
Adeline yang masih berjalan terhuyung-huyung memasuki kamar kosnya. Kepalanya terasa pusing, dengan perut yang seakan memberontak menyodok-nyodok kerongkogan. Ia seperti tidak bertenaga, padahal lambungnya baru saja terisi. Lemas, lesu, lunglai tiada daya. Di dalam kepalanya terngiang-ngiang, apakah ini karena kehamilanku?
Dicky membantu gadis yang dicintainya merebahkan diri ke atas tempat tidur. “Kamu punya teh? Aku buatin teh panas ya?” bujuknya.
“Ada di dalam lemari, dekat galon air.” Suara Adeline terdengar lirih.
Dicky tersadar dengan beberapa mata yang melongok ke dalam ruangan. Ia menyadari keingintahuan mereka melambung tinggi, hingga bergerombol berdesakan memenuhi pintu masuk. Para penyinyir mulai berbisik-bisik menyodorkan imajinasi mereka masing-masing. Beberapa berujar, sedangkan yang lainnya menambahkan. Kerumunan gadis tersebut tidak memperdulikan kebenaran yang ada. Bagi mereka, yang terpenting hanyalah bahan gosip yang bisa meyulut api.
“Adel kenapa?” Ratna bertanya dengan arah pandang masih melekat pada Adeline yang tergeletak tidak berdaya. Kemudian, ia melangkah masuk mendekati gadis itu.
“Biasa, vertigonya kumat.” Dicky menjawab asal-asalan.
“Sebenarnya, aku ingin membantumu! Tapi, aku harus menyelesaikan tugas kuliah saat ini juga.” Ratna beralasan. Sesunguhnya, ia tidak sedang dikejar dateline. Gadis ini hanya lebih senang di ajak pergi ke Mall, dari pada harus bersusah diri merawat seorang yang sedang sakit.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya. Lebih baik suruh saja mereka semua pergi dari sini! Kalau terlalu ramai, Adel bisa semakin bertambah pusing.” Pinta Dicky pada Ratna.
Kemudian Ratna membalikkan badan dan terlihat para wanita tersebut tampak tidak senang. “Ini bukan tontonan! Lagipula, Adel bersama Dicky di sini! Mereka itu saudaraan, jadi bukan pacar, atau sepasang mesum yang bisa kalian gosipkan.” Tangannya bergerak-gerak sebagai tanda pengusiran. Kemudian, Ratna keluar bersama beberapa gadis yang tampak kecewa.
Tanpa mengulur waktu lagi, mata Dicky mulai menjelajahi isi kamar sepupunya. Lantas ia menuju ke sudut ruangan, membuka lemari kecil, dan mengambil sekotak teh celup. Kemudian, ia meraih stoples berisi gula dan sebuah gelas kaca. Selanjutnya ia mencampur butiran manis, remahan daun teh berbungkus, serta memasukkan air dengan mengira-ngira temperatur yang sesuai.
Tidak berselang lama, Dicky membawa minuman tersebut kepada gadis yang terbaring lemas. “Teh hangatnya, Del! Minum dulu!” ujarnya dengan melirik gadis yang sepertinya sudah terlelap. Kemudian, ia meletakkan gelas tersebut di atas sebuah meja kecil yang terbuat dari kayu berpelitur dengan laci yang sedikit terbuka. “Kamar berantakan, baju kotor di sana-sini. Apalagi ini? Laci dibiarkan menjulur begini. Apa benar dia itu seorang gadis?” Ia menghela napas dengan kasar. Kemudian, matanya menangkap sesuatu yang tidak lazim. “Alat ini …,” gumamnya tidak berkelanjutan.
Dicky merasa seperti seluruh puing-puing di otakknya membeku seketika. Tubuhnya terduduk lemas di tempat ia berdiri. Dengan sebuah test pack yang masih menyangkut di jari tangan, seakan pukulan keras menghantamnya dengan dua garis merah yang membuat jantung berdegub kencang. Tangannya bergetar, hatinya menciut remuk, hingga tanpa terasa air mata mulai menitik jatuh. Di dalam kepala terus saja terngiang kalimat-kalimat praduga Sonia. Kemudian ingatan mengenai perdebatan kehamilan yang disangkakan Morgan pada Selly, kembali terbayang di pelupuk mata. Literan lendir terasa memenuhi paru-paru, sehingga ia merasa sesak untuk bernapas. Bahkan, laki-laki ini telah melupakan pintu kamar Adeline yang masih sedikit terbuka.
