
Riena terus memperhatikan Dicky yang saat ini sedang sibuk bergulat dengan selembar kertas putih dan sebuah pena yang tampak bergeol-geol menjejakkan tinta. Ia tidak begitu memperdulikan coretan-coretan yang terus membentuk pola. Bola mata Riena hanya terpusat pada wajah laki-laki yang tidak teralu oval dan tidak bisa dibilang bulat juga. Serta kedua lesung pada pipi yang mencuat, ketika senyum Dicky mulai mengembang. Gadis ini juga sepertinya memperhatikan gerakan tangan kiri dari pria pujaan hatinya tersebut, yang tampak beberapa kali mengawut-awut rambut yang sedikit berjambul. Di mata Riena saat ini hanya memantulkan wajah Dicky yang selalu diharapkanya. Raut muka laki-laki yang diinginkanya untuk menjalin hubungan, yang jauh lebih dekat dari hanya sekedar seorang teman membangun usaha.
Sedangkan Dicky, sesekali ia melirik gadis yang dengan serius melekatkan manik mata yang indah pada paras tampannya. Ia bahkan menyiukkan napas, hanya untuk berusaha memaklumi rekan kerja yang telah dikenalnya sejak berada di bangku kuliah. Ia yang sekarang, bahkan sudah dapat menerima sikap ajaib Riena yang berlebihan, ketika mengungkapkan rasa cinta padanya. Padahal dahulu Dicky sempat tergiur dan hampir saja menjamah gadis tersebut. Namun keadaan seketika mencair, di saat bayangan Adeline berseliweran di kepalanya. Wajah gadis yang ia cintai itu, seakan mematikan gairah yang dimilikinya terhadap para wanita yang terlalu agresif. Sehingga perlakuan yang diterima Dicky selama ini dari gadis yang telah menjatuhkan cinta padanya, seakan sudah membuat ia menjadi merasa biasa saja dengan rekan kerjanya.
“Kamu benar-benar sudah membuat hatiku meleleh. Semakin aku lihat, kamu sepertinya jadi tambah mempesona. Padahal hanya selama satu minggu ini, aku tidak menatap wajahmu.” Riena merekam setiap inci dari wajah laki-laki pujaannya.
“Sekarang, sudah bisa mencapai berapa persen kegantenganku?” Dicky terus mengutak-atik gambar tanpa memperhatikan sorot mata Riena yang tambah berbinar.
“Mungkin sudah mencapai seratus persen atau bisa juga lebih,” ujar gadis cantik itu.
“Mungkin?” Dicky menghentikan gerakan pulpen yang menempel di tangannya. Kemudian, ia melirik lawan bicaranya itu. “Berarti secara gak langsung, bisa dibilang kalau kamu masih belum percaya dengan wajahku yang ganteng ini?” Ia menyeringai, lantas melanjutkan kembali kesibukan menorehkan goresan terakhir sketsa wajah yang saat ini dibuatnya.
“Jika aku tidak yakin denganmu, maka sudah dapat dipositifkan dengan sangat jelas, bahwa saat ini aku pasti sedang berada di tempat lain. Aku akan menatap laki-laki yang jauh lebih bisa menjeratku dari pada dirimu, yang hanya bisa menenemukan cara untuk selalu mengacuhkanku. “Riena menyentuh rambut Dicky dan memainkannya dengan lembut.
“Malangnya aku,” menghela napas, “mau sampai kapan kamu akan menahanku di tempat ini? Aku sudah benar benar bosan berada di sini denganmu.” Dicky merasa jenuh. “Aku bahkan sudah menghasilkan berlembar-lembar, tapi kamu masih saja tidak mau membebaskanku.” Ia membanting pulpen dengan sedikit keras.
“Sampai … apa ini?! Kamu ini, keterlaluan!” Riena mengambil beberapa hasil goresan tinta yang Dicky buat. “Gambar-gambar ini, k-kamu sungguh sudah membuatku sangat sakit hati!” Air mata Riena menggenang.
“Apa boleh buat? Salah kamu sendiri yang tidak membiarkanku pergi meninggalkanmu,” celetuk Dicky.
“Kamu boleh mengumpatku sekarang. Aku masih bisa menerimanya. T-tapi, kenapa selalu cuma Adel yang ada di pikiran kamu?” Riena berusaha menahan emosinya. “Sudah jelas, aku punya banyak kelebih dari pada dia. Apa kamu tidak pernah secuil pun memikirkan perasaanku terhadapmu?”
Tidak ada satu pun dari gambar yang dihasilkan oleh Dicky, yang saat ini masih dalam keadaan utuh. Kemarahan Riena telah membuat semua kertas yang ternoda tinta, menjadi kepingan berhamburan ke segala arah. Saat ini yang tertinggal, hanyalah kekecewaan Dicky yang menempel pada setiap sobekan kertas yang terlanjur terjatuh.
