Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 21. Istri Palsu


__ADS_3

Adeline menatap sebuah bangunan yang cukup besar dengan taman yang indah. Ia mengamati pintu pagar yang terbuka, tampak beberapa wanita hamil saling bertukar cerita. Serta, sejumlah anak kecil terlihat sangat lincah berkejaran di sekitar taman bunga. Kemudian, ia memalingkan wajah pada sisi kiri pintu masuk. Di sana terdapat sebuah papan cukup panjang bertuliskan, ‘Klinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan’. Ia sama sekali tidak menduga, jika tempat ini berhubungan dengan dirinya.


Beberapa pasang mata menatap heran pada Adeline, lantas saling berbicara dengan suara setengah berbisik-bisik. Kemudian, ia baru tersadar dengan pakaian yang dikenakannya. Celana batik cokelat lusuh, serta baju kumal yang sudah usang. “Aku lupa ganti baju!” serunya.


Suara Adeline yang terdengar nyaring, telah membuat beberapa orang yang dari tadi tidak menyadari keberadaanya, seketika ikut mencermati setiap jengkal tubuhnya. Tiba-tiba saja, telapak tangan kanannya bergerak menutup mulut tanpa perintah. Setelah itu, ia melirik dengan malu pada setiap orang yang berbisik dan menertawakannya.


Dicky yang sudah terserang kepanikan dari sejak pagi, mulai ikut tersenyum kecil menyambut kelucuan yang ditimbulkan oleh gadis itu. Kegelisahan pada batin sedikit berkurang dengan sikap Adeline yang tampak seperti biasa. Ia masih berharap, bahwa alat yang ditemukan bukanlah milik saudaranya. Melainkan milik Selly–teman sekamar Adeline, yang tidak sengaja telah tertinggal.


“Kenapa kamu membawaku ke tempat ini? Ada yang sakit? Atau mungkin ada yang sedang melahirkan?” Adeline memasang mata mengitari seluruh tempat yang bisa dilihatnya.


“Kamu tunggu saja di sana!” pinta Dicky sambil menunjuk salah satu kursi berderet yang kosong disalah satunya.


Adeline memperhatikan para wanita yang duduk di samping kiri dan kanan kursi kosong tersebut berada. Ia merasa tatapan, bisikan, serta tawa mengejek mereka hanyalah tertuju pada dirinya. “Apa kamu tidak bisa mengantarku pulang lebih dulu? Aku malu pakai baju seperti ini.” Suara lirih terdengar keluar dari mulut yang sedikit pucat.


“Aku saja gak malu denganmu, padahal aku yang mengajak kamu ke tempat ini. Kalau kamu malu, abaikan saja mereka.” Dicky tertawa sambil melepaskan jaket. “Gak perlu kamu tanggepin pemikiran orang lain. Lagipula, tidak ada yang mengenalmu di sini.” Kemudian, ia memasangkan jaket miliknya pada Adeline. “Pakai ini saja! Aku rasa ini masih terlihat bagus untuk menutupi bajumu yang sobek itu.”


“Sobek? Bagian mana?” Adeline terlihat panik. “Di mana yang sobek?!”


“Ketiakmu berlubang,” bisik Dicky sambil memperhatikan polah tingkah gadis tersebut.


“Mana? mana?” Adeline mengintip pada ketiak kiri dan kanan di balik jaket. “Gak ada gini kok!” Ia menghentikan gerakan, ketika mendengar suara Dicky terpingkal.


“Benar, tadi ada,” ucap Dicky tanpa berhenti tertawa.


“Aku sudah merabanya hingga ke ujung, tapi gak ada yang bolong.” Adeline berusaha melihat ketiak dengan kedua matanya.


“Iya, beneran ada yang bohong.” Dicky menunjuk mukanya sediri dengan kedua jari telunjuk.


“Dasar kau ini! Aku sudah malu begini, tapi kamu malah mengerjaiku!” Adeline memukul-mukul lengan laki-laki yang menjahilinya.


“Iya-iya, aku minta maaf.” Dicky masih terkekeh.


Setelah gurauan mulai mereda, Dicky menggapit tangan Adeline, lalu melangkahkan kaki menuju kursi kosong yang ia maksudkan. “Kamu tunggu saja sebentar di sini!” perintanya. Ia lantas mengarahkan mata bening pada sederet wanita yang duduk berjajar. “Ibu-ibu dan nyonya-nyonya yang baik hati, saya titip Istri saya sebentar. Janji, gak lama kok!” Ia melirik gadis yang datang bersamanya. “Dia anak baik. Saya jamin, dia gak akan bikin ulah nantinya.” Dicky tersenyum dengan kedua lesung pipi yang terlihat sangat jelas.


