
“Jangan mengekorku!”
“T-tapi, apakah kamu sudah dengar?” Dicky terus membuntuti Adeline.
“Dengar apa?” Adeline terus melangkah.
“Emm ….” Dicky terdiam.
“Nah, kan!” Adel terkekeh. “Malah kamu yang sekarang gak bersuara.” Adeline menghentikan kakinya yang bergerak.
“Begini Del,” ia berpikir sejenak, “Ada yang lagi jadi trending topic saat ini. Kamu tahu siapa?”
“Siapa?” Adeline sebenarnya mengetahui sesuatu yang dimaksudkan oleh Dicky.
“Si Cupu, dia sekarang menjalin hubungan sama Sonia. Semua anak kampus sedang membicarakan mereka.” Dicky melirik Adeline sambil menggaruk telinganya yang tidak gatal. Kemudian ia bertanya, “apa kamu sama sekali tidak mendengar celotehan itu?”
“T-tidak, aku … aku sama sekali tidak mendengar apa pun tentang mereka.” Adeline merasa takut akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, jika sepupunya tersebut tahu cerita yang sebenarnya.
Dicky menatap tajam penuh selidik menembus retina, hingga ke dalam isi kepala Adeline. “Meski cuma secuil?” Ia mendapati jari lawan bicaranya yang sedikit begetar. Kemudian, terlihat jelas ada kecemasan yang tersirat pada wajah wanita itu. “Benar, kamu tidak tahu yang terjadi beberapa hari ini? Apa kamu yakin?”
“K-kenapa?” Adel berusaha berkilah. “Kamu gak percaya padaku?!” suaranya terdengar sedikit nyaring karena kesal.
“Apa betul mereka pacaran?” Dicky berusaha menggali informasi. “Banyak gosip yang beredar, bahwa Morgan telah membuangmu.” Ia merasa takut melanjutkan kalimatnya. “D-dia … apa sekarang Morgan ada hubungan dengan Sonia? Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu! Aku tidak ada urusan lagi dengan mereka berdua.” Adeline menghembuskan napas panjangnya.
“Bagaimana mungkin seseorang yang mendengar kekasihnya menjalin hubungan dengan wanita lain, bisa setenang ini?” Dicky menarik tangan Adeline dan mengajaknya duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
“Apaan, sih?” Adel menarik tangannya hingga terlepas. “Kenapa? Memangnya masalah buat kamu? Biarkan saja Morgan bersama dengan wanita mana pun!”
“Ya, gak ada hubunganya juga sih denganku. Tapi kita ini saudara, jadi aku tidak akan membiarkan bocah tengil itu menyakitimu.” Dicky meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan menyandar pada dinding kusam. “ Aku jadi penasaran, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Morgan saat ini?”
“Aku tidak perduli lagi dengannya. Mau dia pacaran sama Si Ayam Kampus atau menikah sama janda tua sekali pun, bukan lagi jadi urusanku!” Adeline menatap lantai yang sedikit berdebu. “Hubungan kami sudah berakhir. Dia tidak ada artinya lagi buatku. Lagipula, dia lebih memilih bersama gadis itu dari pada bertahan denganku.”
“Morgan ninggalin kamu? Cuma demi Sonia?!” Dahi Dicky berkerut dan nada suaranya naik bersama dengan darah yang mulai mendidih. “Menggelikan, aku saja tidak sudi menerima gadis seperti Sonia jadi pacarku, tapi Morgan malah memilih dia dari pada kamu.” Dicky tersenyum sinis.
“B-bukan dia, aku yang putusin Morgan,” jawab Adel datar.
“Kamu?” Dicky merasa tidak percaya. “Gak mungkin, pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ia mulai mencurigai sesuatu yang belum jelas kronologinya.
“Kamu selalu saja tidak pernah bisa percaya padaku. Kenapa?” Air mata Adel mulai menggenang, tetapi ia berusaha menahannya. “Jawab aku, kenapa?!”
“Karena kamu selalu berada di pihak Morgan. Bagaimanapun keadaannya, bahkan sampai bertengkar dengan Ayahmu sekali pun, kamu tetap saja membelanya.” Dicky menghela napas. “Selama aku mengikuti kalian, di mataku selalu kamu dan Morgan tampak beriringan di mana pun juga. Aku kadang iri melihatnya.”
