
Adeline memperhatikan Eldo yang memandunya kembali mengenang aroma-aroma kehangatan di masa silam. Kumbang jantan itu terus menari dengan indah, menyibakkan turbulensi yang saat ini mengurung Adeline dalam fenomena keterpurukan. Ia menatapnya, seakan ada rasa yang mulai bergejolak. Diperhatikannya setiap gerak tubuh yang dahulu pernah membuatnya terpukau. Wajah memang berubah seiring dengan pergeseran waktu, namun sikap tidak beralih, tetap masih sama seperti laki-laki yang pernah menggenggam hatinya. Tidak dapat dipungkiri, jiwa Adeline kembali terjerat oleh pesona pria yang mencuat dari puing-puing kenangan yang hampir sirna.
Dari kejauhan, seorang pelayan membawa baki tengah berjalan menghampiri. “Ini pesanan kalian,” ucapnya, lantas meletakkan beberapa piring dan minuman di atas meja. Kemudian berlalu pergi.
“Apa ini?” Eldo menampakkan muka penuh teka-teki. Kemudian mulai mengendus spageti mercon yang tergeletak di depannya. “Bau pedasnya sampai bisa menembus indra penciumanku.” Ia mengacak-acak, mengacaukan tatanan mie yang tersaji dalam piring putih yang tadinya masih terlihat rapi dan bersih. “Ini makanan? Apa bisa dimakan?” Menatap Adeline yang memilin mie dengan sebuah garpu.
“Sudah jelas bisa di makan.” Adeline kembali meletakkan mie yang tergulung beserta garpu yang dipegangnya.
Eldo hanya mencermati setiap utas mie yang berbalut bumbu. Isi pikirannya menolak untuk menyentuh makanan tersebut. Ia ragu, bahwa itu bukan racun untuk perut yang sangat sensitif terhadap murkanya cabai pedas. Eldo lantas mencoba mengalihkan bola mata Adeline yang terus saja menempel pada seporsi makanan yang enggan ia santap. “Mmm … dari tadi aku terus yang berujar. Apa suaramu sekarang berbandrol mahal untukku?” Eldo menatap
“Bukankah baru saja kamu mendengar suaraku?” kilah Adeline.
“Iya sih … tetapi lebih banyak aku yang bercerita, dari pada kata-kata yang keluar dari mulut kamu.” Eldo terdiam sejenak untuk memilah kata yang pantas. “Laki-laki yang tadi bersama kamu dengan gadis itu … benarkah dia yang kamu bilang mantan?” Eldo mencoba mengupas kejadian yang telah terekam oleh kedua matanya.
Adeline berdecak jengah. “Seperti yang kamu duga. Dia mantan pacar dan juga kekasih barunya.”
Eldo kembali mengundi setiap kata yang muncul agar mencuat keluar dengan tepat. “Apa … benarkah kamu mengemis cinta untuk kembali pada laki-laki seperti itu?”
“Hah …? Mengemis?!” Adeline melenguh. “Bagaimana mungkin aku merengek pada pria yang telah kubuang?” jawabnya dongkol.
“Buang? Apa dia selingkuh dengan gadis itu?” ulas Eldo.
“Sepertinya bukan, aku hanya kesal hati pada laki-laki egois tidak bermoral seperti dia.”
“Memangnya, ada apa dengannya?” Rasa penasaran mulai merasuki pikiran Eldo.
“Dia memaksaku melakukan dosa yang tidak aku inginkan.” Kemarahan menghilangkan akal sehat Adeline untuk memperhatikan pilihan kalimat yang tidak seharusnya terucap.
Eldo ingin sekali memuntahkan segala keingintahuannya terhadap alur cerita yang Adeline lalui saat ini. Ketertarikannya terhenti oleh pikiran negatif yang berloncatan untuk saling memagut. Ia ingin mengajukan bebagai pertanyaan, namun sepertinya ada kisah tidak senonoh yang memaksa meluruhkan segala kalimat introgasi yang tercipta di dalam otaknya.
Sedangkan Adeline terus memperhatikan Eldo yang sesekali tampak menelan ludah dan menghela napas. Ia berharap tidak akan ada lagi pertanyaan yang membuatnya menjawab tanpa sadar. Gadis cantik ini ingin masa-masa bahagianya bersama dengan Eldo bisa berlangsung sedikit lebih lama. “Aku sudah bercerita tentang mantanku. Bagaimana denganmu?” Adeline melirik penuh makna.
“Kamu ingin aku bercerita tentang mantanku juga?” Eldo mengernyitkan alis tebalnya.
“Bukan mantan, tetapi pacar untuk lebih tepatnya.” Adeline memperjelas.
“Ha, ha, ha … kamu lucu, Del.” Tawa Eldo mengiringi kegelisahan hati Adeline. “Kamu adalah cinta pertamaku, dahulu, dan hingga sekarang pun masih ada. Kamu masih sama di mataku dan tidak ada yang berubah bagiku.”