“Manisnya!” Wanita tua yang duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda, menjuntaikan senyum dengan bibir kisutnya. “Pasti pasangan baru ya? Kalian terlihat begitu sangat rukun.”


“Iya, Nek! Kami baru menikah dua bulan,” Dicky menjawab dengan asal-asalan dan Adeline menyikutnya.

__ADS_1


“Wah! Baru dua bulan sudah isi?” Seorang wanita berkeriput menatap dengan senyum iri, pada gadis yang diakui sebagai istri oleh Dicky. “Aku saja yang sudah lima tahun berumah tangga, baru sekarang bisa hamil.” Ia mengalihkan pandangan pada laki-laki yang membuatnya kagum. “Tokcer bener, Mas. Rahasianya apa?”


“Rahasianya ada pada yang di atas. Bukan atas genteng loh, Bu. Tapi Yang Maha Kuasa, Sang Pemberi Rezeki.” Dicky menimpali candaan yang didengarnya.


“Kamu ini bisa saja!” Jawab wanita keriput yang duduk di sisi kiri Adeline.


“Makanya, kamu harus banyak-banyak bersyukur atas nikmat Tuhan yang tidak berbatas,” ujar seorang nenek tua.


“Iya, Nek. Saya sudah sangat bersyukur.” Dicky tersenyum. “Kalau begitu, saya titip Istri saya sebentar.” Sebagai isyarat, Ia menunjuk ke arah meja pendaftaran yang agak jauh darinya.


“Iya-iya, sudah tinggalkan saja Istri kamu dengan kami. Dia pasti aman-aman saja.” Wanita gendut yang sejak dari tadi terdiam sambil mengamati mereka berlelakar, tiba-tiba saja berdiri dan mendorong pelan tubuh Dicky.


“Terima kasih-terima kasih, saya senang dengan keramahan kalian semua.” Dicky mengatupkan ke dua tangan di depan wajah. Kemudian, ia bergegas menuju ke tempat seorang gadis mungil yang sibuk dengan file-file di atas mejanya.


Adeline hanya bisa tertunduk malu. Ia tidak bisa mengimbangi candaan mereka. Di dalam batinnya berkata, aku memang sedang hamil saat ini, tetapi ini bukan anak hasil dari pernikahan. Apakah yang seperti ini masih pantas untuk disyukuri? Ia mengusap perut, kemudian menggigit lidah agar air mata yang menggenang tidak meleleh.


“Kamu beruntung punya suami tampan dan perhatian seperti dia.” Gadis muda yang duduk di sebelah kanan menyentuh tangan Adeline. “Kalau suamiku, mana mau dia mengantarkanku. Apalagi harus menunggu seperti ini. Jika aku memaksanya, pasti ia akan terus menggerutu tidak ada habis-habisnya.” Ia menepuk-nepuk punggung tangan Adeline.


“I-iya.” jawab Adeline singkat dengan senyuman getir.


Adeline menahan malu, sekaligus amarahnya terhadap Dicky. Ia mengumpat laki-laki itu di dalam hati. Jika tahu akan berada di tempat seperti ini, maka ia pasti akan menolaknya dengan sangat keras. Sekarang gadis ini sudah terlanjur terjebak di tengah kerumunan wanita hamil. Jangankan berteriak protes, melangkahkan kakinya pun terasa sangat berat.


Yang lama berlalu, yang baru pun datang membaur. Dicky yang pada akhirnya duduk di atas lantai, kini telah menjadi pusat perhatian, karena kelakarnya dengan para wanita berperut buncit itu.


Sedangkan Adeline, ia tidak bisa berbuat apa pun lagi. Ia tidak bisa meninggalkan Dicky yang mengaku sebagai suaminya begitu saja. Tapi setiap ia ingin melayangkan pertanyaan mengenai alasan mereka berdua berada di sini, selalu saja gagal dengan kalimat yang keluar dari beberapa wanita yang memotongnya. Di dalam pikiran, muncul kecurigaan bahwa Dicky telah mengetahui kehamilannya. Namun, ia tidak tahu cara untuk mengambil tindakan yang tepat.


“Ibu Adeline?!” Seorang wanita muda berbaju putih berseret kuning mengumandangkan nama gadis yang saat ini terhanyut dengan suara-suara yang seolah memenuhi kepala.


“Ayo, Del!” Dicky menggapit tangan dan menarik Adeline, agar mengikuti langkah kakinya.


