Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 13. Penyimpan Rahasia


__ADS_3

Mata mereka bertiga bertabrakan untuk beberapa saat. Kemudian Dicky merasa panik dan tanpa sadar telah mendorong gadis yang masih direngkuhnya, hingga tersungkur jatuh ke lantai. Laki-laki itu kemudian berdiri, lantas memamerkan senyum canggung yang tampak mencurigakan. Ia terus bertingkah aneh, sangat terkesan seperti pencuri yang tertangkap basah oleh seorang hansip.


Sedangkan Riena, ia terlihat mengaduh kesakitan. Meskipun tidak ada setitik pun noda yang menempel, namun gadis pemilik kafe tersebut segera berdiri dan membersihkan dress putih yang dikenakan, serta memakai kembali salah satu sepatu hitamnya yang terlepas. Kemudian senyum yang melegakan lawan pandang, sepertinya telah mengakhiri kegaduhan tersebut.


Seorang gadis yang sejak dari tadi memegang handle pintu, dengan sigap segera menutupnya. “Kalian, selalu saja seperti ini.” Danis membuang napas dengan kesal. “Apa tidak merasa malu sedikit pun, jika ada yang melihat kalian berbuat sesuatu yang amoral seperti itu di tempat ini? Lama-lama, aku pasti tidak akan sanggup terus menyimpan rahasia kalian seorang sendiri.”


Riena melangkah duduk di atas sofa empuk yang sedikit dapat mengurangi rasa sakit di tubuhnya. “Apa tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Tidak ada seorang pun yang berani ke ruanganku, sebelum mengetuk dan kupersilakan ia masuk. Hanya kamu saja, seorang bawahan yang berani menginjak-injak kepala atasannya.” Ia berkata sambil terus mengamati dengan teliti pada setiap lebam di tubuhnya yang terasa nyeri dan memang tampak lecet di beberapa bagian. “Dan kamu juga ... apa meninggalkan bekas luka seperti ini padaku, itu merupakan sebuah keharusan buatmu?! Pasti akan selalu terjadi dan terjadi lagi deh.” Bola mata gadis itu hampir saja terlepas untuk memelototi pria tidak berperasaan yang terus saja terpingkal menatapnya.


“Sorry, sorry, Ri!” Dicky mencoba untuk berhenti tertawa. “Aku tadi benar-benar tidak sengaja. Swer, deh!” Ia mengacungkan dua jari dan mendorong tangannya ke depan.


Kemudian Danis melangkah dan duduk di sebelah gadis yang baru saja terjerembab di lantai. Ia memperhatikan setiap bagian yang disentuh oleh Riena. Memang beberapa tampak memerah dan kulit yang sedikit mengelupas. Ia terus mengamati bosnya yang terlihat meringis menahan ngilu. “Lecet-lecet lagi ya, Mbak?” Danis mencermati telapak tangan yang ditiup oleh Riena. “Apa perlu aku ambilkan obat?”


Riena berhenti meniup, “iya nih, tapi kayanya gak perlu obat deh, Nis.” Ia kembali menggembungkan mulut, dan menghembuskan udara pada luka yang hanya merah tanpa darah yang menyembur keluar. “Gara-gara Si Kunyuk itu!” umpatnya sambil menunjuk ke arah Dicky.


“Belum lama ini aku mendapatkan rayuan mematikan yang melambai-lambai, hingga bikin Si Angsa dalam karung hampir saja menjulurkan lehernya. Untung saja jiwa kelelakianku tidak meronta-ronta dan membelot bersama dengan nafsu antusiameku terhadap gadis seksi seperti kamu. Seandainya aku gelap mata, pasti kamu sudah kuembat sejak dari awal kamu menyulut api.” Dicky menghela napas, “dan sekarang, cuma gara-gara luka kecil …,” melangkah ke arah Riena berada, kemudian mengangkat pergelangan tangannya dan mendengus, “setetes darah pun juga tidak keluar!” Ia membolak-balikan tangan gadis itu. “Tapi sekarang aku yang tadinya kamu anggap sebagai manusia, seketika langsung berubah dan turun pangkat jadi seekor Kunyuk.” Dicky merasa ada yang lucu dan mulai berdekak-dekak. Kemudian, ia menjatuhkan tangan Riena.


“Kamu pantas dapat julukan itu, Mas!” sergah Danis yang langsung menatap sinis pada Dicky.


“Danis, apa tadi kamu tidak mendengar, bahwa aku sudah bilang minta maaf ke Riena? Masa seperti itu balasan yang didapat dari orang yang sudah mengaku salah?” sindir Dicky.


“Iya-iya, aku kelepasan tadi. T-tapi, kamu juga mesti ganti rugi buat luka yang sudah kamu perbuat padaku!” Riena berdiri dan hanya berjarak beberapa senti berhadapan dengan Dicky.


