Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 7. Air Comberan dan Selokan


__ADS_3

Adeline berbalik dan dengan sigap menutup mulut Morgan, lantas memperhatikan sekitarnya. Ia takut, akan ada yang mendengar kalimat yang terlempar keluar dari mulut orang yang pernah dicintainya. Laki-laki tidak berperasaan itu membuat tubuh Adeline panas dingin. “J-jaga kata-katamu!” Adeline memelototi Morgan yang menaikkan sebelah alis matanya.


Kemudian Morgan menurunkan tangan Adeline yang masih menggantung di mulutnya. “Bagaimana? Apa masih tidak mau menyingkirkan bayi itu?” Morgan kembali merajuk.


“Diam, kau!” sentak Adeline.


“Dari pada kamu terus saja ketakutan begitu. Mau sampai kapan kau sembunyikan isi perutmu itu? Morgan melirik bagian tubuh yang saat ini dipegang oleh Adeline. “Jujur saja, kamu juga pasti malu mengakui keberadaannya? Anak haram hasil perzinaan.” Ia menatap benci pada area tempat benihnya tumbuh.


“Dasar brengsek!” umpat Adel. “Berhenti mengusikku,  bersenang-senang sajalah kau dengan mainan barumu!” jawab Adeline dengan nada ketus.


Morgan menyeringai. “Ya, kamu benar. Sonia lebih bisa diatur dari pada kamu.” Membuang muka menatap langit yang tampak tinggi. “Cih!! Kalau saja kamu menurut, pasti kita masih bisa bersama. Sampai saat ini cintaku masih ada untukmu. Anak itu cuma penghalang saja.”


“Aku benar-benar sangat bersyukur mengetahui kamu yang sebenarnya. Meskipun sudah terlambat, setidaknya belum sejauh sampai aku menyerahkan hidupku setelah pernikahan dengan cowok egois seperti kamu.” Adeline tesenyum sinis.


Morgan agak terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh mantan kekasihnya. Meskipun ia masih mencintai Adeline, namun ia tidak mau mengorbankan segalanya untuk gadis yang tidak mau mengikuti kemauannya. Dalam pertimbangan Morgan, walau Sonia mudah sekali jatuh ke pelukan seorang lelaki, tetapi ia yakin wanita cantik itu bisa menjadi seperti yang diinginkannya. Berbeda dengan Adeline yang sejak awal memang selalu menimbulkan perselisihan, ketika mereka sedang dalam situasi beradu argumen. Bagi Morgan saat ini, Sonia jauh lebih baik dari pada mantan kekasih yang masih ada di hatinya.


Sejak dulu sifat Adeline memang sangat keras kepala. Jika sudah berkemauan, maka mengubahnya akan sama saja seperti menyusun kembali sebuah kaca yang telah terlanjur pecah, sulit sekali digoyahkan. Selain itu, Adeline juga masih mencintai Morgan. Namun saat ini, ia lebih memilih anak yang dikandungnya, dari pada laki-laki busuk yang sedang ia hadapi. Pria yang saat ini adalah milik wanita lain, tidak pantas menjadi ayah dari anaknya. Adeline telah bertekat untuk menjaga, merawat, serta membesarkan anak itu seorang diri.


Morgan tersenyum kecut. “Bagaimana kalau kamu beritahukan saja ke semua orang? Teriakkan dengan lantang, bahwa sekarang ini sedang tumbuh janin di perut kamu! Aku ingin tahu, seberapa kuat keteguhanmu untuk mempertahankan anak itu?!”


Saat ini Adeline merasa seperti sedang bersiap melempar bola api. Ia ingin sekali membakar hidup-hidup laki-laki yang memaksa hatinya memaki. “Dasar sial, Kamu memang sudah tidak perduli lagi denganku.” Lantas ia bergumam lirih, “apalagi dengan anak ini, itu jelas mustahil.” Adeline kembali menaikan suaranya.  “Lebih baik kamu menjauh dariku! Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!”

__ADS_1


Morgan berkacak pinggang dan tertawa lepas. “Bagaimana jika aku saja yang mengumumkan kehamilanmu?” Ia menyentuh dagu Adeline. “Lagipula sekarang atau pun nanti, hasilnya akan sama saja.”


Adeline menampik tangan Morgan. “Bukan urusanmu! Diam saja kau!”


