
"Enam tahun yang lalu, Alisa mengajak Mutia menemui aku. Kata Alisa, Mutia membutuhkan pekerjaan dan Mutia lagi hamil. Mutia sudah kuanggap seperti anakku sendiri, tapi semuanya beranggapan aku dengan Mutia punya hubungan. Dulu Mutia dan Safa tinggal di tempat yang bagus tempatnya Alisa. Tapi Mutia selalu menjadi bahan ejekan dan omongan oleh penduduk di sekitar dia tinggal karena hamil tidak ada suami dan sekarang dia tinggal didekat pabrik, rumah kontrakan yang jelek" cerita pak Usman.
Nathan diam mendengar perkataan pak Usman.
"Separah itukah hidupmu Mutia, setelah apa yang aku lakukan dengan kamu. Dan jika memang Safa anakku, aku akan bertanggung jawab" kata Nathan dalam hati.
"Ya pak, maaf bukannya aku lancang tapi aku hanya ingin tahu soal gosip yang beredar di pabrik soal hubungan bapak dengan Mutia".
"Aku hanya menganggap Mutia anakku, begitu juga isteriku dia sudah menganggap Mutia seperti anak kandungnya sendiri. Dulu kami mempunyai anak perempuan yang bernama Safa, sama seperti nama anak Mutia. Tapi waktu umur tujuh belas tahun dan dia baru tamat SMA, anakku Safa di perkosa dan di bunuh oleh tetangga kami sendiri. Bisa anda bayangkan pak, bagaimana jika itu terjadi dengan anak anda" cerita pak Usman menangis.
"Kalau itu terjadi dengan anakku, akan aku bunuh orang itu dengan tangan aku sendiri" gumam Nathan dalam hati.
"Maaf pak" ucap Nathan penuh penyesalan karena mengungkit kisah yang membuat Keluarga pak Usman berduka.
"Tidak apa-apa pak, makanya aku dan istriku sudah menganggap Mutia seperti anak kami sendiri dan semua orang salah taksiran dan menunduh Mutia selingkuhan saya" jelas pak Usman.
Nathan mengangguk mengerti dengan penjelasan pak Usman dan Nathan percaya bahwa Mutia wanita baik-baik karena Nathan adalah pria pertama yang menyentuh Mutia kala itu.
Setelah puas bercerita-cerita dengan pak Usman, Nathan pun pamit pulang apalagi hari sudah mau Magrib.
Mutia pulang kerja menjemput Safa dirumah Bu'dek.
"Assalamualaikum" ucap Mutia.
"Bunda...." teriak Safa waktu mendengar suara bundanya dari luar. Safa pun lari untuk memeluk bundanya.
Mutia langsung memeluk Safa dan menciumi seluruh wajah Safa.
"Bu'dek terima kasih sudah menjaga Safa" ucap Mutia.
"Ya tidak apa-apa Mutia" kata Bu'dek.
Mutia pun mengajak Safa pulang kerumahnya.
"Syukurlah, akhirnya anak kecil itu pulang juga. Kalau tidak demi Aman, aku paling malas mengurusi anak kecil itu. Apalagi Mempunyai ibu penggoda seperti Mutia" gerutu Bu'dek setelah Mutia dan Safa pulang.
Bu'dek mengingat pertengkaran dia dengan anaknya Aman semalam.
Flashback
Mutia yang tidak mau kehilangan Safa berniat untuk menitipkan Safa dengan Bu'dek, orang yang mempunyai kontrakan tempat Mutia dan Safa tinggal. Malam harinya Mutia mengajak Safa kerumah Bu'dek tapi waktu didepan rumah Bu'dek, Mutia berpapasan dengan Aman yang baru pulang kerja.
"Mas Aman" sapa Mutia.
__ADS_1
"Ada adik Mutia dan sekecil Safa" balas Aman.
Safa langsung menoleh kebelakang karena dari dulu dia tidak suka dengan Aman.
"Iya mas, aku mau ketemu dengan Bu'dek ada hal yang mau aku bicarakan dengan Bu'dek" kata Mutia.
"Mau bicarakan apa dengan mama saya Mutia" tanya Aman yang penasaran.
"Begini mas mulai besok, aku mau nitipin Safa dengan Bu'dek" jelas Mutia.
"Ohh, boleh dek. Nanti biar aku saja yang menyampaikannya dengan mama" tawar Aman.
