
"Alisa, kenapa kamu menampar wajahku". tanya Nathan memegangi wajahnya.
"Sakitkah?, itu tidak sebanding apa yang Mutia dan Safa rasakan selama enam tahun ini" ucap Alisa.
"Tunggu....kamu kenal dengan Mutia dan Safa" tanya Nathan sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Aku dokter yang memeriksa Mutia, waktu pertama kali Mutia dinyatakan hamil dan Semenjak itu kami berdua menjadi dekat dan dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri dan Safa sudah seperti anak bagiku dan satu hal lagi, aku yang membawa Mutia ke Tangerang dan Safa di lahiran disini. Dimana kamu Nathan, setelah Mutia hamil dan meninggalkannya begitu saja" tanya Alisa dengan menunjuk-nunjuk Nathan. Yama langsung menarik tangan Alisa, Yama takut kalau Nathan nanti emosi, bagaimana pun Nathan dan Alisa adalah orang-orang terpenting dalam hidup Yama.
"Awalnya aku tidak mengenal siapa Mutia, sampai suatu hari dia datang menemuiku untuk cash bon. Mutia butuh uang untuk biaya operasi neneknya. Waktu melihat tubuhnya, aku punya rencana bahwa dia tidak usah membayar utangnya di kantor tapi dia harus menghabiskan malamnya dengan aku. Pertama-tama Mutia menolak tapi sorenya waktu pulang kerja, dia datang menemuiku dan menyetujui semuanya. Mungkin karena aku terlalu ***** atau bagaimana aku lupa memakai pengaman dan aku tidak tahu kalau malam itu akan membuahkan hasil" cerita Nathan.
"Ya ampun Nathan, dimana otakmu?. Seharusnya sebagai bos kamu membantu karyawan kamu bukannya memanfaatkan tubuh karyawan kamu" teriak Alisa lagi.
"Sayang bayi kita..." ingat Yama karena takut dengan Alisa yang emosi dari tadi.
"Dan dari mana kamu tahu kalau Safa anakmu" tanya Ryan.
"Mutia kerja di pabrik tekstil yang baru aku beli di Tangerang ini, disanalah pertama kalinya aku bertemu dengan Mutia dan Safa. Dan dari mana aku tahu Safa anakku adalah Safa mengalami kecelakaan, aku mendonorkan darahku ternyata sama dan karena aku penasaran aku melakukan tes DNA dan hasilnya positif Safa anak biologis aku" terang Nathan.
"Apa! Safa kecelakaan" teriak Alisa.
Semua orang menutupi telinga mereka setelah mendengar teriakan Alisa.
"Sayang, suaranya kasihan bayi kita" ucap Yama dan memegangi tangan Alisa.
"Jangan sentuh aku, pantas waktu aku ke rumahnya tidak ada orang. Jadi Safa di rumah sakit karena kecelakaan. Nathan rumah sakit mana Safa dirawat" tanya Alisa setelah dapat meredam emosinya.
"Aku rencananya mau membawa Safa berobat ke Singapura, dan aku sudah bicara dengan Mutia. Dia setuju tapi tiba-tiba aku dapat kabar Mutia membawa Safa keluar dari Rumah sakit. Alisa, Safa dalam keadaan koma" terang Nathan.
"Maksud kamu Mutia mengajak Safa keluar dari rumah sakit secara diam-diam dan Safa koma" tanya Alisa tak percaya.
"Iya" ucap Nathan menarik rambutnya.
"Aku tahu kemana Mutia membawa Safa, aku pernah diajak kesana. Eyang Ning adalah Keluarga satu-satunya bagi Mutia" ucap Alisa.
"Ayo kita kesana" ajak Nathan semangat.
__ADS_1
"Ini sudah malam Nathan, besok pagi kita berangkat" ujar Sadam.
"Iya, kasihan dengan Alisa. Dia sekarang lagi hamil, tidak baik" timbal Ryan.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian Nathan, ayo tidur. Besok kita semua pergi untuk menjemput Mutia dan Safa karena kami mau menginap disini" ucap Sadam.
Farel mendorong tubuh Nathan untuk tidur kembali, karena besok pasti akan menjadi hari yang melelahkan bagi mereka itulah yang ada di pikiran mereka sekarang.
