Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
percakapan Pertama Nathan Dan Mutia


__ADS_3

Nathan yang melihat Mutia dan Safa hanya diam


"Seandainya memang benar Safa anakku, apakah Safa mau menerima aku sebagai ayah" batin Nathan sedih melihat anak yang tidak tahu keberadaannya sekarang sudah ada didepannya.


"Om, ada apa" sapa Safa karena melihat Nathan diam.


Nathan pun berjongkok dan mengusap jiblab Safa, "Om tidak apa-apa" jawab Nathan.


Mutia yang melihatnya hanya diam tanpa tahu ?harus bicara apa. Bagaimana jika pak bos tahu kalau Safa adalah anak kandungnya, apakah dia akan mengambil gadis kecilku?. Mutia sangat takut untuk memikirkan Semuanya, apalagi jika semua itu menjadi kenyataan bisa-bisa Mutia akan menjadi gila.


"Pak bos, kenapa tidak bicara sama saya? pak bos mau mengajak Safa keluar dari pabrik". kata Mutia sesopan mungkin.


"Tadi kamu lagi sibuk, jadi aku langsung mengajak Safa ke luar untuk membeli makanan" jawab Nathan santai.


"Tapi seharusnya pak bos tidak melakukannya, aku khawatir mencari Safa kemana-mana. Aku kira Safa di culik orang" sahut Mutia dengan nada khawatir sambil menatap Safa yang masih memegangi tangan Nathan.


"Ya sudah aku minta maaf, kalau apa yang aku lakukan salah" ucap Nathan.


"Bunda, jangan marah lagi dengan om Nathan. Om Nathan tidak salah, adik yang salah" pinta Safa memegangi tangan bundanya.


"Ini anak, belum terlalu kenal dengan pak bos tapi sudah membelanya. Apalagi tahu pak bos ayahnya bisa dibela terus-menerus oleh Safa" gerutu Mutia di hati.


"Bunda, jawab jangan diam saja" rengek Safa dengan Mutia.


Nathan tersenyum mendengar perkataan Safa.


"kita lihat Mutia, aku sekarang sudah mempunyai anak buah kecil yang manis. Yang selalu membela aku kalau didepanmu" terkikik Nathan dalam hati.


"Kenapa pak bos senyum-senyum tidak jelas seperti itu. Jangan-jangan dia merasa sudah ada orang yang membela dia, lihat saja nanti" gerutu Mutia dalam hati.


"Bunda..." rengek Safa.


"Iya adik, om Nathannya bunda maafin" ketus Mutia dengan nada yang agak tidak ikhlas.


Nathan menggelengkan kepalanya mendengar nada bicara Mutia yang tidak ikhlas.


"Hore.....terima kasih bundanya Safa" sorak Safa dan memeluk bundanya.


"Ya adik" kata Mutia yang juga memeluk Safa.


Mutia melihat Nathan yang juga melihatnya,


"Apa" ucap Mutia pelan.


"Tidak apa-apa" jawab Nathan.

__ADS_1


Nathan tahu kalau Mutia tidak suka dengan dirinya, tapi itu juga bukan kesalahan dirinya melainkan salah Mutia yang mau menyerahkan dirinya kepada Nathan untuk biaya berobat neneknya.


Safa melepaskan pelukannya dari Mutia dan berjalan mendekati Nathan.


"Om Nathan". panggil Safa. Setelah sampai didepan Nathan, Safa menarik tangan Nathan dan menyuruh Nathan untuk jongkok didepannya. Dan Nathan menurut


Nathan pun duduk di depan Safa dan memegangi tangan Safa.


"Apa yang mau dibicarakan oleh Safa?, ini anak kadang-kadang bicaranya seperti orang dewasa. Aku selalu merasa kalau Safa bukan anak pada umumnya yang ucapannya sesuai dengan usianya. Tapi Safa ucapannya tidak sesuai umurnya atau jangan-jangan Safa ini duplikat pak bos" batin Mutia.


"Ada apa Safa?" tanya Nathan yang penasaran dengan panggilan Safa tadi.


"Om, akan datang kesini lagikan untuk menemui adik" tanya Safa.


Nathan menoleh dan menatap Mutia yang diam mendengar ocehan Safa.


"Baiklah, kalau om tidak sibuk om pasti main kesini" kata Nathan.


"Iyalah tidak sibuk, kan dia bosnya" gumam Mutia tidak jelas.


"Ada apa" tanya Nathan.


"Tidak apa-apa" jawab Mutia ketus.


"Hore...." teriak Safa.


"Maaf Bun" jawab Safa menutup mulutnya.


