
Enam tahun kemudian
Safa anak Mutia, tumbuh menjadi anak perempuan yang super aktif dan sangat pintar terutama pintar dalam menganalisis sesuatu.
Dari bayi Safa sudah di ajak kerja oleh Mutia, karena Mutia tidak mau anaknya di titipkan di tempat penitipan.
Sekarang setelah Safa berusia lima tahun, kepintarannya bertambah. Mutia sangat menyayangi Safa melebihi apa pun juga. Safa sudah mulai sekolah TK, jadi kalau Safa pulang sekolah Mutia menjemputnya karena sekolah Safa dekat dengan pabrik tekstil tempat Mutia bekerja.
Di Jakarta
Sudah enam tahun ini, Nathan hidup dengan perasaan bersalah.
Flashback enam tahun yang lalu.
Satu bulan setelah kejadian malam itu, Nathan berusaha untuk mencari Mutia apalagi setiap malam Nathan bermimpi didatangi seorang nenek dan nenek didalam mimpinya menangis dan meminta Nathan untuk mencari cucunya.
Rasa bersalah selalu menghantui Nathan, Nathan berusaha untuk mencari Mutia tapi Mutia philang bagai ditelan bumi. Dan Semenjak kejadian malam itu, Nathan tidak bisa lagi berhubungan **** dengan siapa pun. Selama enam tahun ini, Nathan selalu berobat keluar negeri untuk mengobati kekurangannya tapi tetap saja nihil.
Flashback end.
"Bunda, Adek mau beli es krim" ucap Safa, walaupun baru berusia lima tahun tapi bicara Safa sudah lancar seperti anak berusia sepuluh tahun.
"Tapi Adek baru sembuh dari pilek, bunda tidak mau Adek sakit lagi" ucap Mutia.
"Ya Bun, boleh ya. Sekali ini saja Adek janji tidak akan minta di belikan es krim lagi" ucap Safa memohon sambil mau menangis.
"Baiklah, tapi Adek harus ingat janji adik dengan bunda. Ini terakhir makan es krim, bunda tidak ingin Adek sakit" ucap Mutia.
"Bunda, tidak ingin kehilangan dirimu" kata Mutia dalam hati sambil memandangi wajah Safa yang sangat bahagia karena dapat membeli es krim.
Di Jakarta
"Bagaimana keadaanmu" tanya Ryan, sahabat Nathan yang juga seorang dokter.
Hari ini Nathan mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkumpul di cafe punya Farel.
"Aku sudah pergi kesemua Dokter terbaik di seluruh dunia tapi tetap saja hasilnya nihil" Nathan mengatakan itu dengan wajah sedih.
"Wah itu hebat" seru Yama yang baru datang sambil bertepuk tangan.
"Ini anak datang-datang" kata Ryan ketus.
"Yama, katanya kamu mau kenalin kami dengan Safa" ujar Nathan.
"Iya, tapi mereka tinggal di Tangerang" kata Yama.
"Safa itu anak perempuan yang cantik tapi cerewet, dan juga pintar. Aku yakin itu semua pasti dari sifat ayahnya, kalian tahu kalau aku lihat Safa aku ingat dengan wajah seorang waktu dia masih kecil tapi aku lupa wajah siapa" cerita Yama.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu suka dengan bundanya. Bisa di bunuh ayahnya Safa" ucap Nathan.
"Alisa mau dimanakah?, kalian tahu bagaimana mati-matian aku mendapatkan cinta Alisa. Dokter dingin temannya Ryan" Yama mengenang saat dirinya mengejar-ngejar Alisa enam tahun yang lalu.
Nathan penasaran dengan Safa, anak perempuan yang sering di ceritakan oleh Yama. Bundanya adalah adik angkat Alisa.
"Hai bro, Semuanya pada kumpul. Maaf aku datang terlambat" sahut Sadam yang baru datang.
"Nathan jangan selalu memberikan Sadam tugas berat, dia harus memikirkan untuk menikah lagi kasihan si kecil" ujar Yama.
"Isshh kamu Yama, perasaan bisa saja aku berikan Sadam tugas" ucap Nathan
"Farel mana?" tanya Sadam karena tidak melihat Farel dan memutuskan perdebatan Nathan dan Yama.
"Biasa mau MOS anak baru dulu" celetuk Yama.
"Tidak pernah berubah" kata Sadam menggelengkan kepalanya.
