
Yama, Mutia, dan Nathan sudah masuk ke dalam apartemen Nathan. Yama membawa Nathan kedalam kamar Nathan sedangkan Mutia mengikuti Yama seperti anak kucing.
"Mutia, ambil handuk kecil di basahi...untuk lap badan Nathan. Jangan lupa sekalian ambilkan pakaian Nathan" perintah Yama.
Mutia langsung berlari untuk mencari apa yang di perintahkan oleh Yama. Karena ini bukan rumahnya jadi Mutia lama mencarinya. Mutia mencari semuanya di lemari pakaian Nathan yang ada di kamar sebelah.
"Ini kak" Mutia memberikan handuk dan pakaian Nathan dengan Yama.
Yama mengambil semua yang di berikan oleh Mutia. Yama membuka pakaian Nathan yang sudah bercampur bau minuman keras.
"Kak Yama, handphonenya kak Yama berbunyi" ucap Mutia.
Yama yang sibuk mengurusi Nathan, tidak mendengar kalau ada panggilan masuk. Di lihatnya rupanya panggilan masuk dari Alisa.
"Mutia, selesaikan!. Aku mau menerima telepon dulu" kata Yama dan meninggalkan Mutia yang bengong mendengar perkataan Yama, sedangkan Yama sudah kedepan.
"Kak Yama, aku harus apa?" ucap Mutia sendiri dan melihat Nathan yang lagi tidur seperti orang mati.
Sepuluh menit sudah lewat....
Dua puluh menit juga sudah lewat...
setengah jam Mutia menunggu Yama yang tidak masuk lagi ke kamar. Mutia pun berjalan kedepan, tapi waktu sampai disana sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Mutia mencari Yama diseluruh apartemen, tapi hasilnya tetap saja nihil tidak ada Yama di apartemen Nathan. Mutia langsung menarik napasnya dalam-dalam, ingin rasanya dia memaki Yama tapi orangnya tidak ada.
Mutia kembali lagi ke kamar Mutia, Mutia mendekati Nathan dan akhirnya Mutia harus menyelesaikan pekerjaan Yama tadi.
"Maaf pak bos bukannya aku mau melihatnya tapi ini gara-gara kak Yama, nanti waktu pak bos sadar marahin kak Yama jangan tidak pak bos" oceh Mutia sendiri sambil membersihkan badan Nathan.
Setelah selesai membersihkan badan Nathan, Mutia memakaikan Nathan pakaian yang tadi telah dia ambil.
"Pak bos jangan mabuk seperti tadi, Kasihan lihat Safa nanti Safa sedih" ucap Mutia didepan wajah Nathan.
"Kenapa jantungku berdetak sangat kencang, akukan hanya menatap wajahnya. Bukan mengajak pergi kencan" kata Mutia sambil memegangi dadanya.
Selagi Mutia asyik memandangi wajah Nathan, tiba-tiba tangan Nathan memegangi pinggang Mutia dan menarik Mutia supaya lebih dekat dengan dirinya.
"Pak bos" ucap Mutia pelan, Mutia mencoba untuk menghindar tapi pegangan tangan Nathan sangat kuat.
"Biar seperti ini" bisik Nathan dan kemudian yang didengar oleh Mutia hanyalah suara napas Nathan.
"Sayang dengarkan aku" bujuk Yama.
__ADS_1
"Tapi kenapa beb pergi ke club malam dengan seorang wanita" ucap Alisa.
"Ohhhh....".
"Kok cuma oohh, beb memang lagi selingkuhnya" tebak Alisa yang sudah menangis.
Yama menggaruk kepalanya, yang tidak gatal.
"Dengarkan aku, dan jangan memotong apa yang akan aku ceritakan".
"Iya beb" jawab Alisa.
"Ceritanya tadi aku pergi kerumah sakit sendirian, aku rencananya mau menjenguk Safa. Tapi tidak jadi malahan dengan Mutia mencari Nathan di klub malam" jelas Yama
"Nathan mabuk" tanya Alisa.
"Iya, tadi aku dengan Mutia. Kami membawa Nathan ke apartemennya, dan tadi yang mengurus Nathan aku" ucap Yama.
"Jadi sekarang bagaimana Nathan" tanya Alisa.
"Ya Allah sayang, tadi habis menerima telepon dari sayang. Aku langsung pulang dan lupa bicara dengan Mutia" ucap Yama dan menepuk kepalanya.
"Iya sudah telepon Mutia" ucap Alisa.
"Ada apa" tanya Alisa.