“Begini Del, tapi kamu jangan marah padaku.” Dicky mendapati Adeline menganggukan kepalanya. “Sebenarnya Om dan Tante menitipkan kamu padaku, setelah pertemuan mereka tahun lalu dengan Morgan. Sepertinya, Mamamu tidak menyukai Si Tengil itu. Tetapi karena kamu keras kepala, jadi mereka biarkan saja dan memberi tanggung jawab padaku.” Sejenak ia menatap Adel yang tampak muram. Orang tuamu melakukan itu karena khawatir denganmu, jadi jangan salahkan mereka mengenai ini.” Dicky menyentuh kedua bahu Adeline. “Seandainya ada suatu keburukan menimpa kamu karena Morgan, maka aku pasti akan sangat merasa bersalah kepada Om dan Tante.”
“Kamu tidak perlu ikut campur lagi mulai saat ini. Semua bukan urusanmu! ini hidupku, bukan hidupmu. Jadi seandainya ada keburukan seperti yang kamu khawatirkan, maka aku sendiri yang akan menanggungnya. Mengenai Mama, aku akan berusaha agar kamu tidak sedikit pun terseret ke dalam masalah yang nantinya akan muncul. Jadi cukup hanya diam, tutup mata, dan juga mulut kamu mengenai hubunganku dengan Morgan.” Adeline berdiri dari tempat duduknya. “Ah! Ada lagi, mulai saat ini berhenti menjadi informan Mama dan jangan mengikutiku!” Adeline pergi meninggalkan Dicky yang merasa seperti telah menggigit buah simalakama.
Sebenarnya Dicky telah memendam rasa pada Adeline sejak masa kecil mereka. Laki-laki ini dan Adeline tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, bahkan rumah sakit, hari lahir, dan juga sekolah mereka hingga saat ini juga tidak berbeda. Akan tetapi karena hubungan keluarga, ia tidak bisa mengutarakan perasan yang saat ini mengikat hatinya. Cuma sekedar menjadi bayang-banyang pelindung, sekiranya sudah cukup membuatnya senang. Ia hanya ingin melihat gadis yang dicintainya tersebut bahagia.
Sedangkan Adeline tidak pernah sedikit pun menyukai Dicky. Di keluarganya, pria itu selalu dibanding-bandingkan dengan dirinya. Dicky adalah sebuah berlian, sedangkan ia hanya seperti permata palsu dipasaran. Mamanya selalu saja menyebut nama Dicky, di saat Adeline berbuat salah atau tidak dapat melakukan sesuatu. Sebab itulah Adeline berusaha menghindari Dicky, namun laki-laki itu selalu punya cara untuk berada di sekitarnya.
Langkah kaki Adeline terhenti ketika seorang gadis dengan rok pendek sedikit mengembang, baju seksi, serta rambut panjang yang terurai, dengan sengaja menabrak bahu Adeline. Akan tetapi, ia membiarkannya begitu saja. Adeline tidak ingin menambah kusut masalah yang dimilikinya. Ia hanya menghela napas dalam-dalam dan menatap seorang putri jahat beserta para kurcaci yang ternyata berbalik dan menghampirinya dengan angkuh.
“Wah, lihat siapa ini?” Sonia melipat tangan di depan dada dan menelusuri setiap bagian tubuh gadis yang berada di hadapannya saat ini, namun Adeline berusaha untuk tidak mengindahkan sosok tersebut. Kemudian, Adeline hendak melangkah pergi. “Ups! Mau kemana? Gadis sampah! ” Sonia membentangkan salah satu lengan tepat di depan mata Adeline.
__ADS_1
“Sampah?” Dahi Adel berkerut.
“Apa aku salah sebut?” Sonia bertopang dagu dengan tangannya. “Lantas apa sebutan buat seseorang yang sudah dibuang, kalau bukan sampah kotor?” Ia menatap ke arah teman-teman yang bersamanya dan kemudian meraka tertawa mengejek secara berirama.
“Hah?! Jadi, itu maksudnya? ” Adeline tersenyum dan membalas penghinaan yang diterimanya. “Baiklah, terima kasih sudah memungut sampah kotor yang aku buang dikubangan.” Adeline mengeraskan kepalan tangannya. “Rawat dan jaga dia baik-baik, jangan sampai ada gadis bodoh lain yang memulungnya.” Kemudian, Adeline melangkah pergi dan Sonia tampak terbengong.
