
Nathan terkejut melihat anak kecil yang mengalami kecelakaan adalah Safa. Nathan langsung mengendong Safa dan dia tidak memperdulikan pakaiannya yang terkena noda darah Safa.
Nathan meminta bantuan dengan salah satu warga yang bisa mengendarai mobil. Nathan memangku Safa di jok belakang.
"Pak, tolong kendaraannya di percepat. Anak ini butuh pertolongan secepatnya. Adek ini ayah" ucap Nathan.
"Ayah" ucap Safa pelan.
Nathan memeluk Safa, "Kamu harus kuat sayang, ayah selalu disini" kata Nathan.
Sesampainya di rumah sakit, Nathan yang mengendong Safa berteriak-teriak. Seorang perawat mendorong tempat tidur dan langsung membawa Safa di ruang IGD.
"Pak, terima kasih atas bantuannya" ucap Nathan dengan orang yang telah membantu Nathan mengendarai mobilnya dan Nathan memberikan beberapa lembar uang ratusan kepadanya.
"Tidak usah pak" kata orang itu malu dengan Nathan.
Nathan tersenyum "Tidak apa-apa pak, bapak sudah membantu aku jadi aku juga akan memberikan imbalan untuk bapak". Nathan memberikan bapak itu beberapa lembar uang ratusan, bapak itu mengungkapkan terima kasih dan meninggalkan Nathan sendirian. Nathan jalan kesana-kemari, dia binggung bagaimana bisa bicara dengan Mutia dan menjelaskan semuanya dan faktanya Mutia membenci Nathan. Dan yang paling utama adalah bagaimana keadaan Safa sekarang itu yang membuat Nathan pusing.
"Keluarga dari Safa" panggil seorang Suster.
"Ya aku ayahnya" kata Nathan berbohong.
"Safa kekurangan darah, jadi kami butuh donor darah" ucap suster.
"Ambil darahku sus" tawar Nathan.
"Ayo pak" ajak Suster.
Nathan tidak tahu apa yang dia lakukan ini benar atau tidak tapi Nathan yakin kalau Safa adalah anaknya dengan Mutia.
"Bagaimana sus?, darahku bisa di donorkan untuk Safa" tanya Nathan.
"Iya pak" jawab Suster.
Ada perasaan senang di diri Nathan, tapi Nathan juga merasa sedih waktu tahu kalau Safa dan dia mempunyai darah yang sama. Senangnya Nathan mengira Safa adalah anak kandungnya tapi sedihnya Nathan takut karena mungkin Safa bukan anak kandungnya walaupun darahnya sama.
"Sus, aku mau tes DNA" ucap Nathan.
Suster yang di ajak bicara Nathan hanya melongo dan tidak tahu harus bilang apa.
"Ini Suster, sus dimana ruangannya" tanya Nathan lagi dengan nada agak tinggi.
Suster itu tersadar dan dia tersenyum tidak enak dengan Nathan "Bapak bisa membawa barang yang mau di tes DNA ya".
Nathan mengangguk dan kemudian meninggalkan suster. Nathan langsung kekamar IGD tempat rawat Safa.
"Aku harus melakukannya, aku akan menyuruh orang untuk masuk kedalam rumah Mutia dan mengambil sikat gigi yang di pakai oleh Safa" pikir Nathan dan langsung menelepon seorang.
Dari tadi pikiran Mutia tidak enak, dia selalu memikirkan Safa yang ada di rumah Bu'dek. Mutia ingin menelepon tapi dia masih banyak pekerjaan, Mutia juga dari pagi tidak melihat pak bos.
__ADS_1
"Apakah dia marah dengan ucapan aku tadi, dan seenaknya menunduh aku dan mas Aman pacaran. Pak bos memang menyebalkan sedunia, aku benci dia. Aduh kok aku memikirkan pak bos jelek itu" gumam Mutia di hati.
"Kamu kenapa Mutia" tanya salah satu pekerja.
"Tidak apa-apa" jawab Mutia tersenyum kecil.
"Jangan melamun, nanti di marahin Rima seperti kemaren" tegur salah satu pekerja yang jabatannya sama seperti Rima.
"Iya mbak" jawab Mutia takut.
"Pokoknya istirahat nanti aku harus menelepon Safa. Kenapa perasaan aku tidak enak seperti ini dan selalu memikirkannya Safa" pikir Mutia sambil bekerja.
"Dokter, bagaimana dengan anak saya?". tanya Nathan waktu melihat Dokter keluar dari ruangan Safa.
"Maaf pak, anak anda sekarang lagi koma. Kita harus berdoa agar dia dapat melewati malam ini. Kalau tidak dia akan koma selamanya bahkan bisa mengakibatkan kematian" jelas Dokter. Nathan langsung terduduk di lantai dan mengusap rambutnya dengan kasar.