"Om, mau pulang. Safa dan bunda juga mau pulang bagaimana jika ikut mobil om" tawar Nathan karena Nathan mau tahu alamat rumah Mutia.


"Alasan mau ngantari, bilang saja mau tahu rumah Safa" ejek Mutia cemberut.


"Kenapa kamu yang cemberu?, tidak suka aku perhatian dengan Safa" goda Nathan.


"Siapa yang cemburu?, tidak usah aneh-aneh psk bos" jawab Mutia menyangkal ucapan Nathan.


Nathan tertawa tapi kemudian dia menutup mulutnya.


"Kenapa aku suka menggoda Bundanya Safa?, bahkan namanya saja aku baru tahu tadi" batin Nathan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa dengan pak bos?, dasar aneh" ucap Mutia dalam hati.


"Bunda, kita mau pulangkan. Adik sudah mengantuk Bun" kata Safa mendekati Mutia dan memeluk kakinya.


Mutia pun langsung mengendong Safa, karena kalau Safa sudah berkata seperti itu pasti ujung-ujungnya dia akan tidur.

__ADS_1


"Permisi pak bos, kami mau pulang. lagian kami tidak perlu diantar setiap hari pun kami selalu pergi berdua" kata Mutia meninggalkan Nathan.


"Aku tidak akan membiarkan Safa bertemu lagi dengan pak bos. Safa anakku untuk selamanya bukannya pak bos yang tidak tahu diri itu" gerutu Mutia sepanjang jalan sampai orang-orang melihatnya seperti orang gila.


Setelah sampai kerumah kontrakan yang telah ditempati oleh Mutia selama lima tahun ini. Dulu pertama kali datang ke Tangerang, Mutia tinggal di rumah Alisa tapi karena sering diejek punya anak tanpa suami dilingkungannya. Mutia memilih untuk pindah dan mencari kontrakan dekat pabrik. Walaupun sudah dimarah oleh Alisa tapi Mutia tetap mau pindah.


Mutia membaringkan Safa di atas tempat tidur, dan menyelimutinya. Setelah itu Mutia bergegas untuk mandi, setelah mandi Mutia mengambil pakaian rumahnya berupa daster yang sudah tidak layak di pakai.


Mutia membuat makan malam seadanya, rumah yang mereka tempati ini sebenarnya juga tidak terlalu layak. Sudah sering di suruh Alisa pindah tapi Mutia tetap tidak mau, dia tidak enak dengan Alisa yang selalu membantunya.


Mutia sudah memikirkan Semuanya, besok dan seterusnya Mutia akan menitipkan Safa dengan Bu'dek yang punya kontrakan. Mutia tidak ingin Safa selalu sering ketemu dengan Nathan.


Mutia membangunkan Safa karena hari mau magrib.


"Bunda" rengek Safa sambil merentangkan kedua tangannya.


Mutia pun mengendong Safa kekamar mandi, setelah Safa mandi dan berpakaian Mutia mengajak Safa untuk shalat Magrib. Setelah selesai shalat mereka makan berdua.


"Adik, besok bunda akan nitipkan adik dengan Bu'dek" ucap Mutia.


"Kenapa bun?, adik ingin ikut ke pabrik".


"Adik, besok bunda banyak pekerjaan. Jadi nanti tidak bisa mengajak adik untuk makan" kata Mutia.


"Tapi adik mau ketemu dengan om Nathan Bun" rengek Safa.


"Om Nathan besok juga sibuk, om Nathan punya pekerjaan nanti om Nathan di marahin oleh bosnya. Adik mau om Nathannya di pecat dari pekerjaannya".


"Tidak mau bun".


"Jadi adik besok dengan Bu'dek ya" bujuk Mutia.


"Baik Bun".


"Ini anak, apakah dia sudah mulai sayang dengan pak bos" ucap Mutia dalam hati.


Keesokan harinya Mutia menitipkan Safa dengan Bu'dek yang mempunyai kontrakan.


"Bu'dek, titip Safanya" ucap Mutia.


Bu'dek hanya mengangguk saja.


"Anak Bunda tidak boleh nakal, ingat pesan bunda" ucap Mutia memeluk Safa dan menciumi seluruh wajah Safa.


Mutia pun berangkat bekerja walaupun pikirannya dengan Safa, Karena Mutia tidak pernah meninggalkan Safa dengan orang lain kecuali dengan Alisa.

__ADS_1


Nathan datang ke pabrik tekstil dan mencari Safa di kantin, tapi Safa tidak ada di kantin.


"Tumben, biasanya kata penjual dikantin Safa selalu ada dikantin sampai Mutia pulang kerja. Tapi in..." Nathan heran ingin rasanya dia bertanya dengan Mutia tapi dengan alasan apa.


__ADS_2