Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 3. Sudah Terduga


__ADS_3

Morgan masih menanti Adeline membukakan pintu. Ia sadar, bahwa telah melakukan kesalahan dengan membongkar aib teman pacarnya. Tetapi menurut laki-laki ini, sebaik apapun dirahasiakan pasti orang lain juga akan tahu. Tidak ada bedanya, terbongkar sekarang atau nanti, hasilnya juga akan sama saja.


Adeline mengintip dari celah tirai. Tampak olehnya, Morgan duduk dengan mengacak-acak rambut. Pria yang dicintainya itu, terlihat sesekali bergumam seolah berargumen sendiri. Senyum kecil terlintas di wajahnya, ketika Morgan bertingkah aneh. Baginya bukan hanya mengenai membongkar rahasia Selly, tetapi juga ada keresahan yang hinggap di hati. Saat itu, ia hanya bisa melihat laki-laki egois yang ketakutan dengan ulah sendiri. Di pikiran Adeline, seseorang yang ia cintai tampak seperti berlindung dengan aib orang lain sebagai perisai. Dengan sikap yang seperti itu, gadis ini tidak yakin Morgan akan bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat tempo itu.


Morgan menolehkan pandangan pada kaca jendela tempat kos Adeline. Seketika, ia menangkap secuil wajah yang dipujanya. Ia tahu, gadis itu itu tidak akan bisa berlama-lama memendam amarah. Dia benar-benar telah mengenal kekasihnya. Morgan tahu, bahwa wanita muda itu sangat cinta akan ia. Hanya karena kesalahan kecil, tidak mungkin hubungan mereka akan berakhir. Apalagi Selly juga sudah lama tidak lagi menampakkan diri di kota ini.


Adeline kembali menutup tirai setelah sempat beradu pandang dengan Morgan. Ia yakin pria itu tahu, bahwa dirinya telah diam-diam mengawasi laki-laki tersebut.


“Sayang, buka pintunya!” Morgan mengetuk beberapa kali. “Kita bicarakan baik-baik!” Ia kembali menggedor pintu.


“Pergi saja!! Aku malas melihatmu!” Balas Adeline dengan suara masih terukir amarah.


Morgan berkacak pinggang dan sepertinya ia mulai mencari cara. “Del, buka!! Kalau tidak, aku akan teriak maling atau kebakaran, biar orang-orang bergerombol datang ke sini.” Ancamnya, namun Adeline tidak lagi menyahut. Kemudian Morgan mengambil napas dalam-dalam, “Tolong!! Maling! Ada maling di sini!!” Teriakan Morgan membuat beberapa penghuni kamar lain yang berada di sebelah tempat tinggal pacarnya tersebut keluar.


“Mana malingnya?” Seorang gadis kekar layaknya pria bertanya pada Morgan dan yang lain tampak celingukan mencari. “Iya, mana malingnya, Mas?” Wanita kurus yang menenteng sebatang sapu, juga menimpali.


Morgan tertawa dan membuat bingung orang yang mengelilinginya. “Dia di dalam.” Morgan menunjuk pintu kamar Adeline.


Tidak berselang lama pintu terbuka. “Tidak ada maling di sini.” Adeline merasa panik. “Dia hanya bercanda saja,” tertawa malu, “jangan ditangapi ya!” Ia mengalihkan tatapan pada Morgan. “Kamu jangan gila deh Gan!”


“Mana yang bener, Del? Ada maling apa enggak?!” Gadis kekar itu menatap Adeline.


Morgan terkekeh. “D-dia malingnya?” Ia terus terbahak tanpa henti.


“Jangan ngawur! Kami kenal dia, Mas,” salah seorang dari mereka berujar.


“Dia maling hatiku.” Morgan kembali tertawa.


“Ah! Aku tahu orang ini! Dia pacarnya Adel. Mor … Morgan kalau gak salah,” celetuk salah seorang gadis bertubuh mungil.


Kemudian tangan besar yang berotot milik gadis kekar itu pun, mendarat tepat di pipi Morgan. “Rasakan itu! Makanya jangan konyol di tempat kos cewek. Dasar orang gak waras!” Ia mengumpat dan pergi bersama dengan gadis yang bergelombol lainnya.


Adeline merasa khawatir dengan Morgan, namun agaknya ia sedikit terhibur. “Kamu tidak apa-apa? Makanya, jangan seenakmu sendiri di sini. Jadi, kamu terkena dampak dari perbuatanmu sendiri.” Ia menggapit lengan Morgan dan masuk ke dalam kamarnya.


“Setidaknya, aku dapat pintu.” Morgan menyentuh pipinya. “Aku rasa cukup setimpal dengan yang kudapatkan.” Ia menyeringai sambil menatap Adeline, kemudian merintih perih.