"Sabar pak, kita harus berdoa agar semua baik-baik saja" hibur Dokter.
Nathan hanya mengangguk tapi dia binggung bagaimana bicara dengan Mutia dan kalau memang Safa anak kandungnya. Nathan tidak mau kehilangan Safa.
Jam istirahat Mutia bergegas untuk menelepon Bu'dek, waktu panggilan pertama tidak di angkat. Ada rasa takut di hati Mutia, dia takut kalau Safa kenapa-kenapa. Tapi Mutia membuat jauh semua prasangka yang ada di pikiran dia sekarang ini.
Waktu panggilan ketiga kalinya baru diangkat oleh Bu'dek.
"Assalamualaikum" ucap Bu'dek malas karena dia tahu siapa yang menelepon.
"Wa'alaikumsalam" jawab Mutia.
"Mau bicara dengan Safa Bu'dek" ucap Mutia.
"Safa lagi main di tetangga sebelah".
"Ohhhh....ya sudah kalau seperti itu. Maaf Bu'dek sudah menganggu" kata Mutia pelan.
Bu'dek langsung mematikan teleponnya tanpa mengucapkan salam. Mutia hanya bisa mengelus dada dengan sikap Bu'dek yang memang selalu seperti itu.
Bu'dek asyik bercerita tanpa tahu dimana Safa, iya dia tahu sekarang Safa bermain dengan anak tetangga yang seumuran dengan Safa. Bagi Bu'dek Safa bukan cucu kandungnya jadi kenapa harus di khawatirkan.
"Mutia" panggil ibu Mirna.
"Ibu, apa kabar" tanya Mutia.
"Alhamdulilah ibu baik nak, bagaimana kabar kamu dan Safa" tanya ibu Mirna balik.
"Alhamdulilah baik Bu, Bu dari pagi perasaan aku tidak enak aku selalu kepikiran Safa" curhat Mutia.
"Memang di mana Safa?" tanya ibu Mirna balik.
"Aku titipkan dengan Bu'dek yang punya kontrakan. Tadi aku sudah meneleponnya, katanya Safa lagi main ditetangga sebelah. Tapi kenapa perasaan aku tidak enak dan aku merasa kalau Safa butuh aku" cerita Mutia.
__ADS_1
"Kenapa tidak minta izin?, bilang saja dengan pak bos kalau Safa sakit" usul ibu Mirna.
"Pak bos hari ini tidak masuk bu" keluh Mutia.
"Mutia, pak bos ini sangat baik. Dia juga kemaren sempat menanyakan kamu dan Safa" kata ibu Mirna.
Mutia terkejut mendengar perkataan ibu Mirna,
"Menanyakan bagaimana bu" sahut Mutia.
"Menanyakan kalian segala hal terutama masa kecilnya Safa" ucap ibu Mirna.
"Ya Allah, jangan-jangan pak bos tahu kalau Safa anak hasil malam itu" batin Mutia.
"Kenapa melamun?, ayo masuk sana. Jam istirahat sudah hampir habis" kata ibu Mirna mengejutkan Mutia.
"Ya Bu" Mutia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke pabrik tapi pikiran Mutia sekarang bercabang memikirkan omongan ibu Mirna soal pak bos yang menanyakan dia dan Safa dan juga masih memikirkan Safa.
Selesai bergosip dengan tetangganya, Bu'dek pun mencari Safa. Tapi orang yang di cari tidak ada, Bu'dek keliling mencari Safa apalagi dari siang Safa tidak makan. Tapi tetap saja hasilnya nihil, Safa tidak ada dimana-mana. Apalagi hari sudah mau sore dan sebentar lagi Mutia pulang kerja.
Dengan perasaan cemas, Bu'dek mondar-mandir di ruang tamu sampai Aman pulang kerja.
"Assalamualaikum" ucap Aman.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bu'dek.
"Aman....Safa hilang, mama sudah mencari kemana-mana tapi Safa tetap tidak ada" kata Bu'dek waktu Aman baru mau duduk.
"Bagaimana bisa Safa hilang mam?".
"Mama juga tidak tahu Aman. Mama juga binggung kemana Safa" ucap Bu'dek dengan nada cemas.
"Mutia tahu kalau Safa hilang" tanya Aman.
"Mutia belum pulang kerja".
"Assalamualaikum" ucap suara diluar.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aman.
"Mas, Safa mana?" tanya Mutia.
"Safa....".
"Iya Safa mana?, biasanya kalau dengar suara aku Safa langsung memeluk aku mas" kata Mutia sambil melihat kedalam.
"Mutia....kamu harus sabar....Safa...".
"Iya mas....Safa kemana....Adek....adek...ini bunda sayang" kata Mutia langsung masuk kedalam rumah dan di lihatnya Bu'dek yang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Bu'dek....Safa mana" tanya Mutia.
"Safa hilang" ucap Bu'dek.