“Jangan sok deh! Kamu itu cuma belut licik!” celetukan ketus keluar dari gadis kurus yang sedikit jelek dengan riasan tebal.
“Adel menghinamu.” Salah seorang gadis komplotan Sonia yang lainnya berbisik.
Meskipun Sonia sedikit terlambat memahami arti kalimat yang dilontarkan Adeline, namun pada akhirnya kata-kata yang berbalik itu membuat kepalanya mengepulkan asap. “Siapa yang kau bilang sampah?!” Ia berteriak sambil menarik lengan Adeline, hingga setengah berbalik.
“Sudah jelas seperti yang kamu bilang, bahwa seseorang yang telah dibuang itu sampah!” Adeline membuang napas dengan kasar. “Jadi, kenapa kamu marah mendengar perkataanmu sendiri?” Adeline terkekeh. “Aku hanya mengulang saja.” Senyumnya masih terpampang dan mulai melangkahkan kaki beberapa kali.
“Hai! Kau itu hanya barang bekas pacarku! Sampah busuk itu kamu, bukan Morgan!” Teriaknya membuat telinga Adeline bertambah panas.
Adeline berusaha untuk tetap tenang menghadapi gadis yang dianggapnya hanya orang bodoh yang nantinya akan menjadi salah satu mainan bagi mantan kekasihnya. Kemudian, ia berbalik dan mendekati Sonia. “Jadi, itu yang kamu dengar darinya?” Adeline tersenyum dan memegang pundak gadis yang saat itu sedang meledak-ledak. “Lebih baik pastikan segala sesuatu yang kamu dengar itu benar-benar nyata, sebelum kalimat yang terlanjur kau lontarkan, berbalik dan mencekikmu.” Adeline menghela napas. “Dan akhirnya, jadi seperti ini, kan?” Ia tersenyum mengejek.
“Kau, kau benar-benar mem---!”
Ketika Sonia hendak memukul Adeline, salah satu pengikut meraih tangannya dan berusaha menghentikan perselisihan tersebut. “Lebih baik kamu pergi dari sini!”
Kemudian, Adeline benar-benar beranjak menjauh dari Sonia dan mencoba mengacuhkan teriakan-teriakan seperti bara api yang terus berusaha menembus gendang telinganya. Kejadian yang menimpa membuat kebenciannya terhadap Morgan semakin menjadi. Ia juga bersikukuh akan menjaga dan membesarkan anak yang ia kandung, meski tanpa Morgan sekali pun di sisinya.
Kenangan membahagiakan yang Adeline miliki bersama dengan Morgan, saat ini semakin terkikis oleh benci yang terus membengkak di hatinya. Laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab dan dipersalahkan atas perbuatan yang telah dilakukannya tersebut, kini dengan mudahnya menyanding gadis lain. Namun ia sangat bersyukur, karena Morgan jatuh ke tangan seorang p*lacur dan bukan gadis baik-baik. Dalam benak Adeline, seandainya Morgan menemukan gadis yang masih lugu, maka masa depan wanita tersebut pasti akan terancam seperti yang terjadi kepada dirinya saat ini.
Kemudian gerakan kaki Adeline terhenti, ketika ia menangkap sosok Morgan yang berjalan tidak jauh darinya. Ia berbaik dan bergegas, bahkan hendak berlari menghindari mantan pacarnya tersebut, namun ia teringat akan Sonia. “Kalau aku ke arah sini dan terus berjalan, mungkin aku akan kembali bertemu Si Ayam Kampus itu. Sedangkan kalau aku kembali melangkah ke posisi semula, maka akan ada Morgan di sana, dan aku enggan melihat muka pendosa seperti dia.” Adeline bergumam dan memperhatikan sekeliling. “Tidak mungkin juga aku melompat dari lantai dua, hanya untuk menghindari mereka. Tidak ada jalan lain. Lagipula bukan aku yang melakukan kesalahan, jadi kenapa aku harus melarikan diri dari mereka?” Adeline merasa bimbang mengambil keputusan.
__ADS_1
Morgan menatap gadis yang masih dicintainya sedang bertingkah seperti seorang pencuri. Kemudian, ia berjalan mendekatinya dan perlahan berhenti tepat di belakang Adeline. “Apa kabar mantan pacar dan bayinya?” Morgan menyapa.