Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 2. Kisah Selly


__ADS_3

“Hallo Sel?”


“Iya, Del? Tumben malam gini, ada apa?” Suara Selly terdengar sumbang.


“Bagaimana kabarmu? Kapan kamu akan kembali ke sini?” Adeline merubah posisi tubuhnya.


Selly menghela napas. “Aku tidak tahu.”


“Apakah Tino masih belum juga mengakuinya?” Adeline tampak serius.


“Si Brengsek itu tidak tampak batang hidungnya sampai sekarang.” Isak tangis mulai muncul mengiringi ucapan Selly.


“Orang tuamu tidak melabrak Tino?” Adeline semakin penasaran.


“Apalagi, Del?! Mereka bahkan sama gilanya.” Selly tersenyum kecut.


“Gila bagaimana?” Adeline keheranan.


Terdiam untuk sejenak, kemudian kembali bersuara. “Mereka tidak mau, jika harus melihat muka laki-laki seperti Tino. Ayahku bahkan sudah membayangkan dirinya menjadi pengemis di sana.” Suara Selly mulai parau.


“Kenapa bisa berpikir seperti itu?” Adeline mengerutkan kening.


Kembali menghela napas. “Ya, seperti itulah yang terjadi. Ibuku kemarin histeris, saat mendengar bahwa Tino tidak mau bertanggung jawab.” Selly semakin terisak. “Kamu tahu yang lebih menyakitkan?”


Adeline menggigit bibir sebelum berujar. “Kamu dikawinkan sama orang lain. Kemarin kamu sudah cerita mengenai itu.”


“Bukan masalah itu.” Selly meletakkan kepala di atas meja.


“Jadi, apa?” Adel mulai bersungguh-sungguh mencermati setiap kata yang didengarnya. Ia duduk dengan punggung menyandar.


“Tino mengarang cerita bohong.” Tangis Selly semakin meledak. “Cowok tidak tahu diri itu telah bilang ke orang tuaku, bahwa tidak hanya dia yang melakukannya. Aku gadis nakal yang selalu tidur dengan pria manapun.”


Aku tersentak kaget. “Dia bilang seperti itu?! ” Emosi Adel seakan meluap. “Teganya, ia berkata begitu setelah anaknya tumbuh di perutmu!!”


Suara tangis terdengar merintih. “Aku sudah menyerah untuk mempertahankannya, Del. Keputusan sudah diambil, akhir bulan ini aku akan menikah dengan anak Pak Diman.”


Dahi Adeline berkerut. “Pak Diman? Siapa dia, Sel?”


Membuang napas dengan beratnya. “Dia sopir Papa. Ibuku menjanjikan akan menjamin kehidupan keluarga Pak Diman, jika anaknya bersedia menikah denganku. Bahkan beberapa asset yang akan diwariskan padaku, diberikan ke cowok itu.”


Adeline merasa ikut sedih mendengar cerita sahabatnya. “Semoga suatu saat nanti, laki-laki itu bisa mencintaimu.” Suara mama Selly terdengar nyaring. Kemudian, seketika itu juga Selly mengakhiri pembicaraan dengan Adeline.


Mendengar kisah Selly yang begitu mengenaskan, hati Adeline semakin terguncang. Teman karibnya itu seorang yang kaya, sedangkan ia hanya gadis biasa yang mengandalkan gaji pas-pasan orang tua untuk dapat menikmati bangku kuliah. Namun, sekarang semua telah terjadi. Adeline tahu, bahwa tidak mungkin orang tuanya bisa bertindak sejauh seperti keluarga Selly. Anak perempuan merupakan harga diri dari orang tuanya, tetapi segala sesuatu yang telah berlalu tidak dapat diulang kembali. Perbuatan terkutuk itu, sudah terlanjur Adeline lakukan.


***

__ADS_1


 


Keesokan paginya, Adeline celingukan mencari pujaan hatinya. Ia berjalan menyusuri koridor panjang, namun Morgan tidak tampak juga. Hingga di kantin yang menjadi tempat favorit mereka, ia juga sama sekali tidak mencium keberadaannya. Kemudian gadis itu menggeser sebuah kursi dan duduk dengan santai. Tidak berselang lama, pikiran negatif mengaliri setiap urat pada saraf-saraf di kepalanya. Praduga yang menjemukan, mulai bermunculan seperti sebuah benang yang berbelit-belit menjadi kusut. Sebagian otak mengiyakan, sedangkan sebagian yang lain menyanggah. Adeline yakin, pria yang ia cintai tidak akan mungkin membuat tragedi yang menimpa Selly hinggap di hidupnya.