“Adel, benarkah ini yang terjadi padamu?” Suara parau lirih, serta tangis Dicky yang mengalir semakin deras, ketika menatap gadis yang tampak pucat dalam kedamaian tidurnya. “Jika benar, bagaimana aku harus menghadapi Om dan Tante nantinya?” Ia menyandarkan tubuh pada tepian meja. “Aku telah gagal menjagamu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” laki-laki ini memukul kepala beberapa kali dengan tangan yang menggenggam keras. “Bodoh kau, Dic! Bagaimana kamu bisa seteledor ini membiarkan Si Brengsek itu menodainya?” Ia menampar wajah beberapa kali. “Oh Del, kenapa kamu sampai terjerumus melakukan perbuatan terkutuk itu?” Ia kempali memukul pipinya dengan sangat keras, hingga darah segar mengalir di sudut bibir.
Adeline terbangun mendengar suara ‘gedebuk’ yang membangkitkan kesadarannya. “Dic … kamu masih di sini ternyata?” Matanya sayup-sayup terbuka dengan pandangan yang agak nanar.
“S-sebentar ya, Del! Aku mau ke kamar mandi dulu.” Dicky bergegas berlari agar gadis itu tidak memergoki kondisinya saat ini. Jika gadis itu sampai melihatnya, ia tidak akan bisa menemukan cara untuk beralasan.
__ADS_1
“I-iya.” Dengan mulut masih ternganga, Adeline menatap heran mengikuti gerak langkah sepupunya.
Beberapa detik berlalu, menit telah terlampaui, hingga hampir satu jam Dicky masih terdiam di dalam kamar mandi. Ia tidak sanggup menemui Adeline dengan muka berantakan yang dihasilkannya. Pria muda ini merutuk, memaki, serta melontarkan sumpah serapah pada dirinya sendiri.
Adeline melihat segelas teh yang berada di atas meja kecilnya. Kemudian, ia meneguk minuman tersebut, meskipun sudah tidak lagi terasa hangat. Ia menatap jam digital kotal yang tergeletak di atas lantai. Ia lantas mengambilnya, “kenapa ini di sini? Apa mungkin terjatuh?” Kemudian, ia meletakkannya kembali ke atas meja. “Kenapa dia lama sekali?” Gadis ini menatap pintu kamar mandi yang masih menutup rapat. “Jangan-jangan terjadi sesuatu?!” Tanpa berpikir lebih panjang lagi, dengan badan masih terasa lesu, ia segera beranjak dari pembaringannya. ‘Tok, tok, tok’, suara ketukan pintu kamar mandi mulai terdengar. “Dic, kenapa lama di dalam?! Apa terjadi sesuatu? Kamu sakit perut?” Ia memberondong pertanyaan.
“T-tidak apa-apa! Sebentar lagi aku keluar!” teriak Dicky dari dalam ruangan yang terlihat bersih, namun lembab berair.
Kemudian, Dicky mencuci muka dengan air mengalir. Sangat disayangkan tidak ada cermin untuknya berkaca di dalam sana. Ia berharap bentuk wajahnya saat ini tidak terlalu mengerikan, hingga membuat gadis yang dipuja merasa panik. Selanjutnya, ia membuka pintu dan keluar dengan kepala menunduk.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Adeline.
“I-iya, aku gak apa-apa,” Dicky membalas ucapan.
“Oh God! Kenapa dengan mukamu?” Adeline menyentuh beberapa bagian pada paras saudaranya yang masih memerah, serta sudut mulut di mana masih tampak darah bersisa yang mengering.
“B-begini,” berpikir sejenak, “aku tadi terjatuh di kamar mandi,” Dicky beralasan.
“I-iya.” Dicky mencuri pandang dengan wajah masih tertunduk.
“Kamu pikir aku tadi sedang pingsan, hingga tidak bisa mendengarmu jatuh?” Adeline tidak percaya dengan penjelasan Dicky. “Tunggu sebentar, aku akan minta es batu di kamar sebelah. Ratna pasti punya. Aku sering memergoki isi kulkasnya pada bagian atas, yang penuh dengan bongkahan es.
“Hhmm,” jawabnya singkat.
Dicky menati untuk beberapa saat. Setelah tahu bahwa gadis yang ditakutinya sudah masuk ke dalam ruangan milik Ratna, ia lantas bergegas pergi melarikan diri meninggalkan kamar Adeline. Laki-laki ini tidak terlalu pandai, jika harus berbohong di depan gadis yang dicintainya. Padahal di mata gadis lain, ia termasuk tipe pria yang sangat pintar berkilah.
