Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 12. Rayuan Memikat


__ADS_3

Dicky membiarkan senyum terperangah Eldo, ketika mendapati ia pergi begitu saja tanpa mengiyakan permintaan temannya tersebut. Kemudian, Dicky mengarahkan pandangan matanya ke meja kasir yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Di sana tampak seorang gadis mungil yang manis sedang menyerahkan uang kembalian kepada pelanggan. Ia sangat mengenalnya, wanita belia tersebut telah berada di sana sejak kafe itu berdiri.


Dicky berteriak di kejauhan pada gadis tersebut. “Nis! Seperti biasa! Meja sepuluh, utang ya!” Ia menerbitkan senyum andalannya.


“Gak deh! Ogah, aku sudah gak mau lagi ditegur sama Mbak Riena gara-gara kamu!” Gadis kasir itu ikut meninggikan suara. Kemudian dengan sigap, ia segera menutup mulut dengan kedua tangannya.


Dicky berjalan mendekati gadis yang tampak bersungut dibuatnya. “Danis, ayolah! Janji deh, nanti aku sendiri yang ngomong sama Riri.” Dicky menyeringai. “Gini saja! Mmm, gimana kalau aku bayarnya nanti malam?”


“Aku gak sedang sif malam,” sergahnya.


“Sore deh!” Dicky mengiba,namun Danis tidak mengindahkannya. “Ok,ok, sebelum kamu pulang, aku pasti sudah bayar utangku.” Dicky mengedip-ngedipkan matanya.


Danis berkacak pinggang menunjukkan kekesalannya. “Setiap kali kamu ke sini, selalu saja membuat bingung dengan selisih laporanku. Aku terus yang kena marah. Mbak Riena sendiri yang sekarang sudah melarangku, untuk memberimu gratisan di sini.”


“Ehem …!”


Seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan muncul dari balik pintu yang tidak jauh dari tempat meja kasir berada. Perempuan berwajah oval dengan rambut short hair-nya yang sengaja dibubuhi warna cokelat pucat itu, tampak terkesan sangat elegan. Kemudian pada tubuh yang ramping, tergantung dress putih yang panjangnya tidak mencapai lutut. Ia ketara begitu elok dengan gaun yang telah menampakkan lekukan pinggang erotisnya, serta sepatu high heels hitam berkerlip glamor yang sangat sepadan dengan perpaduannya.


“Ini, nih Mbak! Dia bikin ulah lagi di sini.” Bibir Danis meliuk-liuk seperti siput berjalan. “Kamu yang bikin gara gara, nanti aku lagi yang kena damprat.” Ia kembali menyibukkan diri dengan para pelanggan yang sedang mengantri untuk membayar.


 “Eh, hahaha, Riri!” Dicky merasa kelabakan. “Sudah lama aku tidak melihatmu.” Ia menutupi ketidakenakannya dengan tawa sumbang yang sedikit rikuh. “Tumben jam segini masih di kafe?” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Kamu ini selalu saja …!” Karena merasa gemas, Riena tanpa sadar mengangkat tangannya yang hendak memukul Dicky.


“I-iya deh, Ri. Maaf atas segala kesalahan yang selalu ingin aku ulangi.” Dicky menangkap genggaman tangan pemilik kafe itu. “Entah kenapa setiap datang ke tempat ini, aku selalu saja lupa buat bawa dompet.” Ia manggut manggut terhanyut dalam lamunannya sendiri.


Riena membuang napas dengan kesal dan menarik tangannya yang berada dalam genggaman Dicky. “Aku sama sekali gak mempermasalahkan, jika saja hanya kamu yang makan di sini. Tapi, k-kamu selalu saja datang bersama orang lain. Minta gratisan pula! Kalau kamu selalu seperti itu, kafe ini bisa bangkrut!” Riena tersadar, bahwa dirinya saat ini sedang berada di sekitar pengunjung. Tidak perlu lagi mengulur waktu, ia dengan jengah segera menarik kerah baju Dicky dan menyeret pria itu masuk ke dalam ruangannya.


Dicky tersenyum keki pada semua mata yang saat ini sangat lengket pada dirinya. Ia hanya mencoba mencairkan suasana dan tidak terlalu mengindahkan berbagai pemikiran semua makhluk yang saat ini sedang bergelantungan mengenai dirinya. Seperti itulah Dicky yang selalu terkesan tidak perduli tentang anggapan orang lain.


Riena melepaskan kerah baju Dicky. “Apa kamu gak merasa malu saat teriak gratisan, bahkan terkadang kamu bilang utang di depan meja kasir?”


