
Kegelisahan Eldo memuncak menanti setiap gulir kata yang akan keluar dari mulut Dicky. Ia tahu bahwa neneknya bisa melakukan apa pun yang diingkinkan. Bahkan menghancurkan kebahagiaan seseorang pun dengan mudah wanita tua itu lakukan. Pernah sekali ia menyaksikan sendiri dengan kedua matanya. Nenek memporak porandakan kehidupan keluarga dari asisten pribadi wanita tua itu, hanya karena menyenggol cucu yang sangat disayangi dan membuatnya terjatuh dari tangga. Meskipun Eldo tidak mengalami luka yang parah, namun keluarga tersebut mendapati anak mereka mati dalam kecelakaan. Ia sangat tahu, bahwa itu adalah perbuatan neneknya.
Eldo mendengar sendiri pembicaraan antara nenek dengan salah seorang pesuruh. Perempuan sepuh itu merencanakan sebuah alur kecelakaan yang tidak dapat Eldo bayangkan. Wanita itu memang kejam, jika sudah menyangkut tentang keluarga. Namun sekarang, antara perasan lega dan sedih seakan menggelayut, ketika neneknya telah meninggal. Ia tidak ingin mendapati seseorang terluka lagi karena dirinya.
“Aku benar-benar ingin memaki Nenekmu.” Dicky melirik Eldo yang tampak geram. “Dia sungguh manusia tidak berbelas kasih.”
“Sejak dari tadi aku bertanya kepadamu, tapi kamu hanya berputar-putar mencaci Nenekku,” bantah Eldo.
“Sekitar satu minggu setelah kepergianmu ke luar negeri. Nenek kamu berusaha menghancurkan keluarga Adeline. Dia membuat Papa Adel diberhentikan secara tidak hormat, karena sebuah tuduhan penggelapan barang gudang. Meskipun tidak di penjara, namun perekonomian mereka menjadi sangat kacau setelahnya.” Menatap tajam pada mata Eldo. “Apa kamu sama sekali tidak mendengar apa pun mengenai perbuatan Nenekmu itu?”
“Nenek membatasi informasiku. Bahkan peralatan elektronik, seperti handphone dan juga laptop, dibawa oleh orang kepercayaan Nenek. Aku hanya bisa bertukar kabar dengan keluargaku saja.” Eldo menampakkan wajah muram.
“Lantas, kenapa kamu bisa menghubungiku?” tanya Dicky.
“Aku diam-diam meminta temanku mengirip email melalui laptopnya. Terkadang aku juga meminjam handphone miliknya agar bisa menghubungimu,” Eldo menjelaskan. “Kamu yang tidak pernah sekali pun menghubungiku. Setiap aku tanya mereka mengenai kamu, maka jawabannya nihil.”
“Buat apa aku menghubungimu? Aku sedang sibuk dengan keluarga Adeline. Saat itu aku membantu Adel untuk bekerja paruh waktu selama beberapa tahun, sampai perekonian mereka mulai stabil,” jawab Dicky.
“Aku benar-benar tidak tahu. Aku berterima kasih, sekaligus meminta maafmu,” ujar Eldo.
“Ada yang lebih parah lagi. Nenekmu bahkan membeli rumah yang disewa oleh keluarga Adel. Sehingga mereka harus mencari tempat tinggal baru, di hari yang sama mereka di usir oleh pemiliknya.” Tangan Dicky mengepal. “Mereka sudah berpindah sebanyak tiga kali dalam sebulan, itu semua karena perbuatan Nenek kamu.” Dicky menghela napas. “Untung saja Papaku belum menjual rumah kecil yang berada di pelosok desa. Kemudian, keluarga Adeline tinggal di sana.”
“Baguslah kalau begitu. Aku lega kamu selalu ada untuk Adel.” Eldo tersenyum kecut.
“Apanya yang bagus?” Dicky menatap benci pada teman lamanya. “Keluargaku terkena dampak karena telah membantu keluarga Adel untuk mendapatkan tempat tinggal.”
Eldo terperanjat kaget. “Bagaimana mung –”
“Nenek kamu menyumbat pendapatan Papaku yang seorang pedagang. Seluruh langganan Papa yang berada di Blora, seketika memutuskan hubungannya. Namun, Papa tidak menyalahkan keluarga Adeline. Untung saja konsumen Papa lebih bahyak berasal dari luar kota, jadi perbuatan Nenek kamu tidak terlalu berdampak besar terhadap perekonomian keluargaku.”
“Apakah mungkin Nenekku bisa berbuat sampai sejauh itu?” Eldo semakin muram.