Adeline menghela napas. “Kamu ini masih saja bercanda disaat seperti ini. Hhmm ... dan lagi, bukan berarti aku memaafkan kamu hanya dengan mengizinkanmu masuk.” Ia menutup kembali pintu yang terbuka.


Morgan duduk di atas kasur dan bersandar pada tembok. Ia tampak meringis beberapa kali.

__ADS_1


Sedangkan Adeline mengambil handuk kecil dan sisa es batu dari teman kosnya yg masih bersisa, untuk mengompres pipi Morgan. Tidak perlu waktu lama, gadis itu juga ikut duduk di sebelah kekasihnya. Kemudian ia menaruh es di handuk dan menempelkan tepat pada sasaran pukul teman kosnya.


Morgan merasa sedikit kesakitan, ketika handuk menyentuh wajahnya. Di pukul seorang wanita agaknya membuat ia merasa sedikit malu. Namun, kejadian tadi cukup lucu untuk mengaburkan rasa itu. Gadis dengan tubuh kekar layaknya pria, jelas saja akan membuat laki-laki manapun juga, pasti akan kalah kalau bertarung dengannya.


“Apa masih terasa sakit?” Adeline dengan lembut menyentuh Morgan.


“Hanya seperti ini.” Morgan tertawa kecil. “Pukulan perempuan seperti tadi, tidak akan berpengaruh padaku.” Ia mengedipkan mata pada gadis yang saat ini merawatnya.


“Jangan sok deh!” Adeline menekan pipi Morgan sedikit keras dengan handuk yang berisi es.


“Aduh–duh.” Morgan menampik tangan Adeline. “Sakit tahu!” sentaknya.


“Nah, siapa yang sekarang mengaduh kesakitan?” Adeline tertawa menatap pacarnya yang terus saja memijit-mijit pelan pada tempat yang terasa ngilu.


Morgan merasa lega melihat tawa dari gadis yang ia cintai. Baginya itu berarti, bahwa kemarahan Adeline pada Morgan sudah berkurang, atau mungkin saja telah sirna. Morgan pikir, ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan mengenai pengakuan Adeline saat itu. Meskipun sedikit ragu, tetapi rasa takut sekaligus penasaran seakan terus menyodok hati dan pikirannya.


Morgan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Eemm … mengenai yang waktu itu.” Ia mencari kata yang tepat agar emosi Adeline tidak kembali meluap. “Kapan harusnya si M datang?” Morgan menatap pacarnya dengan ragu.


Tiba-tiba saja, Adeline merasa berat untuk bernapas. Rasa takut akan kehilangan Morgan sedikit mencekiknya. Kisah Selly dengan Tino juga telah terpatri di dalam otak. Gadis itu hanya bisa tertunduk diam. Dia tidak yakin hubungannya akan baik-baik saja, setelah kebenaran terungkap.


Morgan semakin gelisah dengan Adeline yang membisu. “Apa …,” terdiam sejenak, “adakah kemungkinan kamu hamil?” Morgan mengangkat dagu gadis itu, yang sejak dari tadi menatap ke bawah sambil bermain dengan jemari.


Morgan tampak terkejut dan kebingungan mendengar perkataan Adeline. “Kamu sudah cek pakai alat tes kehamilan?”


“S-sudah.” Tangis Adeline semakin membanjir.


Morgan menatap pacarnya dengan ragu. “P-positif?” Ia berharap berprasangka salah.


Adeline mengangguk dan tangisnya semakin menjadi. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana lagi. Di hatinya hanya ada ketakutan, bahwa Morgan akan meninggalkannya seperti yang Tino lakukan terhadap Selly. Tetapi, Adeline sudah tidak sanggup lagi menutupi aib dari laki-laki yang dipuja selama ini. Anak dalam perutnya akan terus tumbuh dan membesar. Ia tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hasil dari perbuatan mereka.


“Kamu sudah periksa ke dokter?” Morgan mulai berkeringat dingin.


“Kamu gila?!” Sontak air mata Adeline membendung.


“Bagaimanapun, aku ingin kepastian. Siapa tahu, mungkin saja alat itu salah?!” Ia menyentuh tangan Adeline. “Ada kemungkinan juga telah rusak, jadi kamu tenang saja.”


“Aku sudah membeli beberapa merek yang berbeda.” Adel kembali menangis. “Semua menunjukkan hasil yang sama.” !


“Kalau begitu, besok kita ke dokter atau ke bidan. Pokoknya aku ingin hasil yang lebih jelas.” Morgan tersenyum getir.