“Hahaha! Manusia itu kalau ngomong yang dikeluarin cuma asap naga, bukan uang. Jadi, buat apa juga otak kita harus bekerja keras untuk mikir segala pendapat orang.” Dicky melenggang duduk pada kursi sofa panjang yang berada di dekatnya. “Kecuali mereka mau bayar, baru deh aku mau bikin saraf-saraf di kepalaku buat kerja rodi mikirin berbagai persepsi mereka yang gak penting itu.” Ia mengedipkan mata pada Riena.


Gadis muda ini menjadi salah tingkah menangkap kegenitan yang tertangkap olehnya. “K-kamu itu, uang mulu yang dipikirin.” Ia menghela napas berat. “Aku pemilik kafe ini. Jadi aku harus jaga image di depan semua orang.” Riena duduk serampangan di atas meja kerjanya.


Dicky menatap kulit putih mulus yang terhalang bayang-banyang kain. Sedikit lagi kaki terangkat, maka lubang tempat buaya bersarang akan mulai menyembul, meskipun masih ada lapisan penutup di luarnya. “Seandainya bukan aku yang berada di sini, maka kamu sudah pasti akan habis dimangsa hidup-hidup.” Ia terkekeh canggung.


“Mana mau kamu sama aku? Aku sendiri juga merasa sedikit sangsi dengan kelelakianmu.” Riena mulai menatap menggoda.


“Mulai lagi deh.” Dicky melenguh malas. “Apa kamu selalu seperti ini ke semua cowok?”

__ADS_1


“Ah, gak kok.” Riena turun dari meja dan mulai melengkah mendekati Dicky. “Cuma kamu saja. Percaya deh, sama aku!” Ia duduk di atas pangkuan pria yang saat ini bersamanya.


“Apa seperti ini yang kamu bilang dengan jaga image?” Ia menarik udara sebanyak mungkin melalui hidung dan membuangnya begitu saja melalui mulut. Kemudian, Dicky berusaha membebaskan diri dari godaan wanita tersebut.


Riena mempererat cengkraman dengan mengaitkan kedua lengan pada leher Dicky. “Jangan ke mana-mana, Sayang!” Ia mulai merapatkan diri dan hendak menautkan mulutnya.


Dicky menyentil dahi Riena dengan sangat keras. “Jangan macam-macam! Nanti kalau dilihat orang, mereka bisa salah paham sama kita.”


“Aduh!” Riena mengusap-usap keningnya. “Sakit tahu!”


“Siapa suruh berlagak yang aneh-aneh denganku.” Dicky menurunkan tubuh Riena yang saat ini berada di atas kedua pahanya.


Riena menyandarkan kepala di bahu Dicky, sambil menekan-nekan bagian wajahnya yang sakit. “Bukankah kamu tadi bilang padaku, kalau kamu tidak perduli dengan kata orang?”


“I-iya, tapi bukan berarti aku mau melakukan perbuatan tidak senonoh padamu,” sanggah Dicky.


“Kalau sama-sama mau, aku rasa gak ada masalah, Dic?” Riena berkilah.


“Kamu mau, tapi aku nggak!” jawab Dicky sedikit ketus.


“Lihat aku!” Riena berdiri tegak. “Apa yang kurang dariku? Aku cantik, tubuhku juga seksi menggairahkan, dan yang paling penting sudah mapan.”


“Kamu itu yang kurang jantan!” sergahnya. “Banyak Pria kaya yang mau punya pacar sepertiku dan bahkan ingin menikahiku. Aku berkali-kali menolak mereka, tetapi mereka selalu mengikutiku.” Riena mulai melangkah dan menatap pada tempat pengunjung dari balik kaca kantornya yang tidak dapat tampak dari luar. “Apakah kamu tidak bisa melihat bunga yang berjajar panjang?” Ia kembali duduk merapat pada tubuh Dicky. “Itu semua dari penggemarku.”


“Apa? Bunga-bunga yang dirangkai dengan sangat besar itu? Benar itu yang kamu maksudkan?” Dicky terpingkal. “Sejak aku melihat rangkaian bertuliskan namamu berderet di sekitar pintu masuk hingga ke meja kasir, aku selalu saja berpikir tentang kematian setiap datang ke tempat ini.”


“Sialan kamu!” Riena mendorong lengan Dicky. “Kamu kira aku ini mayat hidup yang sedang menggodamu?” Senyum manisnya mulai mengambang.


Dicky merasa sedikit lega, karena suasana saat ini sudah mulai kembali normal. Memang kecantikan Riena tidak dapat disangkal olehnya. Namun, dia tidak terlalu berminat dengan wanita yang bersifat agresif. Semakin ganas gadis itu, maka Dicky semakin tidak bernafsu. Di mata Dicky, Riena hanya seorang perempuan yang menjalin bisnis dengannya. Mereka bekerja sama membangun kafe tersebut dari nol.