“Apa kamu tidak laku di Swiss, makanya bicara seperti itu?” tanya Adeline penuh kecurigaan.
Eldo hanya menjawab pertanyaan Adeline dengan senyuman yang penuh misteri. “Rahasia,” ujarnya.
__ADS_1
Adeline seperti menangkap gurauan yang sedikit membuat jantungnya berdebar. Meskipun semua tentang Eldo masih merupakan enigma yang belum terpecahkan, namun sekuntum mawar mulai merekah indah di hidup yang kelam. Ketika kupu-kupu pembawa isyarat menyelipkan setetes embun cinta pada hati yang membeku, maka secercah mimpi akan mulai melambung tinggi. Ia picingkan mata menatap, lantas berujar dalam hati, ‘apakah masih mungkin cintaku akan bersambut?’
Adeline menyentuh pada sisi luar pembungkus janin. Adeline tersadar, bahwa mustahil seorang lelaki dapat menerima seonggok daging yang bukan miliknya. Tirai kemuraman kembali menutup. Ia tidak bisa dengan siapa pun juga, jika masih tetap bertahan dengan benih laki-laki tidak bertanggung jawab.
Eldo merasa cinta yang masih selalu disimpannya, saat ini mulai merangkak keluar. Pujaan hati yang dulu ditinggalkan, kini kembali ia temukan. “Kamu masih ingat janjiku padamu?” Eldo menyentuh tangan Adeline.
“Janji?” Adeline berusaha mengingat.
“Bukan benar-benar janji sih, cuma sekedar kalimat spontan yang dulu pernah terucap.” Eldo menerawang sambil manggut-manggut.
“Memang kalimat penting seperti apa yang kamu anggap sebagai janji?” Adeline memperhatikan Eldo dengan seksama.
“Coba kamu ingat lagi saat pertama kali aku nembak kamu!” pinta Eldo.
Adeline mulai tersihir oleh tatapan Eldo. Mantra-mantra seperti mengalir membongkar paksa ingatan yang sudah terkunci rapat. Kemudian telintas kembali bayangan Adeline pada masa remaja, ketika dirinya masih bersama dengan Eldo.
“Ini yang kemarin aku ceritakan padamu.” Dicky memperkenalkan Eldo pada Adeline.
“Bukannya kamu bilang kalau sepupumu itu jelek dan burik?” Ketidaktahuan Eldo menggelitik.
“Dia bilang begitu?!” tanya Adeline.
Dicky menutup mulut Eldo yang hendak kembali membuka. “D-dia hanya bercanda.” Tawa sumbangnya berusaha menutupi kekhilafan.
Adeline menghela napas panjang saat kembali pada realita yang berjalan sekarang. Ia tidak menemukan apapun di ingatannya mengenai kata-kata yang Eldo anggap sebagai janji. “Tidak ada yg istimewa, hanya saat-saat kita bersama saja. Seingatku, kamu selalu melontarkan sanjungan, pujian, serta kekagumanmu padaku.” Adeline menatap penuh selidik pada kekhusyukan yang terpancar di mata Eldo. Ah iya, kamu juga sering menjeratku dengan rayuan-rayuan gombalmu.” Adeline tersipu malu. “Aku juga heran, dari mana kamu dapatkan kalimat kalimat itu.” Ia menarik napas panjang. “Dari semuanya, ini yang paling kuingat. ‘Jika aku sebuah kertas, maka kamu adalah pena yang bergoyang dengan bebas di atasnya’, dan ---”
“Kamu merusak kata romantisku dengan bilang ‘kalau aku pena, maka terserah aku mau nulis apa pun juga di sana’. Kemudian nasibku mengenaskan. kamu jadikan aku babu, hanya karena kusebut kamu sebagai pena.” Eldo mencibir.
“Yang seperti itu bukan babu namanya. Aku hanya menuntut perhatian lebih saja.” Adeline tertawa riang.
“Kamu menyuruhku membeli ini dan itu, lantas memaksaku membawakan semua yang kamu mau. Tidak ada bedanya dengan seorang babu. Iya, kan?” Eldo ikut tertawa.
“Jelas berbeda, soalnya kalau babu itu sudah jelas dibayar, sedangkan kamu gak.” Adeline menyeringai.
“Harusnya minimal aku bisa dapat ciuman dari kamu.” Eldo mengela napas. “Selama pacaran sama kamu, belum pernah sekalipun kamu izinkan aku menciummu.”
“Kata nenekku, gak baik anak kecil berciuman, nanti bisa ham..., ” ucapannya terhenti. Jiwa Adeline memberontak menampar kesadarannya yang sempat menghilang.
“Hamil maksud kamu?” Eldo mencermati wajah Adeline yang masih tertunduk. “Ha, ha, ha... kamu ada-ada saja. Kamu ini kaya anak TK yang percaya sama begituan.”
“C-cuma bercanda saja kok. Aku tidak suka ciuman sama cowok.” Adeline gelagapan.
