Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 23. Kebaikan Hati


__ADS_3

Dengan kecepatan kuda hitam yang stabil, Dicky dan Adeline membelah angin yang berhembus perlahan. Mereka berdua terdengar sepi pada jalanan yang sangat ramai.


Dicky selalu saja tidak tahan, jika harus berlama-lama mengunci kata, dan akhirnya ia bersuara, “kenapa kamu diam saja?”


“Apa?” Adeline tidak terlalu mendengarkan.


“Apa suaramu mahal?!” Dicky mengeraskan vokalnya.


“Gak!!” balas Adeline singkat.


“Terus, kenapa gak ngomong?!” Dicky menepikan kendaraan. “Hai, Bocah!!”


Seorang anak kecil terpaku menatap ke arah suara laki-laki yang memanggilnya. Tidak berselang lama, ia berlari menghampiri Dicky. “Lama gak kelihatan, Bang?” Laki-laki kecil tersebut memperhatikan Adeline. “Sudah punya pacar ternyata. Pantas saja sudah jarang nengokkin kita-kita di sini.”


“Kamu ada-ada saja.” Dicky tertawa sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. “Ah iya! Acil, ini Mbak Adel, saudara Bang Dicky.”


Adeline dan anak kecil tersebut saling bertatapan. Ada secuil sorot tidak suka yang dipancarkan oleh bocah cilik tersebut. Kemudian gadis itu mengulurkan tangan tanda perkenalan, sementara Acil seketika menggapitkan kedua tangannya di ketiak.


“Dia tidak suka padaku,” bisik Adeline perlahan pada telinga kiri Dicky.


“Gak mungkin. lagipula kalian belum pernah bertemu, masa tiba-tiba berpikiran buruk pada anak ini. Jangan seperti itu, gak baik!” sangkal Dicky.


“Aku tidak suka anak-anak. Kenapa kamu bawa aku ke tempat kumuh ini?” ujar Adeline dengan suara perlahan sembari memperhatikan banyak sampah yang berserakan di sekitar tempat pemukiman.


“Mulai sekarang kamu harus dan wajib untuk berubah. Belajarlah agar bisa menyukai anak kecil!” jawab Dicky senada.


“Teman-teman!!” teriak Acil, seraya memastikan keberadaan anak kecil lainnya. “Bang Dicky datang nih!!” Ia mengimbuhkan.


“Iya! Benar, Bang Dicky tuh.” Salah seorang anak perempuan dengan bayi yang di gendongnya, di kejauhan tampak tertawa senang.


Kemudian, beberapa anak segera berlari untuk mendapatkan Dicky. Lantas gadis perempuan berkerudung sedikit berantakan tersebut, menyusul dengan langkah pendeknya.


Dicky tertawa sambil melambaikan tangan menyambut mereka semua. Ia sudah rindu dengan anak-anak tersebut sejak beberapa hari yang lalu. Namun karena terlalu sibuk memperhatikan Adeline, maka ia tidak bisa dengan segera menginjakkan kaki ke area pemukiman yang sebagian besar penduduk bekerja sebagai seorang pemulung. “Sudah lama Abang tidak melihat kalian.” Ia mengusak-asik rambut beberapa anak yang mengitarinya.


“Iya, gara-gara punya pacar sekarang,” celetuk Acil dengan mulut manyun.


Serentak semua mata menatap sinis pada gadis yang datang bersama seorang laki-laki, yang sepertinya sangat diagung-agungkan oleh anak-anak di tempat tersebut.


“Jangan dengarin Acil!” Gadis kecil yang tiba lebih lambat, menarik perhatian semua mata yang sedang berbenturan. “Mbak gak perlu perdulikan kata-kata Acil. Dia memang selalu seenaknya sendiri.” Ia tersenyum pada Adeline. “Kalian juga!” Ia terkesan seperti seorang pemimpin yang tidak bisa diremehkan.


“Ini dia!” Dicky terpingkal. “Semua anak selalu tidak berani membantah, jika Runi yang bicara.”


“Dia kaya macan!” sergah Acil melengoskan muka.

__ADS_1


“Soalnya kalau gak digalakkin, mereka bisa ngelunjak, Bang.” Pandangan matanya beralih pada gadis yang bersama Dicky. “Mbak cantik ini sepertinya baik. Bang Dicky gak salah pilih pacar. Aku, Seruni.” Gadis kecil itu memperkenalkan diri.