"Iya mas" Mutia menerima tawaran Aman, pikir Mutia tidak apa-apa jika Aman yang bicara dengan mamanya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi pulang dulu" ucap Mutia lagi dan langsung mengendong Safa.
"Iya, hati-hati dek" kata Aman.
Mutia yang mengendong Safa pun pergi dari hadapan Aman.
"Assalamualaikum" salam Aman.
"Wa'alaikumsalam, Aman mama melihat tadi kamu bicara dengan Mutia di depan" tanya mama langsung.
"Mau ngapain lagi tuk anak, pasti dia mau bicara soal uang kontrakan" kata mama ketus.
"Mutia mau nitip kan Safa dengan mama".
"Apa???, mama tidak salah dengar. Menitipkan anak nakal itu, mau dibayar berapa mama oleh Mutia?. Bayar kontrakan saja lagi susah belagu mau menitipkan anaknya dengan mama" sewot mama mendengar perkataan Aman.
"Tidak apa-apa mama, belajar jadi neneknya Safa" goda Aman.
"Segitu sukanya kamu dengan Mutia, tapi sampai kapanpun mama tidak suka kamu berhubungan dengan Mutia" kata mama.
"Tapi aku suka dengan Mutia mama, aku menginginkan Mutia menjadi isteriku dan Safa menjadi anakku" kata Aman yang tidak mau mengalah dengan mama.
"Dan sampai kapanpun mama tidak mau Mutia menjadi isterimu dan mama juga tidak mau dia menitipkan anaknya disini".
"Okey kalau mama tidak mau, Mutia menitipkan Safa disini. Uang bulanan mama, akan aku potong" ancam Aman.
"Aman....." teriak mama tapi Aman sudah pergi meninggalkan mamanya yang jelas-jelas marah mendengar ancaman Aman tadi.
Flashback end.
__ADS_1
Dengan pertengkaran semalam, akhirnya mama kalah dan menerima keputusan Aman untuk mengurusi Safa selagi Mutia bekerja.
Setelah Nathan pulang dari rumah pak Usman, dia langsung pulang ke rumah yang sudah di belinya. Kalau sewaktu-waktu Nathan mau lama di Tangerang, dan sekarang Nathan memang menetap agak lama di Tangerang.
Setelah membersihkan dirinya, Nathan membuka laptop yang berisi semua foto Safa yang diambilnya waktu di kantin pabrik dan ada juga foto Mutia yang diambilnya diam-diam.
"Kenapa aku menginginkan Safa menjadi anak kandungku?, aku merindukan gadis kecil ini" kata Nathan mengusap foto Safa.
Satu pesan masuk di handphone Nathan, dengan sangat malas Nathan membuka pesan yang ternyata dari Farel.
Farel bangsat
"Bro.....kapan pulang dari Tangerang aku sudah kangen..." dengan emot love yang banyak.
Nathan pun membalas pesan dari Farel
Nathan ganteng
"Jijik aku melihat emotnya Farel" dengan memberikan emot tinju.
Farel di sana sudah ketawa membaca pesan balasan dari Nathan. Farel pun menelepon Nathan.
"Ada apa" tanya Nathan langsung.
"Sabar bro, jangan marah-marah tidak jelas. Lagi PMS nya" goda Farel.
"Farel....kamu itu tidak jauh berbeda dengan Yama" gerutu Nathan.
"Kan sehati dengan Yama" ucap Farel ketawa.
"Ada perlu apa kamu menelepon aku, jangan bilang kalau kangen" ancam Nathan.
"Tidak boleh kangen dengan sahabat sendiri" ucap Farel yang dibuat-buat sedih.
"Farel, kalau tidak ada yang mau di bicarakan aku matikan".
"Jangan Nathan, aku benaran kangen dengan sahabatku. Biasanya kamu tidak selama ini di sesuatu tempat apalagi kalau bisnis" kata Farel.
"Aku menemukan masa lalu aku, masa lalu yang tidak mungkin terlupakan bagiku. Masa lalu yang ingin aku perbaiki Farel".
"Masa lalu apa Nathan yang kamu bicarakan" kata Farel tidak mengerti.
"Nanti aku ceritakan dengan kalian setelah aku pulang dari Tangerang dan memastikan apa yang aku pikirkan adalah benar" kata Nathan.
__ADS_1
Farel diam mendengar perkataan Nathan, karena dia tidak tahu masa lalu apa yang membuat Nathan seperti ini.