Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 18. Kecurigaan Dicky


__ADS_3

Dicky merasa gusar menunggu Adeline keluar dari dalam kos. Ia mengira gadis itu masih marah padanya. Sesaat kemudian, yang ditunggunya tersebut muncul bersama salah seorang teman wanita. “Del!!” panggilnya.


Adeline masih merasa enggan untuk bertatap muka dengan Dicky. Namun, ketika ia hendak berbalik masuk, pria itu dengan sigap menghadangnya. “Minggir?!” Suara lantang gadis ini telah membuat beberapa orang yang tidak jauh darinya, sejenak memalingkan muka. Adeline tidak ingin menjadi pusat perhatian dari anak-anak kos. Ia sangat tahu pasti, bahwa di tempatnya tinggal saat ini, dinding memang bertelinga.


“S-sebentar! Tunggu dulu, Del! Dengarkan aku, sedetik saja!” Dicky segera mengikuti Adeline yang melangkahkan kaki, tanpa ia tahu arah yang dituju gadis itu.


“Wanita muda yang saat ini bersama dengan Adeline, sepertinya mulai menampakkan raut wajah tidak enak hati. “Del, aku duluan ya? Bye, Dic!” ujarnya, lantas berlalu pergi.


“Ratna?” gumamnya. Kemudian, Dicky mengangkat salah satu tangan sambil tersenyum. Selanjutnya, ia kembali beralih pada gadis yang menjadi pusat perhatiannya. “Jangan marah padaku! Aku sama sekali tidak berniat membantu Eldo,” Ia mengiba. Ayolah, Del! Jangan seperti ini padaku!”


Adeline tetap tidak mengindahkan perkataan Dicky. Perutnya yang keroncongan terdengar lebih merdu di telinga, dari pada suara laki-laki yang mengikutinya. Gadis ini terus saja berjalan menuju warung tempat biasa ia makan.


“Del! Kamu tidak mendengarkanku?!” Dicky menarik lengan sepupunya.


Gerak kaki Adeline terhenti. “Lepasin enggak?!” sentaknya.


“Enggak akan! Sebelum kamu mengiyakan untuk bersedia mendengarkanku, maka tanganmu akan terus aku tahan.” Dicky merasa sedikit kesal. Ia menatap gadis tersebut tanpa berkedip untuk beberapa saat.


“Aku lapar!” sergahnya. Kemudian, ia berusaha melepaskan lengannya.


“Aku ikut! Kita bisa bicara sambil makan.” Dicky membiarkan tangan Adeline terlepas, lantas mengekor pada gadis itu pergi.


Kedua kaki Adeline terhenti pada sebuah bangunan tembok sederhana, bercat putih kusam. Di warung itulah, gadis ini selalu mengisi perutnya. Kemudian, ia masuk dengan diikuti oleh langkah Dicky di belakangnya. “Bu!! Biasa, rames lengkap tanpa sambal!” pesannya.


“Pakai Ayam atau telur, Mbak?” tanya wanita setengah tua, di mana rambutnya terlihat sudah dihiasi uban yang tampak mencuat tidak rapi.


Adeline melirik beberapa mangkuk berjajar berisi lauk yang terletak pada kotak kaca. Terpampang dengan sangat jelas, menu penggoda selera. “Telur balado saja, Bu!” pintanya.


“Mas Dicky, gimana?”


“Samain saja deh!” ujar Dicky.


“Tumben Mas, gak makan rawonnya Ibu?” Wanita pemilik warung bertanya sambil membuatkan pesanan Adeline.


“Bosan ah, Bu. Makan daging terus bisa bikin darah tinggi!” Dicky berkata dengan senyum mengambang, sambil duduk sembarangan pada kursi yang berhadapan dengan gadis yang datang bersama dengannya.


“Ada-ada saja Mas Dicky ini. Yang bikin darah tinggi itu ditagih utang, tapi tidak mau bayar.” Wanita bercelemek, melirik salah satu pelanggannya yang tampak tersedak makanan.


Beberapa laki-laki yang duduk bersama dengan pelanggan yang dimaksud oleh pemilik warung tersebut, sontak serempak tertawa mengejek. Sedangkan seluruh penghuni warung, seketika menoleh pada pria muda itu.


“Wah-Wah! Saya gak pernah ninggalin utang loh, Bu!” Kedua alis Dicky terangkat.


“Kalau semua pembeli seperti kamu, Ibu bisa kaya mendadak. Lumayan, jika kembalian dua ribu sampai lima ribu dikalikan dengan seluruh pembeli yang datang. Besok pasti langsung ada mobil mewah yang parkir di depan warung.” Ia terkekeh sambil meletakkan pesanan Adeline dan Dicky di atas meja. “Silakan dimakan, Mas!" tuturnya.


