Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Berdamai dan Melupakannya


__ADS_3

"Sekarang jelaskan dengan aku Mutia tentang perjanjian yang kamu bilang" ucap Nathan lembut.


"Tumben pak bos bicaranya lembut, biasanya marah-marah apalagi dia tahu kalau aku sudah membawa Safa" pikir Mutia.


"Mutia, kamu dengar apa yang aku ucapkan" tanya Nathan lagi.


"Isshh pak bos... sebenarnya bukan perjanjian tapi pak bos bilang kalau membawa Safa pak bos akan mengajak aku juga, tapi kenyataannya .." Mutia pun mulai menangis.


"Memang, jadi kenapa?" tanya Nathan binggung, memang dia akan mengajak Mutia juga ikut serta.


"Tapi aku mendengar semuanya pak bos" ucap Mutia.


Flashback dua hari yang lalu.


Mutia yang sudah tidak tahan lagi kekamar mandi, memilih kekamar mandi yang tidak jauh dari ruang ICU tapi khusus untuk Dokter, suster dan staf rumah sakit.


"Kalian dengar tidak anak yang bernama Safa yang ada di ICU, akan di pindahkan ke Singapura. Tapi ibunya tidak diajak, iyalah coba kalian lihat bagaimana penampilannya jangan-jangan itu bukan ibunya Safa melainkan pengasuhnya" gibah seorang yang Mutia juga tidak tahu siapa.


"Iya aku rasa begitu, tuan Nathan itu punya semuanya. Dan seorang pendamping harus sempurna bukan perempuan kampungan seperti itu".


Dan yang lainnya ketawa mendengar ucapan temannya.


Mutia memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Kenapa mereka suka ngurusi kehidupan orang lain" Isak tangis Mutia yang baru keluar dari kamar mandi.


Flashback end.


"Jadi kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan waktu itu?" tanya Nathan sambil menatap Mutia.


"Aku percaya, tapi waktu aku mendengar itu semua...aku binggung siapa yang harus aku percayai" kata Mutia.


"Aku tidak mungkin memisahkan kamu dan Safa, nanti Safa juga bertanya mana bundanya?. Aku harus jawab apa, jadi seharusnya kamu bertanya dulu dengan aku. Bukannya mengambil keputusan sepihak, untung Safa tidak apa-apa" jelas Nathan memegangi tangan Mutia, sebenarnya Nathan mau marah dengan Mutia atas apa yang di lakukan oleh Mutia. Tapi setelah melihat Mutia, rasa marah Nathan hilang seketika.


"Jadi aku salah ya" ucap Mutia pelan.


"kamu salah karena membawa Safa pergi, tapi jangan terlalu memikirkan Semuanya. Kalau ada apa-apa cerita dulu dengan aku jangan ambil keputusan secara sepihak" ucap Nathan menepuk kepala Mutia.


"Maaf pak bos" ulang Mutia lagi.


"Lupakanlah, yang penting Safa sekarang sudah ditangani oleh Ryan" kata Nathan.


"Pak bos masih ingin membawa Safa keluar negeri" tanya mutia.


"Aku akan bicara dengan Ryan, bagaimana bagusnya" ujar Nathan.


"Ryan, temannya pak bos yang gantengnya. Dia seorang Dokter" tanya Mutia.

__ADS_1


"Hmmmm...." ucap Nathan dan langsung berdiri.


"Dan satu hal lagi jangan bicara dengan atau tentang cowok lain didepanku walaupun dia sahabatku sendiri" kata Nathan pergi meninggalkan Mutia.


"Pak bos kenapa?, akukan benar bertanya seperti itu" ucap Mutia yang tidak mengerti apa yang di bicarakan Nathan tadi.


"Isshh....pak bos tunggu aku" teriak Mutia mengejar Nathan.


"Ryan, bagaimana keadaan Safa" tanya Nathan.


"Keadaannya sudah lebih baik, kita lihat kedepannya. Semoga Safa akan sadar dari komanya" ucap Ryan.


"Anda Dokter pak" tanya Mutia tiba-tiba.


"Iya, kamu Mutia bundanya Safa" tanya Ryan balik.


"Iya pak" jawab Mutia menunduk.


"Aku tinggal dulu, bundanya Safa cantik ya Nathan" kata Ryan menepuk pundak Nathan.


"Aku tidak cantik pak Dokter...".


"Mutia....." jintak Nathan dikepala Mutia.