Di Tangerang
Setelah menidurkan Safa, Mutia pun mengistirahatkan tubuhnya karena seharian kerja. Mutia mengusap kepala Safa dan tak terasa air mata Mutia jatuh.
"Maafkan bunda, yang tidak bisa memberikan adik kehidupan yang layak" ucap Mutia.
Mutia berkhayal seandainya pak bos mau mengakui Safa ini sebagai anaknya. Safa tidak akan merasakan hal seperti ini dihina tidak ada ayahnya atau merasakan makanan enak dan pakaian yang bagus-bagus. Tapi kalau dengan Mutia, Safa merasakan makanan enak atau pakai pakaian yang bagus-bagus itu hanya satu tahun sekali. Kecuali kalau Alisa yang memberikan Safa semua itu.
Di Jakarta.
"Siapkan kunjungan aku ke Tangerang" sahut Nathan dengan Sadam.
Dua tahun yang lalu, Nathan membeli pabrik tekstil yang ada di Tangerang. Dan semua urusan pabrik dia limpahkan dengan Sadam yang bertugas menjadi asisten pribadinya.
Dan hari ini Nathan memutuskan untuk mengunjungi pabrik testilnya.
"Semua sudah di siapkan" ucap Sadam dengan Nathan.
Mereka berdua pun pergi ke Tangerang.
Di Tangerang.
"Bun, hari ini Adek tidak masuk sekolah. Jadi Adek bisa ikut bunda ke pabrik" ucap Safa.
"Tapi Adek jangan nakal, duduk di kantin pabrik" nasehat Mutia.
"Hore..." sorak Safa.
"Adek sarapannya harus di habiskan" ucap Mutia.
__ADS_1
Safa langsung cepat-cepat menghabiskan semua makanannya dan Mutia ketawa melihat tingkat anaknya yang lucu.
"Bagaimana laporan di pabrik ini" tanya Nathan yang telah sampai di pabrik tekstil.
"Ini pak semua laporannya" jawab pengawas pabrik tekstil.
Nathan melihat semua laporan yang di berikan kepadanya. Sedangkan Mutia sekarang sudah menitipkan Safa di kantin pabrik.
"Ada apa mbak rame-rame" tanya Mutia yang baru datang.
"Bos besar datang dari Jakarta" jawab karyawan pabrik. Mutia memang sudah sering mendengar tapi Mutia tidak tahu bagaimana orangnya.
Setelah selesai memeriksa laporan, Nathan keluar dari ruangan untuk jalan-jalan keliling pabrik.
"Dua tahun aku membeli pabrik ini, tapi baru sekarang aku kesini" kata Nathan dengan kepala pengawas pabrik.
"Iya pak".
"Mutia awas di depanmu" teriak karyawan lain.
Mutia lagi membawa gulungan benang yang banyak dan tubuh Mutia sedikit oleng. Mutia tidak tahu kalau didepan dia sudah ada Nathan.
"Maaf pak bos" kata Mutia menunduk.
"Suara itu, bukannya itu suara Mutia Habibah" gumam Nathan dalam hati.
"Jangan menunduk aku ingin melihat wajahmu" tegas Nathan.
"Itu suara pak bos Nathan, kok dia bisa disini" batin Mutia menebak suara laki-laki yang didengarnya.
"Wajahmu mana?" tanya Nathan lagi.
"Mutia" panggil pak kepala.
Dengan tangan gemetar, Mutia menegakkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya Nathan, kalau selama ini Mutia kerja di pabrik tekstil miliknya.
"Aku minta maaf pak" ucap Mutia dan menundukkan kembali kepalanya.
"Kembalilah kamu kerja" Nathan menyuruh Mutia untuk kembali kerja.
"Alhamdulilah, pak bos tidak mengenal aku. Tapi aku tetap harus menghindar, aku tidak ingin dia tahu kalau dia mempunyai seorang putri yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya" batin Mutia dan dia pun kembali bekerja.
Nathan melakukan tour pabrik, dan disaat dia kekantin pabrik. Nathan melihat seorang anak perempuan yang wajahnya mirip dengan dia waktu masih kecil. Dan anak kecil itu yang ternyata Safa juga melihat Nathan, Safa pun tersenyum melihat Nathan dan Nathan juga tersenyum kecil dengan Safa.
"Wajahnya kenapa mirip denganku bahkan senyumnya" batin Nathan melihat Safa.
"Om ini kalau Adek melihat dirinya, Adek seperti berkaca diri sendiri" kata Safa dalam hati.
__ADS_1