Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 16. Ayam Kampus


__ADS_3

Eldo menghampiri sahabatnya yang kini sedang berperang mulut dengan seorang gadis. Di kejauhan, wanita muda itu terlihat begitu menggoda. Ia tidak bisa menerka bahan dari pembicaraan mereka. Namun, laki-laki ini seperti mengenalinya. Ia pernah melihat gadis itu, ketika menyakiti Adeline. Kemudian, ia teringat tentang pacar baru Morgan, “Sonia? Apa yang sedang mereka lakukan di tempat itu?” Dosen muda ini bergegas menghampiri mereka. Ia juga menyimpan begitu banyak pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh gadis itu.


Sonia berusaha mengulur waktu, agar ia bisa sedikit lebih lama bersama dengan pria yang saat ini menjadi tempat menyandarkan kepala. Jarang-jarang ia mendapatkan momen berharga yang kini mulai hinggap. Meskipun sudah sejak lama gadis ini menginginkan Dicky jatuh ke dalam genggaman, tapi ia tidak pernah bisa sedikit pun mengerti mengenai alasan Dicky selalu menjauh dan menatap jijik terhadapnya. Wanita cantik ini akan selalu menjadikan saudara Adeline sebagai salah satu target utama yang sangat layak. Pria tampan yang menjadi pusat perhatian para gadis, saat ini sedang masuk ke dalam sarangnya.


Pengalaman mengenai gadis ganjen yang selalu mengitari, tampaknya tidak berhenti hanya pada Riena. Saat ini Dicky merasa merinding seperti melihat hantu, ketika Sonia sedikit demi sedikit menaikkan rok mini berenda merah muda yang hampir di atas setengah lutut. Ia terus memperhatikan tingkah gadis yang mungkin sedang berusaha terlihat menggairahkan untuk bisa membuatnya terpikat. Namun, laki-laki ini hanya membalas dengan helaan napas jengah. Ia merasa semakin tidak menyukai Sonia yang terkenal sebagai ayam kampus.


“Bisa tidak? Jangan menempel terus padaku seperti ini? Aku tidak mau, jika namaku harus terseret ke dalam gosib murahan dengan gadis sepertimu.” Dicky memperlebar jarak duduk dengan Sonia.


Sonia menyatukan rambut dengan tangan, lantas menjatuhkannya di depan dada di sisi kanan. Kemudian secara perlahan, ia melepaskan satu kancing teratas pada kemeja putih ketat yang dipakainya. Sedetik berlangsung, semenit telah terlampaui, ia segera merapatkan pinggulnya pada tubuh laki-laki yang telah berada di ujung kursi. Gadis ini terus bertingkah, menyondongkan tubuh agak kedepan, lantas membusungkan dadanya. Ia ingin memamerkan kedua gunung kembar montok yang didapatkannya dari hasil operasi penanaman implan. Sonia tampak batuk untuk sesaat, lantas menggaet tangan Dicky dan meletakkannya pada paha putih mulus yang saat ini membentang luas. Selanjutnya, Sonia mendekatkan mulut ranumnya pada leher pria yang sedang duduk mematung. Ia menghembus-hembus lembut untuk memancing lawan mainnya.


Dicky berjingkat dari tempat duduk seperti hampir terpatuk ular betina. “K-kamu –”


“Apa yang sedang kalian lakukan?” Eldo memperhatikan dua squishy bulat yang terlihat setengah menyembul dari dalam persembunyiannya.


Sonia sepertinya menyadari tempat di mana sorot mata Eldo terjatuh. Namun ia tidak merasa malu, bahkan bangga karena ada laki-laki yang gadis ini pikir telah tergoda dengan kemolekannya. “Eh, Pak Dosen Ganteng,” Sapanya sembari tersenyum centil.


Dicky melirik Sonia yang sepertinya mengenali Eldo. Kemudian, ia menyentuh kedua bahu temannya tersebut dan medorong Eldo untuk menjauh dari tempat Sonia berada. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Suaranya mendekati nada terendah.


“Kamu yang memintaku menemuimu di taman ini.” Alis Eldo merapat.


“I-iya, tapi tidak harus datang di saat yang tidak tepat,” Dicky menyanggah.


Eldo menghela napas. “Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Apa yang sedang kamu lakukan dengan kekasih baru dari mantan pacar Adel itu? Sepertinya kamu menikmati panorama yang cukup berkesan.” Eldo melirik gadis yang sedang sibuk menggulung-gulung rambutnya dengan jari.


