Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 1. Film Panas


__ADS_3

Di balik dinding tembok dengan warna putih yang sudah mulai kusam. Tempat tersebut tidak lain merupakan sebuah kos cowok di mana kekasih Adeline berada. Morgan Aldirga, seorang laki-laki yang berasal dari Blora. Kota yang sama dengannya, bahkan kampus, dan fakultas mereka juga sama. Mereka sama-sama berada di semester delapan untuk saat ini. Adeline dan Morgan sudah dua tahun menjalin ikatan sebagai kekasih. Mereka berdua baik-baik saja sebelum peristiwa itu terjadi.


"Sayang, aku punya film nih. Tadi sebelum Tino pulang kampung, dia meminjamkannya padaku." Morgan memasukkan Flashdisk-nya pada laptop yang berlayar 14 inc.


"Film apa? Bagus gak?" Adeline meletakkan handphone yang sejak dari tadi berada di tangannya.


"Aku tidak tahu." Morgan mengklik-play, agar film dapat berjalan. "Baiklah, kita bisa lihat sekarang, seberapa bagus ini." Kemudian Morgan sedikit mundur kebelakang dan duduk di sebelah Adeline.


Sepertinya, mereka melihat Film horror yang cukup menarik dan menegangkan. Akan tetapi, satu jam telah berlalu dan tanpa disadari adegan berbau pornografi terpampang jelas. Tubuh Morgan mulai memanas, begitu juga dengan Adeline. Mereka bingung harus bagaimana. Mereka ingin sekali mengakhiri filmnya, tetapi tampaknya tidak satu pun dari mereka yang bergerak mendekati laptop tersebut.


"L-lebih baik aku kembali ke kosku saja." Adeline dengan panik segera beranjak dari tempatnya duduk, tetapi tanpa sengaja kakinya menginjak bantal dan tergelincir. Badan ramping yang indah itu mengalami ketidakseimbangan, sehingga terjatuh tepat di depan Morgan.


"Sayang!!" Morgan tampak terkejut. "Kamu tidak apa-apa? Hati-hati dengan langkahmu." Morgan membantu Adeline untuk kembali duduk. Kemudian, ia meluruskan kakinya yang masih terasa sakit.


"Bantal kamu itu membuatku terpeleset." Adeline menggerutu. "Aduh kakiku sakit! Apa mungkin terkilir?"


"Mana yang sakit? Ini yang sakit?" Morgan menyentuh pergelangan kaki gadis yang dicintainya.


"Akkhhh!!" Adeline berteriak kesakitan. "Jangan sentuh yang itu! Bagian itu benar-benar sakit."


"Baiklah, aku akan memijatnya perlahan, mungkin saja rasa sakitnya bisa berkurang."


Morgan mengambil cream pelemas otot yang dia miliki. Kemudian, Morgan memijat kaki Adeline dengan lembut. Seketika itu juga, terdengar rintihan dari laptop yang menaikkan suhu tubuhnya. Selanjutnya tangan Morgan mulai bergerak semakin ke atas, hingga sampailah pada paha Adeline.


"Morgan! A-apa yang kamu lakukan?" Adeline berkata dengan napas sedikit tersendat. Tampaknya dia juga merasakan kehangatan yang memuncak, sama seperti yang marasuki kekasihnya itu.


Adeline mendapati Morgan tetap berdiam, akan tetapi kedua tangan pria itu terus bergerilya dan semakin bernafsu. Napasnya terasa semakin berat, seiring dengan rintihan yang terdengar mengalun dari laptop. Ia mulai tidak kuasa menahan tangan Morgan yang terasa menggelitik menggairahkan. Tampaknya bisikan setan dan juga suara birahi pada film tersebut lebih berpengaruh, dari pada kata-kata yang timbul tenggelam pada hati mereka. Tangan Morgan yang awalnya berada di pergelangan kaki, kini sudah sampai pada pusaka kenikmatan yang sangat berharga bagi Adeline.


"Mor ... Morgan, nanti ada orang yang melihat kita." Adeline berkata dengan napas yang tertahan.


"Tidak ada orang, Sayang." Morgan menjawab dengan sangat lembut.


Morgan dan Adeline pun melanjutkan pergulatan. Tampaknya kedua sejoli itu sudah melupakan status mereka yang masih hanya sebatas kekasih. Adeline dan Morgan saling meraba, menjamah, bahkan memainkan sesuatu yang belum tentu menjadi milik mereka. Hubungan intim yang berlangsung selama hampir satu jam, sepertinya membuat mereka hanyut di dalam nafsu terkutuk. Hingga akhirnya, keperawanan Adeline pun direnggut oleh pacarnya sendiri, Morgan. Kemudian, pergaulan panas mereka berakhir. Beberapa detik telah berlalu, menit pun hampir menyusul jam, tetapi mereka berdua masih terdiam beribu makna.