Morgan mengarahkan tangan menyentuh Adeline, tepat pada bagian tubuh di mana benih yang telah ditanamnya itu sedang tumbuh. “Kamu akan terus membesar di sana. Suatu saat nanti, kamu pasti akan menerima kenistaan dari kesalahan seorang ibu yang berkeras hati, hingga telah membiarkanmu terlahir di dunia ini.”


Adeline menghempaskan jemari Morgan yang terus meraba-raba. “Kau tidak mau mengakuinya, kan? Jadi jangan pernah lagi mencoba menyentuhku, atau pun menyakiti anakku.” Suara amarah Adeline setengah berbisik.


“Ok, Ok, baiklah.” Morgan mengangkat kedua tangannya, seperti seorang penjahat yang tertodong senjata. “Kamu mengakui dia anakmu, tetapi malu jika ada orang lain yang tahu. Apa itu tidak menyakitkan baginya?” Morgan menyilangkan kedua tangannya di dada. “Uhh!! Sungguh menyedihkan.” Ia mengisyaratkan kengerian. “Lebih baik ikuti saranku, lenyapkan saja janin itu sebelum semua orang menghujatnya.” Morgan menyentuh bahu Adeline dan merasakan tubuh gadis itu sedikit bergetar. “Dengar Del … penyesalan pasti akan hinggap merayap hingga membuatmu meratap suatu saat nanti, karena kamu telah membiarkan bayi itu ada di hidupmu.” Ia menatap Adeline yang menitikkan air mata. “Ibu dengan seorang anak dan tanpa hadirnya sosok Ayah, pasti akan melahirkan kemalangan.”


Adeline mengambil tangan Morgan dari pundak dan melemparkannya dengan sangat kencang. “Itu bukan lagi urusanmu.” Mengacungkan jari telunjuknya dan hampir mengenai wajah Morgan. “Dan ingat ini, tidak ada lagi ikatan apa pun di antara kita. Hubungan ini hanya sebuah kengerian bagiku, di saat kamu sudah tidak mau mengakui anak ini sebagai benihmu.” Adeline tersenyum menghina. “Lagipula kamu itu bukan laki-laki, apalagi seorang ayah. Sebutan seperti itu sangat tidak pantas untukmu!”


“Ya, ya, teruslah mencercaku! Aku yakin, gak lama lagi senyummu pasti akan hilang di saat janin pembawa petaka itu sudah membuat perutmu semakin membuncit.” Morgan merenguh kesal. “Bagaimana andaikan saja teman-teman mengetahuinya?” Morgan tersenyum licik. Tatapan Morgan seakan membuat jantung Adeline tertikam. “Lantas … orang tua kamu?” Senyum Morgan mencemooh. “Aku yakin keduanya belum mendengar buah dari tingkah anak yang selalu saja mereka bangga-banggakan. Kemudian, apakah kamu juga sudah membayangkan tentang deskriminasi sosial yang akan menimpa mereka?”


Morgan merasa puas mendapati kegelisahan yang mulai berayun-ayun menggelayuti rona wajah Adeline yang memudar pucat. Gadis yang beberapa waktu selalu menentangnya dengan sindiran keras, kini lembek seperti kerupuk yang terkena cipratan air. Keangkuhannya mengambang, ketika kata-kata yang terlontar telah menskak mat si wanita pembangkang. Keyakinan mulai menggelitik hati dan pikiran Morgan. Timbul prasangka, bahwa ada kemungkinan Adeline akan menurutinya untuk menggugurkan hasil dari kesalahan mereka.


Morgan menggesek ujung hidungnya. “Ah … aku ingat, Mama kamu punya lemah jantung. Jadi bagaimana jika seandainya jiwa baru yang belum tentu bisa terlahir itu, terlanjur menggantikan tua renta yang sudah uzur?” Morgan tertawa tanpa suara. “Apa itu yang kamu inginkan?” Ia menyentuh wajah Adeline.


Adeline tetap membisu. Mungkin untuk saat ini, tubuhnya layak disetarakan dengan mayat hidup. Ia sedikit pun tidak bergerak, hanya sesekali berkedip, dan air mata menetes. Kemudian semua tampak seperti kosong, meskipun ada segelintir orang yang untuk sejenak mencuri pandang pada Adeline, lantas lewat begitu saja sambil berbisik-bisik mengasumsikan sesuatu yang terlihat.


