
Nathan berlari disepanjang lorong rumah sakit, dengan perasaan yang bercampur aduk di hatinya sekarang. Nathan langsung keruang ICU.
"Kenapa ini bisa terjadi" teriak Nathan dengan sangat emosi.
"Sabar pak, kami akan mencarinya mungkin masih disekitar rumah sakit" ucap Direktur rumah sakit yang langsung menemui Nathan di depan ruang ICU.
"Jika terjadi apa-apa dengan anakku, rumah sakit ini akan aku tuntut" ancam Nathan.
"Bagaimana ini pak" ucap Suster jaga. Direktur rumah sakit hanya bisa menarik napas dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sebagai Direktur karena dia tahu sekarang dia berhadapan dengan siapa.
Nathan berjalan meninggalkan ruang ICU, dan dia menelepon seorang.
"Nanti akan aku kirimkan semuanya" ucap Nathan dengan orang yang di teleponnya.
Di dalam bis yang mau menuju keluar kota, terhadap seorang wanita yang lagi memangku seorang anak perempuan.
"Maafkan bunda sayang, bunda harus melakukannya. Bunda memang bodoh bisa terpercaya dengan seorang seperti pak bos. Sayang kita akan pergi jauh dari dia dan dia tidak akan menganggu kita lagi" ucap Mutia, rupanya wanita yang ada di dalam bis itu adalah Mutia yang membawa Safa yang belum sadar ke luar kota.
Nathan kembali ke apartemennya, dengan emosi yang lagi meluap dia memecahkan semua barang yang ada di ruang tamu.
"Mutia...kamu sudah membuat aku marah. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan dengan dirimu" Nathan berkata dengan sangat emosi dan setelah meluapkan kemarahannya Nathan mengambil rokok. Itu adalah kebiasaan lama Nathan kalau ada masalah dia pasti kembali kerokok.
"Mbak, aku kira sudah pulang" tegur Sadam yang baru pulang dari kerjanya.
Sherina diam dan tidak memperdulikan teguran Sadam dan dia lewat saja di depan Sadam.
"Kita harus bicara" ucap Sadam mencekal lengan Sherina.
"Hubungan aku dan kamu sudah berakhir Sadam, aku sudah menikah. Jadi aku mohon jangan nganggu aku" ucap Sherina tapi di hatinya Sherina ingin berkata bahwa sampai detik ini, dia masih mencintai Sadam.
"Iya mbak sudah menikah, aku tahu itu. Tapi seorang suami tidak akan pernah melakukan hal itu dengan isterinya. Mbak terlalu dibutakan dengan cinta, tapi akhirnya mbak sendiri yang tersakiti" kata Sadam.
"Aku memang buta karena cinta, tapi kamu tahu kamu yang membuat hati ini tersakiti. Kamu yang membuat aku harus menerima perjodohan ini. Seharusnya kamu yang di salahkan atas semuanya" batin Sherina. Sherina menghempaskan tangan Sadam.
"Aku membencimu, kamu yang membuat hidupku seperti di neraka" tunjuk Sherina menangis, Sadam membeku mendengar perkataan Sherina.
"Aku..." Sadam ingin mengejar Sherina tapi handphonenya berbunyi.
"Sadam bantu aku..." ucap seorang di seberang sana.
"Nathan....kamu kenapa?" tanya Sadam langsung keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Aku kehilangan mereka berdua....".
"Kamu mabuk....Nathan..." panggil Sadam tapi tidak ada jawaban dari Nathan. Sadam mengchat sahabat-sahabatnya untuk ke Tangerang.
"Mbak,sudah sampai" ucap kernet bus yang dinaiki oleh Mutia dan Safa.
Mutia turun dari bus, rencananya dia mau ketempat eyangnya adik dari neneknya. Mutia ingat dulu Mutia pernah dengar ada seorang dukun di tempat eyangnya yang bisa membangunkan orang yang sudah lama koma. Dan Mutia berencana mau mendatangi dukun tersebut.
"Assalamualaikum" salam Mutia.
"Wa'alaikumsalam, siapa yang bertamu malam-malam seperti ini" gerutu orang di dalam rumah.
"Eyang, aku Mutia cucu nenek Siti" kata Mutia waktu orang tersebut membukakan pintu.
"Olalah....Mutia ayo masuk nduk" ajak eyang.