“Ganti rugi?” Kening Dicky berkerut, “aku?”


“Iya,” jawab Riena ketus.


“Terus? Aku mesti gimana sekarang?” Dicky tersenyum masam.


“K-kamu harus mau jadi pacarku mulai sekarang! Gak ada tawar-menawar lagi!” perintah gadis pemilik kafe tersebut.


Dicky mendekatkan wajahnya pada Riena. “Apa tadi kepalamu sempat terbentur? Pantas, mungkin saja ada salah satu saraf otakmu yang melintir keluar jalur.” Kemudian, ia menyentuh dahi Riena dengan punggung tangannya. “Apa mungkin kamu sedang demam tinggi, jadinya mengigau seperti ini?” Ia berdecak beberapa kali, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Apa-apaan sih?!” Riena menghempaskan tangan laki-laki yang saat ini sedang menyentuhnya. “Aku serius!” sentaknya.


Suara helaan napas Dicky terdengar sedikit nyaring. “Aku mana mau sama gadis yang kaya cacing kepanasan seperti kamu ini, Ri.” Ia mencubit manja pada hidung Riena.

__ADS_1


“Aduh! Hidungku! Sakit tahu, Dic!” Riena menggosok-gosok ujung hidung, setelah Dicky melepaskannya.


Danis terus saja terbengong menyaksikan dengan serius adegan yang sedang diperankan oleh kedua bosnya itu. Meskipun sudah seringkali ia memergoki kejadian yang hampir sama, namun momen-momen yang membuat gadis ini terus menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal tersebut, tampak sangat mencengangkan sekali baginya. Ia merasa seperti menonton sebuah drama komedi yang selalu akan diulang-ulang untuk beberapa periode selama masih bekerja di tempat ini. Karena alasan itulah, ia bisa dibilang sudah sangat dekat dengan kedua makhluk yang saat ini sedang beradu mulut.


“Aku itu suka gadis yang–”


“Seperti Mbak Adel?” pangkas Danis yang sudah tidak bisa lagi menahan diri.


“Nah, nah, nah! Dia saja tahu, kalau kamu suka sama gadis itu.” Riena menunjuk-nunjuk hidung mancung Dicky. “Mau berkilah lagi sekarang? Terus saja beralasan denganku!” Tatapan mengerikan mulai terpancar keluar dari matanya”


Dicky merasa merinding dengan sorot mata Riena yang tertangkap olehnya. “Kalian selalu saja ngawur, suka seenaknya sendiri menyimpulkan.” Dicky berkacak pinggang. “Dengarkan ini ya, Nis! Aku sama Adel itu –”


“S-saudara sepupu! Benarkan, Mas Dicky?” celetuk Danis.


“Kan, kan, benarkan …!” Riena membelalakkan matanya.


“Kan, kan, bukan seperti yang kalian sangka. Kamu juga danis, ikut-ikutan Riri saja mikir yang gak-gak.” Dicky mengayunkan salah satu pergelangan tangan gemulainya, serta menarik napas dalam-dalam. “Pikiran itu harus selalu positif, jangan mau diracuni sama gossip-gosip negatif yang nantinya akan menjerumuskan.” Dicky mengedipkan mata pada Danis.


“Dasar lebay!” sanggah Riena.


Danis kembali tertegun untuk sesaat. “Gak taulah –gak taulah, aku pusing dengan kalian berdua.” Danis mulai melangkah keluar dan teringat sesuatu. “Ah iya, Mas Dicky ada yang nyari di depan.” Ia menghembuskan udara dari hidungnya dengan kesal. “Kalau tidak ada sesuatu yang penting, aku yang paling malas masuk ke ruangan di mana hanya ada kalian berdua di dalamnya.”


“Gak ada yang bisa pecat karyawan di sini kecuali Mas Dicky!” sergah Danis. “Kalau mau mendepakku, Mbak Riena harusnya bisa meluluhkan hati Si Bos Besar terlebih dahulu. Baru setelah itu, Mbak bisa melengserkanku dari meja kasir.” Danis tersenyum angkuh. “Aku jamin deh, Mbak. Pasti itu.”


“Ya, ya, ya! Pemecatanmu akan aku undur lain waktu. Jadi, siapa?” Dicky menaikkan kedua alisnya.


“Siapa? Apa, Mas?” Danis seakan bingung. “Aku beneran mau dipecat?” Wajah Danis berubah  muram.


“Inilah akibat dari perseteruan antara dua wanita, yang satu bos dan yang satunya lagi kariyawan. Jadi, korslet deh otaknya.” Dicky mengerutkan dahi karena merasa jengah. “Apa Adel yang mencariku di depan?”