Tiba-tiba saja, Sonia muncul tepat di belakang tubuh Adeline dan mengambil kelembutan jari Morgan yang menempel pada gadis yang dianggap sebagai seorang pesaing. Ia memindahkan tangan pacarnya pada pinggang ramping dibalut dengan baju ketat yang tampak seksi. Dengan nyaman, ia bersandar pada lelaki yang telah menjadi bekas kekasih Adeline.

__ADS_1


Morgan tampak terkejut atas kedatangan Sonia, namun dengan sigap ia berusaha mencairkan suasana dingin yang mencekam. “Pacar baruku ini, lihatlah kecantikannya dan tubuh yang seakan seperti seorang model.” Morgan melirik Adeline.


Sonia juga mengikuti arah pandang kekasihnya. “Ya jelas, mana bisa aku disamakan dengan gadis yang hanya selalu pakai baju gombrong dan celana jeans kumal, seperti mantan kamu itu.” Ia mengekspresikan sindiran. “Ih!! Kampungan banget gayanya, gak modis sama sekali.” Sonia menempatkan kedua telapak tangannya pada bahu Morgan. “Pantas saja kamu tinggalin dia.”


Adeline membiarkan kalimat-kalimat hujatan tidak beraturan itu mengalir begitu saja. Saat ini kemalangan kedua orang tuanya yang tenyata memiliki anak tidak bermoral seperti dia, mulai membuat rajutan kusut di dalam otak Adeline. Hati gadis cantik ini mulai goyah, ia tidak bisa memutuskan untuk memilih menjaga kehormatan atau mempertahankan sebuah nyawa. Adeline semakin linglung, terjerumus ke dalam jurang keraguan yang bersimpangan.


“Mungkin saat itu aku tidak sadar, bahwa aku terlalu baik untuk gadis seperti dia.” Morgan tergelak.


Kemudian Sonia mengayunkan jari lentiknya dengan keras pada pipi kiri Adeline. “Ini untuk penghinaan yang sudah kamu lemparkan ke arahku.” Ia mentap bengis pada Adeline yang sedari tadi membatu.


Tampaknya pukulan Sonia telah membuat Adeline tersentak dari lamunannya. Ia bahkan baru menyadari, bahwa antek musuh telah datang dan bediri dengan gemulai di depan matanya. Kemudian, ia menghela napas yang teramat panjang. Batinnya menyeruak, ‘Apakah aku semenyedihkan ini?’


Morgan membelalakan mata menatap pipi yang memerah pada gadis yang masih ia cintai. “Apa yang kamu lakukan?!” sentak Morgan.


“Hanya membalas perlakuan Adel padaku.” Sonia merasa takut mendapati kemarahan di mata Morgan. “Dia yang memulai dengan mengataimu sebagai sampah yang telah dibuangnya. Dia juga bilang, kalau aku yang telah memungutmu.”


“Tetap saja,” menatap Adeline. “Aku tidak suka dengan gadis yang bersikap kasar.”


Kemudian Morgan melepaskan diri dari Sonia yang terus bergelayut manja padanya. Ia pergi begitu saja meninggalkan pacar dan mantan kekasihnya. Morgan tidak bisa menerima ulah Sonia kepada Adeline. Ia tahu, bahwa mantan pacarnya, bukan tipe orang yang suka mencari gara-gara. Kalau ikan tidak dipancing, tidak akan mungkin bisa terjerat kail.


Sonia menatap kesal pada bayang-banyang orang yang saat ini terikat dengannya. Ia merasa kesal pada Adeline. “Jangan pernah mengira, kalau dia tadi belain kamu! Apalagi sampai berpikir, bahwa masih ada cinta buatmu! Aku yakin kamu sedari tadi menangis untuk mengemis-ngemis hubungan dengan Morgan. Jadi, dia merasa iba dengan gadis menyedihkan seperti---”

__ADS_1


Adeline memangkas perkataan Sonia dengan tamparan keras. “Ini balasan untuk yang tadi.” Adeline menarik napas panjang dan memberi peringatan, “lebih baik kamu berpikir lagi untuk menggantungkan status pada laki-laki seperti Morgan.” Ia mengusap Air mata. “Ah … aku lupa, kamu sama buruknya dengan dia. Kalian pasangan yang serasi. Ibarat air comberan dan selokan, sangat cocok, dan semoga lancar untuk kedepannya.” Adeline memandang miris pada kekasih baru bekas pacarnya.


“Kau benar-benar …!” Tangan Sonia yang kembali terangkat, seketika tertangkap oleh pria yang berdiri tepat di belakangnya.


__ADS_2