Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Ke gundahan Nathan


__ADS_3

"Dengar pak Nathan, Safa anak kandungku bukan anak anda pak. Jadi jangan sekali-kali anda mengakui Safa anak anda" suara Mutia terdengar seperti berbisik dengan Nathan, Mutia takut kalau Safa mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Tapi kalau Safa benar anak kandungku bagaimana?". tanya Nathan lagi.


Mutia menatap Nathan dengan sangat geram.


"Bisa-bisa dia selalu bilang kalau Safa anak kandungnya" ocehan Mutia di dalam hatinya.


"Kenapa diam?" tanya Nathan yang melihat Mutia diam seribu kata.


Mutia pun mendorong tubuh Nathan yang menghadap tubuhnya.


Mutia berjalan kedepan dan melihat Safa yang lagi main tukar pasang. Dan Mutia mendekati Safa yang lagi asyik dengan dunianya sendiri.


"Adik ayo, kita harus berangkat nanti bunda terlambat" tegur Mutia.


"Tapi bagaimana dengan om Nathan bunda?, kasihan lihat om Nathan disini sendirian" ucap Safa menghentikan kegiatannya dan menarik tangan bunda supaya duduk.


"Om Nathan, dia bisa.....".


"Aku akan mengantar bunda dengan Safa" ucap Nathan memutuskan pembicaraan Mutia dan Safa.


Mutia langsung berdiri dan melihat Nathan dengan sangat tajam.


"Aku dan Safa bisa pergi sendiri" ucap Mutia didepan wajah Nathan. Nathan tidak memperdulikan semuanya, dia langsung pergi sambil menggendong Safa.


"Pak, anda tidak bisa seenaknya seperti itu. Mengendong Safa dan membawanya pergi, Safa ini anakku pak" teriak Mutia dan berusaha mengambil Safa dari gendongan Nathan.


"Om..bunda jangan ribut, badan adik sakit bun" keluh Safa karena dipaksa Mutia untuk turun dari gendongan Nathan.


Nathan pun menurunkan Safa dan oleh Mutia, Safa langsung ditarik dan diletakkannya di belakang tubuhnya.


"Lebih baik anda pergi pak, anda tidak malu apa dengan orang-orang disini yang pada melihati kita" tantang Mutia dengan sangat berani.


"Ini cewek, ingin rasanya aku bungkus dan disimpan di kotak supaya tidak banyak bicara" kesal Nathan dengan sikap keras kepalanya Mutia.


"Okey tidak apa-apa, dan aku tidak akan menganggu kamu lagi" ucap Nathan kesal dan langsung pergi meninggalkan Mutia dan Safa.


"Ini orang mengesalkan sekali" batin Mutia.


"Bunda dengan om Nathan ada apa?, kalau ketemu pasti selalu Bertengkar. Adik sedih melihat pertengkaran bunda dengan om Nathan" ucap Safa waktu di bawa Mutia kerumahnya Bu'dek.


Mutia menundukkan tubuhnya dan di peluknya Safa "Anaknya bunda, jangan berpikir yang tidak-tidak. Bunda dengan om Nathan tidak ada masalah apa-apa, bunda bukannya tidak suka dengan om Nathan tapi om Nathan itu nakal makanya bunda selalu marah dengan om Nathan" terang Mutia mengusap kepala Safa.


"Nakal seperti adik, Bun" tanya Safa.

__ADS_1


Mutia ketawa mendengar pertanyaan Safa "Iya" jawab Mutia.


Mutia berdiri dan mengandeng tangan Safa.


"Adik, jangan nakal dengan nenek. Nanti sore bunda jemput" ucap Mutia.


"Ya Bun, tapi mulai besok adik ikut bunda kepabrik ya" kata Safa.


"Iya Safa". kata bunda tersenyum.


Mereka berdua sampai didepan Aman.


"Assalamualaikum" ucap Mutia.


"Wa'alaikumsalam, ayo masuk Safa" ucap Bu'dek mamanya Aman basa-basi.


"Sampai kapan ini anak, mau tinggal disini. Kalau tidak demi Aman, aku malas mengurusi anak tidak jelas ini" batin Bu'dek.


"Bunda pergi dulu, adik jangan nakal ya" ucap Mutia dan menciumi seluruh wajah Safa.


"Iya Bun" kata Safa dan juga menciumi wajah bundanya.


"Maaf Bu'dek sudah merepotkan Bu'dek" kata Mutia tidak enak hati.


Safa langsung menatap Bu'dek, "Dasar nenek lampir, untung besok adik tidak dititipkan lagi disini" ucap Safa gembira didalam hatinya.


