
Melihat keadaan Safa seperti itu, Mutia memilih untuk cuti sementara dari pabrik. Sedangkan Nathan harus bolak-balik dari Jakarta ke Tangerang. Mereka berdua sudah seperti sepasang suami isteri. Nathan yang setiap menit selalu menanyakan kabar tentang Safa sudah sadar belum.
"Adek, bunda kangen adek. Bangunlah sayang, tidak kasihan lihat bunda seperti ini. Dan lihat om baik yang selalu menanyakan Adek" ucap Mutia dari kaca depan kamar ICU.
Mutia mencoba untuk tidak menangis, Mutia tidak mau nanti Safa bilang dia cengeng seperti anak kecil.
"Bagaimana keadaan Safa" tanya suara yang mengagetkan Mutia yang lagi setengah melamun.
Mutia hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu bagaimana keadaan Mutia. Karena sudah satu Minggu ini tidak ada perkembangan yang berarti bagi Safa.
"Pak bos, aku takut Safa akan pergi meninggalkan aku sendirian" kata Mutia yang duduk di pinggir ruangan ICU.
Nathan pun duduk mendekati Mutia dan di pegangnya tangan Mutia.
"Dengarkan aku ayah kandung Safa, Safa tidak akan pergi dari kita. Aku akan berusaha untuk mengobati Safa sampai ke ujung dunia pun akan aku lakukan" tekad Nathan dan tiba-tiba memeluk Mutia, Mutia hanya diam melihat tingkah Nathan tapi jantungnya Mutia berdekap kencang.
Seakan lelahnya, Mutia tidur di bahunya Nathan. Nathan yang merasa berat di bahunya menoleh dan melihat Mutia yang tidur.
"Manis" gumam Nathan melihat Mutia. Nathan pun memindahkan kepala Mutia di atas pahanya dan membenarkan cara Mutia tidur. Sambil memegangi tangan Mutia, Nathan pun tertidur.
Mutia bermimpi bertemu dengan orangtuanya, nenek dan seorang anak kecil.
"Ayah, ibu, nenek aku sangat merindukan kalian" ucap Mutia sambil ingin memeluk Keluarganya.
"Bunda, tidak kangen dengan Safa" ucap anak kecil di belakang ayah.
"Safa, anak bunda. Tidak sayang, bunda sangat sayang dengan Adek" ucap Mutia sambil berjalan mendekati Safa. Safa langsung memeluk Mutia dan menciumi seluruh wajah bundanya, kelakuan yang selalu di lakukan Safa kalau kangen bundanya.
"Bunda, ayo ikut kami" ajak Safa.
"Safa yang ikut bunda. Bunda tidak ingin kehilangan Adek" tangis Mutia tidak bisa tertahan lagi.
"Tapi aku ingin ikut mereka bunda" rengek Safa.
"Safa, tidak sayang om baik" ucap suara seorang pria. Mutia menoleh dan dilihatnya ada Nathan.
"Om baik" teriak Safa dan memeluk om baiknya.
"Safa mau kemana?, tidak kasihan lihat bunda dan om baik. Nanti di sini kami berdua kangen dengan Safa" bujuk Nathan dan Mutia hanya bisa menangis.
__ADS_1
"Safa, ayo ikut kakek" ajak ayah Mutia.
Safa melepaskan pelukannya dari Nathan dan dia berjalan kearah kakeknya. Safa menoleh dan di lihatnya dua orang yang dia sayangi menangis.
"Kakek, nenek, buyut nenek Adek tidak bisa ikut. Kasihan bunda dengan om baik" kata Safa. Safa pun menoleh kearah Nathan dan Mutia dengan tersenyum.
"Safa" teriak Mutia dan terbangun dari mimpinya.
"Ada apa Mutia?" tanya Nathan melihat Mutia berkeringat dingin dan wajahnya pucat.
"Pak bos, aku melihat Safa diajak oleh ayah, ibu dan nenek. Aku tidak mau kehilangan Safa pak bos" Mutia menangis sesenggukan.
"Kita harus percaya bahwa Safa kita kuat" ucap Nathan untuk menyakinkan Mutia. Mutia masih menangis tapi dia tersenyum.
"Anak pintar" ucap Nathan menepuk kepalanya.
Mutia memegangi dadanya, ada rasa yang tidak dapat terucap dan Mutia takut rasa itu akan semakin berkembang besar di hatinya.
