
Langit ikut bermuram melihat Adeline terdiam dalam kepiluan. Kemudian butiran air terjatuh perlahan, lantas memunculkan aroma khas dari tanah yang mulai basah. Ia masih terdiam dengan sejuta keraguan. Cintanya kembali, namun ia tidak sanggup untuk merengkuhnya. Hujan pertama yang turun, seharusnya bisa menambah luapan syahdu rintihan asmara, namun hati gadis ini terlanjur terlena dalam luka. Di benaknya berujar ‘andaikan waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan terjerat dalam nikmat yang menyesatkan’. Dentingan merdu dari air yang menabrak dedaunan, membuat Adeline menjadi semakin terperangkap dalam sesal.
Adeline menatap laki-laki yang saat ini tengah tersenyum dengan sangat manis. Cinta pertama yang ia tunggu setelah sekian tahun berlalu, kini datang terlambat. Andai saja pria itu muncul sebelum dirinya menjatuhkan hati yang kedua, maka ia pasti tidak akan menderita seperti ini. Namun akan lebih baik lagi, jika dahulu mereka memutuskan untuk tetap bersama tanpa memilih seorang pun pergi menjauh. Pasti alur cerita yang ia lalui akan sangat berbeda.
“Apa kamu benar-benar tidak mengingat kata-kata yang dulu pernah aku ucapkan? Kalimat yang tanpa sengaja terlontar, ketika kamu telah bersedia menjalin cinta denganku,” tatapan Eldo meluluhkan.
“Aku benar-benar minta maaf. Mungkin saja otakku ini memang sudah mulai berkarat. Peristiwa itu sudah lama berlalu, hingga kenangan tentangmu pun sudah mulai tampak abu-abu.” Adeline terlihat muram.
Eldo tersenyum mengantongi jawaban yang Adeline berikan. Ia perhatikan dengan seksama. Laki-laki ini tahu, bahwa cintanya sudah pasti bersambut hangat. Namun, ia juga menemukan kegelisahan yang sangat jelas terpancar dari sorot mata gadis itu ketika menatapnya. Dalam hati ia bersuara, ‘ada apa dengan Adeline?’, begitu banyak tanda tanya yang menggambarkan gadis tersebut.
Harapan terus saja berkumandang sayu. Hati Adeline menginginkan cintanya yang telah lama hilang, akan kembali ke tempat semula. Namun, kini telah ada makhluk lain yang tumbuh di dalam dirinya. Ia berharap untuk bisa memilih mempertahankan mereka, tetapi tidak akan pernah mungkin untuk bersama dengan keduanya. Ia ingin sekali menimpakan kesalahan kepada Morgan, namun pria itu lebih memilih menjatuhkan azab padanya.
“Selama langit masih menolak grafitasi, maka cintaku juga tidak akan pernah membiarkan air mata menodai rona wajahmu.” Eldo merasuki retina Adeline. “Apa kamu lupa dengan kalimat itu?”
Adeline berusaha mengingatnya. “Sepertinya–”
“Aku lebih memilih terpejam dan menjauh pergi, agar mataku tidak melihatmu tersakiti.” Raut wajah sendu Eldo mencuat. “Tetapi, aku tersadar itu pilihan yang salah. Meninggalkanmu menjadikanku seorang pengecut yang tidak berani menghadapi seorang nenek tua.”
“Maksud kamu?” Keingintahuan Adeline meronta.
“Nenek mengancam akan menghancurkan keluarga kamu, seandainya aku masih tetap memilih bersamamu.” Eldo menghela napas. “Aku tahu Beliau bisa menjadikan semua yang diinginkannya terwujud, sedangkan aku hanyalah seorang bocah yang tertatih payah.”
“Itu semua bukan salahmu.” Adeline mencoba menenangkan.
“Tetapi kenyataannya berbeda. Ini kali pertama aku melihatmu, namun drama yang terjadi membuatku semakin menyesal telah menghilang dari jangkauanmu,” Eldo menahan amarah terhadap laki-laki yang tidak lain merupakan mantan kekasih Adeline.
“Aku sudah bisa mengingatnya.” Adeline tersenyum. “Dulu aku begitu naif. Ketika kamu berujar seperti itu, rasanya aku ingin menangis saking terharunya.” Adeline tersipu malu. “Aku sampai menganggapmu sebagai playboy karena rayuanmu yang ajaib itu.”
“Kamu kira aku sedang memikatmu? Semua tulus dari hatiku, Del.” Eldo menatap mata Adeline. “Kamu tidak percaya padaku?”