“Kamu ini ngomong apaan sih?” Dicky merasa salah tingkah mendengar tuduhan dari sahabatnya.


“Aku sudah melihat semuanya. Jadi, kamu tidak perlu menyangkalnya lagi.” Eldo berdecak miris. “Aku lebih suka kamu dengan gadis pemilik kafe, dari pada berurusan dengan pacar orang.”


“S-semua tidak seperti yang kamu pikirkan.” Dicky gelagapan.


“Sudahlah, aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam percintaanmu. Sebagai teman, aku hanya mengingatkan. Pilih pilihlah menjatuhkan hati, jangan sampai kamu terperosok dengan gadis seperti dia.” Eldo melirik Sonia. “Lagipula, keberuntunganku bisa bertemu dengannya di tempat ini. Ada banyak yang ingin aku ketahui. Jadi, biarkan aku menemui gadis itu!” pinta Eldo.


“Aku tahu semua isi pikiranmu. Kamu ingin mencampuri urusan Adel, benarkan? Ingat statusmu di kampus ini! Kamu itu seorang dosen,” ujar Dicky.


“Kenapa memang, kalau aku adalah dosen di kampusmu?” tanya Eldo.

__ADS_1


“Kamu yakin keberadaanmu di antara mereka tidak akan menambah beban Adel? Aku dapat menduganya, Ia pasti akan terseret isu dengan seorang dosen. Saat ini dia sudah menjadi topik pembicaraan anak-anak kampus, karena gadis seperti Sonia. Sekarang, apa kamu ingin menambahkannya lagi?” Dicky memperjelas.


“Aku pasti akan sangat berhati-hati saat bertanya dengannya,” Eldo mencoba berdalih.


“Sebaiknya seorang dosen tidak ikut campur denga urasan mahasiswa. Jadi, serahkan saja semua masalah Adel padaku. Aku akan mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Kamu hanya perlu duduk diam saja di kejauhan. Nanti pasti akan aku ceritakan yang telah kuketahui padamu,” Dicky beralasan agar Eldo bersedia lepas tangan.


“Baiklah, aku akan mengawasi kalian dari ujung sana.” Eldo menunjuk sebuah kursi yang berada cukup jauh. Namun dari tempanya berada, ia pastikan masih dapat mengawasi temannya tersebut mengorek informasi.


“Sudah sana pergi!” Dicky memerintah dosen muda itu.


Eldo mulai menjauhi temannya dan juga kekasih baru dari mantan pacar Adeline. Sedangkan Dicky, ia meneruskan kembali pergulatannya dengan Sonia.


“Sepertinya kalian sudah sangat akrab?” Rasa keingintahuan Sonia mulai menyembul.


“Seperti yang kamu lihat,” ujar Dicky.


“Sedekat apa kamu dengan dosen ganteng itu?” Selidik Sonia.


“Bukan urusanmu! Jadi, apa yang telah Morgan katakan padamu mengenai Adel?” Dicky mengembalikan perbincangan pada pokok masalah.


“Tentang kita? Apa yang bisa dibahas? Kita tidak ada hubungan apa pun juga. Kamu bukan teman, apa lagi pacarku. Kamu sudah milik orang, jadi jangan bersikap seperti ini denganku!” Dicky mengambil kembali lengannya. “Ingat hubunganmu dengan Morgan!”


“Morgan tidak ada di tempat ini. Sekarang hanya ada kita berdua.” Sonia melingkarkan lengan pada leher pria yang saat ini menjadi sasaran terkamnya.


Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik membicarakan Sonia dan Dicky. Mata mereka seperti terpaku pada dua insan yang terlihat sangat mesra. Mereka tidak mengindahkan sikap Dicky yang terus menolak gairah Sonia yang menggoda. Para anak muda itu lebih mempercayai segala yang muncul di otak mereka, dari pada realita yang sebenarnya.


Dicky mendorong tubuh Sonia sedikit menjauh darinya. “Banyak mata sedang melihat kita saat ini. Aku tidak ingin jadi pusat pembicaraan anak-anak kampus. Aku tidak mau, jika sampai mereka menganggap terjadi sesuatu di antara kita.”


“Iya tahu, fans kamu banyak,” celetuk Sonia.


“Bukan tentang aku, tapi mengenai kamu yang ber-image buruk di kampus ini,” sergah Dicky.


Lagipula, bukankah kamu ini tipe cowok cuek yang tidak terlalu memperdulikan omongan orang?” Sonia menatap bulan yang telah muncul di sore itu. “Apa aku salah? Ataukah kamu yang telah berubah sekarang?”


