Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Kedekatan Nathan dan Mutia


__ADS_3

Nathan menemani Mutia dikamarnya, Nathan memandangi wajah Mutia yang sudah terlelap.


"Kenapa setiap aku melihat wajah polos dan lugunya Mutia ada perasaan kasihan di hati ini?, tapi aku tidak boleh terperdaya dengan wajahnya ujung-ujungnya dia juga akan menyakitkan kita" ucap Nathan.


Nathan pun tertidur sambil duduk di kursi samping Mutia(ini aku banget.... pokoknya kalau ngantuk langsung tidur dimana pun hhaaaaa).


Mutia mengerakkan badannya setel kuah dia tertidur selama satu jam. Mutia pun membuka matanya, dan betapa terkejutnya Mutia waktu dia melihat Nathan yang tidur sambil duduk.


"Pak bos, kalau dilihat dari dekat sangat tampan. Terakhir aku melihat dia seperti ini enam tahun yang lalu" kata Mutia sambil memegangi dadanya yang berdetak.


"Jangan sampai aku jatuh cinta dengan pak bos" ujar Mutia mengelengkan kepalanya.


"Kamu sudah bangun" ucap Nathan dengan suara serak habis bangun tidur.


Mutia salah tingkah, dia takut Nathan tahu kalau tadi dia memandangi wajah Nathan apalagi saat ini pipi Mutia sangat merona.


"Kamu sakit" kata Nathan dan memegangi kening Mutia tapi Nathan tidak merasakan panas dikening Mutia.


"Aku tidak apa-apa pak" ucap Mutia menghindari tangan Nathan. Nathan yang melihatnya hanya tersenyum kecil.


"Kalau masih sakit, istirahat saja" ucap Nathan berdiri.


"Pak" panggil Mutia dan memegangi pakaian Nathan.


"Iya" kata Nathan menoleh dan menatap Mutia.


"Pak, kata bapak kalau aku mau tidur bapak mau menemukan aku dengan Safa. Aku kangen anakku pak" ucap Mutia tertunduk.


"Nanti aku akan bawa kamu ke Safa, tapi sekarang kamu juga butuh istirahat" jawab Nathan.


"Tapi aku ingin ketemu Safa, aku kangen Safa dan aku mau tahu bagaimana keadaan anakku pak" Isak Mutia keluar.


"Iya, aku tahu itu tapi sekarang kamu harus istirahat" bujuk Nathan.


"Aku sudah istirahat pak dari tadi. Dan sekarang aku ingin sekali bertemu dengan Safa" isak Mutia semakin menjadi dan sekarang berubah menjadi tangisan.


Nathan binggung harus melakukan apa, Mutia untuk sekarang ini belum siap menerima keadaan Safa. "Mutia, dengarkan aku nanti kita bertemu dengan Safa tapi bukan sekarang" janji Nathan. Mutia pun membaringkan tubuhnya dan menarik selimut Sampai kepala.

__ADS_1


"Mutia, dengarkan aku" ucap Nathan, Mutia tdk mau mendengarkan penjelasan Nathan. Nathan Kemudian duduk di samping Mutia.


"Aku tahu kamu tidak tidur, aku janji nanti aku akan membawa kamu ketemu dengan Safa. Tapi kondisi kamu harus sehat Mutia" bujuk Nathan.


"Seumur hidup aku tidak pernah membujuk seorang perempuan" gumam Nathan dalam hati sambil memencet hidupnya. Tapi Mutia hanya diam dan tidak menjawab bujukan Nathan.


"Halo" ucap Nathan mengangkat teleponnya.


"............"


"Iya, aku akan kesana" jawab Nathan dan menutup teleponnya. Sebelum Nathan membalikkan badannya, dia melihat Mutia yang masih menutupi wajahnya dengan selimut.


"Aku pergi dulu, tapi nanti aku kembali lagi. Jangan kemana-mana, kalau waktu aku kesini kamu tidak ada. Aku akan mengikat kamu atau kalau tidak aku akan mengulangi kejadian enam tahun yang lalu" bisik Nathan di telinga Mutia.


Nathan pun pergi meninggalkan Mutia setelah kepergian Nathan, Mutia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.


"Aku membencimu pak bos" tangis Mutia.


Nathan pergi menemui Dokter yang merawat Safa.


