
Adeline menatap laki-laki yang belum pernah dilihatnya. Seorang tampan, dengan wajah putih bersih dan juga rambut hitam yang tertata rapi. Pria jangkung menawan, dengan lesung pipi yang menggoda. Perawakan yang layaknya model ternama, sangat pas sekali dengan setelan kemeja abu yang menggantung di atas celana jeans hitam dan sepatu berwarna coklat tua. Bentuk tubuh yang sedikit kekar pasti akan menggoyahkan iman para gadis yang menatapnya.
Sedangkan Sonia terus saja ternganga, seakan ia terkesima dengan laki-laki yang saat ini memegang pergelangan tangannya. Ia belum pernah sekali pun mendapati wajah tersebut selama berada di kampus ini. Ketertarikan mulai membuatnya melupakan Morgan untuk sejenak. Gadis yang memang pada dasarnya sangat mudah untuk jatuh ke pelukan lelaki, tampaknya mulai terpikat dengan aura yang terpancar dari pria rupawan, yang saat ini berdiri berjajar dengannya.
“Tidak bagus gadis secantik kamu menggunakan tangannya yang lembut untuk menyakiti orang lain.” Pria tampan itu tersenyum mempesona. “Kamu terlihat seelok gadis keraton, namun sangat disesalkan, keanggunan itu tidak ada padamu.” Sindirnya. “Dan aku juga sangat tidak suka itu!” Tatapnya penuh ancaman kepada Sonia.
“Eh –ah, kamu siapa?” Sonia tergagap dan berusaha untuk tersenyum menutupi keburukan sikapnya.
Ia melepaskan tangan Sonia, kemudian mengusap pelan rambut yang tidak berantakan. “Saya Eldo, dosen di kampus ini.” Laki-laki tersebut meletakan punggung tanggan menempel pada sudut mulut dan seperti setengah berbisik, namun suaranya masih dapat diterima dengan sangat jelas oleh kedua telinga lawan bicaranya. “Baru juga dua hari. Masih jadi dosen labil,” guraunya.
Sonia tersentak kaget dan merasa rancu. “M-maafkan saya, Pak!” Ia mengekspresikan salah tingkahnya yang berlebihan. Tadi saya hanya ingin membersihkan wajah Adeline.” Ia tampak kebingungan. “Emm, ah!! I-ini bedaknya belepotan.” Sonia lantas mengusap-usap pipi Adeline. “Nah, sudah bersih sekarang.”
“Padalah, saya sedari tadi sudah menjadi penonton yang baik ketika kamu tengah menamparnya sekali.” Eldo mengusap-usap dagu.
“I-itu! Dia juga tadi menampar saya, Pak!” sanggahnya.
“Kan hanya membalas, tentunya bukan dia yang memulai.” Eldo terus saja mendaratkan tatapan mata tajam pada Sonia.
“Ah iya, saya lupa! S-saya ada tugas yang harus diserahkan ke Bu Hilma.” Sonia tertawa canggung. “Gak enak dong Pak, masa mahasiswa membuat dosennya menunggu?!” Bola mata Sonia berloncatan ke sana ke mari. “Jadi saya permisi dulu, Pak.” Kemudian ia pergi meninggalkan dosen baru itu yang masih bersama dengan Adeline.
“Terima kasih, pak! Saya juga mau pergi.” Adeline mulai melangkah.
Eldo menghentikan gerak kaki gadis yang saat ini bersamanya. “Kamu tidak tahu siapa aku?”
Adeline berbalik dan memperhatikan laki-laki yang tampak tidak asing baginya. Namun ia ragu pernah mengenal pria tersebut, tetapi ia tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan telah salah menerka seseorang. Lagipula, tidak ada gambaran orang seperti itu di kepala Adeline. “Anda Pak Eldo, dosen yang baru dua hari,” terangnya.
“Kamu gadis Blora –Adeline, benarkan?” Eldo tersenyum.