"Tidak diangkat, mungkin dia ketiduran" ucap Yama
"Mungkin, ayo tidur beb sudah malam" ucap Alis dan mengajak Yama untuk tidur. Tapi tanpa aba-aba, Yama langsung mengendong Alisa. Alisa tersenyum melihat Yama, Alisa teringat bagaimana lika-liku perjalanan percintaan mereka.
Makanya Alisa sangat menyayangi Yama, dan dia tidak pernah menyakitkan Yama sedikitpun dan tadi Yama lupa menanyakan bagaimana Alisa bisa tahu dia berada di club.
Sudah dua jam berlalu, tapi Nathan masih memeluk Mutia seperti tadi malah lebih erat.
Mutia sudah merasa capek, Mutia ingin tidur tapi dengan posisi seperti ini menyulitkan Mutia untuk memejamkan matanya.
"Pak bos, lepaskan aku mau tidur" kata Mutia pelan di telinga Nathan, tapi Nathan tidak ada respon dari Nathan. Mutia mengamati wajah Nathan, dan Mutia tersenyum manis.
"Seandainya kita sama, mungkin aku jatuh cinta dengan anda pak bos" ucap Mutia.
Tak terasa Mutia tertidur di dada Nathan dengan Nathan yang memeluk dirinya.
Matahari menyapa mereka yang lagi tidur, masuk melalui celah jendela dan mengintip kemesraan yang terjadi di atas ranjang. Nathan yang dari semalam tidak pernah melepaskan pelukannya dari Mutia dan Mutia juga merasa nyaman dengan pelukan Nathan.
__ADS_1
Nathan membukakan mata dan dilihatnya Mutia yang lagi tertidur di atas dadanya dan di ranjangnya. Nathan menyentuh rambut yang menutupi wajah Mutia.
"Manis" gumam Nathan. Nathan melepaskan pelukannya dan membawa Mutia tidur disampingnya Kemudian Nathan kekamar mandi, karena dia mau membersihkan dirinya karena merasa lengket.
Selesai mandi, Nathan melihat Mutia yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Setelah berpakaian rapi, Nathan mendekati Mutia dan disentuhnya rambut Mutia.
"Kamu memang manis, tapi aku tidak bisa menyukaimu. Aku takut Mutia, jika suatu hari kamu pergi meninggalkan aku. Aku tidak lagi mengalami rasa kehilangan lagi" ucap Nathan.
Nathan pun keluar kamarnya dan menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Walaupun Nathan sibuk tapi Nathan juga jago memasak, dia suka memasak untuk sahabat-sahabatnya.
Mutia bangun dari tidurnya dan di lihatnya jam sudah menunjukkan jam delapan pagi.
"Ohhhh ya ampun aku kesiangan" desah Mutia. Mutia melihat kanannya sudah tidak ada lagi pak bos yang memeluk dirinya.
"Pak bos" teriak Mutia keluar kamar.
"Ada apa Mutia?" tanya Nathan yang sudah ada di meja makan.
"Pak bos, baik-baik saja" ucap Mutia.
"Baik" jawab Nathan santai. Nathan pun ingin melanjutkan makan tapi tiba-tiba Mutia sudah duduk di depan Nathan dan mengambil piring dan mengambil lauk yang ada di meja itu dan di isi di piringnya
"Mutia, jorok mandi sana. Baru makan" kata Nathan.
"Tapi aku lapar pak bos" jawab Mutia yang masih makan.
"Tapi..." ucapan Nathan terpotong waktu melihat wajah Mutia yang mau menangis.
"Ya sudah makanlah, tapi sudah itu mandi" ucap Nathan mengalah.
Mutia pun melanjutkan makannya dan tidak memperdulikan Nathan yang lagi memperhatikannya. Setelah makan, Mutia membereskan semua dan mencuci piring. Nathan hanya melihat saja apa yang di lakukan oleh Mutia.
"Issshhh....mas sana jangan nganggu aku yang lagi mencuci piring, geli mas" ucap Mutia yang merasa geli karena Nathan menciumi lehernya.
"Tapi tubuhmu sudah jadi candu bagiku Mutia, membuat aku ketagihan" ucap Nathan menahan hasratnya.
"Pak bos tidak kerja" tanya Mutia, tapi orang yang ditanya malahan diam dan tidak menjawab. Mutia berjalan kearah Nathan dan memercikkan air diwajah Nathan.
"Apa Mutia" teriak Nathan.
"Aku kira pak bos kesurupan" ucap Mutia dan melanjutkan pekerjaannya.
"Ya ampun apa yang aku pikirkan tadi" kata Nathan.
__ADS_1