“Kita mau ke mana?” Adeline tidak sedikit pun mendengar namanya disebutkan.


“Melihat temanku sebentar.” Dicky memasuki sebuah ruangan bersama seorang gadis yang mengikuti dengan muka tertunduk lesu.


Di dalam tempat itu, Dicky menatap wanita tambun berkacamata, berjas putih, serta dengan senyum ramah yang menyambutnya.


Kemudian dokter itu mengarahkan tangan, pada dua buah kursi yang berada di hadapannya. “Silakan duduk! Wah, ada pasangan muda,” ujarnya.

__ADS_1


Dicky menatap plat nama yang berada di atas meja. “Doter Aryanti,” gumamnya.


Dokter tersebut tampaknya mendengar. “Iya, itu memang nama saya.”


“Begini Dok, saya ingin mengetahui kehamilan Istri saya ini.” Dicky mengutarakan maksudnya.


Adeline tampak terkejut dan panik. Tubuhnya menjadi dingin seketika. Ia merasa takut, jika aibnya akan terbongkar saat ini juga. “Dic?!” Ia memeloti dan menggenggam erat tangan pria yang saat ini duduk di sampingnya.


“Sudah berapa lama terlambat haid?” Dokter Yanti menatap Adeline yang berkeringat dingin.


“Sudah tenang saja. Aku jamin tidak akan terjadi apa pun denganmu di tempat ini,” Dicky berbisik pelan di telinga Adeline.


“Mesranya!” Dokter Yanti tersenyum tersipu. “Sudah berapa bulan kalian menikah?” Ia bertanya sambil beranjak dari tempat duduk.


“Baru dua bulan, Dok,” jawab Dicky.


“Pantas saja, masih hangat-hangatnya.” Dokter cantik dengan wajah mulai berkerut tersebut tampak senang menatap mereka. “Ibu bisa naik ke sini.” Ia berdiri tepat di samping examination table.


Adeline tetap terdiam di tempat. Ia bahkan merasakan, jika saat ini badannya tidak bisa digerakkan. Di dalam pikirannya ia berharap yang terjadi cuma sekedar mimpi, dan ketika ia terbangun, maka dapat terlihat dengan jelas kondisi kamarnya saat ini.


Dicky mengerti, jika Adeline merasa berat untuk membongkar rahasinya saat ini. Namun ia tidak ada pilihan lain, selain bersikap kejam terhadap gadis tersebut. Ia tidak ingin yang dituliskan pada artikel yang telah dibacanya, terjadi juga pada anak dara yang teramat disayanginya.


Adeline tetap tidak bergeming, meski Dokter Yanti kembali mengulang kalimatnya. Ia tidak ingin siapa pun tahu mengenai keberadaan anak yang tidak terduga olehnya.


Dokter Yanti mulai merasakan keanehan dari gelagat pasien tersebut. “Kenapa Anda terlihat seperti orang yang begitu ketakutan?”


“Maaf, Dok. Sebenarnya istri saya belum siap punya anak secepat ini. Apalagi kami baru saja menikah. Dia merasa belum sanggup untuk menjadi seorang ibu.” Dicky mencoba meredakan kecurigaan ahli medis itu.


“Beberapa Ibu muda memang seperti ini. Mereka sering mengatakan belum siap. Tetapi setelah melihat bayinya telah lahir nanti, saya jamin Anda pasti akan merasa menjadi wanita yang paling bahagia.” Dokter Yanti mencoba menenangkan. “Apa Bapak bisa membantu Istrinya naik ke sini!” Ia menyarankan.


Dicky menarik tangan Adeline, hingga beranjak dari tempat duduknya. Namun, gadis itu tetap dengan keras kepala menolak untuk melangkah.


“Dic!! Apa yang kamu lakukan?!” Adeline terus meronta.


Dicky dengan terpaksa membopong gadis yang terus saja tidak bergeming. Ia melangkah menuju ke examination table, lalu meletakkan istri palsunya di atas ranjang tersebut. “Anda bisa memeriksanya sekarang, Dok!” ucapnya.


Dokter Yanti terkekeh melihat pemandangan ajaib itu. “Maaf, permisi ya, Bu.” Kemudian, ia menurunkan sedikit celana yang Adeline kenakan. Selanjutnya, ia mulai mengoleskan ultrasonic gel pada perut pasien yang tampak seperti enggan. Dengan sebuah alat canggih untuk mendapatkan hasil USG, ia mulai menggerakkannya memutar, hingga ke seluruh perut bagian bawah.

__ADS_1


__ADS_2