"Alhamdulilah pak, keadaan Safa sudah stabil. Sudah melewati masa kritis" jawab Dokter.


Nathan memejamkan matanya, dan dia bersyukur Safa bisa selamat. Karena kalau terjadi apa-apa dengan Safa bagaimana dengan Mutia. Tapi kenapa aku harus memikirkan Mutia, itu yang sekarang ada di otak Nathan.


"Dokter, aku boleh melihat Safa" izin Nathan.


"Boleh pak, tapi cuma sebentar" jawab Dokter.


Nathan pun keluar dari ruangan Dokter dan langsung menuju keruang ICU tempat Safa di rawat. Tapi sebelum itu Nathan di suruh memakai pakaian steril untuk masuk ke ICU.


Nathan melihat Safa yang terbaring lemah, tidak ada lagi Safa yang cerewet dan serba tahu. Nathan tidak tahu bagaimana nanti waktu Mutia melihat keadaan Safa.


"Besok hasil tes DNA keluar, semoga apa yang aku harapkan terjadi. Biar aku menembus semua kesalahan yang aku perbuat dengan Mutia dan Safa" kata Nathan pelan sambil mengusap wajah Safa.


Cukup lama Nathan di dalam ruangan Safa, dan dia pun keluar. Nathan berjalan kearah kamar Mutia, dibukanya pintu kamar rawat Mutia. Di atas ranjang kamar Nathan melihat Mutia yang meringkuk seperti bayi.


Nathan menutup pintu dan dengan lambat-lambat, Nathan berjalan mendekati Mutia dan sudah dekat di lihatnya Mutia yang sudah tertidur.

__ADS_1


"Ingin rasanya aku menyentuh wajah ini" pikir Nathan.


Nathan pun membalikkan badannya, dan dia berjalan menuju sofa yang ada di kamar Mutia.


Nathan membaringkan tubuhnya di sofa dan dia pun terlelap.


Di kantor Sadam sampai kebingungan, karena Nathan tidak bisa di hubungi. Memang tidak ada sinyal atau Nathan sengaja mematikan handphonenya itu yang membuat Sadam bertanya.


Sadam juga sudah minta bantuan dengan ketiga sahabatnya untuk coba menghubungi Nathan tapi hasilnya tetap sama.


"Sadam susul saja ke Tangerang" usul Farel.


"Kalau aku pergi, bagaimana dengan perusahaan?. Tidak ada yang handle perusahaan" jawab Sadam sedih.


Farel terdiam, bagaimanapun juga mereka bertiga juga ikut andil untuk perusahaan ini. Karena lima puluh persen saham perusahaan Nathan adalah milik mereka berempat.


Tapi untuk saham mereka semuanya di urus oleh Sadam. Karena mereka bertiga sudah ada bisnis masing-masing. Akhirnya Sadam mengalah dan dia memilih untuk tidak menelepon Nathan, biar Nathan pulang sampai urusannya selesai.


Sudah beberapa hari Sadam pulang dengan tampang lesu. Dulu masih ada sang isteri, Sadam tidak seperti ini. Masih ada yang mengurusnya walaupun kenyataannya mereka berdua menikah tidak ada rasa cinta. Sadam mencoba mencintai istrinya, tapi yang ada waktu habis melahirkan sikecil isteri Sadam lari dengan pacarnya dan sekarang mereka sudah menikah dan lagi hamil.


Anak Sadam di urus oleh Sherina, anak buah mamanya. Dari lahir dan sekarang sudah berumur satu tahun.


"Assalamualaikum" ucap Sadam


"Wa'alaikumsalam" jawab Sherina yang sudah mau pulang kerumahnya.


"Sadam, kamu baru pulang" tanya Sherina heran karena hari sudah hampir malam.


Yang ada Sadam langsung memeluk Sherina


"Aku merindukan kamu mbak" kata Sadam.


Yang ada sekarang Sherina yang mematung. Dulu sebelum mereka menikah, Sadam dan Sherina pernah menjalin hubungan diam-diam. Dan sudah sampai tahap dewasa, sampai Sadam memilih tunangannya dan meninggalkan Sherina.


Sherina melepaskan pelukan Sadam dan dia pergi meninggalkan Sadam yang masih berdiri di ruang tamu.


"Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi, cukup yang kemaren-kemaren" batin Sherina menangis.

__ADS_1


__ADS_2