“Ok, saatnya aku pergi.” Dicky berdiri dan melangkah keluar ruangan.
Riena membuntutinya. “K-kamu mau ke mana? Kamu marah?” Ia terperanjat .
“Gak, biasa saja,” ujar Dicky.
“Kalau gitu aku ikut!” pintanya.
Dicky membalikkan badan. “Mau ikut? Ke mana?”
“Ke mana saja, asalkan sama kamu. Boleh, ya?” Riena merajuk manja.
Dicky memijat pelan pada keningnya. “Gak boleh!” sergahnya.
“Ya sudah, aku gak perlu lagi berusaha buat dapat izin dari kamu. Jadi meskipun kamu mau ke penjuru dunia sekali pun, aku pasti akan ikut.” Riena meneruskan langkah mengiringi gerakan kaki pria yang berjalan di depannya.
Dicky membiarkan Riena membuntutinya keluar ruangan. Kemudian, ia melihat Eldo yang terlihat gusar pada meja yang tidak terlalu jauh dari tempat kasir berada.
Danis berjalan mendekati kedua bosnya. “Aku sudah berusaha memintanya untuk pergi, tapi –”
__ADS_1
“Dia tidak mau?!” Dicky terkekeh.
“I-iya.” Danis berdecak.
“Aku sudah menduganya. Kamu bisa kembali kerja!” ujar Dicky dengan guratan senyum licik yang terlihat sangat jelas.
“Ada apa denganmu? Kenapa dengan senyumu itu?” Riena bertanya saat menangkap lirikan Dicky yang dengan persis tertuju padanya.
“Gak apa-apa.” Dicky menarik napas panjang. “Baiklah, aku pernalkan kamu padanya.” Ia kemudian meneruskan langkah yang sempat terhenti.
Eldo beranjak dan memberi tanda hendak ke tempat sahabatnya berdiri. Namun, Dicky mengisyaratkan padanya untuk tetap berada di meja tersebut. Kemudian, mereka bertiga pun duduk di meja yang sama.
Eldo merapatkan wajah ke telinga Dicky. “Siapa gadis ini?”
Dicky menarik baju Eldo agar bisa lebih mendekat. “Aku punya masalah besar. Kamu harus bantu aku!” pintanya.
“Jelaskan dulu! Apa masalahmu?” sergah Eldo.
“Nanti aku kasih tahu detailnya. Aku beri kamu nomor ponselku.” Dicky mengambil tisu putih yang berada di dalam kotak, yang tergeletak rapi di atas meja. Kemudian dengan sebuah pulpen yang disambarnya dari meja kasir, ia mulai menuliskan deretan nomor. “Kamu nanti harus meneleponku!” pintanya.
“Jadi, bantuan apa yang kamu inginkan dariku?” Eldo kembali berbisik.
“Buat perhatiannya teralih dariku.” Dicky melirik wanita yang dimaksudnya. “Aku yakin kamu pandai, kalau sudah menyangkut masalah seperti ini. Aku akan memesan ojek online dan melarikan diri dari sini.” Dicky menjelaskan muslihat liciknya.
“Sudah lakukan saja!” sergah Dicky memaksa.
Riena terus memperhatikan tingkah dua laki-laki yang sedang ia hadapi. Namun, ia sempat mendengarkan di awal pembicaraan mereka. Gadis ini merasa, saat ini ada dua pria tampan yang sedang memperbincangkan dirinya dan tanpa sedikit pun kecurigaan menyembul di dalam pikirannya mengenai akal bulus Dicky. “Hallo! Aku ini orang, bukan makhuk halus loh!”
“I-iya, aku tahu.” Dicky tersenyum mencurigakan. “Riena, Ini Eldo.” Dicky menggantungkan lengan pada bahu teman lamanya itu. “Dan Eldo, ini Riena. Dia pemilik kafe ini.” Ia lantas mengambil handphone dari dalam saku celana jeans yang dikenakannya.
Riena menjulurkan tangan untuk menyambut uluran tangan Eldo. “Aku baru tahu, kalau Dicky punya teman seganteng kamu.” Ia menyunggingkan senyum ramahnya. “Perkenalkan,” melirik Dicky, “aku pemilik kafe dan sekaligus juga pacar temanmu ini.”
“Dulu dia bilang, kalau cuma aku ini yang paling tampan di matanya. Tapi sekarang, dia enteng sekali bilang ganteng ke cowok lain,” Dicky bergumam lirih.
“Pacar?” Eldo tersentak kaget, hingga matanya hampir meloncat ke dalam isi kepala teman baiknya.