“Bagaimana kamu tahu tentang aku?” Dicky melirik ke sekitar.

__ADS_1


“Aku selalu menyelidiki mangsaku,” Kata Sonia.


“Mangsa?” Dicky merasa kesal. “Jangan samakan aku dengan para pecundang itu! Dasar gadis penggoda!” Dicky mencaci.


Sonia tertawa terbahak-bahak. “Jangan salahkan aku! Mereka saja yang dengan mudah terlena pesonaku.” Sonia memegang wajah Dicky dengan kedua tangannya. “Asal kamu tahu, kecantikan, keseksian, kemontokan, serta lekuk tubuhku yang menggoda, tidak cukup jika hanya aku yang melihat saja. Aku butuh pengakuan yang bisa kudapatkan dari sorot mata dan sikap mereka.” Ia melepaskan tangan dari laki-laki tersebut, lantas menggerakkannya dengan angkuh. “Aku sangat puas dengan tubuhku yang indah ini. Aku juga kagum dengan diriku sendiri yang dapat menundukkan para pria itu dengan mudah.”


“Hanya laki-laki bodoh yang bersedia menjamah gadis penjaja seperti kamu.” Dicky mendengus keras. Kemudian, ia tersenyum sinis.


Sonia mengerutkan kening. “Seenaknya saja kamu bilang aku ini penjaja!” Kemudian dia tersenyum genit. “Aku kasih tahu ya, Honey! Mereka itu tidak bodoh. Para cowok itu cerdas. Mereka bisa membedakan mana keelokan yang nyata, dengan gadis abal-abal seperti dia. Lagipula, aku senang dengan cara mereka mengagumiku.” Senyumnya merekah.


Dicky mengerti dengan jelas mengenai gadis yang disindir oleh Sonia. “Apa kamu tidak risi berganti-ganti pasangan seperti itu? Awas loh kena penyakit!” Dicky menatap culas pada gadis yang saat ini bersamanya.


“Penyakit? Ya jelaslah, Sayang. Siapa sih yang gak ngerasa takut dengan penyakit mengerikan seperti itu? Tetapi tenang saja, aku pastikan aman.” Sonia mengedipkan sebelah matanya. “Aku punya dokter spesialis yang merawat keintimanku,” paparnya.


“Wah!! Kamu pasti terima banyak uang dari mereka. Biaya perawatan seperti itu gak murah.” Dicky tersenyum bengis.


“Aku hanya bicara jujur seperti ini padamu.” Sonia menyipitkan mata. Kemudian, ia kembali tersenyum bangga. “Ya, apa boleh buat? Itu juga salah satu yang paling aku suka, dari cara mereka mengagumiku. Cantik dan seksi itu mahal dan gak bisa diremehin.” Sonia melingkarkan kedua lengannya pada leher Dicky. “Dan yang pasti, sesuatu yang mahal itu butuh uang buat membayarnya. Dear, di dunia ini itu sama sekali tidak ada yang gratis.” Kemudian, ia melepaskan tangannya.


“Aku semakin muak mendengarkan omonganmu yang ngawur itu.” Dicky menarik napas panjang. “Kita kembali saja ke pokok masalah, tentang Adel dan Morgan.”


“Itu lagi, itu lagi!” Sonia bergumam.


“Jangan terus berputar-putar dan mengalihkan pembicaraan! Apa yang sudah Si Brengsek itu ceritakan ke kamu?” Dicky kembali mencari tahu. “Sampai kapan kamu mau menyembunyikannya dariku?” Ia menetap tajam ke arah Sonia. “Apa jangan-jangan kamu menipuku?”


Sorot mata dan senyum Sonia terlihat sangat licik. “Apa yang aku dapat sebagai ganti informasi yang akan kuberikan?”


Dicky mencoba memberi sesuatu yang Sonia suka. “Aku akan membayar atas informasimu.”


“Membayar? Dengan Apa?” Sonia menatap dengan penuh arti.


“Tentu saja uang. Aku punya cukup uang, jika hanya untuk membobol mulutmu yang terkunci itu,” ujar Dicky dengan ketus.


“Aku juga banyak uang. Jadi, aku tidak butuh itu darimu,” Sonia berkilah.


“Jadi, apa yang kamu inginkan? Bilang saja, aku pasti akan mengusahakannya.” Dicky memperhatikan gelagat gadis genit itu dengan sangat serius.

__ADS_1


“Cukup dengan kamu,” ujar Sonia.


__ADS_2