__ADS_1


"Apa yang telah kita lakukan?!" Tampaknya Adeline mulai menyesal.


"Aku benar-benar minta maaf, Adel. Aku tidak bermaksud---"


Memotong ucapan Morgan, "bagaimana kalau aku hamil?" Adeline mulai merasa ketakutan, kemudian ia menangis.


"Itu tidak mungkin, kita hanya melakukannya sekali." Ia mencoba menenangkan Adeline. "Percayalah, semua akan baik-baik saja." Morgan memegang kedua tangan gadis yang dirasanya masih gemetar.


 


***


 


Satu bulan telah berlalu sejak kejadian tersebut. Adeline dan Morgan masih berhubungan seperti biasa. Akan tetapi, mereka tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Sejak saat itu, dua merpati muda tersebut tidak pernah lagi bertemu di tempat kos Morgan. Bukan Morgan yang melarang Adeline datang ke tempatnya. Melainkan gadis itu sendiri yang merasa takut, jika kejadian yang sama akan terulang kembali. Adeline masih harus menyelesaikan pendidikannya, begitu juga dengan Morgan yang masih harus menempuh S-2 setelah mendapatkan gelar S1-nya. Orang tua Morgan menuntut, agar ia meneruskan perusahaan milik keluarga. Karena itulah, perjalanan mereka masih sangat panjang.


"Bagaimana keadaanmu? Tidak ada tanda-tanda kehamilan, kan?" Morgan berbisik sambil mengusap rambut kekasihnya. Kemudian, ia pun duduk di sebelah Adeline.


"Sepertinya tidak, aku juga tidak mual-mual seperti Selly." Adeline menyandarkan kepala pada bahu Morgan.


"Iya, dia sudah hamil tiga bulan." Adeline menghela napas, kemudian menatap laki-laki disampingnya yang masih tampak terkejut.


"Dengan Tino?!" Morgan merasa sangat penasaran.


"Katanya sih begitu, tetapi tampaknya Tino tidak bersedia bertanggung jawab." Adeline mengangkat kepalanya dari pundak Morgan.


"Bagaimana mungkin Selly bisa hamil? Setahuku, Tino sangat hati-hati dengan hal-hal seperti itu." Morgan menatap mata gadis yang dicintainya.


"Aku juga tidak tahu. Tetapi sepertinya Selly pernah cerita padaku, kalau alat pengaman yang Tino gunakan bocor. Ya, mungkin juga itu penyebabnya. Kemungkinan juga, pil KB yang Selly minum tidak berfungsi." Adeline kembali menyender pada bahu Morgan.


"Jangan-jangan Selly lupa meminumnya?!" Tiba-tiba saja Morgan merasa gelisah.


"Sudahlah, jangan membicarakan Selly! Aku takut kejadian yang dia alami, juga akan menimpaku." Adeline merasa sangat sedih. "Kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku, kan? Kamu akan menikahiku setelah kita lulus nanti?" Adeline mengangkat kepala, lantas berpaling dan menatap Morgan dengan air mata yang menggenang.

__ADS_1


"Iya, tidak akan. Hanya kamu yang kucinta. Aku tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu." Morgan hanya sekedar mengiyakan keinginan Adeline. Ia tidak mau terjadi pertikaian di kantin kampus. "Bagaimana kalau Tino tidak bersedia bertanggung jawab?" Morgan merasa semakin was-was.


"Keluarga Selly tampaknya sangat kaya. Kamu tahu tidak?" Adeline melingkarkan tangannya pada lengan Morgan. "Orang tua Selly bahkan sudah menyiapkan laki-laki untuk menutupi aibnya, tentu saja itu tidak gratis."


"Membayar orang untuk menikahi anaknya, begitu maksud kamu?" Morgan merasa lebih terkejut dari pada sebelumnya.


"Hhmm, sepertinya begitu." Adeline memegang tangan pacarnya. "Ya sudahlah, itu masalah mereka. Aku harap kejadian buruk seperti itu tidak akan menimpaku." Ia memejamkan mata.


Sebenarnya, di dalam hati serta pikiran Adeline dan Morgan mulai merasakan ketakutan dan juga kecemasan yang tiada terkira. Mereka sungguh resah, kalau apa yang terjadi dengan Selly dan Tino juga akan menjerat mereka.