“Mana yang kamu pecaya? Pemikiranmu tentang Nenek kamu atau ceritaku yang memang seperti itu adanya.” Dicky menahan genggaman tangannya yang hampir saja melambung.
“Kalau menyangkut Adeline, pasti aku akan selalu percaya padamu.” Eldo tertunduk lesu. “Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku saat itu?”
“Apa yang bisa kamu perbuat untuk Adel?” tanya Dicky.
__ADS_1
“Aku bisa –”
“Bisa apa kamu?! Mungkinkah kamu akan kembali ke sisi Adeline dan dengan bernyali menentang Nenek kamu?” sanggah Dicky.
“Aku bisa melakukan segalanya untuk Adel,” bantah Eldo.
“Termasuk membuat Adel menderita?” Dicky tertawa menghina.
“Apa maksud kamu berkata seperti itu?” Dahi Eldo berkerut.
“Dengan kamu kembali dan menentang wanita tua tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia akan semakin menjajah keluarga Adeline. Hanya untuk menghentikan sikap pemberontakmu, cara apa pun pasti akan dilakukannya.” Dicky menjelaskan. “Bisa kamu bayangkan itu terjadi?”
Kabut hitam seakan menggerombol mengitari tubuh Eldo. Pikirannya melayang-layang antara kebencian terhadap nenek dan juga rasa kasih yang dimilikinya. Ternyata Wanita renta telah berkhianat. Ia selalu menuruti segala yang dikehendaki Si Tua tanpa membantah sedikit pun. Namun yang ia dapatkan, hanya rasa sakit yang diterima oleh kekasih yang dicintainya. Eldo terdiam mendapat pertanyaan yang tanpa sadar membuat air matanya menggenang. Ia menyingkir pergi agar kekasih yang dicintainya tidak mengalami kejadian yang buruk. Namun peristiwa tragis tersebut, tidak disangka-sangka dialami oleh pacarnya tanpa ia ketahui. Padahal nenek telah berjanji untuk tidak menyentuh Adeline seujung rambut pun. Jika yang terjadi memang nyata seperti yang telah Dicky ceritakan, maka lebih baik ia tidak menurut untuk meninggalkan Adeline seorang diri menghadapi krisis yang diciptakan oleh neneknya.
“Apa kamu benar-benar mencintai Adel?” celetuk Eldo.
Dicky terkejut. “Maksud kamu?”
“Aku bisa merasakannya. Kamu selalu bercerita mengenai Adel tanpa seorang gadis lain yang menyelinginya.” Eldo menyuarakan logikanya.
“Mana mungkin … kami ini saudara.” Tawa sumbang Dicky menyembur.
“Tapi aku tidak mungkin memilikinya.” Senyum kecut Dicky menjuntai. “Biarkan saja dia berjodoh dengan siapa pun juga. Cinta memang tidak bisa memilih, tetapi aku bisa menentukan untuk hanya menjaganya di kejauhan.” Wajah Dicky bermuram.
“Tapi sepertinya kamu gagal?” Eldo meneguk sisa alpukat yang diminum oleh Dicky.
“Aku gagal?!” Dicky tidak bisa memahami maksud Eldo.
“Ya … kamu telah gagal. Aku melihat sendiri dengan kedua mataku. Ia beselisih dengan mantan kekasih dan gadis barunya. Bahkan tangan gadis itu dengan kasarnya menampar Adel, namun pria tersebut tampak membiarkannya terjadi.” Eldo berharap bisa mengorek informasi dari Dicky.
“Maksud kamu … Morgan dan Sonia?” Dicky merasa kesal.
“Ah … ternyata itu nama mereka,” Eldo bergumam lirih.
“Aku sudah seringkali memperingatkan Adel untuk menjauhi laki-laki busuk seperti dia. Namun, sepetinya kata kataku tidak didengarnya dan sekarang semua telah terbukti.”Amarah Dicky menciut. “Bahkan dengan keras kepala, ia membela Morgan di depan orang tuanya.”
“Morgan sudah bertemu dengan orang tua Adel? Apa hubungan mereka seserius itu?” Eldo tampak bersungguh sungguh mendengarkan.
__ADS_1
“Bukan seperti yang kamu pikirkan. Morgan hanya berkunjung saat liburan saja, itu pun hanya sehari dan ia pergi karena mendengar pertengkaran Adel dengan orang tuanya.” Dicky menjelaskan.
“Pertengkaran … apa masalahnya?” selidik Eldo.
