Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 24. Maling


__ADS_3

“Kamu akan sangat beruntung, jika mendapatkan laki-laki seperti Bang Dicky,” Mak Darni berkata seraya mengamati anaknya yang tertidur pulas.


“Sebenarnya saya dan Dicky –”


“Aku-aku!”


“Aku mana?!”


“Buat aku saja!”


“Masa, aku cuma satu?!”


“Bang, aku minta dong!”


Segerombolan anak kecil berlari mengejar laki-laki yang sedang membawa serangkaian bunga mawar merah.


“I-ini,” terengah, “buat kamu!” Napas Dicky tersengal-sengal.


Adeline menerima hadiah cantik yang disodorkan oleh laki-laki yang tampak kelelahan.


“Benar, kan! Gara-gara dia, sekarang kita dilupakan. Keterlaluan!” gerutu Acil.


“Kamu berisik! Bisa diam gak?!” sentak Seruni.


“Iya, kamu belain saja terus dia. Soalnya, kamu sudah dapat satu, dan kami tidak,” melirik setangkai mawar yang di genggam erat oleh Seruni, “ini buat aku saja!” Acil merampas bunga milik gadis kecil itu.


Seruni terbelalak dan melotot tajam seakan bola mata hampir copot dari tempat peraduan. “Kenapa kamu ambil punyaku? Balikin gak?!” teriaknya.


“Gak mau!!” Acil mendorong Seruni.


“Kalian ini selalu saja bertengkar. Kapan kalian bisa akur?” Mak Darni menarik lengan putrinya yang hendak berkelahi dengan Acil. “Nah, kan! Gara-gara kalian berdua, Aldi jadi terbangun.” Ia menenangkan anak bungsunya yang mulai terdengar rewel.


“Sudah-sudah,” Adeline berjongkok di depan Acil. Ia menatap sembari tersenyum pada anak yang sangat tidak menyukainya itu. “Kamu mau bertukar denganku?”


“Bertukar?” Acil memperhatikan Adeline, sehingga perlindungannya terhadap setangkai mawar mulai meregang.


Kemudian dengan secepat kilat menyambar, Seruni hendak mengambil kembali benda miliknya, namun gagal.


Adeline sedikit tertawa melihat tingkah kedua bocah tersebut. “Bagaimana kalau bunga yang kamu bawa, Mbak tukar dengan ini?” Ia menyodorkan hadiah yang diberikan Dicky untuknya.


Acil dengan gesit segera merebut bunga tersebut. Namun ternyata, kesigapan Adeline tidak kalah dengannya.


“Eits ... tunggu dulu.” Adeline kembali tersenyum. “Tapi, Mbak mau kamu berbagi dengan yang lain. Beri mereka sama rata. Kalau masih sisa, kamu harus kembalikan ke Mbak Adel. Mbak yakin kamu bisa berlaku adil dan jujur. Bagaimana, kamu mau terima tawaran Mbak?”


“Baik,” Acil memberikan bunga miliknya pada Adeline, lantas segera mengambil serangkaian yang tampak di depannya. “Ayo baris yang rapi. Jangan berebut! Kita punya banyak sekarang. Yang gak mau ngantri, gak akan aku kasih.” Acil berlagak seperti seorang pemimpin.


Adeline tersenyum puas, karena ia telah berhasil meredam pertikaian kecil yang terjadi. Kemudian, ia beralih pada Dicky. “Dari mana kamu dapat bunga itu?”


“Susan kasih bunga lagi ya, Bang? Padahal Mak sudah sering kasih tahu, kalau kamu gak suka sama dia.” Mak Darni menimpali.


“Itu dikasih orang, terus kamu kasih ke aku?!” Adeline merasa kesal.


“Mak Darni ini,” Dicky merengut dan Mak Darni mengatubkan mulut. “Jangan salah paham, Del! Kali ini aku menolak pemberiannya. Aku sudah membeli semua bunga itu, kecuali yang kamu pegang. Susan memberikan setangkai untuk Seruni, karena dia ngamuk-ngamuk di sana,” ia mencoba menjelaskan.


“Jadi, ini bukan bunga dari kamu?” Adeline mengerutkan kening.

__ADS_1


Dicky menggelengkan kepala, lantas seketika muncul rasa kecewa yang mulai meraba hati gadis itu.


“Ini Mbak, masih ada dua.” Acil memberikan sisanya pada pemilik asli bunga tersebut.


“Kalau begitu, ini buat Mak Darni saja.” Adeline memberikan satu mawar yang di genggamnya. Selanjutnya, ia mengambil sisa bunga yang disodorkan Acil padanya.


Dicky terbengong-bengong melihat tingkah sepupunya itu.