"Ya Allah, aku tidak ingin merasakan cinta di hati ini, aku takut sakit. Aku mohon buat hati ini tidak jatuh cinta dengan dirinya" gumam Mutia dalam hati.
Handphone Mutia berbunyi, handphone yang hanya bisa SMS dan menelepon. Kata anak jaman sekarang handphone jadul, tapi tidak bagi Mutia ini adalah handphone gaji pertama dia kerja di toko bunga.
"Apa ini pria yang pagi-pagi sebelum Safa kecelakaan datang kerumah Mutia?, Mutia punya pacar?. Terserah dia mau punya pacar atau punya suami, yang penting aku akan membawa Safa jauh dari mereka berdua" kata Nathan dalam hati.
"Pak bos, nanti ada mas Aman dengan mamanya datang kesini untuk menjenguk Safa" kata Mutia.
"Hmmmm...." jawab Nathan dan langsung berjalan meninggalkan Mutia yang binggung dengan sikap Nathan.
"Kenapa pak bos" tanya hati Mutia.
"Kenapa aku marah dan tidak suka waktu Mutia manggil pria lain dengan sebutan mas. Sedangkan dengan aku hanya pak bos, kenapa juga aku memikirkan semua ini" batin Nathan dan dia memilih duduk di taman Rumah Sakit, Nathan mengeluarkan rokoknya dan dia merokok untuk menghilangkan penat yang dia rasa. Dan itu adalah kebiasaan Nathan, kalau dia banyak pikiran pasti lari dengan merokok selain *** dan alkohol.
Mutia melihat keujung ruangan, untuk melihat apakah Nathan pulang atau mampir kesini untuk menemani dirinya.
"Kenapa aku gelisah?, ini tidak boleh terjadi" batin Mutia sambil memegangi dadanya. Mutia masih menatap keujung ruangan, dan akhirnya yang dia lakukan hanya menunduk.
"Assalamualaikum" sapa seorang.
"Wa'alaikumsalam" balas Mutia dan melihat siapa orang yang menyapa dirinya.
__ADS_1
"Mas Aman, Bu'dek" kata Mutia lagi dan langsung menyalami Bu'dek.
"Bagaimana keadaan Safa, Mutia" tanya Aman dan menyerahkan bingkisan yang dibawanya tadi, dan Bu'dek hanya diam melihat transaksi dua makhluk didepannya.
"Terima kasih mas, Bu'dek. Keadaan Safa masih sama, Safa tidak mau bangun mas" kata Mutia dengan air mata yang mau mengalir.
"Kamu siapa" tegur Nathan yang datang.
Memang tadi rencananya Nathan mau pulang ke Jakarta untuk merendam yang dia rasakan sekarang. Tapi Nathan penasaran dengan Aman dan kaki Nathan membawa dirinya kedepan ruangan Safa.
"Aku aman, ini mamaku" kata Aman memperkenalkan dirinya dan mamanya.
Nathan hanya mengangguk dan dia pun duduk dan membuka handphonenya untuk melihat kabar.
Tak sekali-kali Nathan mencuri pandang dan untuk melihat yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di depannya.
"Kasihan Safa" ucap Aman.
"Iya mas" jawab Mutia pendek.
Mamanya mas Aman hanya diam, tapi dia dari tadi sangat tidak betah ditempat ini apalagi dengan tatapan mata Nathan.
"Aman ayo kita pulang" ajak mamanya.
"Mutia, kami pulang dulu. Nanti aku kesini lagi, pokoknya kalau ada apa-apa, kamu butuh bantuan telepon aku" kata Aman.
"Iya mas".
"Jangan repot-repot, ada aku disini yang akan selalu membantu Mutia dan Safa" ucap Nathan memotong perkataan Aman.
"Mas, pak bos ini yang membantu Safa kerumah sakit" ucap Mutia pelan.
"Dan satu hal lagi aku adalah ayah kandung dari Safa" terang Nathan.
Bu'deklangsung menatap tak percaya dengan apa yang di omongin oleh Nathan. Sedangkan Aman, dia memilih untuk diam dan langsung pergi dari ruang ICU Safa.
"Aman... tunggu mama" panggil mamanya yang mengejar Aman.
"Pak bos" ucap Mutia pelan.
__ADS_1