Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Malam Yang Tak Terlupakan


__ADS_3

Tak terasa sudah enam bulan, Mutia kerja jadi OB. Dan selama enam bulan itu Mutia tidak pernah masuk untuk membersihkan ruangan pemilik perusahaan.


"Fitri, aku selama ini tidak pernah tahu bagaimana wajah CEO perusahaan ini" tanya Mutia.


"Kenapa penasaran dengan CEO nya?" tanya Fitri.


"Iya" ucap Mutia malu.


Fitri pun ketawa mendengar ucapan Mutia yang dari dulu sampai sekarang masih juga sangat polos.


Mereka berdua pun melanjutkan pekerjaan mereka.


Nathan dari pagi sampai siang ini tidak datang ke perusahaan, sekarang dia lagi berada di apartemen. Karena semalam dia habis bersenang-senang dengan empat bersahabatnya dan mereka menghabiskannya dengan menyewa wanita panggilan.


Nathan melihat banyak pesan masuk dari asistennya yang juga sahabat akrabnya yaitu Sadam Muhammad.


"Ini anak tidak capek apa" gerutu Nathan dan langsung menelepon Sadam.


"Halo ada apa Sadam" tanya Nathan setelah Sadam mengangkat telepon dari Nathan.


"Nathan, kamu lupa kalau hari ini kita ada janji untuk bertemu dengan tuan Ali membahas kerjasama kita dan satu hal lagi rencana perjodohan kamu dengan anaknya" jelas Sadam biar Nathan ingat dengan perjanjian dia dengan tuan Ali.


"Aku tahu Sadam, tapi aku ingin kamu mengantikan aku untuk menghadiri pertemuan itu. Dan bilang saja aku lagi tidak enak badan" pinta Nathan yang sangat malas menghadiri pertemuan yang tidak penting ini.


"Tapi tidak bisa seperti itu Nathan" sahut Sadam yang tidak suka dengan apa yang Nathan bicarakan.


"Terserah" ujar Nathan dan langsung mematikan teleponnya.


"Halo.... halo...Nathan..." panggil Sadam tapi teleponnya sudah di matikan oleh Nathan.


"Nathan, kapan kamu akan berubah dan tidak berbuat seenaknya" gumam Sadam melihat panggilannya di putuskan secara sepihak sedangkan Dia belum selesai bicara dengan Nathan.


Hari ini, Mutia pulang cepat dari biasanya karena dia tadi mendapatkan telepon dari tetangganya bahwa neneknya jatuh pingsan.


Mutia langsung menuju rumah sakit, di sepanjang jalan Mutia berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan nenek. Kalau itu terjadi Mutia tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan hidupnya.


"Maaf Sus, aku mencari pasien bernama Siti. Tadi dia pingsan dirumah" tanya Mutia dengan Suster yang ada di meja depan.


"Tunggu sebentar mbak" kata Suster tersebut.


Mutia tidak pernah berhenti membaca doa untuk kesembuhan nenek.


"Ada mbak pasien atas nama ibu Siti, sekarang lagi ada di ruang IGD" kata Suster.


"Terima kasih Sus" ucap Mutia dan langsung pergi menuju ke ruang IGD.


Sesampainya disana, Mutia melihat seorang dokter keluar dari ruang IGD.


"Dok, bagaimana keadaan nenekku" tanya Mutia.


"Kamu cucu nenek yang didalam" tanya Dokter balik.


"Iya Dok".


"Mbak, nenek mbak harus segera di operasi. Kalau tidak secepatnya, nenek mbak tidak akan bisa di selamatkan. Kankernya sudah menyebar di seluruh tubuh nenek mbak" jelas Dokter.


"Kapan bisa di operasi Dok?".

__ADS_1


"Kalau mbak sudah melunasi semua pembayarannya, bisa segera kita lakukan" kata Dokter yang dari tag namanya bernama Dokter Ryan.


"Iya Dok, aku bisa melihat nenekku" tanya Mutia.


"Bisa" ucap Dokter Ryan menyuruh Mutia masuk.


Mutia masuk kedalam ruangan IGD dan Mutia menangis melihat nenek yang tidak sadar. Mutia berjalan mendekati nenek dan disentuhnya wajah nenek sambil menangis.


"Nek, apa pun yang terjadi. Nenek akan dioperasi ada aku yang akan berusaha mencari uangnya dengan cara apapun. Yang penting nenek tetap dioperasi" kata Mutia membelai wajah nenek yang sangat dia sayangi.


Setelah selesai menjenguk neneknya, Mutia mencoba menghubungi Fitri.


"Assalamualaikum" ucap Mutia.


"Wa'alaikumsalam" jawab Fitri.


"Fitri, aku butuh bantuan kamu" kata Mutia menangis.


"Ada apa Mut, jangan menangis. Cerita sama aku kalau bisa nanti aku bantu" ucap Fitri.


"Nenek Fit, aku butuh biaya untuk operasi nenek. Uangku belum cukup" cerita Mutia.