Yang lain tidur di ruang tamu, kecuali Alisa yang tidur di kamar tamu. Tapi Alisa tidak mau tidur dengan Yama, dia mau tidur sendirian.
"Kamu kenapa Yama?" tanya Farel.
"Alisa" jawab Yama yang mondar-mandir di depan kamar Alisa.
Farel yang melihat tingkat Yama hanya bisa menarik diri untuk tidak ketawa. Tapi dihatinya Farel sudah ketawa.
Keesokan harinya, Mutia yang dari tadi sudah bangun menyiapkan sarapan untuk eyang Ning dan dirinya. Pagi-pagi tadi, Mutia sudah membersihkan tubuh Safa. Mutia yakin Safa akan kembali seperti dulu lagi, walaupun tanpa bantuan Nathan.
"Ayo bangun" teriak Nathan.
"Ya ampun Nathan, ini masih pagi" gerutu Farel yang masih tertutup matanya.
"Alisa mana?" tanya Nathan yang menghiraukan ucapan Farel.
"Aku sudah siap" sahut Alisa.
"Kalian kenapa masih tidur?, kalau dalam waktu lima belas tidak pada bangun. Aku dengan Nathan yang akan pergi berdua" ancam Alisa.
Mendengar ancaman Alisa, mereka berempat pada bangun dan berlari ke kamar mandi, untung kamar mandinya ada dua.
Alisa duduk di dekat Nathan sambil ketawa melihat keempat pria yang pada ribut soal kamar mandi.
"Alisa, maafkan aku" ucap Nathan tiba-tiba.
__ADS_1
Alisa yang mendengarnya langsung menoleh dan menatap Nathan.
"Tidak apa-apa lupakanlah, tapi kamu harus ingat nanti kalau kita bertemu dengan Mutia dan Safa. Mutianya jangan kamu marahi, kasihan lihat dia mungkin dia takut kamu mengambil Safa dari dirinya. Secara Mutia tidak ada siapa-siapa lagi di dunia ini" terang Alisa.
Nathan tertegun mendengar terangan dari Alisa, sebenarnya Nathan juga tidak mau dengan Mutia apalagi kalau melihat wajah polosnya. Tapi setidaknya memberikan pelajaran sedikit dengan Mutia tidak apa-apa, itu yang di pikirkan Nathan Sekarang.
"Nathan, dengar apa yang aku katakan" tanya Alisa dari tadi.
"Iya Sa" jawab Nathan.
"Bagus, anak pintar" ucap Alisa tersenyum.
Nathan mengelengkan kepalanya melihat tingkah Alisa yang tidak pernah berubah dari zaman mereka kecil. Alisa adalah saudara tiri Nathan dari papanya, dulu Nathan tidak pernah mau berdekatan dengan Alisa. Tapi dengan kegigihan Alisa akhirnya mereka bisa dekat dan dari banyak saudara tiri atau saudara kandung Nathan hanya Alisa yang bisa dekat Nathan.
"Kami sudah siap" ucap Farel.
"Siap apa ya?, ini sudah terlambat dari lima belas menit. Sebenarnya aku tadi mau pergi dengan Nathan, tapi karena aku lagi baik jadi aku membatalkan niatku" ujar Alisa sambil makan buah.
"Ini isterimu atau bukan" tanya Sadam dengan Yama.
"Tanya dengan Nathan ini saudaranya atau bukan" tanya Yama balik.
"Ayo kita berangkat" seru Alisa yang sudah berjalan duluan.
Yama hanya bisa meminta maaf kepada sahabatnya dengan kelakuan Alisa.
Setelah selesai sarapan Mutia diajak eyang Ning, ketempat dukun yang bisa menyembuhkan orang koma. Rumah dukun itu tidak terlalu jauh dari rumah eyang Ning. Sesampainya disana sudah ada banyak orang yang antri untuk berobat.
"Duduk dulu, eyang pulang sebentar nanti eyang datang lagi" ucap eyang Ning.
"Iya eyang" jawab Mutia.
Eyang Ning juga sudah mendaftarkan Mutia dan dapat nomor lima puluhan.
"Maafkan aku Allah" ucap.Mutia.
__ADS_1