Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Keinginan Tahuan Nathan


__ADS_3

"Dasar Nathan" gerutu Sadam dan memandangi handphonenya.


Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku harus menemui pak Usman dan minta penjelasan soal hubungan dia dengan Mutia" ucap Nathan sendiri.


Selagi Nathan asyik dengan perpikirannya sendiri, pintu kantornya di ketuk seorang.


"Masuk" kata Nathan mengizinkannya orang itu untuk masuk.


"Maaf pak" ucap Mutia. Mutia nekat datang kekantor Nathan cuma ingin menjelaskan tentang tadi, Mutia tidak ingin di pecat kasihan lihat Safa.


Nathan terkejut melihat kedatangan Mutia dikantornya.


"Ada apa dia kesini" gumam Nathan dalam hati.


Mutia pun duduk di sofa untuk menerima tamu.


"Ada perlu apa Mutia" tanya Nathan langsung.


"Pak, jangan pecat saya. Kalau saya dipecat bagaimana dengan Safa?".


"Kenapa dengan Safa?" Nathan penasaran kenapa Mutia membawa-bawa nama Safa.


"Aku kasihan lihat Safa harus berpindah-pindah pak, Safa bukan anak bayi lagi yang kugendong untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal" jelas Mutia.


Nathan yang mendengarnya hanya diam, lagian kata siapa dia akan memecat Mutia. Apalagi sekarang sudah ada Safa, kasihan anak itu harus ikut bundanya untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal.


"Pak bos" ucap Mutia yang melihat Nathan melamun.


"Iya ada apa?, oh masalah ini akan aku suruh orang untuk menyelidikinya. Kita akan tahu salah siapa?, tapi maaf Mutia kalau kamu yang salah kamu harus aku pecat" kata Nathan hati-hati.


Mutia diam mendengar perkataan Nathan.


"Semoga pak bos dapat membongkar Semuanya" doa Mutia dalam hati.


"Iya pak, kalau aku yang salah. Aku siap untuk berhenti" ucap Mutia walaupun dengan berat hati dan dia akan memulai semuanya dari awal.


"Baiklah" kata Nathan menatap wajah Mutia yang sudah sedih.


"Maaf Mutia, aku tidak pernah mau memecat kamu demi Safa. Tapi kalau kamu salah, aku harus melakukannya" batin Nathan.


Setelah selesai berbincang Mutia pun keluar dari ruangan pak bos.


"Lihat pasti habis mengoda pak bos. Dasar wanita murahan" bisik-bisik karyawan waktu melihat Mutia keluar dari ruangan Nathan.


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan tentang aku. Tapi aku tidak sehina itu, aku memang hamil di luar nikah tapi itu dulu dan aku lakukan ini demi nenek" ucap Mutia di dalam hatinya waktu melihat semua karyawan bisik-bisik.


Mutia pun meneruskan pekerjaannya yang belum selesai tadi karena masalah dengan Rima. Mutia selalu kepikiran Safa yang dia titipkan dengan Bu'dek. Biasanya Safa tidak lama jauh darinya dan dia lebih mempercayai ibu Mirna ketimbang Bu'dek.

__ADS_1


Jam makan siang nanti, Mutia akan mencoba untuk menghubungi Safa.


"Sialan kenapa tadi aku tidak langsung bertanya di mana Safa" ucap Nathan geram dan bolak-balik tidak jelas karena lupa menanyakan dimana Safa.


"Kalau Safa benar-benar anakku, bagaimana dengan Mutia jika Safa ku ambil" tanya Nathan dalam hati.


Handphonenya Nathan berbunyi lagi dan masih tetap Sadam yang menelepon dirinya.


"Ada apa Sadam" tanya Nathan langsung tanpa salam.


"Nathan, jangan dimatikan ada yang mau aku bahas dengan kamu" ucap Sadam.


"Ada apa?, Kalau soal kantor kamu bisa urus sendiri" kata Nathan malas.


"Tumben masalah kantor kamu jawab malas, ada apa?. Tidak ada jatah semalam" kata Sadam ketawa.


"Tawa saja terus, biar giginya kering. Ada apa Sadam? kalau tidak ada hal penting, handphonenya mau kumatikan" kata Nathan.


"Soal janji kamu dengan pak Yanto!" langsung Sadam berbicara dari pada sambungannya di putus lagi oleh Nathan.


"Ohh, kamu saja Sadam. Lagian aku dengar anak perempuannya cantik bisa kamu dekati" ucap Nathan.


"Bukannya pak Yanto mau menjodohkan anaknya dengan kamu" tanya balik Sadam.


