Anak Genius:Cinta Kita

Anak Genius:Cinta Kita
Kesedihan Mutia


__ADS_3

"Bu'dek, tidak mungkin Safa hilang. Tadi siang kata Bu'dek, Safa lagi main ketempat tetangga. Dan sekarang Bu'dek bilang Safa hilang" kata Mutia yang masih tidak percaya dengan perkataan Bu'dek.


"Tapi memang itu kenyataannya sekarang, Safa hilang. Aku dan Aman sudah mencari Safa tapi tetap tidak ada" ucap Bu'dek dengan perasaan tidak bersalah.


"Mas Aman, kemana Safa?" tanya Mutia sedangkan Aman hanya menggelengkan kepalanya.


Mutia keluar dari rumah Aman, dengan menangis Mutia mencari Safa dengan bertanya-tanya dengan para tetangga tapi hasilnya tetap saja nihil.


"Mutia, kita lapor polisi" ujar Aman mendekati Mutia yang sudah seperti orang gila mencari Safa kesana-kemari.


Mutia menatap wajah Aman, dan dia pun menatap kembali jalanan.


"Mutia" panggil Aman.


"Pergi mas, pergi sana" Mutia mendorong tubuh Aman agar menjauhi dirinya.


"Tapi....." ucap Aman untuk mendekati Mutia lagi. Tapi tangannya langsung di tarik Bu'dek.


"Tapi mam...aku mau menemani Mutia mencari Safa" ucap Aman yang masih berdiri.


"Ikut mama pulang, kalau kamu tidak mau pulang besok kamu akan lihat mayat mama" ancam mama dan pergi meninggalkan Aman.


"Mama...." panggil Aman. Waktu Aman menoleh untuk melihat Mutia rupanya Mutia sudah tidak ada lagi disana.


"Aku binggung, kalau aku menyusul Mutia mama akan bertambah marah dengan aku, dan kalau aku menyusul mama bagaimana dengan Mutia yang sendirian mencari Safa" keluh Aman sendirian.


Mutia berjalan di sekitar pabrik untuk mencari Safa, tapi tetap tidak ada. Mutia pun berjalan ke jalan besar, mungkin nanti ada orang yang melihat Safa di sekitar sini.


Mutia pun memberikan foto Safa di Handphonenya dengan orang-orang yang duduk nongkrong di warung kopi.


"Bukannya ini anak yang kecelakaan tadi" ucap seorang bapak.


"Maksud bapak, anakku kecelakaan" ucap Mutia dan duduk didepan bapak tua yang bicara tadi.


"Ya mbak, tapi tadi bukan aku yang mengantar anak ini tapi temanku mbak. Coba aku telepon dulu" ucap bapak dan langsung menelepon temannya yang mengantar Safa dan Nathan kerumah sakit.


"Mbak, kata temanku dia mengantar anak itu kerumah sakit 'IBU' yang terdapat di ujung jalan ini dengan seorang laki-laki" ucap bapak itu.


"Terima kasih pak". Mutia pun naik ojek kerumah sakit 'IBU'.

__ADS_1


"Allah, jangan ambil Safa. Aku tidak punya siapa -siapa lagi selain Safa" ucap Mutia di sepanjang perjalanan.


Mutia Sampai kerumah sakit dan langsung berlari ke dalam rumah sakit. Dilihatnya disana ada meja resepsionis rumah sakit.


"Maaf sus, aku mau nanya pasien atas nama Safa di kamar berapa sus?" tanya Mutia dengan nada ketakutan dan panik.


"Tunggu sebentar mbak" jawab Suster.


Mutia menunggu dengan tidak kesabaran, dia sangat khawatir dengan keadaan Safa.


"Mutia" panggil seorang.


Mutia menoleh dan di lihatnya Nathan yang berdiri disampingnya.


"Pak bos" ucap Mutia dan tiba-tiba Mutia pingsan untung ada Nathan. Nathan langsung mengendong Mutia dan membawa Mutia ke IGD.


"Tolong sus" ucap Nathan.


Suster pun membawa Mutia masuk untuk di periksa. Nathan menunggu dengan tidak sabar, ada dua orang yang merupakan bagian dari hidupnya berada di dalam sana.


"Tunggu kenapa dua orang, seharusnya Safa yang aku pikirkan. Tapi Mutia menganggu pikiran aku juga" gumam Nathan sendiri.


"Ya sus" Nathan melangkah masuk keruangan tempat Mutia di periksa. Nathan menatap lengket wajah Mutia yang pucat.