“I-iya, apa saya mengenal Anda?” Dahi Adeline berkerut. “
“Sudah pasti kamu mengenalku, sayangnya gak mau mengingat.” Eldo terbahak. “Bagaimana dengan Farel? Apa nama itu juga masih belum bisa terbesit di pikiran kamu?”
Adeline membelalakkan mata. “Kamu Farel? Apa benar … Kak Farel?!” Mata Adeline yang masih terlihat nanar, tampak berbinar.
“Hanya berganti panggilan, tapi kamu sudah tidak dapat mengenaliku.” Eldo merengut. “Payah kamu!” Kemudian tertawa.
Adeline memperhatikan Eldo dari kepala hingga ujung kaki. “Wah! Kamu berubah sekarang. Itik buruk rupa bisa jadi angsa, dongeng itu ternyata benar.” Adeline terkekeh.
Meskipun terdengar seperti ejekan, namun Eldo cukup merasa senang dapat melihat kembali tawa Adeline. “Tapi gak harus pakai ibarat juga buat nyindir kali, Del.” Eldo berpura-pura manyun.
“Memang benarkan? Dulu kamu itu hitam, dekil seperti orang yang jarang mandi, dan selalu pakai baju kumal yang lusuh.” Adeline tersenyum simpul. “Padahal kalau hanya untuk perawatan atau pun juga membeli baju baru, harta orang tuamu juga gak akan habis.” Adeline mulai terkenang.
__ADS_1
“Biar jelek begitu, dulu juga kamu mau-maunya jadi pacarku.” Eldo menyeringai bangga. “Aku yang dulu lebih suka dengan kesederhanaan.”
“Kalau sekarang,” memperhatikan penampilan glamor Eldo dengan seksama. “Bagaimana? Sepertinya semua yang kamu kenakan saat ini cukup bernilai.” Adeline melirik pada jam tangan mahal buatan salah satu perusahaan ternama dari Swis, yang saat ini tengah melingkar pada pergelangan tangan Eldo.
“Zaman sudah berubah, arah kehidupan juga.” Eldo memicingkan mata. “Sekarang ini aku telah mengambil alih perusahaan milik keluarga, apalagi akan bertambah juga penghasilanku dengan menjadi dosen di kampusmu.” Eldo berdeham, “lebih baik kita mencari tempat yang nyaman untuk beradu mulut.”
“Tempat yang nyaman?” Adel tampak seperti orang bodoh. “Beradu mulut?” Sorot matanya mejelaskan sesuatu.
Eldo seakan bisa mengobok-obok isi kepala Adeline dan mengerti arti dari tatapan penuh curiga yang ditujukan padanya. “ Hahaha … bukan beradu mulut seperti orang mesum, pikiranmu terlalu kotor.” Eldo menghentikan tawanya, ketika mulai terlihat ada siratan rasa malu pada wajah Adeline. “ Apa ada referensi? Harus kemana kita sekarang?” Eldo menatap Adeline yang seperti sedang bergulat dengan ingatannya.
“Ada sih, tidak jauh dari sini. Tempatnya lumayan nyaman dan cukup tenang untuk mengobrol,” saran Adeline.
“Ok, kita meluncur kesana.” Eldo mulai melangkah dan Adeline masih terdiam. "Hari ini kamu tidak ada acara, kan?” Eldo mendapati gelengan kepala Adeline. “Kalau begitu ikut aku mengenang masa-masa kita.”
Anggukan mengawali langkah mereka berjalan bersama. Kemudian Adeline mengikuti Eldo yang berhenti di samping sebuah mobil hitam doff, yang tampak terparkir rapi di tempat kusus dosen. “Kita mau naik ini?” Adeline menatap pintu mobil yang terbuka untuknya.
“Sudah, naik saja!” pinta Eldo.
Eldo menjalankan mobil mengikuti arah-arahan dari Adeline. “Aku belum terbiasa menggunakan mobil seperti ini. Di sana semua orang mengemudikan mobilnya di sebelah kiri.” Eldo mendapati kepanikan tersirat pada wajah gadis yang duduk di sampingnya. “Tapi jangan khawatir, aku cukup lihai dalam menyetir.” Eldo tersenyum menenangkan.