Cukup lama Adeline berkutat dengan pikirannya sendiri. Tanpa disangka, mata sayu menangkap sesosok makhluk yang dikenalnya. Ia melihat Morgan tampak tertawa lepas dengan seorang gadis berparas cantik dan semampai. Diperhatikannya mereka dari kejauhan. Suara-suara mulai merayu hati Adeline untuk mencurigai laki-laki yang ia puja. Kemudian, Adeline bangkit dari kursinya dan bergegas menghampiri Morgan.


Setibanya di sana, hati Adeline dibuat mendidih oleh gadis berambut panjang itu. Jemari tangan lentiknya menyentuh wajah Morgan. Kemudian, gadis itu mulai melingkarkan lengan pada leher pria tersebut. Ternyata, ia memang menyadari keberadaan Adeline. Sedangkan Morgan, sepertinya tidak tahu bahwa pacarnya sedang berdiri dengan amarah yang mebara.


Seketika itu juga, Adeline menyingkirkan lengan gadis tersebut dengan sangat kasar, hingga Morgan terkejut dibuatnya. “Jangan berani menyentuh pacarku!” sentak Adeline.


“Pacar? Yang benar saja?!” Wanita berambut kepirang-pirangan itu tersenyum mengejek.


“Apa maksudmu berkata begitu?!” Adeline merasa kesal dan mengernyitkan dahinya.


“Tanya saja sama Morgan yang telah kamu akui sebagai kekasih.” Gadis yang bersama dengan Morgan, tampak berkacak pinggang, kemudian menyibakkan poni.


Morgan terlihat bingung dan serba salah. Ia menyadari kemarahan Adeline yang tersorot dari matanya. Sedangkan gadis yang semampai tersebut tampak santai dengan aura mencibir.


Morgan berpikir dengan keras, agar tidak salah dalam berkata. Ia tidak ingin menjadi orang yang akan dijadikan bahan pertengkaran oleh kedua gadis yang saat ini bersamanya.


“Siapa dia?!” Adeline setengah berteriak, dengan jari terus mengacung dan terarah pada gadis cantik itu.


Morgan menggesek hidungnya dengan jari telunjuk. “Begini...," kemudian terdiam.


Morgan sedikit bergeser dari tempatnya berdiri, sehingga gadis centil itu agaknya hampir terjatuh. “Baiklah”, menghela napas, “Adel ini Sonia.” Morgan menyentuh kedua bahu pacarnya dari belakang. “Dan Sonia, ini Adeline.”


“Siapa dia?” Adeline menatap tajam. Seakan ia ingin menguliti setiap bagian dari kepala, hingga ke dalam otak Morgan.


“Dia…. ” Morgan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ah iya, aku ingat!” Morgan tertawa memecah keheningan. “Aku tadi mencarimu. Ada yang ingin aku bicarakan penting denganmu, mengenai yang kita kerjakan tempo hari.”


Adeline terdiam. Dalam pikirannya, ia mulai menebak sesuatu yang ingin diketahui oleh Morgan. Gadis ini takut, jika harus bernasib sama dengan Selly. Akan tetapi, itu tidak mungkin terjadi karena keluarganya bukan berasal dari golongan orang berduit. Untuk biaya kuliah saja, terkadang ibunya harus berhutang sana-sini. Jadi, sangat tidak mungkin ada uang untuk membayar laki-laki seperti yang dilakukan oleh orang tua teman sekamarnya itu.


Morgan menggapit tangan pacarnya dan melangkah pergi. Serta tidak lupa, ia tersenyum pada Sonia yang merasa sedikit kesal. Laki-laki ini hanya berusaha mengalihkan perhatian Adeline akan Sonia. Ia tidak benar-benar ingin menanyakan sesuatu kepada gadis yang dicintainya. Sebenarnya ada rasa takut untuk kehilangan Adeline, jika ia mencoba membuka pembicaraan mengenai kejadian tempo itu.


“Apa yang mau kamu bicarakan denganku?” Adeline duduk kembali di kursi kantin.


“Kita pindah ke sudut.” Morgan menunjuk kawasan kantin yang sepi dari pengunjung.


Adeline mengerutkan dahinya. “Kenapa harus ke situ?”


“Aku tidak ingin kita jadi bahan pembicaraan, jika nanti ada yang mendengarnya.” Morgan menarik lengan pacarnya itu dan mengajaknya melangkahkan kaki menuju ke tempat yang ia maksudkan.


Mereka berdua berjalan beriringan dan kemudian duduk pada kursi yang berada di pojok kantin. Dua sejoli itu terdiam seribu kata. Tidak ada dari mereka yang memulai pembicaraan. Bahkan, sangat jelas Adeline mengatubkan mulutnya. Mereka beradu argumen dalam hening dan sesekali mata mereka beradu lirik.


