
Selama bekerja pikiran Mutia tidak tenang, dia selalu kepikiran dengan Safa yang ada di kantin.Mutia takut waktu Nathan melihat Safa pasti Nathan langsung menebak siapa Safa sebenarnya.
"Ada apa dengan kamu Mutia?, lihat semuanya salah biasanya kamu tidak ceroboh seperti ini" tegur temannya yang jabatannya sudah tinggi.
"Maaf mbak" ucap Mutia. Mutia pun memperbaiki semuanya.
Di kantin pabrik Anaza asyik bercerita dengan Safa yang juga suka bercerita dengan Nathan.
"Nama kamu siapa?" tanya Nathan.
"Siti Safa Khumaira, dipanggil Safa tapi kalau bunda memanggil aku dengan adik om" jawab Safa.
"Pintar banget bicaranya, sudah sekolah" tanya Nathan yang sangat kagum dengan gaya bicara Safa yang pintar.
"Adek baru sekolah nol besar om" jawab Safa.
"Oohh, Adek baru sekolah nol besar. Bundanya kerja disini?" tanya Nathan.
"Iya om, nama bundaku Mutia Habibah" jawab Safa santai. Safa tidak tahu kalau jawabannya membuat Nathan terkejut.
"Ya ampun , jangan bilang ini anak hasil aku dan Mutia berhubungan malam itu. Tapi aku sangat menyukainya, Safa sangat lucu, cantik dan juga pintar. Aku harus bicara dengan Mutia dan meminta penjelasannya" kata Nathan dalam hati.
"Om kok diam" sahut Safa yang melihat Nathan melamun.
"Tidak apa-apa, Adek tinggal dengan siapa saja selain dengan bunda" ini adalah pertanyaan yang Nathan ingin tahu kebenarannya kalau Safa adalah anak kandungnya.
"Berdua dengan bunda, kata bunda ayah Adek pergi jauh untuk membelikan Adek istana tapi ayah tidak pernah pulang" jawab Safa polos.
"Benarkah ini anakku" kata Nathan dan langsung memeluk Safa yang tidak tahu kenapa tiba-tiba Nathan memeluknya.
Jam istirahat Mutia langsung pergi ke kantin, disana Mutia terkejut melihat kedekatan Safa dengan Nathan.
"Adek" tegur Mutia.
"Bunda" teriak Safa dan langsung berlari ke arah bundanya.
"Adek kangen dengan bunda" ujar Safa memeluk Mutia.
"Iya Adek" jawab Mutia dan Mutia melihat Nathan yang menatap dia sangat tajam.
"Kenapa pak bos menatap aku seperti itu, apakah dia sudah tahu kalau Safa anak kandungnya. Aku tidak mau dia mengambil Safa dariku hanya Safa yang aku miliki didunia ini" batin Mutia.
"Adek, ayo kita makan. Bunda sudah sangat lapar" ucap Mutia mengajak Safa makan siang.
"Bunda, Adek sudah makan tadi" jawab Safa.
__ADS_1
"Makan dengan siapa" tanya Mutia dan Mutia melihat Nathan yang masih berdiri disana.
"itu dengan om disana bun, om itu baik banget dengan Adek" jawab Safa menunjuk Nathan dan tersenyum, Nathan pun membalas senyuman Safa.
Safa menarik tangan Mutia untuk mendekati Nathan.
" Bunda, kenalin ini om baik. Om baik ini bunda Adek, namanya Mutia Habibah" ucap Safa.
Nathan dan Mutia saling mengenalkan diri mereka, tapi tatapan Nathan membuat Mutia sangat takut. Mutia langsung mengendong Safa dan memeluknya erat, Mutia tidak mau Nathan mengambil Safa darinya.
"Bunda, Adek mau turun. Adek sudah besar bunda" rengek Safa. Mutia menurunkan Safa dari gendongannya.
"Om, Adek tidak tahu siapa nama om" tanya Safa yang mendekati Nathan.
"Nama om, Nathan" kata Nathan tapi matanya masih melihat Mutia.
"Kenapa om Nathan selalu melihat bunda, jangan-jangan om Nathan suka bunda. Asyik Adek ada papa" batin Safa bicara sambil senyum-senyum.
"Adek, ayo temani bunda makan" ajak Mutia.
"Adek mau disini, dengan om Nathan" balas Safa yang tidak ingin melepaskan genggaman tangannya dari Nathan.
"Tapi bunda sendirian makannya, Adek tidak kasihan lihat bunda" keluh Mutia dan pura-pura sedih.