“Percaya sih, hanya saja agak ragu.” Adeline menyatukan jari telunjuk sebagai isyarat pelengkap. “Tapi maaf, cuma sedikit!” Ia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
Eldo terdiam untuk sejenak, kemudian tertawa lepas. “Tidak masalah. Kata-kata hanya sebuah ungkapan. Pembuktianlah yang patut untuk mendapatkan harga tinggi. Kamu sudah merasakan sediri kenyamanan yang tercipta selama kita bersama.”
Adeline kembali teringat kejadian di mana hujan yang sama dengan saat ini, turun dengan derasnya. Air yang terjatuh dari langit mengguyur hingga basah kuyub. Ketika itu, dinginnya hembusan angin menghempaskan suhu hangat pada tubuh. Eldo mendekatkan wajahnya. Kemudian hanya tinggal beberapa inci mulut mereka bertaut. Namun Adeline tersadar dan membuang muka, lantas berujar, “aku memimpikan seorang laki-laki yang bersedia menjaga kehormatanku hingga akhir.”
Semua sedikit berubah sejak saat itu. Segala kehangatan yang Eldo berikan, berhenti seketika. Pelukan dan dekapan darinya tidak lagi gadis itu dapatkan. Setiap Adeline menanyakan perubahan sikapnya, Eldo selalu menjawab, “Aku ingin menjadi seperti mimpimu.” Namun tidak ada yang berubah, cinta dan perhatian kepada gadis yang dicintainya masih dalam porsi yang sama.
Eldo membuyarkan lamunan Adeline yang saat ini duduk disampingnya. “Aku terus berceloteh, tetapi sepertinya kamu sedang sibuk dengan duniamu sendiri,” tegurnya.
Adeline tertawa melihat guratan kekecewaan yang tampak jelas pada wajah Eldo. “Aku masih tetap bersama dengan kamu. Tetapi bukan kamu yang sekarang, melainkan kamu yang dulu masih menjadi pacarku.”
__ADS_1
Eldo terkejut. “Maksud kamu?”
“Ya, aku melamunkanmu. Lebih tepatnya mengenang masa indah kita.” Senyum Adeline tampak begitu merekah.
“Apa yang membuatmu bisa begitu mencintaiku saat itu?” Eldo memperhatikan Adeline dengan penuh arti.
“Bagai–”
“Del!!” teriak seseorang di kejauhan memotong kalimat yang Adeline lontarkan. Kemudian, tampak ia berlari menghampiri gubuk kecil tempat gadis itu berada. “Ngapain kamu di sini?”
“Dicky?!” Adeline terkejut dan juga Eldo yang hanya termangu menatap pria tersebut.
“Eh, siapa dia? Pacar baru kamu? Syukur deh kalau kamu sudah bisa move on dari Si Kunyuk itu.” Dicky terus memperhatikan laki-laki yang tampak tidak asing baginya.
“Kenapa hanya melihat saja?” Eldo menyunggingkan senyum. “Sudah lupa juga denganku?”
Dicky meletakkan pantatnya pada karpet yang sama dengan tempat Adeline dan Eldo duduk. Ia mencermati laki-laki itu dari atas hingga ke bagian bawah. Ia berkata dalam hati, ‘sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana? Apa dia artis?’. Dicky melekatkan pandangan, hingga seakan bola matanya menempel pada tubuh Eldo. Kemudian ia beralih pada Adeline untuk sejenak, seperti sedang mencari jawaban pada senyum penuh misteri yang terlukis di gadis itu.
“Bukan aku saja ternyata yang tidak mengenalimu,” bisik Adeline kepada Eldo.
“Ah!! K-kamu? Aku ingat kamu!” Dicky langsung menyambar laki-laki yang baru ditemuinya. “Hai, Bro!! Wah, teman lama! Kamu tega menghilang dariku selama setahun ini.”
“T-tunggu dulu, setahun kamu bilang?” Adeline terperanjat.
“Aku yang dungu, telingaku yang salah mendengar, atau memang benar kalian bertukar kabar selama ini?!” Kemarahan Adeline mulai meletup-letup.
“B-bukan aku yang salah, tapi dia.” Dicky menunjuk Eldo yang kebingungan.
“Aku?!” Eldo tersentak. “J-jangan marah dulu, Del. Aku bisa menjelaskan.” Eldo kelabakan.
“Saat itu Nenek–”
“Iya, bagus, Nenek terus yang kamu kambing hitamkan!” Adeline kembali berada di puncak kemarahannya.
“Dengarkan dia dulu, Del!” Dicky berusaha meredam.
“Tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan dari kalian.” Air mata Adeline menggenang. “Cukup sampai di sini, kalian berdua jangan pernah lagi mendekatiku!” bentaknya.