“Aku sudah bilang, kalau nanti saja aku jelaskan semuanya.” Suara Dicky setengah berbisik.
“Pantas saja kalian seperti itu di dalam ruangan tadi,” gumam Eldo.
“Apa kamu …” Dicky terkesiap dengan kalimat yang keluar dari mulut Eldo, yang samar-samar terdengar sangat pelan di telinganya.
Tanpa memperdulikan raut wajah Dicky yang tampak terhenyak kaget. kemudian Eldo kembali meredupkan ekspresi kebingungannya, hanya untuk menyambut untaian kalimat yang telah meluncur dari mulut gadis yang berwarna merah merekah itu. “Aku teman Dicky saat masih di SMA.”
__ADS_1
“Jadi, apa kamu juga kenal dengan Adeline? Dia dari Blora, kota yang sama denganmu dan Dicky,” Riena bertanya pada Eldo.
“Adel?” Dahi Eldo berkerut.
“Tentu saja, dia ini adalah mantan pacar Adel,” Dicky memperjelas.
“Wah! Bagus dong!” teriak Riena girang. “Kamu pasti tahu banyak tentang mereka?”
Dicky menarik kerah baju Eldo dan berbisik geram. “Awas saja kalau kau bongkar rahasiaku tetang Adel!”
Eldo tertawa getir. “Bisa dibilang aku tahu semuanya. Tapi, tidak semuanya juga bisa aku ceritakan padamu.”
“Apa ada sesuatu yang harus disembunyikan dariku?” Riena mulai penasaran.
“Ah, tidak ada yang perlu disembunyikan. Benarkan, Do?” Dicky menyikut lengan Eldo.
Riena menyipitkan mata. Ia sepertinya mulai mencium bau-bau ketidakjujuran yang tergambar dari sikap Dicky yang berantakkan.
“Iya, benar. Aku tidak perlu menyimpan sesuatu yang bukan lagi menjadi rahasia.” Eldo mengangguk setuju dengan perkataan Dicky.
“K-kamu –” Ponsel Dicky bergetar. Kemudian, ia membuka sebuah pesan yang masuk ke nomor selulernya. Seketika itu juga, ia mengedipkan kedua mata untuk memberi isyarat kepada komplotannya.
Eldo sepertinya mengerti dengan yang Dicky maksudkan. “S-siapa tadi nama kamu?”
Riena mengalihkan pandangan matanya dari Dicky. “Riena,”jawabnya.
“Aku akan menceritakan mengenai semua yang aku tahu tentang Dicky.” Eldo berusaha mengalihkan perhatian. “Apa sekarang kamu sedang bawa ponsel?”
“Ponsel?” Dahi Riena berkerut. “T-tidak, aku rasa ada di dalam ruanganku. Tapi, kenapa kamu menanyakannya?”Gadis ini merasa heran.
“Aku akan memberikan nomor handphone-ku,” jawab Eldo.
Riena menirukan cara Dicky dengan mengambil selembar tisu, serta menggaet pulpen yang tergelatak di atas meja. “Kamu juga bisa menulisnya di sini!” sarannya.
“Apa kamu yakin memintaku menulis di tisu ini?” Eldo mengangkat lembaran tisu tersebut dan mengayun-ayunkannya secara perlahan. Tanpa sengaja, ia melihat sedikit air yang menggenang di dekat nomor meja yang terpampang. Kemudian, sekelumit pemikiran cerdik mulai terbersit. “Bagaimana kalau benda rapuh ini terjatuh?” Tisu putih tersebut mulai menyerap air dan terlanjur basah. Selanjutnya, pria ini kembali mengambilnya. Lalu, ia merobek-robek tisu tersebut. “Dan tanpa diduga terjadi seperti ini.” Eldo mencermati mata Riena yang terus memperhatikan puing-puing yang terjatuh di atas meja. “Maka kamu akan kehilangan seorang informan penting sepertiku.” Ia menyelesaikan alibinya.
“K-kalau terjadi seperti itu, aku bisa meminta nomormu kepada Dicky,” Riena berkilah.
Eldo melirik Dicky yang tampak sedikit memberikan gelengan kepala.
“Apa kamu yakin? Benarkah dia bersedia memberikan nomor dari teman yang akan bercerita panjang lebar mengenai dirinya?” Eldo kembali mengaduk-aduk keteguhan pikiran gadis itu.
Riena mulai ragu. Ia lantas memperhatikan laki-laki yang sangat dicintainya. pikirannya seakan bersuara untuk mengiyakan permintaan Eldo, namun hatinya merasa tidak ingin beranjak dari kursi yang menempel lekat di pantat saat ini. Ia juga merasa berat untuk melepaskan pengawasan terhadap seseorang, yang telah membuat cinta yang dimilikinya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1