“Benarkan? Adel lagi nih. Pikiran kamu itu betul-betul tidak bisa jauh darinya.” Riena menggerutu.


“Bukan Mbak Adel, Mas,” jawab Danis.


“Terus? Siapa, Nis?” Dahi Dicky berkerut penasaran.

__ADS_1


“Sudah Nis, bilang saja, bila sekarang ini dia sedang ada urusan penting di sini. Kasih tahu orang itu juga, kalau Mas Dicky banyak utang yang harus dibayar hari ini juga. Jadi, pemilik kafe tidak bersedia membiarkannya pergi, sebelum masalahnya selesai.” Riena melirik laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. “Ah, dan jangan kasih izin buat siapa pun juga yang mau masuk ke kantorku untuk hari ini!”


“Sudah mau dipecat, masih juga disuruh-suruh semaunya sendiri,” keluh Danis kepada Riena.


“Anak buah, kalau dikasih perintah sama bosnya pasti ngedumel terus kerjaannya.” Desis Riena kesal. “Kamu lagi! Danis dibelain terus, makin ngelunjak sekarang dia jadinya!”


“Kok jadi aku, sih? Lagipula, kamu bisa potong dari pembagian keuntungan kita. Kalau cuma buat ganti rugi biaya makanku, aku rasa masih dapat kembalian.” Dicky terlihat manggut-manggut mengiyakan kalimatnya sendiri. “Lagian, pelit banget sih jadi orang!” Ia melirik menembus pupil Riena yang terkesan hampir terjun bebas.


“Kenapa masih di sini? Sudah keluar sana! Katakan saja seperti yang aku bilang tadi!” Riena menampakkan gerakan tangan mengusir Danis dari zona nyamannya.


“Iya-iya, aku pergi.” Danis terlihat bersungut.


“Eits … mau ke mana, Ganteng?” Riena menarik kerah baju bagian belakang Dicky, yang tampak mulai melangkah mengikuti Danis.


“ Nyusulin Danis. Di luar kan ada yang nyari.” Guratan kebohongan muncul di wajah Dicky.


“Terus?” Riena mengertakkan giginya. “Bilang saja mau kabur dariku!”


Dicky berusaha melepaskan tangan Riena dari bajunya. “Gak kok, gak jadi ke mana-mana!” Ia tersenyum kecut. “Zaman sekarang … ternyata sudah ada Kunyuk yang ganteng. Aku baru tahu itu.” Ia bertopang dagu, sambil mengusap-usap ujung wajahnya.


Danis menggerakkan handle, membuka pintu, kemudian menutupnya kembali.


Riena menghela napas lega. “Nah, sekarang kita kembali berdua.”


“Kita berdua mau bahas utang?” Dicky menggaruk wajahnya.


“Gak, bahas isi baju,” sergah Riena.


“Isi bajunya siapa yang akan dibahas sekarang? Bajumu?” Dicky mencoba berkelakar untuk mencairkan suasana.


“Memangnya kamu mau lihat?” Riena membuka satu kancing dress-nya yang teratas.


Dicky merasa menyesal telah melontarkan gurauan yang dianggap nyata oleh lawan bicaranya. “Aku gak suka melihat yang bukan milikku,” Sangkalnya.


“Makanya, jangan ngongong semau kamu sendiri!” Riena tersenyum bangga. “Giliran diladeni, mengkerut kaya siput.”

__ADS_1


“Kamu tahu sendiri, aku cuma suka bercanda tanpa ada niatan untuk memancing berlian di kubangan berlumpur.” Dicky tertawa sambil melangkah duduk pada sofa kosong yang ada di sampingnya.


Wajah Riena bersungut-sungut mendengar perkataan Dicky terhadapnya. Ia tahu, seorang gadis yang bertingkah sepertinya merupakan sebuah berlian yang terbenam lumpur. Jika tidak mau merubah sikap, maka Dicky akan selau menganggapnya sebagai sifat kotor yang dimiliki oleh seorang gadis ganjen sepertinya. Namun, Riena hanya bertingkah seperti itu kepada Dicky seorang, tidak dengan yang lainnya. Ia selalu ingin merebut hati dan perhatian Dicky agar terarah padanya. Sehingga ia sampai mempercayai ucapan salah seorang temannya yang mengatakan, bahwa laki-laki akan tunduk jika sudah menyentuh surga milik para wanita. Walaupun di hati kecilnya selalu menolak untuk bersikap seperti itu, tetapi Riena ingin agar Dicky terlanjur menyentuh mahkota berharganya. Sekokoh apa pun batu, jika terus terguyur hujan, maka pasti akan terkikis hancur. Riena yakin, suatu saat laki-laki yang ia cintai pasti akan jatuh kepelukannya.


__ADS_2