"Pak bos" panggil Mutia pelan.


"Bagaimana keadaanmu" tanya Nathan dengan bersikap biasa.


"Alhamdulilah, aku baik pak. Apa yang bapak lakukan disini" tanya Mutia.


"Aku....".


"Pak, Safa hilang tapi tadi kata orang Safa kecelakaan dan di bawa kesini. Aku belum sempat untuk menanyakan tadi dengan suster" kata Mutia memotong ucapan Nathan, Mutia pun turun dari ranjang yang ditempati.


"Kamu mau kemana" tegur Nathan.


"Aku mau mencari Safa" kata Mutia.


"Sebaiknya kamu istirahat, Safa baik-baik saja" tegas Nathan dan mendorong bahu Mutia untuk berbaring.

__ADS_1


"Apa maksud pak bos" tanya Mutia dan memegangi tangan Nathan. Nathan pun menatap Mutia dengan sangat tajam.


"Sebaiknya kamu istirahat" kata Nathan lagi dan melepaskan pegangan tangan Mutia ditangannya. Nathan pun pergi meninggalkan Mutia yang masing binggung dengan sikap dan omongan Nathan tadi.


"Kenapa bapak bos bicara seperti tadi, jangan-jangan lelaki yang bersama Safa adalah pak bos. Jadi Safa di sini" kata Mutia sendiri dan dia pun mencoba untuk turun dari ranjang walaupun masih menahan sakit di kepala dan perutnya.


Mutia berjalan dengan memegangi apa yang ada di ruangan, untuk sampai kedepan pintu.


"Untuk sementara Mutia jangan tahu dulu soal Safa, nanti keadaannya lebih parah". batin Nathan. Sekarang Nathan berada tidak jauh dari tempat Mutia dirawat.


"Ya Allah, kepala dan perutku sakit " kata Mutia sambil berpegangan dengan dinding dan tangan satunya lagi memegang perutnya yang sakit.


"Aku harus mencari informasi tentang Safa, semoga Safa disini. Aku rindu anakku" batin Mutia dan Mutia pun menangis.


Nathan menjadi objek yang membuat semua mata tidak lepas memandangnya, semua orang yang lewat bahkan dokter maupun suster yang lewat pun memandang Nathan dengan mata tak berkedip.


"Mutia" desah Nathan yang melihat Mutia berjalan sambil berpegangan dengan dinding. Nathan hanya bisa menahan amarahnya, melihat tingkah Mutia. Nathan pun berjalan kearah Mutia.


"Apa yang kamu lakukan" tegur Nathan dengan nada tajam. Mutia melihat siapa yang menegur dirinya.


"Pak bos" kata Mutia pelan.


Tanpa banyak bicara, Nathan langsung mengendong Mutia. Yang ada Mutia menahan malu dengan pipi merona.


"Pak, banyak yang melihat kita" ujar Mutia berbisik.


Nathan diam dan tidak memperdulikan ucapan Mutia, Nathan membawa Mutia ke dalam kamar yang di tempatinya tadi.


"Sekarang kamu disini dulu, istirahat" tegas Nathan.


"Tapi aku mau mencari Safa" kata Mutia yang sudah mau menangis.


Nathan pun memegangi kepalanya, yang tiba-tiba pusing.


"Mutia dengarkan aku bicara, kamu istirahat dulu. Setelah kamu bangun nanti, aku akan mengajak kamu berada dengan Safa" bujuk Nathan.


Cukup lama Mutia memandangi wajah Nathan, ada pertanyaan yang ingin Mutia tanyakan dengan Nathan. Tapi melihat tatapan mata Nathan yang seakan ingin memakan dirinya. Mutia membatalkan niatnya dan kemudian Mutia mencoba memejamkan matanya. Mutia merasakan kalau Nathan mengusap kepalanya.


"Apa yang dilakukan oleh pak bos disini, seharusnya dia pulang atau mengurusi pekerjaannya dari pada harus mengurusi aku yang tidak ada hubungan apa-apa dgn dirinya. Tapi tadi perkataan pak bos, katanya setelah aku bangun dia akan mengajak aku bertemu dengan Safa. Apa maksud dari perkataan pak bos" pikir Mutia heran. Mutia pun memejamkan matanya tapi pikirannya masih memikirkan perkataan pak bos dan Safa. Tapi akhirnya Mutia tertidur juga.

__ADS_1


__ADS_2