“Mobil pelanggan ya, Bu?!” Dicky terkekeh mengimbangi gurauannya.

__ADS_1


“Mas Dicky ini bisa saja.” Ibu pemilik warung mengusap rambut kebelakang, agar tampak lebih rapi.


“Kali ini gratis ya, Bu?” Dicky menyeringai.


Wanita gemuk itu mengerti, bahwa pelanggan tetapnya tersebut sedang berkelakar dengannya. Kemudian ia tersenyum kepada Dicky, lantas bergegas menghampiri beberapa meja kosong. Ia mengambil piring dan gelas kotor yang telah ditinggalkan begitu saja oleh pembeli.


Dicky memperhatikan area sekitarnya yang terlihat sepi pengunjung. Selanjutnya, ia memastikan keberadaan ibu pemilik warung yang sudah benar-benar menjauh. “Aku dengar kamu sering muntah-mutah? Kenapa?”


Adeline tersedak makanan yang sudah berada di ambang kerongkongan. “Kata siapa?” Ia melihat sekeliling. Kemudian batuk berapa kali, karena lehernya yang terasa mengganjal.


“Ada deh pokoknya. Kamu gak perlu tahu.” Dicky memperhatikan Adeline dengan sangat serius. “Benar apa gak?”


“Aku sedang gak enak badan. Mungkin terlalu mikir skripsi, jadi gak mikirin kondisi badan,” Adeline berusaha berkilah.


“Pantas saja, dua hari ini aku gak melihatmu di kampus. Tapi, skripsi baru saja menginjak judul? Mana mungkin sepusing itu? Sampai-sampai membuatmu jatuh sakit.” Dicky mulai curiga.


“Aku masih bingung mengenai tema yang mesti kuambil,” Adeline berujar.


“Siapa dosen pembimbingmu?” Dicky mulai memasukkan suapan pertamanya.


“Itu masalahnya,” melepaskan sendok dari tangan dan mengambil beberapa gorengan. “Bu! Es teh satu! Cepat ya!” serunya.


“Aku juga sama!” Dicky menimpali. “Jadi, siapa pembimbingmu?” Ia mengambil beberapa kerupuk udang yang terbungkus plastik kecil.


“Eldo?!” Dicky terhenyak dengan sendok penuh nasi masih melayang di depan mulut.


“Hhmm ….” Adeline mengiyakan.


“Bagus dong! Sekalian saja, suruh dia buatin skripsimu! Aku yakin, Eldo pasti tidak akan bisa menolak permintaanmu.” Dicky menyobek plastik pembungkus kerupuk, kemudian memakannya beberapa. Namun dalam hati ia bersuara, aku khawatir, jika kamu akan kembali jatuh kepelukannya.


“Aku masih malas melihatnya saat ini.” Adeline menyingkirkan piring yang mana terdapat tumpukan nasi bersemayam mubazir, yang tidak habis dimakannya. “Denganmu juga sama saja.” Liriknya sinis.


“Iya, aku minta maaf. Tapi, aku sungguh tidak bermaksud menipumu. Aku hanya tidak ingin keluargamu mengalami situasi yang jauh lebih buruk dari waktu itu.” Dicky memaparkan niat baiknya. “Kamu sendiri mengerti, seperti apa keadaan saat itu?”


“Aku tahu. Jika tidak ada keluargamu, maka kami pasti akan jadi gelandangan. Maka dari itu, aku tidak mungkin bisa menyalahkanmu. Hanya saja sedikit kecewa, karena kalian membohongiku. Kamu juga terus saja membiarkanku bertanya ke sana-sini mencari keberadaan Kak Farel.” Adeline membiarkan kepalanya bertopang pada meja. Ia kembali merasakan serangan tidak enak badan secara tiba-tiba. Kepalanya mulai terasa pening.


“Maafkan–”


“Huek, huek,” memijat perlahan leher dengan tangan, “huek!” Isi perut Adeline seakan ingin keluar, namun terasa tertahan di tenggorokan.


Dicky merasa panik. “B-bu! Bikinin teh hangat! Cepat ya!” teriaknya.


“I-iya, Mas!” Wanita pemilik warung dengan segera membuatkan pesanan Dicky. Kemudian ia bergegas menuju meja mereka, dengan membawa dua gelas es teh dan juga segelas teh hangat.


Dicky mengambil gelas berisi teh hangat yang telah diletakkan di atas meja, oleh wanita setengah tua itu. Tidak berselang lama, ia langsung meminumkannya kepada Adeline. Ia merasa sangat cemas melihat wajah gadis yang bersamanya, tiba-tiba saja berubah menjadi pucat. Laki-laki ini mulai mempercayai prasangka Sonia yang beberapa hari lalu di dengarnya.