Sedangkan Mak Darni, ia tertawa ringan dengan sebuah bunga yang diterimanya.


“Kalian semua sudah kebagian mawar, kan? Kalau begitu bilang apa” Dicky berkacak pinggang.


“Terima kasih, Bang Dicky!!” semua menyuarakan secara serentak.


“Kok sama Abang, sih? Siapa yang tadi kasih bunga?” Dicky memandu dengan lirikannya, agar semua mata anak tersebut mengarah pada Adeline.


“Hehehhehe ... terima kasih, Mbak Adel!!” serunya serempak.


“Iya, sama-sama.” Sudah lama Adeline tidak merasa sesenang ini.


Tidak berselang lama, sekumpulan anak tersebut berhamburan seperti kapas yang tertiup angin.


“Mak, saya mau pulang dulu.” Dicky memilin-milin jari Aldi, sambil menggoda bayi tersebut.


“Gak mampir dulu ke rumah? Biar Mbak Adel bisa cicipin kopi buatan Mak.” Mak Darni terlihat kecewa.


Dicky melirik wajah Adeline yang terlihat lesu. “Lain kali saja, Mak. Aku dan Adel ada urusan mendesak.”


“Jangan lama-lama! Ingat Nak, besok kalau ke sini, Mbak Adel juga harus diajak. Mak belum puas bertukar cerita dengannya.” Mak Darni merasa berat melepaskan laki-laki yang sudah dianggap seperti putranya sendiri.


“Mbak Adel harus mau! Permintaan Mak gak bisa di tawar-tawar. Awas saja, kalau kamu sampai datang sendirian ke sini,” Mak Darni melontarkan ancaman.


“Iya-iya, baiklah.” Dicky terpingkal dibuatnya.


Kemudian, Dicky mulai melangkahkan kaki meninggalkan pemukiman kumuh tersebut.


Sedangkan Adeline, ia berpamitan, lantas mengikuti jejak Dicky.


“Ada masalah apa, sampai kamu ke tempat Pak RT segala?” Adeline berujar sambil berjalan.


Dicky tersenyum, “memang bukan masalah penting menurut pandangan orang lain, namun bagiku itu sangat penting.” Ia menghela napas, “kamu lihat beberapa anak tadi?” Ia memalingkan muka, mendapati anggukan kepala dari gadis yang mengekornya. “Itu hanya sebagian kecil saja, sedangkan sebagian yang lainnya, mereka sedang sibuk membantu orang tuanya bekerja, atau bahkan mengais-ngais sampah,” ia menatap langit, dengan kedua tangan menopang bagian belakang kepala. “Aku kasian dengan mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya, jadi sekarang aku mewujudkan keinginanku mendirikan sebuah ruang belajar untuk mereka. Meskipun tidak diakui oleh pemerintah, namun setidaknya mereka bisa belajar berhitung dan membaca di sana.”


“Bukankah kamu sudah membantu biaya sekolah mereka?” Adeline memperhatikan dengan serius.


“Dari mana kamu tahu? Ah ... pasti Mak Darni.” Dicky bersiul sejenak, “Tidak semua anak memiliki mental baja, beberapa di antaranya merasa malu dengan diri mereka sendiri. Anak-anak itu sering diolok-olok, karena ketidakmampuan kondisi mereka dalam berbaur dengan teman sekolah yang terlihat cukup mampu. Sedangkan yang lainnya, mereka tidak ingin membuang waktu hanya untuk sekedar menimba ilmu. Jika mereka tidak ikut bekerja, maka orangtuanya akan kesulitan untuk menopang beban hidup yang terlalu berat.”


“Aku tidak menyangka, kamu punya cukup banyak uang untuk membantu mereka.” Adeline ikut iba dengan nasib anak-anak tersebut. Namun, kondisi kantong tidak cukup memadahi untuk ikut serta di dalamnya.


“Itu semua bukan sepenuhnya uangku. Ada beberapa uang sumbangan yang di donasikan untuk mereka, dari teman-teman kampus, dan juga beberapa dari kenalan Riri.”


“Wanita pemilik kafe itu?” Rasa tidak suka muncul secara tiba-tiba.


“Iya, tempat aku dulu bekerja.” Dicky memang sengaja merahasiakannya dari siapa pun juga. Dia tidak ingin terlihat hebat, meski di depan Adeline sekali pun.


“Apa ada yang bisa aku bantu, jika sekolah itu benar terwujud?” Adeline menambah kecepatan langkahnya, agar sejajar dengan Dicky.

