
Di dalam kamar kos bercat hijau, terdapat sebuah ranjang kayu, dan juga kasur busa tebal di atasnya. Ada sebuah lemari plastik tempat menyimpan pakaian yang berada tidak jauh dari kamar mandi. Sebuah kipas angin bergeleng-geleng syahdu di sisi kiri, serta sebuah meja kecil berlaci di sebelah kanan ranjang. Kamar yang cukup luas dengan ukuran dua kali kamar Adeline tersebut, merupakan tempat peristirahatan seorang laki-laki yang dikagumi oleh banyak gadis.
Dicky duduk termenung di atas tempat tidur. Ia menatap resah pada alat tes kehamilan yang tidak sengaja terbawa olehnya. Saat ini, ia masih berusaha menyangkal kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Laki-laki ini merasa sangat tidak rela, jika gadis yang dicintainya ternyata telah dijamah oleh pria lain. Ia sangat menyayangkan perbuatan yang telah dilakukan oleh Adeline yang selalu dianggapnya lugu dan polos itu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamnya.
Dicky terus saja memainkan test pack yang saat ini berada di tangannya. Ia sama sekali tidak menyangka, jika gadis seperti Adeline bisa melakukan perbuatan memalukan seperti ini. Namun semua sudah terlanjur, ia hanya bisa berharap agar masa depan sepupunya itu tidak hancur. Ia yang di minta untuk selalu menjaga Adeline, kini hanya bisa merasa seperti seorang pecundang kerdil. Kegagalan telah merenggut kepercayaan diri Dicky, yang selama ini telah banyak berkorban untuk gadis yang disayanginya. Kemudian, ia mengambil handphone dan men- download sebuah aplikasi dokter online. Ia memilih fasilitas video call.
“Selamat pagi, Dok. Saya ingin bertanya mengenai kehamilan,” Dicky mulai membuka percakapan.
“Iya, selamat pagi. Apa yang bisa saya bantu?” Jawab seorang dokter wanita muda yang tampak pada layar ponsel.
“Saya ingin bertanya, bagaimana kondisi wanita di saat mengalami kehamilan, Dok?” Ada kegundahan, ketika Dicky melontarkan pertanyaan tersebut.
“Apa saat ini istri Anda sedang hamil?” Dokter cantik itu mulai mengintrogasi.
Dicky terkejut, ketika mendengar kalimat yang terlontar.“S-sepertinya, iya, Dok.” Ia sedikit tidak yakin dengan prasangkanya.
“Bisa disebutkan umur istri bapak dan usia kehamilannya?” Dokter wanita tersebut tampak cantik dengan hijab putih keabu-abuan beraksen bunga.
“Umurnya sekitar 22 tahun. Usia kehamilan...”
Dicky sama sekali tidak mengetahui peristiwa kotor itu bermula. Ia tidak dapat memperkirakan usia dari kandungan Adeline saat ini. Sangat jelas tidak mungkin, jika ia harus bertanya mengenai hal itu pada sepupunya. Alih-alih gadis itu akan menjawab, melainkan pasti tamparan yang akan ia terima.
“Bagaimana, Pak?” Dokter wanita itu kembali bertanya.
“Saya kurang tahu mengenai usia kehamilan. Saya hanya mengetahui, jika saat ini istri saya seperti mual-mual seakan mau muntah.” Dicky teringat pada sisa nasi yang masih menggunung di dalam piring. “Dia juga terlihat malas makan.”
“Apa Anda sudah membawanya untuk menjalani pemeriksaan ke Dokter?” ujar wanita yang bermulut mungil itu.
“Belum, Dok. Saya ingin mengetahui terlebih dahulu mengenai tanda-tanda kehamilan yang terlihat pada wanita.” Dicky mengutarakan maksudnya.
“Baik, saya akan coba bantu menjelaskan. Dari gejala yang Anda sebutkan tadi, sepertinya mengacu pada trimester pertama yang dimulai pada hari pertama menstruasi terakhir. Kejadian tersebut akan berlangsung, hingga pada akhir minggu ke dua belas. Pada trimester pertama ini, kebanyakan ibu hamil akan menghadapi gejala morning sickness atau disebut juga dengan mual berulang. Jika setelah melakukan hubungan intim, istri Anda tidak mengalami datang bulan lebih dari seminggu, maka jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Kondisi ini bisa menjadi tanda-tanda awal kehamilan. Selain itu bisa juga disertai dengan gejala fisik lain, seperti perubahan suasana hati, kram di bawah perut, sering buang air kecil, perubahan payudara, sakit kepala, sembelit, dan muncul perdarahan.” Senyum ramahnya mengembang. “Tapi sebenarnya masih belum bisa dipastikan, jika hanya mengacu pada dua ciri seperti yang Anda sebutkan sebelumnya.” Dokter tersebut berusaha memecahkan ketidaktahuan yang dimiliki Dicky.