__ADS_1


“Mbak Adel kenapa, Mas?” Wanita gendut itu mendaratkan dua gelas yang tersisa ke atas meja yang sama.


“Biasa, Bu! Seperti inilah yang terjadi, kalau anak kuliahan terlalu keras memikirkan skripsi. Sampai-sampai, sakit saja gak dirasain.” Dicky berusaha beralasan, agar pemilik warung dan beberapa orang yang melihat, tidak berpikir buruk tentang gadis yang saat ini terkulai lemas.


“Apa mau Ibu kerokin, Mbak? Siapa tahu masuk angin?” Wanita gimbul itu menawarkan bantuannya.


“T-terima kasih, tapi saya sama sekali gak terbiasa seperti itu. Lagipula, sudah ada obat di kos kok, Bu.” Adeline menolak kebaikkan hati wanita tersebut.


“Mungkin saja, ini karena Vertigo-nya kumat. Nanti kalau sudah baikkan, akan saya antar pulang.” Dicky menyunggingkan senyumnya yang rancu.


Tanpa berujar sepatah kata pun, pemilik warung tersebut berlari kecil meninggalkan mereka berdua.


Dicky hanya bisa tertegun menatap wanita setengah tua itu menghilang dari jarak pandangnya. “Kamu tidak apa-apa?” Kekhawatiran masih terlihat sangat jelas di wajahnya.


Adeline mengambil gelas teh hangat yang masih tersisa setengah di dalamnya. Kemudian, ia meminumnya kembali. “Aku sudah mendingan,” jawabnya.


“Apa aku perlu mengantarmu ke dokter?” Dicky merasa cemas.


“Jangan!” sentaknya. “T-tidak, tidak perlu. Aku sudah beli obat di apotek kemarin.” Adeline merasa takut, jika kehamilannya akan diketahui oleh Dicky. Ia merasakan kecemasan, andaikan saja kemalangan yang menimpa sampai terdengar oleh kedua orang tuanya.


wanita buntal kembali terlihat berlari menuju ke tempat Dicky dan Adeline berada. “Ini,” terengah, “minyak kayu putih, pakai saja! Gosok ke perut dan leher, biar agak mendingan!” sarannya.


“Bu, ramesnya satu!” Seorang pembeli menatap pemilik warung, lantas duduk pada meja yang berada di ujung.


“Iya, tunggu sebentar!” teriak wanita berperut buncit itu. “Nanti kalau butuh sesuatu, panggil saja Ibu!” pintanya, sambil meletakkan benda yang ia bawa ke atas meja.


“Iya, Bu. Terima kasih.” Dicky membuka penutup minyak. “Pakai ini, Del!” perintahnya.


Adeline menuangkan beberapa tetes ke telapak tangan. Selanjutnya, ia mengusapkan merata pada perut, dada, dan juga leher. Ia juga menempatkan sisa-sisa cairan berbau mint tersebut, pada sudut-sudut kening, serta hidungnya. “Aku mau balik saja ke kos.” Gadis ini berusaha berdiri.


“Apa kamu akan baik-baik saja berjalan dengan keadaan seperti ini?” Dicky memegangi lengan Adeline yang masih terlihat sempoyongan. “Kamu tunggu saja sebentar di sini! Aku akan mengambil motorku,” Ia menganjurkan.


Kemudian, Dicky segera menemui pemilik warung. “Berapa, Bu? Nasi rames dua, kerupuk tiga, gorengan dua.”


“Dua puluh ribu saja, Mas,” ujarnya.


“Minumnya lupa dihitung,” Dicky menambahkan.


“Gratis, gak perlu bayar.” Wanita itu menyentuh lengan Dicky. “Mbak Adel gimana? Mau ditinggal begitu saja? Jangan! Kasian, Mas.”


“Enggak kok, saya mau ambil motor dulu. Adel gak mungkin kuat jalan dengan kondisi lemas seperti itu.” Dicky mengikuti sasaran pandang wanita tersebut. Kemudian, ia mengambil uang di dalam dompet dan menyerahkannya. “Sekalian titip Adel ya, Bu! Saya hanya sebentar, gak akan lama,” pintanya.


“Kembaliannya, mas?” teriak wanita itu dengan mengayun-ayunkan selembar sepuluh ribuan dan selembar dua puluh ribuan.


“Simpan saja!” Dicky berkata sambil berlari meninggalkan tempat tersebut. Ia bergegas mempersingkat waktu. Ia segera menuju tempat kosnya, yang terletak tidak jauh dari warung tersebut. Ia tidak mau membuang menit-menit yang berjalan, ketika meninggalkan gadis yang dicintainya tergeletak sendirian di tempat itu. Laki-laki ini tidak ingin Adeline terlalu lama menjadi pusat perhatian semua mata.

__ADS_1


__ADS_2