“Mama Adel tidak menyukai Morgan dari awal mereka bertemu. Entah apa yang membuat Tante bisa merasa seperti itu. Mungkin kepekaan seorang ibu terhadap bocah brengsek seperti dia, sehingga Tante tidak ingin Adel tersakiti suatu saat nanti.”
Sebutan ibu merupakan sebuah kata yang penuh dengan berjuta makna. Dari sesosok rapuh akan muncul berlipat-lipat kekukatan, jika ada yang mengusik bagian darinya. Eldo pernah mendengar bahwa hati seorang ibu sangat terikat dengan anaknya. Mungkin karena itu, Mama Adeline tahu bahwa peristiwa seperti yang ia lihat akan terjadi.
“Apa kamu mau membantuku?” tanya Eldo.
“Bantuan seperti apa dulu yang kamu minta?” Dicky betopang dagu.
“Bantu aku mendapatkan hati Adel kembali,” pinta Eldo.
“Tidak … tidak bisa! Aku gak mau bantu kamu, jika mengenai Adel,” tolak Dicky.
“Aku tahu kamu tertalu mengkhawatirkanya, tapi Nenek sudah meninggal. Jadi –”
“Aku tidak mau perduli, masih adanya Nenek kamu atau pun dia sudah meninggal. Keluarga kamu menakutkan,” Dicky membuat alasan.
Dicky bergidik merinding membayangkan segala sesuatu yang telah Adeline lalui, hanya karena terlanjur mengikat cinta dengan Eldo, seorang tuan muda yang berasal dari keluarga kaya raya. Ia tidak ingin sesuatu yang dulunya diperbuat oleh wanita tua itu, dilakukan juga oleh orang tua Eldo terhadap keluarga Adeline. Dahulu Ia yang mengenalkan Adeline kepada Eldo, sehingga penyesalan datang padanya. Ia tidak ingin sesuatu yang lebih menakutkan kembali menghampirinya dan Adeline.
“Kamu tidak perlu khawatir mengenai Papa dan Mamaku. Mereka tipe orang yang sangat terbuka terhadap siapa pun juga. Mereka tidak berkeinginan membatasi mengenai jodoh mana yang akan aku pilih. Setelah Nenek meninggal, Papa dan Mama bilang akan membebaskanku memilih wanita seperti apa pun yang menjadi jodohku. Bagi mereka, yang terpenting adalah gadis tersebut merupakan wanita yang baik dan dari keluarga yang baik pula. Papa dan Mama tidak perlu menantu yang kaya, tetapi seorang perempuan yang bisa membuat anaknya bahagia.”
“Aku tidak yakin dengan perkataanmu,” kilah Dicky.
“Kamu sangat dekat dengan Papa dan Mama. Jadi kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa mendatangi mereka untuk menanyakannya.” Eldo merogoh kantong celana dan mengambil handphone miliknya. “Atau begini saja, aku hubungi mereka dan kamu bisa bertanya langsung mengenai kejujuranku.” Eldo menekan nomor orang tuanya dan nada sambung berbunyi.
Dicky langsung menyerobot handphone yang menempel pada telinga Eldo dan mengakhiri panggilan tersebut. “Kamu sudah gila ya? Apa yang bisa aku bicarakan dengan orang tuamu? Kita baru saja bertemu, bagaimana mungkin aku langsung menanyakan mengenai pernyataanmu pada mereka?”
“Jadi, bagaimana dengan tawaranku?” Eldo tertawa puas.
“Aku pikir-pikir dulu mengenai itu.” Dicky menghela napas.
“Apa yang kamu tunggu? Kamu sendiri tidak bisa menjaganya dari dekat. Jadi, biarkanlah aku yang melakukannya,” pinta Eldo.
Seakan kesunyian bersenandung di dalam hati Dicky saat ini. Ia tahu, bahwa Adeline bukan miliknya dan tidak akan pernah jatuh dalam pelukannya. Tetapi, ia tidak akan sanggup menjadi penyebab penderitaan gadis tersebut untuk kedua kalinya. Cukup sekali ia mengenalkan Eldo kepada wanita yang diam-diam dicintainya, namun untuk selanjutnya ia tidak ingin melakukannya lagi.
__ADS_1
Sedangkan, Eldo merasa butiran harapan seakan menimpanya. Ia yakin Dicky akan bersedia untuk membantunya. Ia tahu, bahwa Dicky tidak akan mungkin membiarkan Morgan menyakiti gadis yang selalu dijaga oleh temannya tersebut. Namun, Dicky hanya bisa berada dikejauhan dan tidak dapat melangkah lebih dekat. Dalam hati Eldo berkata, ‘hanya aku yang dapat kau percaya’.