“Jika benar-benar hamil, apa yang sebaiknya harus saya lakukan?” Dicky mencoba menggali informasi.
__ADS_1
“Yang pertama, Anda harus memilih layanan kesehatan yang tepat, agar istri Anda bisa merasa nyaman. Selanjutnya, buat janji konsultasi prenatal. Di saat itu, biasanya dokter atau bidan akan menanyakan riwayat kesehatan dan gaya hidup istri Anda. Kemudian mereka akan melakukan pemerisaan fisik lengkap, memberikan informasi mengenai cara merawat dan menjaga diri selama kehamilan, memeriksa tekan darah, mengukur tinggi dan berat badan, serta mengecek ada tidaknya infeksi menular seksual. Setelah itu dokter atau bidan akan memperkirakan waktu kelahiran, bila dalam siklus menstruasi normal. Jika tidak, maka akan ditetapkan berdasarkan tanggal dari hasil USG. Anda juga bisa memintanya untuk mengkonsumsi vitamin prenatal, menghindari asap rokok, kurangi mengkonsumsi kafein, dan pastikan juga aktifitas istri Anda aman untuk kehamilan. Atur juga pola makan dan hindari makanan berbahaya. Kemudian jika mengalami morning sickness, Anda bisa menguranginya dengan memberikan permen jahe. Jangan lupa istirahat yang cukup dan pertimbangkan, jika dokter atau bidan menyarankan untuk melakukan pengujian prenetal.” Dokter muda itu kembali tersenyum. “Sekarang ini banyak sekali informasi mengenai kehamilan. Untuk lebih baiknya, saya sarankan Anda sering-sering menjelajah internet, agar bisa menjadi suami SIAGA.”
“Apa yang Dokter maksudkan dengan prenetal?” Dicky tidak mengerti dengan istilah yang di dengarnya.
“Prenetal adalah awal sebelum lahir, atau bisa disebut juga awal dari perkembangan manusia,” dokter menjelaskan. “Apa ada lagi yang ingin ditanyakan atau saya bantu?”
“Tidak, Dok. Saya rasa ini sudah cukup. Saya ucapkan banyak terima kasih,” ujar Dicky.
“Baiklah. Kalau begitu, selamat siang.” Dokter tersebut mngucapkan salam sebagai tanda perpisahan.
Kemudian, Dicky mengakhiri sambungannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera men-search dan berseluncur pada website-website yang membahas tentang kehamilan. Mengenai makanan yang diperbolehkan dan tidak. Olahraga yang dianjurkan dan dilarang. Namun, seketika ada yang mengganjal di dalam pikirannya.
“Apakah Adel sudah memeriksakan kandungannya?” Dicky berujar.
“Mungkin saja sudah. Adel adalah orang yang mengutamakan kesehatan.” Ia membaringkan tubuhnya.
“Bagaimana jika ia memang membiarkannya begitu saja?” Ia kembali duduk.
Ia menghela napas. “Mana mungkin dia setega itu dengan bayinya?” sanggahnya.
“Tapi, hamil di luar nikah itu pasti akan sangat memalukan untuk seorang gadis.” Ia berkilah.
“Jika tidak ke dokter, apakah akan berdampak pada ibu dan bayinya? Bagaimana bila nanti terjadi sesuatu padanya? Apakah Adel akan baik-baik saja?!” Sesuatu yang buruk melintas dipikirannya. “Arrkkkhh!! Kepalaku pusing!! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuknya? Adel!!” menghela napas, “lama-lama aku bisa gila karenamu!” Dicky berteriak sambil mengacak-acak rambut seperti sedang kerasukan.
Kemudian, ia menjatuhkan tubuh terbaring di atas kasur. “Aku bisa saja menjaganya. Tapi, mana mungkin aku bisa menggantikan seorang dokter untuk memeriksa kondisi bayinya? Benar-benar tidak berguna.” Ia menyalahkan diri.
Lalu setelah ia selesai berdialog dengan dirinya sendiri, Dicky kembali berselancar dengan kuota data yang hampir habis. Ia mencari akibat yang ditimbulkan, jika Adeline tidak mengunjungi bagian medis untuk mengecek kondisinya.
Dicky membaca beberapa artikel menyangkut pemeriksaan kandungan. Kemudian ia menemukan sejumlah penelitian yang telah membuktikan, jika pemeriksaan kehamilan pasti akan membantu meningkatkan kesehatan ibu dan janin yang dikandung. Namun sebaliknya, bayi dari ibu yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali, bisa memiliki kemungkinan mempengaruhi berat badan lahir rendah. Selanjutnya jika ia melewatkan sebanyak lima kali, maka kemungkinan bayi dan ibu tersebut meninggal akan jauh lebih besar, dari pada yang telah melakukan pemeriksaan.