“Mau ke mana?!” teriak Adeline dari dalam kamar tetangga kosnya. Kemudian ia bergegas keluar sambil membawa bungkus plastik hitam berisi es batu, dengan Ratna yang membuntut di belakangnya.
“Itu,” merenung sekejab, “barusan Eldo telepon. Katanya minta ketemu. Ada hal penting yang perlu dibicarakan.” Dicky mencoba untuk berbohong.
__ADS_1
“Masuk!” Adeline memberi perintah.
“I-iya,” Dicky berujar.
“Kenapa dia? Wajahnya–”
“Tidak tahu. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk esnya.” Adeline mengangkat benda yang ditentengnya dan Ratna mengganguk mengiyakan. “Kenapa masih diam saja di situ?!” Ia menatap galak pada laki-laki yang terlihat seperti seorang pencuri.
Tanpa membuang waktu, Dicky kembali masuk ke dalam kamar yang baru saja akan ditinggalkannya. Kemudian, ia merasa gadis itu mengikuti jejaknya. Laki-laki ini terlanjur tertangkap basah, hingga ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk menyelamatkan diri. Untung saja pada saat itu masih berada di jam-jam kantor. Ia merasa sedikit lega, karena semua penghuni kos merupakan seorang pekerja, kecuali Ratna dan Adeline yang masih berada di tingkat universitas. Kemudian tempat yang ditinggali oleh gadis tersebut, juga sangat jauh dari pemiliknya. Sehingga, ia tidak merasa malu dengan wajah yang berantakkan siang itu.
Adeline mengambil handuk kecil yang tergantung di dalam lemari pakaiannya. Selanjutnya, ia mengambil beberapa buah es batu kecil yang berada di kantung plastik. Kemudian, gadis ini meletakkan benda dingin tersebut pada handuk yang tergeletak di lantai. “Pakai ini buat mengompres wajahmu yang terlihat hancur!” Ia menyerahkan es yang terbungkus handuk kecil tipis kepada pria yang tampak muram. “Sudah jelek, ditambah lagi bonyok seperti ini,” ejeknya.
Dicky menekan-nekan untuk beberapa saat, pada bagian-bagian yang terasa ngilu dengan handuk dingin. Sesekali, ia terlihat berjingkat nyeri. Sakit yang kini ia cicip, jauh terasa berkali-kali lipat dari pada saat ia meluapkan amarah seketika.
“Sebenarnya, ada apa denganmu?” Adeline menatap Dicky.
“Aku terjatuh saat mengambil motor. Keadaanmu saat itu terlalu payah untuk bisa memperhatikanku,” celetuknya.
“Jatuh terkena aspal jalan?” Adeline mulai menyelidik.
“I-iya,” ujar Dicky tanpa pikir panjang, ketika ia menyentuh bagian yang terasa paling sakit.
Adeline mulai ragu dengan alibi yang dilontarkan oleh sepupunya itu. “Bagaimana mungkin, jatuh terkena aspal, tapi tidak ada lecet-lecet sedikit pun? Sedangkan yang aku lihat saat ini, hanya memar pada beberapa bagian di wajahmu.” Gadis ini mengamati dengan seksama. “Seperti ini!” Ia menyentuh dengan sedikit kasar, pada kulit tulang pipi Dicky yang tampak berubah warna. “Ini juga.” Kemudian ia menekan sudut mulut pria tersebut, yang masih sangat jelas terlihat adanya sisa darah kering.
“Adu–duh!” teriaknya. “Sakit tahu!” tanpa sadar Dicky berkata dengan nada tinggi.
“Makanya, terus terang saja padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?” tutur Adeline.
“Sudahlah, kalau kamu tidak mau percaya denganku!” Dicky merasa kesal, karena ia telah kehabisan kata untuk mengarang alur kebohongannya. Kemudian, ia langsung berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan tempat Adeline berada.
__ADS_1
Sedangkan Adeline hanya bisa menghela napas, ketika ia tidak mendapatkan kejujuran dari Dicky. Ia sebenarnya merasa sangat khawatir dengan keadaan pria muda sejawatnya. Gadis itu diam membisu, di saat menatap sepupunya berlalu dengan raut bersungut marah, serta tanpa sepatah kata lagi keluar dari mulut laki-laki tersebut.