Tidak ada sepuluh menit perjalanan, mereka berhenti di samping sebuah kafe yang terlihat memanjakan mata. Pada area pintu depan, terdapat beberapa pohon bonsai yang berjajar rapi. Kemudian, mereka melangkah masuk. Adeline memilih duduk pada bagian dari kafe tersebut, di mana akan membuat mereka nyaman. Sejauh mata memandang, banyak bunga anggrek tergantung di sekitar tempat mereka berada. Adeline sengaja memilih duduk pada ruangan terbuka. Angin berhembus, gemericik air terjun buatan, serta warna-warni bunga membuat hatinya merasa tenang. Adeline dan Eldo duduk berdampingan di sebuah gubuk bambu kecil yang beralaskan karpet hijau dengan meja yang tidak terlalu lebar.
“Iya, lagi sibuk sama kuliah nih,” jawab Adeline.
Eldo menatap Adeline dan pelayan tersebut secara bergantian, lantas menyela obrolan mereka. “Mana yang enak di sini? Aku tidak mau yang berat-berat, pilihkan makanan yang ringan saja.” Eldo melirik selembar kertas tebal yang berada di tangan Adeline.
Senyum jahilnya mengambang. “Mau coba spageti mercon? Cukup berat sih, tapi lumayan rasanya.” Adeline menunjuk pada sebuah tulisan di daftar menu.
“Mercon?” Sepiring spageti dengan beberapa petasan yang mengiasi, terlintas dalam pikiran Eldo.
“Sudah coba saja, dijamin enak.” Bujuk rayu Adeline dengan sedikit menyipitkan mata. Kemudian Eldo menggangguk pasrah. “Spageti mercon dua, sosis satu porsi, dan french fries-nya juga satu porsi.” Adeline kembali memilah pada menu yang terpampang. “Minumnya, aku mau jus alpukat. Kamu?” Menengok pada wajah Eldo.”
“Samain saja!” pinta Eldo.
“Ah iya! Aku lupa, tambahkan air putih dua gelas ya, mas!” Adeline tersenyum dan meyerahkan kembali daftar menu kepada pelayan kafe tersebut.
“Air putih? Buat apa? Bukankah sudah ada alpukat?” Dahi Eldo mengkerut dan senyum pelayan menyertainya.
“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Adeline. Kemudian, pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua.
Eldo memperhatikan senyum yang terus saja mengambang di wajah Adeline. “Sepertinya, kamu sangat mengenal tempat ini?”
__ADS_1
“Aku cukup sering ke sini,” ujar Adeline.
“Dengan siapa? Pacar, ya?” Eldo meyelidik.
Adeline terdiam dan sesekali menghela napas. “Sudah mantan.” Wajahnya berbalut muram.
Eldo yakin pria yang terlibat dalam perselisihan yang ia saksikan, merupakan mantan yang Adeline maksudkan. Namun, ia tidak mau memperpanjang kesedihan wanita yang saat ini bersamanya. Meskipun ia ingin sekali mengetahui asal muasal perdebatan sengit itu, tetapi tampaknya ini bukan waktu yang tepat. Adeline yang dikenalnya selama satu tahun adalah sosok yang selalu ceria dalam keadaan seperti apa pun, jika gadis tersebut menunjukan wajah yang mengenaskan seperti ini, berarti ada masalah besar yang sedang menari-nari melilitkan jerat permasalahan rumit pada hidupnya.
Adeline menikmati suasana alam buatan yang sangat menghibur, dengan tanpa sedikit pun mengindahkan sorot mata Eldo yang sejak dari tadi terpaku padanya. Kafe tersebut memang menjadi tempat istimewa bagi Adeline. meskipun makanannya enak dan tempatnya menakjubkan, namun tidak terlalu ramai untuk beberapa waktu, hanya di jam-jam makan saja tempat ini akan penuh.
Eldo kembali membuka suara. “Apa kamu sudah mengingatku dengan sangat jelas?”