Kepanikan semakin menyerang isi kepala Dicky. Jantungnya berdegub takut, ketika membayangkan sesuatu yang buruk akan menimpa gadis yang dicintainya. Ia bahkan sampai melewatkan jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing pagi ini. Di benaknya saat ini hanya terukir nama Adeline, tidak ada lagi yang lain. Kekhawatiran yang menusuk-nusuk hati, seolah menghilangkan akal sehatnya. Ia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Bagi laki-laki ini, yang terpenting hanyalah kondisi gadis yang telah membuat hatinya terkunci.
Kemudian Dicky menyambar jaket yang jatuh tergeletak di atas lantai. Lantas, ia mengeluarkan motor dari dalam kosnya. Karena terlalu panik, pria ini bahkan lupa untuk mengunci pintu tempat ia tinggal. Tanpa berpikir lagi, ia memutar kunci, menstater, dan langsung menjalankan kuda hitamnya menuju ke tempat kos Adeline. Hanya butuh waktu sekitar lima menit, ia sudah sampai di depan tempat kos dari seseorang yang telah membuat perasaannya berantakan. Ia menurunkan standar samping motor, kemudian bergegas mengetuk kamar di mana gadis itu berada.
“Tok, tok, tok!! Del, buka!” Dicky celingukan mencari celah untuk mengintip kondisi di dalam kamar, namun nihil. Lantas, ia kembali mengetuk. “Ini Dicky! Bukain dong, Del!” Ia terus memukul-mukul pintu tersebut.
__ADS_1
“Ada apa, Dic?” Ratna keluar dari dalam kamarnya.
“Adel ada di dalam?” tanya Dicky.
“Mungkin sih, ada. Dari tadi pagi hingga sekarang, aku tidak melihatnya keluar kamar.” Ratna ikut menatap pintu yang mengatup rapat di tempat gadis yang laki-laki itu maksudkan.
“Aku sudah mengetuknya beberapa kali, tapi tidak juga ada jawaban darinya,” Dicky mengeluh pada lawan bicaranya.
Ratna melirik pria tersebut. Kemudian, ia beralih pada pintu kamar Adeline. “Del?! Kamu ada di dalam? Ini Ratna, kamu baik-baik saja?”
Dicky merasa khawatir dengan kondisi Adeline yang kemarin ditinggalkannya begitu saja. Sepupunya saat itu masih belum stabil. Ia juga tidak melihat gadis itu meminum obat yang telah dibeli sebelumnya.
Pada akhirnya, Adeline keluar dari dalam kamar persembunyian. Pendengarannya terganggu oleh suara ketukan dan teriakan Dicky yang berulang-ulang. Ia juga merasa tidak enak dengan Ratna yang ikut-ikutan menggedor pintu. Di samping itu ia tidak ingin, jika perbuatan laki-laki tersebut menggegerkan sederet penghuni kos dan menarik perhatian mereka.
“Ada apa?” Adeline melongokkan kepala.
“Ini nih, dia sepertinya khawatir dengamu.” Ratna menatap Dicky yang terlihat seperti orang kebingungan.
“Thank’s ya, Na!” ujar Dicky.
“Aku gak apa-apa. Kamu pulang saja!” perintah Adeline.
“Ayo ikut aku!” Dicky menarik tangan sepupunya tanpa berpikir panjang.
“Ke mana?” Adeline mengerutkan kening.
“Sudah naik!” pinta Dicky kepada Adeline, agar bersedia naik ke atas motornya saat ini.
“Gak mau! Ngapain juga aku harus ikut kamu, yang gak jelas mau ke mana?!” Adeline menolak permintaan laki-laki tersebut.
Dicky mulai menaiki kendaraan roda duanya dan teringat sesuatu yang terlupa. Kemudian, ia turun dan mengambil helm milik Adeline yang berada di dalam kamar. Selanjutnya ia kembali melangkah, lantas memungut helm yang tergeletak di depan pintu kamar Ratna. “Pinjam ya!” celetuknya.
“Awas saja, kalau gak dibalikin!” ancam Ratna.
Tanpa mengulur waktu, Dicky kembali menaikki motornya. Ia membuang napas dengan kasar, ketika menatap Adeline yang hendak kembali masuk ke dalam kamar. “ Berhenti!!” teriaknya. Naik sekarang juga!!” Tanpa sadar, nada suaranya berada di puncak tertinggi.
__ADS_1
Ratna terhenyak mendengar hentakkan suara Dicky. Seketika itu juga ia bergegas masuk ke dalam kamar, lantas menutup rapat pintunya.
Adeline tidak pernah melihat Dicky semarah itu padanya. Ekspresi tegang, serta sorot mata tajam yang menakutkan, telah membuat Adeline tanpa sadar mengikuti perintah saudaranya itu. Ia seketika saja mendaratkan pantat kerempeng, ke atas motor milik laki-laki yang saat ini telah membelakanginya. Ia bahkan sama sekali tidak mengetahui, ke mana tujuan dari kendaraan yang saat ini mulai merangkak perlahan. Gadis ini hanya bisa terdiam mengikuti kesunyian yang saat ini laki-laki itu ciptakan.