"Tapi aku sudah ada orang yang aku sukai" jawab Nathan santai.


"Siapa?".


"Sadam, kenapa kamu tidak cerita dengan aku kalau ada anak perempuan yang mirip dengan aku di pabrik" tanya Nathan dingin.


"Aku juga tidak tahu masalah itu Nathan" jawab Sadam yang memang tidak tahu menahu soal Safa. Dia melihat Safa baru dua minggu yang lalu, walaupun dia sudah sering kesini selama empat tahun ini.


"Aku sudah membuat kesalahan fatal Sadam" ucap Nathan.


"Apa maksud kamu Nathan" tanya Sadam penasaran.


"Nanti aku ceritakan dengan kalian semuanya".


"Baiklah, jadi bagaimana Nathan?" tanya Sadam lagi.


"Kamu saja Sadam dan nanti berikan hasilnya dengan aku" ucap Nathan.


Sadam hanya bisa menarik napas mendengar ucapan Nathan.


"Baiklah" kata Sadam tidak semangat.


"Kenapa Sadam?, kamu bisa ketemu dengan anaknya pak Yanto yang cantik dan seorang dokter" kata Nathan.


"Kamu tahu siapa yang aku sukai dari dulu?".

__ADS_1


"Iya mbak Sherina" ucap Nathan.


"Tapi sayang akhirnya harus jalan masing-masing" Sadam teringat dengan hubungannya dengan seorang wanita yang bekerja dengan mamanya. Seorang wanita dewasa yang sudah membuat Sadam merasakan jatuh cinta dan sakit sekaligus.


Nathan terdiam mendengar perkataan Sadam, seumur hidup Nathan belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Walaupun dia selalu gonta-ganti pasangan tapi Nathan belum pernah merasakan jatuh cinta.


Bukan seperti keempat sahabatnya yang sudah pernah merasakannya.


"Baiklah, teleponnya aku tutup dan nanti hasilnya aku kirimkan dengan kamu" ucap Sadam memecahkan lamunan Nathan.


"Iya" jawab Nathan.


Nathan melihat jam rupanya jam makan siang sudah lewat dari tadi, Nathan pun bergegas untuk makan siang. Dia keluar dari kantornya dan melihat pabrik yang kosong seperti tak berpenghuni. Nathan melewati ruangan untuk membuat minuman yang tertutup rapat. Dengan keponya Nathan memanjat dengan mengunakan kursi untuk melihat kedalam.


Betapa terkejutnya Nathan dilihatnya disana ada Mutia yang lagi shalat Dzuhur sendirian. Nathan melihat Mutia shalat dan itu membuat hati Nathan tenang.


"Kenapa aku bisa setenang ini melihat Mutia shalat" kata Nathan memegangi dadanya. Setelah Mutia selesai shalat, Nathan buru-buru pergi agar jangan dilihat Mutia.


Nathan pun pergi mencari makanan dan rencananya setelah makan, Nathan mau pergi kerumah pak Usman.


"Mutia, ayo makan" ucap salah satu pekerja. Dulu dibagian Mutia kerja, orang-orangnya baik tapi dua tahun ini Mutia dipindahkan ke tempat lain.


"Iya mbak" jawab Mutia.


Jam istirahat selesai, Mutia kembali bekerja. Sedangkan Nathan pergi kerumah pak Usman.


Nathan turun dari mobilnya dan lihatnya pak Usman yang lagi duduk di teras rumah.


"Siang pak" sapa Nathan.


Pak Usman melihat siapa yang bertamu ke rumahnya siang-siang seperti ini.


"Pak Nathan" kata pak Usman terkejut melihat Nathan yang datang.


Nathan pun jalan mendekati pak Usman dan menyalami tangannya.


"Apa kabar pak Usman" tanya Nathan yang sudah duduk di kursi didepan pak Usman.


"Alhamdulilah baik pak, bapak sendiri bagaimana kabarnya" tanya pak Usman balik.


"Aku baik-baik pak" jawab Nathan.


Nathan pun bertanya Segala hal seputar kegiatan pak Usman setelah pensiun dari pabrik.


Pak Usman pun menceritakan semuanya, tentang dia menghabiskan waktunya.


"Pak, aku sebenarnya kesini mau menanyakan soal Mutia" ucap Nathan langsung.


Pak Usman yang mendengarnya pun ketawa.

__ADS_1


"Sudah aku duga, bapak pasti sudah mendengar gosip tentang aku dengan Mutia di pabrik" kata pak Usman Kemudian.


Nathan hanya diam tanpa menjawab perkataan pak Usman.


__ADS_2