
Mutia bangun dari tidurnya dan mengucek matanya, dilihatnya Nathan yang juga tertidur tidak jauh dari ranjangnya.
"Perasaan tadi pak bos pergi, ini kenapa dia tidur di sofa kamarku" tanya Mutia dalam hati.
Mutia melihat matahari sudah masuk melalui celah-celah jendela, "Aku terlambat untuk shalat subuh" ucap Mutia pasrah dan Mutia pun turun dari ranjangnya. Mutia berjalan mendekati Nathan yang lagi tidur sangat nyenyak.
"Pak bos, bangun sudah pagi" bisik Mutia.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba, Nathan menyentuh pinggang Mutia dan di bawanya Mutia di dalam pelukannya.
"Pak bos, lepaskan" ucap Mutia pelan.
"Sebentar saja Mutia, aku ingin seperti ini dan jangan bergerak. Aku takut ada yang hidup di bawah sana" sahut Nathan yang masih sangat erat memeluk Mutia. Mutia terpaksa menuruti perkataan Nathan yang menyuruh Mutia untuk diam.
"Apa yang hidup di bawah sana" gumam Mutia dalam hati.
Cukup lama mereka seperti itu, sampai ke kedengaran suara orang yang cekikikan. Mutia melihat siapa orang yang tadi cekikikan rupanya dua orang suster yang masuk kekamar Mutia.
"Pak bos, ada orang" bisik Mutia.
Nathan melepaskan pelukannya di tubuh Mutia Kemudian dia berdiri dan berjalan kekamar mandi.
Mutia hanya bisa menunduk, dia sangat malu dengan kejadian tadi.
"Maaf sus, tadi..." ucap Mutia.
"Tidak apa-apa mbak, maklum saja masih sama-sama muda" potong suster salah satunya.
Suster menyuruh Mutia untuk membaring lagi karena akan diperiksa.
"Mbak, hari ini bisa pulang. Tapi mbak harus menjaga kesehatan mbak" kata Suster satunya lagi.
"Ya sus" jawab Mutia tersenyum. "Sus, ada yang mau kutanyakan" kata Mutia lagi.
"Apa mbak?" tanya Suster.
"Disini ada tidak pasien bernama.....".
"Sudah selesai" tanya Nathan yang memotong ucapan Mutia. Yang ada Mutia cemberut mendengar pertanyaan Nathan. Sedangkan Nathan langsung menatap Mutia tajam.
"Iya pak, isterinya bisa pulang hari ini" ucap suster.
"Hmmmm...." ujar Nathan.
Kedua suster sudah pergi meninggalkan kamar rawat Mutia. Mutia terbaring tapi dia masih terus menatap Nathan yang sibuk dengan Handphonenya.
__ADS_1
"Pak bos" panggil Mutia. Nathan yang merasa di panggil melihat kearah Mutia.
"Ada apa" Nathan bertanya singkat tapi matanya kembali ke handphonenya.
"Kapan aku bisa bertemu dengan Safa?, aku kangen pak bos" tanya Mutia tapi didalam nada bicaranya ada tangisan yang tertahan.
"Nanti aku akan mengajak kamu Bertemu dengan Safa" kata Nathan akhirnya.
"Bagaimana bisa pak bos bertemu dengan Safa?, tapi kata bapak di parkiran ojek motor. Dia melihat ada seorang pria membawa anak korban kecelakaan kerumah sakit" kata Mutia pelan.
"Aku lewat dan tanpa sengaja ada kejadian kecelakaan. Dan waktu aku turun rupanya Safa yang kecelakaan" kata Nathan cerita.
Mutia menahan sesak di dadanya, Mutia pikir ini memang salah dirinya. Karena takut dengan pak bos jadi Safa yang jadi korban.
"Pak bos terima kasih" ucap Mutia. Nathan diam tanpa menjawab ucapan Mutia.
"Aku mau kekantin sebentar, ada yang mau kamu titipkan" tawar Nathan.
"Tidak pak" jawab Mutia mengelengkan kepalanya.
Nathan pun keluar dari kamar rawat Mutia, setelah Nathan keluar Mutia menangis sesenggukan.
"Maafkan bunda....maaf..." ucap Mutia dan membaringkan tubuhnya.