Morgan mulai jengah dengan situasi yang berlangsung. “Si M sudah datang?”

__ADS_1


“M? Siapa?” Adeline berlagak bodoh.


“Yang datang setiap bulan dan biasanya terjadi sama cewek.” Morgan memperjelasnya.


Adeline berusaha mengalihkan pembicaraan. “S-siapa yang datang setiap bulan?”


Morgan mulai kesal. “Menstruasi!” Agaknya, ia menaikkan nada suara. Kemudian, mencuri-curi pandang seperti maling yang takut tertangkap massa.


“Bulan ini tidak datang.” Adel membuang napas dengan kasar.


Morgan terkejut, “kamu terlambat M?” Suaranya seakan naik beberapa oktaf, “kamu hamil?!”


“Siapa yang hamil?”


Sontak Morgan dan Adeline terkaget-kaget dengan suara yang tiba-tiba saja terdengar. Mereka celingukan mencari asal suara tersebut. Kemudian, tiba-tiba saja Dicky menjulurkan kepala dari balik dinding yang berhimpit dengan tempat mereka duduk. Tidak berselang lama, laki-laki yang muncul tanpa diduga itu pun ikut duduk bersama dengan mereka.


“Kamu hamil, Del?” Dicky melirik Morgan.


“Tidak!!” Suara Adeline dan Morgan beriringan.


“Aku bertanya sama Adel, bukan kamu. Jadi, kamu diam saja!” Dicky menyeringai, “ Aku tahu, pasti sama dia, kan?” Tatapan kebencian ia salurkan pada Morgan. “Aku sudah pernah bilang padamu, tinggalkan saja cowok seperti dia! ”


“B-bukan begitu, Dic.” Adeline berusaha berdalih.


“Lantas?” Dicky menatap penuh selidik.


“S-Sell,” tergagap, “Selly yang hamil.” Morgan memotong alur pembicaraan antara Adeline dan Dicky.


Seketika, ia mengalihkan pandangan kepada Morgan. “Sama Tino?” Dicky kembali menatap Adeline.


Adeline terkejut mendengar pengakuan Morgan. “Kamu! Apa-apaan sih, Gan!” Adel merasa sangat marah.


Di saat itu juga, Adeline meninggalkan Dicky yang terbengong-bengong.


Morgan juga tampaknya merasa bersalah, setelah pacarnya berlalu begitu saja. Sekarang, ia hanya seorang diri bersama dengan saudara sepupu dari gadis yang dicintainya itu.


“Kamu yakin, bukan Adel yang hamil?” Dicky menatap Morgan penuh curiga.


“Sudah aku bilang, Selly! Kenapa kamu tidak percaya?!” Morgan mengalihkan pandangan mata, agaknya ia merasa takut beradu dengan Dicky.


“Karena kamu bukan cowok yang baik buat Adel. Pria sepertimu tidak layak sama gadis seperti dia! ” Dicky berdiri dari kursinya. “Kalau kamu berani merusaknya, maka aku sendiri yang akan menghajarmu.” Ia tersenyum sinis dan menepuk-nepuk pundak Morgan.


Setelah Dicky tidak lagi terlihat oleh kedua mata Morgan, kemudian ia bergegas mencari keberadaan Adeline. Dia yakin bahwa amarah kekasihnya pasti meledak, jika melihat wajahnya saat ini. Akan tetapi, Morgan tidak ingin kejadian tersebut menimbulkan masalah antara ia dengan gadis yang dicintainya. Morgan tahu, bahwa ia yang telah melakukan kesalahan. Hanya menempatkan dirinya pada zona aman, makan Morgan telah mengalihkan prasangka Dicky kepada Selly. Setidaknya Morgan harus mencoba menenangkan emosi pacarnya, agar pertengkaran tidak semakin berlarut-larut.


Morgan juga tidak ingin Adeline benar-benar meninggalkannya, seperti yang telah disarankan Dicky kepada gadis itu selama ini. Kemudian ada sesuatu yang harus laki-laki ini perjelas dari gadis yang dicintainya. Dalam pikiran, terus saja bergumul dengan resah. Jika yang dikatakan Adelline benar, maka ada kemungkinan pacarnya sedang hamil saat ini. Tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Adeline memang sering mengalami keterlambatan ketika menstruasi. Jadi ada kemungkinan, bahwa sesuatu yang buruk itu belum tentu ada. Morgan berusaha menenangkan hatinya. Ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, jika kenikmatan yang diperbuatnya berujung penyesalan. Laki-laki tersebut mencari Adeline ke seluruh kampus, namun ia tidak menemukannya.

__ADS_1


__ADS_2