__ADS_1
“Jadi, kamu suka kalau sama cewek?” Dahi Eldo berkerut. “Wah ... kelainan kamu, Del!” sindirnya.
“B-bukan begitu, aku masih doyan cowok, kok!” sanggah Adeline.
“Ha, ha, ha ...! Ketakutan Nenek ternyata benar juga. Kalau aku tetap sama kamu, bisa-bisa dagingku habis kamu makan,” ejek Eldo.
Adeline memanyunkan mulutnya. Ia merasa serba salah untuk berujar. Ia yang dulu memang tidak ingin terjamah oleh laki-laki, meskipun sudah berstatus pacaran. Tetapi sekarang, betapa malunya ia menghadapi kenyataan, bahwa dirinya telah menjadi penjajah moral. Sebuah kenyataan pahit yang memang tidak bisa ia uangkapkan di depan Eldo saat ini. Seandainya saja cintanya bersambut, tapi Adeline sangat yakin, bahwa anak yang di kandungnya tidak akan pernah mungkin dapat diterima.
Eldo mendapati awan mendung yang mengelilingi gadis yang masih dicintainya saat ini. Ia takut gurauan yang mengalir begitu saja, tanpa ia sengaja melukai Adeline. Dia ingin gadis itu kembali menjadi penghuni yang menjaga hatinya.
“Kamu tidak mau makan itu?” Adeline memperhatikan Eldo yang hanya menjumput french fries tanpa menyentuh sehelai pun spageti mercon yang berada di depannya.
“Kamu masih mau? Kelihatannya kamu sangat menyukainya.” Eldo menyodorkan piringnya.
“Eh ... gak perlu, punyaku saja masih banyak, ” Adeline berkilah.
“Kamu saja makan seperti itu. Aku jadi tidak berselera dan rasanya terlihat tidak enak.” Eldo kembali mengacak acak sekumpulan mie yang menyengat.
Adeline terus berusaha agar Eldo mau memakannya. “E-enak kok! Nih, lihat aku!” Adeline menyeruput dengan rakus dan sangat lahap. Ia menyembunyikan kepedasan, namun menampakkan wajahnya yang merah penuh keringat.
Eldo memperhatikan gadis yang berada di sampingnya. Ia tahu, bahwa makanan yang Adeline pesan sangat pedas. Ia sadar, sepertinya gadis itu ingin berlaku jahil padanya. “Baiklah, aku coba sekarang.” Eldo menyantap sesuap spageti yang ada di hadapannya. Ia merasa ribuan cabai memberontak, lidahnya terajam perih oleh rasa pedas dari spageti tersebut.
Adeline memperhatikan Eldo yang meminum air putih dengan sekali teguk. Ia sedikit merasa puas, bahwa keusilannya berhasil dengan telak. Eldo yang tidak menyukai pedas, kini meronta-ronta merasakan lidahnya yang terbakar.
“Kamu mengerjaiku?!” sergah Eldo, meskipun ia sudah mengetahui rencana Adeline.
“Eh ... gak kok. D-di sini menu itu sangat enak dan lagi booming. Aku hanya ingin kamu mencoba makanan yang mungkin di luar negeri tidak ada.” Adeline berusaha mencari-cari alasan.
“Ja... sshhh, jangan salah!!” Eldo kepedasan. “Ada menu spageti di sana,” Sanggah Eldo.
“Tapi, gak mungkin ada spageti mercon di sana,” sergah Adeline.
“Mana aku tahu! Aku hanya memilih sesuatu yang bisa di makan manusia,” bantah Eldo.
“Aku sering makan ini dan aku juga suka. Jadi secara gak langsung, kamu bilang aku ini bukan manusia?” Adeline memperhatikan Eldo yang melahap habis sosis serta french fries secepat kilat menyambar.
“Del... aku minum ya?” Eldo langsung merenggut air putih tanpa menunggu persetujuan pemiliknya.
Adeline tertawa memperhatikan tingkah Eldo yang menggelikan. “Maafkan aku, tadinya aku hanya ingin sedikit menjahilimu.” Seulas senyum masih menggantung di wajah Adeline.
“A-aku juga sudah tahu. Tapi tidak masalah bagiku, asalkan kamu bisa tertawa lagi,” jawab Eldo dengan mulut membesar, peluh bercucuran, serta air mata yang terus terurai.
__ADS_1
Meskipun di dalam perut terasa ada lidah api yang berlenggak-lenggok dengan kejam, namun senyum Adeline yang sudah lama tidak dilihatnya, bagaikan air peruntuh dahaga ketika ia berjalan di padang gersang. Baginya, cuma sekedar menatap gadis yang pernah singgah di hidupnya saja sudah merupakan sebuah mimpi yang indah. Karena itu, ia tidak ingin terbangun dan tersadar untuk kembali kehilangan sesuatu yang akan digenggamnya. Cukup hanya sedetik saja, maka biarkanlah sang waktu yang seakan berhenti untuk berdentang.