Adeline mengasah kembali otaknya dan membongkar peti kenangan yang telah ia kunci. “Aku tahu, Fareldo, itu nama Kakak yang sebenarnya.” Adeline kembali teringat saat pertama kali diperkenalkan Dicky dengan salah satu kakak kelasnya. “Tetapi dulu, tidak ada yang memanggil Kakak dengan sebutan Eldo.”
“Sebenarnya Eldo itu sebutan kecil keluarga padaku. Memang aku tidak pernah memakai nama itu untuk berkenalan. Tetapi ternyata di Swiss, semua temanku juga menancapkan panggilan Eldo, meskipun di setiap perkenalan tidak pernah sekali pun aku memangkas nama.”
“Swiss?!” Adeline terkejut. “Jadi, selama ini Kakak di luar negeri?”
“Iya, gara-gara kamu!” Eldo tersenyum sambil memandang gadis yang tersentak kaget di sampingnya.
“Kenapa aku yang dijadikan alasan?” gerutu Adeline.
Eldo mengalihkan pandangannya ke alam bebas. “Kamu masih ingat Nenekku? Beliau sangat tidak suka aku berhubungan dengan gadis yang tidak setara. Ia menginginkan pasangan cucunya itu merupakan pewaris dari usaha orang tuanya. Gak perlu besar, yang penting ada perusahaan yang dimiliki keluarga mereka.” Ia kembali mengawasi sorot mata Adeline. “Karena bujuk rayu Nenek yang mematikan, Papa dan Mama membuangku ke luar negeri setelah kelulusan SMA. Nenek tidak ingin hubungan kita berkembang menjadi lebih jauh lagi.”
Kekecewaan mewarnai raut muka Adeline. “Jadi, kenapa kamu kembali ke Indonesia?”
“Nenek meninggal beberapa bulan yang lalu. Kemudian, kami sekeluarga menetap di Semarang.” Eldo menjelaskan.
“Aku turut berduka atas meninggalnya Nenekmu.” Adeline menatap sedih pada paras tampan laki-laki yang saat ini duduk sangat dekat dengannya.
“Hhmm, terima kasih.”
Mereka terdiam untuk sejenak. “Kenapa kamu ingin menjadi dosen di kampusku?” celetuk Adeline mencairkan suasana.
Eldo menggaruk alisnya yang tidak gatal. “Sebenarnya aku tidak ada pikiran untuk menjadi dosen. Hanya saja beberapa waktu lalu, teman Papa berkunjung ke rumah kami. Papa terlalu membangga-banggakan aku di depan temannya tersebut. Beliau menceritakan prestasi serta kepiawaianku, sehingga terpilih sebagai asisten dosen di kampusku.” Eldo membuang napasnya. “Dan kebetulan, salah satu dosen di kampusmu pensiun, jadi teman Papa menawariku menggatikan dosen tersebut.”
“Kalau tidak suka, kenapa kamu menerimanya? Kamu bisa menolak tawaran tersebut,” sanggah Adeline.
“Papa sudah terlanjur mengiyakan, beliau malu jika tidak menepatinya. Aku juga tidak ingin Papa merasa seperti itu terhadap temannya.” Tatapan Eldo terasa mesra. “Lagipula ini suatu keberuntungan untukku bisa menemukanmu di sini.”
Adeline dan Eldo saling bertatapan dalam keheningan. Mereka terhanyut dalam pusaran kenangan masa lalu. Di mana puing-puing cinta monyet mulai menyembur keluar dan perasaan mereka pada saat itu kembali terjalin. Lagipula nenek Eldo sudah tiada, seandainya mereka ingin kembali, tentunya tidak ada lagi yang menjadi penghalang. Tetapi, Adeline terlanjur terbelit problemanya sendiri. Jika benar Adeline dan Eldo akan memulai lagi mengurai benang yang telah kusut menjadi rajutan yang indah, tentu saja permasalahan tersebut pasti akan menimbulkan banyak sekali rintangan untuk mereka.
__ADS_1