__ADS_1


“Aku tidak mau ke sana. Membeli alat-alat itu saja terasa seperti wajahku sedang dicabik-cabik.” Adeline menarik tangannya dari genggaman Morgan.


“Apa kita pergi ke tukang pijat saja?” Morgan menatap Adeline sambil tersenyum.


“Untuk apa ke sana?” Adeline mengernyitkan dahi.


“Biar dia bisa periksa, kamu hamil atau tidak.” Morgan kembali bersandar pada dinding yang berhimpit dengan tempat tidur.


“Kalau hasilnya sama dengan alat tersebut, bagaimana?” Adeline mencoba mencari kepastian dari reaksi yang terlukis pada wajah kekasihnya.


Morgan mengacak-acak rambut. “Ya, mau bagaimana lagi?! Sekalian saja kita gugurkan bayi kamu!”


“Apa kamu bilang ‘bayi kamu’? Ini kita berdua yang melakukan kesalahan, tapi kamu hanya mengakui ini anakku, dan bukan anak kamu?” Adeline mulai merasa emosinya seakan semakin meletup-letup.


“Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat mengenai bayi itu. Sekarang yang terpenting adalah kita mencari cara untuk menyingkirkan janin dalam perutmu.” Morgan berusaha menenangkan Adeline.


“Jadi kamu tidak mau bertanggung jawab? Kamu tidak mau menikahiku?” Tangis Adeline semakin meledak, beriringan dengan emosi yang meluap.


“Aku bertanggung jawab kok! Buktinya, aku mau mengantarkanmu pergi untuk menghilangkan bayi itu.” Morgan menatap Adeline.


Adeline merasa jijik dengan laki-laki yang saat ini berada di hadapannya. “Apa kamu tidak merasa bersalah memiliki niat untuk menghilangkan anak ini?” Ia menyentuh perutnya. “Ini kesalahan kita, tetapi apa harus dia yang menanggungnya?”


“Aku hanya tidak ingin kamu menderita dengan adanya anak itu.” Morgan membuang napas yang berat.


“Kamu sama saja dengan Tino. Laki-laki tidak ada yang benar-benar baik. Apa sudah habis manis, lantas ampasnya mau kamu buang begitu saja? Kamu anggap apa buah dari kesalahan kita ini?” Adeline mulai menyesal telah menyerahkan mahkota berharganya pada laki-laki seperti Morgan.


“Semua yang sudah terjadi sebaiknya kamu lupakan saja. Besok kita pikirkan lagi, setelah benar-benar ada kepastian yang jelas mengenai kehamilan kamu.” Morgan memijit-mijit kepala yang terasa sedikit pening.


“Apa kamu tidak ingin mengakui anak ini? Kita bisa menikah dan kamu tetap melanjutkan kuliah.” Bujuk Adeline pada Morgan.


“Soal menikah, sudah pasti aku sangat ingin bersanding dengan kamu. Tapi nanti, dan tidak untuk saat ini.” Menghela napas panjang. “Aku tidak ingin masa depanku hancur, hanya karena kesalahan yang kulakukan denganmu. Aku harus menyelesaikan pendidikanku, hingga mengantongi gelar S-2 nantinya. Baru setelah itu, aku bisa meneruskan perusahaan keluarga, dan kita bisa menikah.”  Morgan menerangkan segala tujuannya.


“Jadi, kamu anggap aku dan bayi ini sebagai perusak masa depanmu?!” Hati Adeline dipenuhi kebencian. “Kamu lebih baik pergi dari sini! Biarkan aku sendiri! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.” Ia terisak dalam penyesalan.


“Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kamu bisa mengerti dan mendukungku meraih kesuksesan.” Morgan menyentuh wajah Adeline dan menghapus air mata yang menetes.


“Pergi!” Suara Adel terdengar parau. “ Aku bilang tinggalkan aku!!” Adeline berteriak dengan keras.


Seketika Morgan merasa takut, jika ada yang mendengar suara Adeline. “Baiklah, aku akan pergi. Tetapi, besok pasti aku kembali lagi. Kita harus segera memastikan segalanya salah. Aku tidak menginginkan bayi itu ada.” Morgan beranjak dan keluar dari kamar gadis tersebut.

__ADS_1


Setelah Morgan pergi, tangis Adeline semakin menjadi. Dia merebahkan diri menelungkup dengan wajah menindih bantal. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Kemudian ia mencaci, memaki, dan bahkan menyemburkan sumpah serapah membabi buta. Semua yang ia takutkan, ternyata benar adanya. Morgan dan Tino adalah dua makhluk yang sama. Di dalam otak gadis ini, mereka hanyalah seorang banci dan bukanlah pria sejati.


__ADS_2