Riena sudah sangat lama mengenal Dicky. Mereka berasal dari kampus yang sama, hanya saja ada perbedaan di tingkat kelulusan. Bisa dibilang, gadis ini merupakan seorang senior yang pada saat itu terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama dengan juniornya. Ia telah melakukan segala cara, namun tetap saja gagal menjatuhkan kokohnya dinding pertahanan Dicky.


“Bukan aku yang ngomong, tapi kamu sendiri.” Tampiknya.


“Kapan kamu akan berencana mau menerima cintaku?” Riena menatap hingga ke dalam retina mata Dicky yang tampak jernih.


“Kapan-kapan, kalau sudah tidak ada lagi stok gadis cantik di dunia ini,” ujar Dicky.


“Apa kamu masih terus memendam cinta pada gadis itu?” Riena melirik menyelidik.


“Siapa maksud kamu?” Alis tebalnya menyambung.

__ADS_1


“Aku selalu melihatmu di sekitarnya. Gadis yang sering kamu ajak ke kafe ini juga.” Riena memperjelas.


“Aku tidak pernah mengajak seorang gadis ke tempat ini,” Dicky berusaha berdalih.


 “Begitu ya?” Riena tersenyum sinis. “Dia tadi datang ke sini dengan pria lain loh!”


“Apa sekarang kamu mau coba berubah, dari zombie menjadi kompor yang kehabisan minyak?” Dicky terbahak.


“Apaan sih kamu?!” Riena merasa kesal. “Aku tahu kamu mengerti, bahwa Si Adel yang aku maksudkan.” Mulut ranumnya maju beberapa senti.


“Kamu sudah tahu namanya, tapi kenapa masih berputar-putar ngomongnya?” Tatapan Dicky penuh sindiran.


“Aku hanya ingin mendengar pengakuanmu, bahwa kamu sebenarnya cinta sama Adel,” ucap Riena.


“Kamu selalu saja mengada-ada. Sudah jelas aku dekat dengannya, karena kami ini masih ada hubungan saudara.” Dicky mencoba menguraikan.


Riena menirukan gerakan mulut Dicky dengan sedikit dibuat-buat. “Aku sampai bosan mendengar alasan itu terus yang selalu keluar dari mulut kamu.”


“Bukan alasan, tapi itu memang kenyataan,” sanggahnya. Kemudian Dicky berkata dalam hati, ‘ya, memang kenyataan pahit itulah yang harus aku terima’.


“Kalau prasangkaku memang keliru, tentunya tidak sulit untuk menciumku sekarang.” Riena mulai mendekatkan wajah pada laki-laki yang selalu dicintainya.


Dicky menempelkan jari telunjuk pada mulut gadis itu. “Kamu ini memang gadis mesum!” Ia lantas mendorong wajah Riena menjauh darinya.


“Apa kamu tidak bisa mencoba pacaran denganku, sekali ini saja! Please!” Riena berusaha merajuk.


“Aku tidak mau menjalin hubungan dengan rekan bisnis.” Dicky berdiri dan melangkah menuju meja kerja teman wanitanya. “Lebih baik kamu pisahkan, antara cinta dan pekerjaan.” Ia mengamati beberapa tumpukan file yang tergeletak berserakan di atas meja. “Kalau kamu selalu begini, maka aku yakin hubungan kita sekarang ini tidak akan bisa bertahan lama.”


“Maksud kamu?” Rieka melekatkan pandangan pada pria yang tampak kekar.


“Aku tidak ingin, jika suatu saat ada perselisihan di antara kita. Hanya karena cintamu yang tidak bisa kubalas, maka akan menjadikan kehancuran untuk kafe yang kita bangun ini.” Dicky meletakkan pantat pada meja kayu berkaca.


“Aku bisa menjamin, yang seperti itu tidak akan pernah terjadi.” Riena mendekat dan melingkarkan lengan pada perut Dicky. “Aku punya jiwa profesionalisme yang tinggi, jadi kamu gak perlu khawatir mengenai hal itu.” Riena berbalik dan meletakkan lengan Dicky melingkar pada kedua bahunya.


“Apa kamu tidak lelah? Selalu saja seperti ini, jika sedang bersama denganku.” Dicky menarik tangannya perlahan.


“Memangnya, kenapa?” Riena berbalik. Kemudian ia kembali melingkarkan lengan pada leher Dicky dan sedikit menariknya, hingga membuat wajah mereka menjadi lebih dekat.


“Jika ada yang melihatmu, maka kamu akan dianggap sebagai cewek murahan yang sedang berbuat mesum dengan daun muda sepertiku.” Dicky berusaha melepaskan diri dari jeratan Riena.


‘Krek …,’ pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka.

__ADS_1


__ADS_2