Mutia pun pergi bekerja dengan berjalan kaki, karena jarah pabrik dari kontrakan dan rumah Bu'dek sangat dekat. Tanpa Mutia sadari dari tadi Nathan mengikuti mereka berdua.


"Ohh, jadi disini rumah Pacarnya Mutia. Kenapa aku tidak suka waktu bilang pria tadi pacarnya Mutia apalagi melihat kedekatan mereka. Pakai acara ngantar kedepan dengan senyuman manisnya" gerutu Nathan sendiri.


Handphonenya Nathan berbunyi dan dilihatnya panggilan dari Sadam menyebalkan.


"Ada apa Sadam" tanya Nathan langsung.


Dengan menarik napas Sadam berkata dengan Nathan "Nathan ganteng, siang ini kamu harus ikut saya untuk menyelesaikan masalah perjodohan kamu dengan anak pak Yanto" kata Sadam.


"Aku sudah bilang dari semalam, aku tidak suka dengan anak pak Yanto. Dia yang mati-matian menjodohkan aku dengan anaknya, kalau ketemu selalu menawarkan perjodohan ini" keluh Nathan dengan sikap pak Yanto.


"Dan kamu Sadam, aku minta tolong selesaikan semuanya" pinta Nathan.


"Nathan jangan bilang kamu suka dengan bundanya Safa". tanya Sadam.


"Kamu tahu dari mana?, kalau Mutia tidak punya suami" tanya Nathan balik.


"Aku tidak tahu pasti, tapi semua orang pada gosip tentang Mutia. Sejujurnya aku sudah kenal dengan Mutia tapi belum pernah lihat anaknya" jelas Sadam.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu suka dengan Mutia" dengan nada yang ketus dan sepertinya Nathan tidak suka dengan ucapan Sadam.


Sadam tahu dari nada bicaranya Nathan kalau dia tidak ingin orang membicarakan Mutia dan Safa. Apalagi sepertinya Nathan suka dengan Mutia.


"Aku sudah bilang beberapa kali, kalau orang yang bisa membuat aku merasakan cinta dan luka secara bersamaan dia akan selalu tetap di hati ini Nathan. Tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun" kata Sadam sedih.


"Maaf Sadam, bukannya aku ingin mengungkitnya tapi aku hanya tidak suka kalau ada orang yang dekat dengan Mutia" ucap Nathan pasrah.


Sadam ketawa mendengar ucapan Nathan tentang apa yang dia rasakan sekarang.


"Berarti itu tandanya kamu suka dengan Mutia Nathan" kata Sadam menyakinkan Nathan tentang perasaannya.


"Aku hanya binggung saja sekarang ini" ucap Nathan pelan.


"Bagaimana Nathan" tanya Sadam lupa tentang tujuan pertamanya menelepon Nathan.


"Aku menolaknya, aku sudah pernah melihat dan berkenalan dengan perempuan anaknya pak Yanto. Cantik tapi sayangnya tidak ada rasa berdetak atau berdebar waktu berdekatan dengan Perempuan itu" jelas Nathan.


"Ohh...ya sudah nanti aku selesaikan masalah ini, kapan pulang ke Jakarta?. Mamamu menelepon katanya Minggu ini kamu di undang


kerumahnya, ada acara dirumah mamamu Nathan" kata Sadam.


"Terimakasih Sadam, tapi sejujurnya aku tidak tahu bisa datang atau tidak. Karena aku paling malas menemui mama" kata Nathan sedih karena mengingat bagaimana orangtuanya kandungnya dengan Nathan.


Sadam terdiam dan dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena ini adalah hal sensitif bagi Nathan.


"Okey Nathan aku masih banyak pekerjaan, pokoknya jangan lupa pulang ke Jakarta" kata Sadam sedikit mengancam karena semenjak Nathan di Tangerang dan tidak pulang-pulang, semua pekerjaan di Jakarta Sadam yang mengurusnya.


Setelah pembicaraan Nathan dan Sadam selesai, Nathan pun pergi dari depan rumah Aman.


"Pak stop" panggil seorang warga.


Nathan yang mengendarai mobilnya berhenti karena mobilnya di berhentikan warga.


Nathan menghentikan mobilnya, dan dia membuka kaca spion mobilnya.


"Ada apa pak" tanya Nathan.


"Ada anak kecil ditabrak lari pak, anak itu terkapar disana" tunjuk warga itu.


Nathan pun turun dari mobilnya, tapi jantungnya berdetak kencang. Nathan berdoa jangan sampai itu adalah Safa.


"Awas Semuanya, bapak ini mau membantu" teriak warga.


Nathan terdiam dan tidak bisa bergerak karena dia terkejut melihat apa yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2