untuk berdiri dan diajaknya Mutia pergi dari ruang ICU.


Mutia diam tanpa melawan dengan apa yang dilakukan oleh Nathan. Nathan membawa Mutia duduk di taman yang tidak jauh dari ruang ICU dan disini sepi tidak ada orang.


"Mutia ada yang mau ku bicarakan dengan dirimu" ucap Nathan.


"Iya pak bos" tanya Mutia.


"Mutia, dengarkan aku Safa sudah satu Minggu disini tapi tidak ada tanda-tanda untuk Safa sadar. Jadi maksud aku...." Nathan binggung bagaimana menyampaikan rencananya.


"Iya pak bos, aku tahu itu. Aku tidak ingin kehilangan Safa, aku...".


"Aku ingin membawa Safa kerumah sakit yang ada di Singapore. Aku ada kenalan Dokter disana, ini aku lakukan demi Safa demi kesembuhan Safa" kata Nathan memotong ucapan Mutia.

__ADS_1


"Maksud pak bos" tanya Mutia.


__ADS_2