"Sakit pak bos..." sungut Mutia mengusap kepalanya.


"Makanya mata itu harus dijaga bukannya melihat sana-sini" ucap Nathan.


Nathan langsung meninggalkan Mutia untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang lain.


"Mutia, bagaimana keadaanmu?. Tadi Nathan tidak menyakiti kamu kan?" tanya Alisa tiba-tiba.


"Mbak Alisa, maaf mbak kalau aku sudah buat panik semua orang" ucap Mutia.


"Tidak usah di pikirkan, benaran kamu tidak apa-apa" tanya Alisa sekali lagi.


"Tidak apa-apa mbak, pak bos tidak menyakiti aku" ucap Mutia.


"Syukurlah, Mutia aku tidak menyangka kalau Safa anak kandung Nathan. Jadi Safa keponakan aku juga" ucap Alisa.


"Maksud mbak apa" tanya Mutia heran.


"Nathan, adik tiriku yang sering aku ceritakan dengan kamu dulu. Yang mempunyai sifat Playboy tidak ada habis-habisnya. Dan sekarang dia kena batunya" ketawa Alisa membayangkan Nathan Sekarang.


"Kamu kenapa Alisa?" tanya Nathan tiba-tiba.


"Tidak ada apa-apa" Alisa meninggalkan mereka berdua dan masih ketawa.

__ADS_1


"Mutia, lebih baik kamu istirahat dulu. Biar aku yang menjaga Safa" pinta Nathan.


"Tidak usah pak bos, lebih baik pak bos saja yang istirahat".


"Aku tidak perlu istirahat, badanku masih sehat" bangga Nathan.


"Uhhu....uhhu....dasar kepedean anda pak bos. Awas saja kalau sakit" tunjuk Mutia.


"Sudah berani ya" cubit Nathan di pipi Mutia.


"Isshh...pak bos sakit" ucap Mutia mendorong tubuh Nathan.


"Lihat mereka berdua, anak sakit didalam. Mereka malah asyik bercanda disini" gerutu Farel.


"Kamu iri, cari pasangan" ledek Yama dan memukuli dada Farel.


"Seandainya aku bisa memutar waktu, dan tidak memilih perjodohan konyol itu, mungkin aku dan Sherina sudah bahagia. Aku rindu hal-hal yang berkaitan dengan Sherina semuanya" ucap Sadam di hati.


"Pak bos maaf ya" ucap Mutia setelah sekarang tinggal mereka berdua di depan kamar rawat inap Safa. Sekarang Safa sudah di pindahkan ke ruang kamar inap.


"Maaf untuk apa" tanya Nathan yang lagi main handphonenya.


"Pak bos lihat aku, aku lagi bicara dan pak bos sibuk main handphone" ucap Mutia cemberut.


Nathan pun mematikan handphonenya dan menyimpannya di dalam kantong celananya.


"Baiklah, bundanya Safa. Ada apa" tanya Nathan dan menatap wajah Mutia.


"Aku ingin bilang maaf, maaf untuk kejadian kemarin. Maaf kalau aku seperti anak kecil yang sudah membahayakan Safa" isak Mutia terdengar di telinga Nathan.


"Dengarkah aku, jangan di bahas lagi masalah yang kemaren. Lupakanlah semuanya yang sekarang kita lakukan adalah berdoa agar Safa sembuh dan bisa seperti dulu lagi" ucap Nathan memegangi tangan Mutia.


"Terima kasih pak bos" kata Mutia tersenyum manis.


"Ingin rasanya aku cium bibir Mutia, tapi...apa yang aku pikirkan" ucap Nathan mengelengkan kepalanya.


"Jangan sering-sering geleng seperti itu pak. Nanti kepala bapak patah" ucap Mutia polos.


"Ada-ada saja kamu Mutia" cubit Nathan di pipi Mutia.


"Pak bos, lama kelamaan pipiku tidak bagus lagi" gerutu Mutia.


"Tetap bagus kok" ucap Nathan sambil memejamkan matanya.


"Katanya tadi tidak ingin istirahat, tapi ini..." ucap Mutia memperhatikan wajah Nathan.


"Aku masih bisa dengar Mutia" ujar Nathan yang masih menutup matanya.

__ADS_1


Mutia memasang wajah cemberut dan menghadap kedepan tanpa menghiraukan Nathan yang sekarang kepalanya di bahu Mutia.


"Pak bos" ucap Mutia yang ingin menyentuh kepala Nathan.


__ADS_2