"Ini siapa" tanya eyang lagi.
Mutia pun menceritakan semuanya.
"Yang sabar, sekarang Mutia istirahat dulu" ucap eyang dan mengajak Mutia dan Safa kedalam kamar yang kosong yang ada di rumah eyang.
Mutia tidak bisa tidur dia terus menjaga Safa, "Maafkan bunda" dan itu adalah kata yang berulang kali selalu Mutia katakan.
"Aku juga tidak tahu, dia menelepon sambil menangis" jelas Sadam.
"Kalian ini menganggu kesenangan aku dengan Alisa" gerutu Yama dan langsung mendapatkan cubitan di pinggang Yama.
Ketiga sahabatnya langsung ketawa melihat apa yang dilakukan oleh Alisa dengan Yama.
"Kalian masih mau disini atau kita naik keatas" ajak Alisa yang sudah jalan duluan mau ke apartemennya Nathan.
"Sayang tunggu aku" panggil Yama dan mengejar isterinya.
"Jangan sampai aku seperti Yama, yang sudah di perbudak oleh cinta" ucap Farel.
"Tidak apa-apa, yang penting diperbudak cinta dengan isteri kita sendiri" balas Sadam.
"Iya seperti kamu yang sudah di perbudak cinta dengan mbak Sherina" ejek Farel dan berlari menyusul pasangan yang ada di depannya.
"Farel.... kamu" teriak Sadam.
__ADS_1
"Sudahlah" tepuk Ryan di bahu Sadam.
Untung Sadam tahu pin apartemen Nathan, waktu mereka membuka pintu betapa terkejutnya mereka berlima.
"Nathan" teriak mereka dan mencari Nathan di seluruh ruangan termasuk kamar Nathan.
"Nathan..." panggil Ryan yang menemukan Nathan di kamar mandi. Mereka mengangkat tubuh Nathan dan di baringkan diatas kasur.
Alisa kedapur untuk membuat teh hangat agar Nathan bisa meminumnya. Dan teman-temannya mengantikan pakaiannya yang basah.
Yama mengambil handphone Nathan dan tanpa sengaja Yama melihat galeri Nathan yang ada foto Mutia dan Safa.
" Mutia...Safa" ucap Yama pelan.
"Siapa" tanya yang lain serempak.
"Ini..." tunjuk Yama.
"Ini Mutia....dia adalah ibu biologis dari anaknya Nathan dan ini anaknya" ujar Sadam.
"Apa" teriak Alisa.
Alisa langsung berjalan mendekati keempat pria yang pada lagi membicarakan Mutia dan Safa.
"Sayang, suaranya" ucap Yama menenangkan isterinya.
"Beb diam...biar aku yang bicara, jadi maksud kamu Sadam ayah kandungnya Safa dan pria yang tidak bertanggung jawab yang menghamili Mutia adalah Nathan" kata Alisa emosi, dia pun berjalan mendekati Nathan yang lagi tidur atau pingsan tidak ada yang tahu.
"Nathan...bangun kamu. Jangan pura-pura tidur, dasar pria jahat, bajingan. Kamu tidak tahu bagaimana sengsaranya Mutia.... bagaimana Safa kecil selalu di katai semua teman-temannya anak haram. Sedangkan Safa tidak tahu apa artinya, bagaimana susahnya Mutia bekerja untuk menghidupi kehidupan mereka. Sedangkan kamu bersenang-senang dengan kehidupan kamu" ucap Alisa meluapkan semua emosi yang dia tahan selama ini dan Alisa menggoyahkan tubuh Nathan supaya bangun.
"Apa yang di omongin oleh Alisa" tanya Farel.
"Perempuan di foto itu adalah Mutia adik angkat Alisa dan itu anaknya Safa. Anak perempuan itu yang sering aku ceritakan dengan kalian dan tidak kusangka Safa adalah anaknya Nathan" jelas Yama.
Yama pun menarik tubuh Alisa, dan membawa Alisa mendekatinya.
"Tahan emosimu, ingat kamu lagi hamil" bisik Yama.
"Tapi...."
"Kenapa kalian ribut-ribut dan apa yang kalian lakukan di apartemenku" kata Nathan dengan suara khas orang bangun tidur.
__ADS_1
Alisa mendekati Nathan dan Alisa memukuli wajah Nathan.
"Alisa...." teriak mereka berlima termasuk Nathan.