Sebelum kekantin, Nathan keruang Safa. Nathan meminta izin untuk melihat keadaan Safa dengan suster jaga.
"Selamat pagi putrinya ayah, Adek harus bangun kasihan bunda. Bunda selalu menangis, nanti siang ayah akan mengajak bunda bertemu dengan Adek" kata Nathan yang juga menangis.
Nathan menyesal kenapa baru sekarang dia baru tahu kalau dia mempunyai seorang anak dari hasil perbuatannya.
Flashback
Setelah Nathan memberikan barang untuk tes DNA antara dirinya dengan Safa.
"pak Nathan, hasilnya besok pagi baru keluar" ucap suster.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya dan meninggalkan suster.
"Tampan banget" teriak suster dalam hati.
Tidak menunggu waktu lama, keesokan harinya Nathan sudah di beritahu untuk mengambil hasil tes DNA. Jadi dari kamar Mutia dengan alasan mau ke kantin, Nathan mengambil tes DNA nya. Dan hasilnya membuat Nathan terkejut, di surat DNA itu tertulis kalau seratus persen Siti Safa Khumaira positif anak Nathan.
"Syukurlah, kalau memang Safa anakku, jadi aku bisa bertemu dengan Safa bebas dan yang paling utama aku bisa memberikan nasihat dan nafkah untuk Safa" gumam Nathan dalam hati.
Flashback end.
__ADS_1
"Mutia, sebelum aku mengajak kamu menemui Safa. Ada hal yang mau aku tanyakan dengan kamu" ucap Nathan menarik kursi yang ada di samping ranjang Mutia.
Mutia melihat pak bos, dan dia mengangguk.
"Mutia, aku memang pria bejat. Setelah yang aku lakukan dengan kamu seharusnya aku bertanggung jawab. Tapi aku malah seenaknya pergi dan aku tidak tahu kalau kamu lagi mengandung" jelas Nathan.
Mutia menunduk dan tidak melihat wajah Nathan.
"Akhirnya yang aku takutkan terjadi. Aku tidak mau kehilangan Safa" Mutia menangis dalam hati.
"Jawab aku Mutia, Safa anak kandungku kan?".
"Bukan" jawab Mutia pelan.
"Kamu jangan bohong Mutia, aku sudah tahu kalau Safa anakku" kata Nathan yang masih menahan emosinya.
"Jangan ambil Safa, aku tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini pak bos. Pak bos bisa membunuhku tapi aku tetap akan mempertahankan Safa" ucap Mutia menangis.
"Siapa juga yang mau mengambil Safa dari sisimu. Aku bersyukur bahwa aku ada penerus, apalagi anaknya seperti Safa" terang Nathan.
Mutia menatap Nathan, dan Mutia tersenyum dengan Nathan.
"Terima kasih pak bos".
"Kenapa melihat senyumannya aku juga ingin senyum?. Hal yang sudah bertahun-tahun tidak aku lakukan" kata Nathan dalam hati.
Nathan pun berdiri dan berjalan keluar kamar inap Mutia, Mutia diam dan tidak berani bertanya dengan Nathan takutnya Nathan akan marah. Dua puluh menit kemudian, Nathan kembali dengan membawa kursi roda.
"Untuk apa pak bos" tanya Mutia.
Nathan tidak menjawab pertanyaan Mutia, dia langsung mengendong Mutia dan mendudukkan Mutia di kursi roda yang dibawanya tadi.
"Pak bos" ucap Mutia.
Nathan pun mendorong kursinya dan membawa Mutia untuk menemui Safa.
"Ruang ICU, ya Allah Safa" ucap Mutia didalam hati dan menutup mulutnya untuk menahan tangis yang akan keluar.
Nathan berjalan untuk menemui suster jaga di ruang ICU. Dan dengan memakai pakaian steril, Nathan mengajak Mutia ke ruang rawat Safa.
"Pak bos, Safa..." ucap Mutia menutup mulutnya melihat keadaan Safa.
Nathan duduk didepan Mutia "Kecelakaan Safa kemaren mengakibatkan Safa koma" terang Nathan.
"Pak bos, Safa nanti akan sadarkan" kata Mutia menangis.
__ADS_1
Nathan memeluk Mutia "Kita harus berdoa agar Safa bisa sadar dan bisa bersama kita".