Kemudian Adeline melangkah pergi dengan kemarahan serta rasa kecewa yang teramat sangat. Ia merasa seperti telah dipermainkan oleh kedua laki-laki yang pernah dekat dengannya. Ia mulai berpikir, bahwa Eldo dan Morgan sama sekali tidak berbeda. Baginya, para pria tersebut hanya menjadikan ia seperti sebuah mainan yang tidak mempunyai rasa.
Eldo merasa khawatir, jika nantinya Adeline akan membenci setelah mendengar rahasia yang disimpannya selama ini. Ia tidak menduga akan secepat ini mengecewakan gadis yang masih dicintainya. Rasa bersalah mulai menggerogoti kepercayaan diri untuk mendapatkan kembali hati yang selama ini berada jauh darinya. Ia merasa cinta yang tadinya bersambut, kini seakan tergantung di ujung tanduk.
__ADS_1
Dicky memperhatikan kecemasan yang terukir jelas pada raut wajah Eldo. Ia tidak menduga, keterlanjurannya dalam berkata membuat semua menjadi runyam. Ia menyesal telah menyapa Adeline. Andai saja ia tidak muncul, mungkin mereka berdua akan kembali merajut kasih. “Maaf Rel, aku tidak sengaja.”
“Ah, kau ini!” Ekspresi geregetan Eldo tampak menyembul. “Kamu cuma seperti iklan pengganggu yang memangkas cerita,” sergah Eldo.
“Iya, maaf.” Dicky merengut.
“Sudahlah!” Eldo menyiukkan napas. “Duduk saja!” Ia menyodorkan spageti mercon yang tidak habis dimakannya. “Nih, buat kamu. Aku gak doyan sama makanan kaya gitu.”
“Waw, rezeki datang di saat yang tidak tepat.” Dicky menarik piring mendekat dan menggulung mie dengan garpu. “Gak masalah santap saja.”
“Itu sisaku,” tutur Eldo.
Dicky berhenti mengunyah, sementara setengah dari uraian spageti telah masuk ke mulutnya. “Biar sisa juga yang penting kenyang. Urus sendiri masalahmu dengan Adel. Aku tidak mau ikut campur.” Timpalnya sambil terus menggeramus makanan yang diterimanya.
“Enak saja mau lepas tangan,” sambar Eldo.
“Aku gak mau tahu. Ingat! Hessttt,” Dicky menikmati rasa pedas yang membakar mulutnya, “jangan jadikan aku sebagai sasaran lemparan batumu! Aku tidak mau Adel membenciku hanya gara-gara kamu,” celetuk Dicky dengan mulut penuh makanan.
“Kita sama-sama menyimpan rahasia selama ini. Jadi, bagaimana mungkin hanya aku yang harus dipersalahkan?” Eldo mengerutkan dahinya.
“Siapa yang meninggalkan Adel tanpa kabar?” Dicky meminum jus alpukat yang tampaknya masih utuh.
“Aku, tapi–”
“Jadi bukan aku.” Sejenak mengambil udara dari mulut. “Terus, siapa yang memintaku merahasiakan keberadaanmu?”
“Aku juga … t-tapi kamu mengiyakan ketika aku minta bantuanmu.” Eldo gelagapan.
“Aku cuma tidak mau keluarga Adel menderita karena kelicikkan Nenek kamu yang arogan itu,” ucap Dicky dengan sebal.
“Jangan begitu, beliau sudah tenang bersama dengan Yang Maha Kuasa.” Eldo membuang napas beratnya.
“Hah! Syukur deh kalau tua bangka itu sudah mati,” umpat Dicky.
“Tutup mulut kamu!” sentak Eldo.
“Kamu bisa menutup mulutku sekarang, tetapi kamu tidak bisa menghentikan Nenek kamu pada saat itu,” sergah Dicky.
“Apa yang kamu maksudkan?” Amarah Eldo hampir meledak.
“Nenek kamu yang sok kaya itu, telah mempermainkan nasib orang sederhana seperti keluarga Adel.” Dicky melenguh kasar. “Aku tidak membantumu, tetapi membantu keluarga Adel terbebas dari Nenek kamu yang sadis itu,” ujar Dicky memberi alasan.
__ADS_1
“Memang apa yang telah Nenekku lakukan terhadap mereka?” Eldo sedikit takut untuk mendengar uraian yang akan disampaikan oleh teman baiknya tersebut.
Dicky diam membisu. Sebenarnya dia tidak ingin membongkar aib orang yang sudah meninggal. Ia juga ingin membantu menyelesaikan pertikaian antara Eldo dan Adeline. Namun, Dicky tidak ingin kebencian sepupunya itu semakin bertambah terhadapnya. Ia memang tidak dapat memiliki Adeline, tetapi setidaknya dirinya tidak ingin memperparah kesalahan yang terlanjur ia perbuat.