"Berapa biaya operasi nenek" tanya Fitri.


"Lima puluh juta Fit, sedangkan uang yang aku kumpulin hanya ada lima juta" ucap Mutia.


"Uang tabungan aku adanya lima belas juta Mut" kata Fitri.


"Masih kurang tiga puluh juta, aku mau mencari kemana uang sebanyak itu" ucap Mutia menangis.


"Mut, pinjam uang di perusahaan saja. tapi jangan dengan ibu HRD langsung dengan pemilik perusahaan mungkin dia mau" saran Fitri.


"Sama-sama" kata Fitri.


Mutia pun kembali lagi keruangan nenek untuk menjaga nenek, walaupun hanya didepan ruangan.


Keesokan harinya sebelum keperusahan, Mutia pulang dulu kerumah untuk mandi dan Menganti pakaiannya.


"Mut, bagaimana keadaan nenek" tanya Fitri waktu melihat Mutia baru datang.


"Masih seperti itulah Fit".


"Ya sabar Mut, dan jangan lupa berdoa untuk kesembuhan nenek" kata Fitri menyemangati Mutia.


Rencananya jam istirahat nanti, Mutia mau menemui pemilik perusahaan untuk membicarakan rencana Mutia meminjamkan uang perusahaan. Jam istirahat tiba, Mutia langsung kelantai paling atas untuk menemui pemilik perusahaan.


"Maaf mbak, pak bosnya ada" tanya Mutia didepan meja sekretaris pak bos.


"Tunggu sebentar" jawab seorang wanita yang umurnya sudah di atas empat puluhan.


"Masuk" suruh suara di dalam.


"Pak, ada yang mau bertemu" ucap sekretarisnya.


"Siapa".


"Seorang perempuan dan dia sepertinya bekerja jadi OB".

__ADS_1


"Bilang aku sibuk".


"Baik pak" sekretaris itu langsung menutup pintu.


"Maaf mbak, pak bosnya lagi sibuk jadi tidak bisa di ganggu".


"Tidak apa-apa aku tunggu sampai pak bos tidak sibuk. Aku butuh untuk bicara dengan pak bos" kata Mutia dan langsung duduk, Mutia juga tidak peduli dengan protes sekretaris menyuruh Mutia pergi tapi Mutia tidak mau.


Rupanya pemilik perusahaan tempat Mutia bekerja adalah Nathan. Nathan langsung keluar untuk melihat siapa yang ribut di depan ruangannya.


"Ada apa ini" tegas suara Nathan dan mereka langsung terdiam.


"Pak, cewek ini dari tadi ingin menemui bapak tapi aku bilang bapak sibuk dan dia tetap ngotot ingin duduk menunggu bapak sampai bapak tidak sibuk" jelas sekretarisnya.


Nathan langsung melihat perempuan yang menunduk sambil memainkan jari-jarinya.


"Masuk keruangku" ucap Nathan. Mutia langsung mengikuti Nathan keruangnya.


"Aku mau lihat wajahmu" kata Nathan.


Mutia pun mengangkat wajahnya dan dia tersenyum melihat Nathan.


"Cantik, apalagi kalau memakai makeup, pasti masih perawan" kata Nathan yang kelihatan sangat ***** melihat Mutia.


"Pak, aku kesini perlu bantuan bapak" kata Mutia langsung dan akhirnya Mutia menceritakan tentang keadaan nenek.


"Aku ada ide bagus, biar aku bisa mencicipi tubuh perawannya" kata Nathan dalam hati.


"Baiklah, aku akan memberikan uangnya, tapi ini tidak dengan gratis".


"Apa masuk bapak" tanya Mutia penasaran.


"Bayar dengan tubuhmu malam ini. Dan kamu akan mendapatkan uang itu dengan gratis".


Mutia sangat terkejut mendengar perkataan pak bosnya.


"Aku tidak mau pak".


"Kalau tidak mau, berarti aku tidak bisa memberikan uang itu".


Mutia terdiam dan dia langsung pergi dari sana tanpa permisi lagi.


Sepanjang sisa hari itu, Mutia memikirkan perkataan pak bosnya.


"Apa aku harus melakukannya, tapi ini demi nenek. Ya Allah apa yang harus aku lakukan" ucap Mutia dalam hati.


Akhirnya Mutia membuat keputusan demi sang nenek yang sekarang butuh operasi.


Pulang kerja Mutia langsung ketempat parkiran pribadi pak bos.


Dan dilihatnya pak bos mau masuk ke dalam mobil.


"Pak aku mau" kata Mutia menunduk.


Nathan menyuruh Mutia untuk masuk kedalam mobilnya dan mengajak Mutia ke apartemen pribadinya.


Sesampainya disana, Mutia disuruh Nathan untuk membersihkan tubuhnya dulu. Mutia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk. Nathan yang melihatnya tidak berkedip dan langsung memeluk Mutia yang hanya diam seperti patung.

__ADS_1


Malam itu Mutia harus menyerahkan kesuciannya demi nenek.


__ADS_2