Nathan yang mendengarnya langsung ketawa.
"Lihat bun, om Nathan saja ketawa lihat tingkat bunda" ucap Safa lagi.
"Ini anak bicaranya seperti miripl pak bos gaya bicaranya" kata Mutia dalam hati melihat Safa dan Nathan bergantian.
"Iya sudah bunda makan sendiri" ucap Mutia dan pergi meninggalkan Safa dan Nathan.
"Om maafkan bunda Adek, bunda memang seperti itu orangnya. Tidak mau jauh dari Sek, katanya kalau adik pergi bunda tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini" jelas Safa.
"Bilang dengan bundanya, om tidak mungkin mengambil Adek dari bunda. Jadi bundanya Adek tidak perlu khawatir" kata Nathan.
"Siap om bos" jawab Safa sambil bergaya hormat didepan Nathan dan Nathan ketawa melihat tingkat Safa.
"Aku harus bicara dengan Mutia, kalau Safa anakku Safa harus tahu kalau ayahnya masih hidup. Aku tidak suka Mutia menjauhkan aku dari anak kandung aku sendiri" kata Nathan dalam hati.
Mutia dari jauh melihat kedekatan Nathan dan Safa.
"Aku tidak mau pak bos mengambil Safa, aku akan melawannya sampai aku mati" gumam Mutia dan tidak terasa air matanya jatuh.
Nathan dan Safa masih tetap bercerita segala hal. Setelah selesai makan Mutia mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Adek, bunda masuk dulu. Adek disini jangan nakal" pesan Mutia.
"Iya bunda, kan ada om Nathan" ucap Safa.
"Tapi om Nathannya mau kerja" kata Mutia.
"Om kerjanya nanti saja, temani Adek disini sampai bunda pulang kerja" rengek Safa.
"Iya adik, om akan disini terus sampai bunda pulang kerja".
"Asyik" teriak Safa.
"Tapi pak, bukannya bapak banyak pekerjaan" tanya Mutia. Tapi sebelum dijawab oleh Nathan Safa sudah mulai menangis.
"Iya terserah Adek" kata Mutia mengalah.
Mutia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Adek tidak boleh seperti itu dengan bunda, kasihan bunda" nasehat Nathan.
"Adek sayang dengan bunda, om tahu kalau bunda selalu menangis setiap malam. Adek tahu, tapi adik pura-pura tidur Adek tidak tahu kenapa bunda menangis" ucap Safa sedih.
"Jadi adik tidak boleh nakal dengan bunda janji dengan om" kata Nathan sambil menunjukkan jari kelingkingnya, Safa pun menunjukkan jari kelingkingnya.
"Kalau Safa anakku, aku tidak akan pernah membiarkan Safa hidup susah" gumam Nathan dalam hati.
Nathan pun mengajak Safa keluar pabrik tanpa sepengetahuan Mutia yang masih kerja.
"Om mengajak adik kesini, adek jarang kesini om. Paling-paling satu bulan sekali atau bareng dengan mama dan papa" ucap Safa.
"Kalau begitu pilih semua keinginan Adek, biar om yang bayar" kata Nathan tapi Safa menghentikan jalannya dan menatap Nathan. Nathan pun menundukkan badannya biar sama dengan Safa.
"Kenapa berhenti" tanya Nathan.
"Kata bunda, adek tidak boleh menerima pemberian orang lain kecuali papa dan mama" ujar Safa.
"Tapi om bukan orang lain, om adalah temannya Safa dan tadi bunda sudah tahu kalau om temannya Safa" ucap Nathan menyakinkan Safa. Akhirnya karena bujukan dari Nathan, Safa pun mau mengambil makanan yang ada di supermarket mini yang ada di depan pabrik tekstil.
Sepulang bekerja, Mutia langsung mencari Safa di kantin tapi tidak ada Safa malahan di kantin semuanya sudah tutup. Mutia takut, Nathan menculik Safa kalau itu terjadi Mutia memilih mengakhiri hidupnya. Karena bagaimanapun Mutia tidak akan bisa mengalahkan Nathan.
Mutia ke luar dari pabrik, dan Mutia melihat Safa dan Nathan baru pulang dari mini market didepan pabrik. Mutia langsung berlari dan memeluk Safa sangat erat.
"Bun, Adek tidak bisa bernapas kalau bunda memeluk Adek seperti ini" ucap Safa.
Mutia melepaskan pelukannya "Maaf Adek, tapi bunda sangat takut".
__ADS_1