Bahkan Morgan sendiri tidak tahu harus bagaimana, jika hal itu benar-benar muncul dalam kisah cintanya.


Sedangkan Adeline, ia merasakan hal yang sama. Bagaimana dengan keluarganya yang sederhana, jika hal itu terjadi? Apa lagi Adeline tinggal di sebuah perkampungan, yang warga desanya masih memandang kehamilan di luar nikah sebagai aib yang tidak akan pernah bisa hilang.


Namun setitik noda semakin menjalar, dosa pun terlanjur dijalani. Sekarang Adeline dan Morgan hanya bisa berharap, bahwa sesuatu yang buruk tidak akan pernah terjadi.


Tidak terasa hari semakin sore, Morgan mengantar Adeline pulang dengan motor yang dimilikinya. Mereka hanya berdiam di dalam perjalanan, meski tidak biasa seperti itu. Adeline dan Morgan terhanyut dengan pemikiran mereka sendiri. Walaupun kedua insan itu bersikap tenang, tetapi di dalam hati dan pikiran, badai sepertinya sedang bergemuruh. Rasa cemas, takut, serta khawatir menggerogoti keyakinan mereka.


Morgan tidak ingin meninggalkan Adeline. Tetapi jika kekasihnya itu hamil, maka apa yang harus dia lakukan? Beberapa saat kemudian, tibalah di depan tempat Adeline tinggal. Selanjutnya, Morgan menghentikan motornya untuk sejenak.


"Akhirnya kita sampai." Morgan mematikan mesin motor yang sejak dari tadi terus menyala.


"Iya, aku juga merasa sangat lelah hari ini. Apa lagi banyak tugas dari dosen." Adeline berkata sambil turun dari motor yang di naikinya.


"Baiklah, aku tidak ingin mengganggumu saat ini. Kerjakan dengan serius! Besok pagi kasih lihat ke aku ya, Sayang." Morgan tampak menyeringai.


"Dasar kamu ini, cobalah sesekali untuk mengerjakannya sendiri!" Adeline tertawa karena tingkah laki-laki yang tampak sedang berkelakar.


"Hari ini tiba-tiba aku M, jadi aku gak ingin melakukan apa pun juga." Morgan kembali menyalakan kendaraannya.


"M? Malas maksud kamu? Dasar kamu ini memang rajanya pemalas. Sudah pulang sana!" Adeline tersenyum kepada Morgan, begitu juga sebaliknya. Kemudian Morgan berlalu, lantas menghilang.


Beberapa saat setelah Morgan tidak terlihat lagi, Adeline memasuki kamar kosnya yang hanya sepetak saja. Dia mengunci pintu dan meletakkan tas yang sejak tadi menggantung di punggungnya. Gadis cantik tersebut menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur. Pikirannya melayang, terbang sangat jauh dari dunia nyata. Dia membayangkan yang terjadi dengan Selly-teman satu kamarnya, juga terjadi padanya. Dia mulai berpikir banyak sekali hal negatif, jika Morgan bertindak seperti Tino yang sampai sekarang tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun. Akan tetapi, Adeline segera menyingkirkan pikiran buruk yang bergelayut di dalam kepalanya. Ia sangat yakin bila itu terjadi, maka Morgan pasti akan bertanggung jawab.

__ADS_1


Kemudian, Adeline beranjak dari kasur empuknya. Dia berdiri di depan cermin yang agak besar. Dia mulai memperhatikan perut, menyentuhnya, setelah itu pikiran aneh timbul dalam kepala. Adeline membuka laci meja rias tempat cermin tersebut menggantung. Ia mengambil sesuatu yang beberapa hari lalu sengaja dibelinya, ketika melewati apotek pada saat hendak pergi ke kampus. Test pack, sebuah alat untuk mengecek kehamilan. Adeline memperhatikan alat tersebut, beberapa kali menghela napas, kemudian memejamkan mata. Ada rasa takut dalam hati untuk menggunakannya.


Walaupun Adeline yakin, bahwa ia tidak hamil. Tetapi di dalam benaknya, dia ingin sekali mencoba alat tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Adeline masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Dia menyimpan urine ke dalam gelas plastik, kemudian memasukkannya ke dalam gelas tersebut. Ia menunggu untuk beberapa saat, setelah itu mengangkatnya, kemudian melihat apa yang ditunjukan oleh alat tersebut.


__ADS_2