__ADS_1


Dicky memperlambat gerakan kakinya. “Untuk dana, saat ini aku rasa sudah cukup. Aku juga telah mempercayakan pembangunan ruang belajar tersebut pada Pak Rt.” Dicky melirik wajah Adeline yang terlihat kecewa. “Mungkin kamu bisa ikut mengajar di sana nantinya. Itu juga, kalau kamu bersedia,” ujar Dicky yang berusaha menepis muram pada paras gadis yang dicintainya.


“Aku mau!” teriaknya. “Syukurlah, setidaknya ada yang bisa aku lakukan untuk mereka.” Adeline merasa senang dengan gagasan laki-laki yang saat ini dikaguminya.


Sedangkan Dicky, ia tampak lega melihat wajah Adeline yang sedang sumringah.


Kemudian mereka berdua menaiki motor, melaju dengan cepat, bergegas memburu waktu.


“Kenapa tiba-tiba ngebut?Adeline berteriak, karena ia takut suaranya tidak terdengar.


“Aku lupa mengunci pintu kosku!” Dicky menyahut senada.


Tidak butuh waktu yang terlalu lama, hanya cukup lima belas menit, maka mereka telah sampai pada kawasan perumahan yang terlihat sepi.


Adeline belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke tempat kos Dicky. Ia memperhatikan sekelilingnya, beberapa bangunan terlihat baru, namun sunyi penghuni. Selanjutnya, mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil. “Kamu kos di sini? Sendirian?” Adeline memperhatikan sebuah bangunan dengan pintu yang terbuka lebar.


“Lebih tepatnya kontrakan. Tapi menurutku, ini tidak bisa dibilang sebuah rumah, karena bagiku terlalu kecil seperti kos-kosan.”


“Kamu tidak punya tetangga?”Adeline terlihat celingukkan menatap bangunan yang tampak kotor pada halamannya.


“Samping kiri, penghuninya pindah setelah terjadi pencurian, dan istrinya meninggal. Sisi kanan, diusir pemiliknya, karena gak sanggup bayar sewa.” Dicky menatap sebuah rumah yang terlihat sedikit seram. “Kalau rumah besar yang di belakang kamu, itu rumah pemilik ke tiga kontrakan ini. Perempuan itu bekerja sebagai simpanan om-om kaya raya, jadi dia sangat jarang ada di rumah.


“Bisa dibilang, kamu tidak punya tetangga.” Adeline manggut-manggut.


“Seperti itulah.”


Tidak perlu mengulur waktu, Dicky segera masuk ke dalam kosnya. “Kemana barang-barangku?!” teriaknya.


“Ada apa?” Adeline bergegas mengikutinya.


“TV, kulkas, kipas angin, sound sistemku, dan yang lainnya, semuanya lenyap.” Dicky terduduk di lantai.


“Lebih baik, lapor polisi saja!” Adeline memberi saran.


“Gak perlu, sebelumnya aku sudah menduga, jika akan terjadi seperti ini.” Dicky menghela napas. “Setidaknya, Bed empuk ini masih bersamaku. Peralatan dapur juga masih setia denganku.”


Adeline menatap heran pada laki-laki yang menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas kasur busa yang tampak sedikit memantulkan tubuh. Kemudian, ia menyusul pria tersebut.


“Kenapa kamu ikut-ikutan?” Dicky seketika berdiri dengan panik.


“Aku capek, mau tidur sebentar.”


“Ini tempat cowok!! Kamu gak boleh seperti ini! Ayo, bangun!!” Dicky memberi perintah.


“Sebentar saja. Di rumah kamu, aku juga terbiasa seperti ini, dan kamu gak pernah mempermasalahkannya.” Adeline merentangkan tangan dan membuka kaki sedikit lebar.


“Di sini berbeda, ini bukan rumahku. Jangan begini! Cepat berdiri!” Dicky menarik kaki Adeline.


“Gak mau! Aku sudah sangat nyaman di sini. Lagipula, tidak akan ada yang bergosip. Dindingmu sedang tuli, jadi kamu tenang saja.” Adeline memejamkan mata.


“Ada cowok di sini, apa kamu tidak takut?” Dicky berusaha membuat Adeline mau beranjak.


“Takut? Sama siapa? Kamu?” Adeline tersenyum geli. “Dari kecil, hingga sebesar ini, kita selalu sama-sama. Jadi, aku yakin kamu tidak akan berani macam-macam denganku. Apalagi kita ini sau ....” Suara napas Adeline mulai teratur dengan sedikit dengkuran yang terdengar sangat pelan.


“Apakah kamu juga selalu bersikap seperti ini, di tempat Morgan atau pun Alvin?” Dicky berujar, namun kesadaran Adeline sudah berada di tempat yang jauh berbeda darinya.

__ADS_1


__ADS_2