Adeline membalas senyuman Seruni. “Panggil saja, Mbak Adel.” Ia memperhatikan anak-anak kecil bermuka cemong lusuh yang berusia sekitar enam hingga sepuluh tahunan.


Dicky berjongkok dengan kedua tangan bertopang pada kedua bahu seorang perempuan kecil penggendong bayi. “Di mana Ibumu?”


“Di sana! Dia lagi jemur cucian.” Seruni menunjuk ke arah seorang paruh baya yang berada sangat dekat dengan sebuah pohon besar.


“Runi bisa bantu Abang?” Dicky menatap tersenyum.


“Hhmm,” Seruni mengangguk.


Kemudian, Dicky mengambil bayi yang berada di tangan Seruni. “Bantu dia bawa ini.” Ia menyerahkannya pada Adeline.


“T-tapi, aku gak terbiasa gendong bayi.” Dengan panik, Adeline mendekap bayi tersebut.


“Biasakan!” pinta Dicky singkat dengan sorot mata serius membuat Adeline terdiam. lalu ia mulai berbisik di telinga Seruni dan kembali menatap gadis yang datang bersama dengannya. “Aku ada urusan sebentar. jadi, sementara kamu bisa ikut Runi!” perintahnya.


“Tapi Dic, aku tidak kenal mereka.” Adeline merasa asing dengan tempat yang baru dipijaknya.


“Aku kenal baik dengan mereka. Hampir semua orang yang ada di lokasi ini juga mengenaliku. Jadi, kamu tenang saja dan gak perlu mikir yang aneh-aneh,” bujuk Dicky, lantas kembali menatap gadis kecil yang tampak terbengong. “Seruni, Abang titip Mbak Adel ya!” pintanya.


“Siap komandan!” Seruni meletakkan jari di pelipis menirukan seorang prajurit yang hormat pada seorang jenderal besar.


Kemudian Dicky menepuk pundak Adeline, lantas berlalu pergi dengan diikuti segerombolan anak-anak kumuh.


“Sejak kapan Runi kenal sama Bang Dicky?” Adeline mulai membuka obrolan.


“Saat Runi masuk SD,” jawab gadis itu singkat.


“Memang sekarang, umur Runi berapa?” Adeline memperbaiki posisi menggendongnya yang mulai tidak nyaman.


“Berapa ya? terdiam sejenak, “mungkin sembilan tahun,” Seruni merasa tidak yakin dengan jawabannya.


“Sekarang Runi kelas berapa?” tanya Adeline.


“Sudah gak sekolah, sejak Bapak meninggal. jadi kalau Ibu kerja, Runi sekarang yang jagain Adik di rumah.”


“Maaf ya, Mbak Adel gak tahu, kalau Bapaknya Runi sudah meninggal.” Adeline merasa menyesal telah memulai pembicaraan tersebut.


“Tidak apa-apa, Mbak. Ibu selalu bilang padaku, bahwa Allah lebih cinta sama Bapak dari pada kita. Jadi, Allah yang lebih berhak bersama Bapak. Sekarang Runi dan Ibu cukup mendoakan bapak, agar Bapak gak lupa sama kita yang belum bisa nyusulin Bapak ke sana.” Runi memalingkan wajah dan menyuguhkan senyum yang menyejukkan mata. “Lagian, suatu saat Runi, Ibu, dan Bapak, pasti bisa kumpul kembali. Eh lupa, sama bayi kecil ini juga.” Ia menyentuh ujung kaki adiknya.


Adeline sama sekali tidak menyangka, bahwa anak seusia Seruni bisa berlapang dada menerima kepergian orang tua seperti itu. Rasa suka terhadap gadis kecil tersebut, mulai merengkuh hatinya saat ini. Ia merasa takjub dengan pemikiran dewasa yang tercetus oleh gadis sekecil Seruni.

__ADS_1


Selanjutnya, sampailah mereka pada sebuah pohon besar yang menyegarkan. Hembusan angin seketika dapat mengusir penat tubuh yang menjalar. Meskipun udaranya tidak begitu bagus dengan sampah bertebaran di mana mana, namun pohon ini cukup nyaman untuk tempat melabuhkan kaki.


“Ibu, Ibu!” teriak Seruni.


“Siapa dia, Nduk?” tanya seorang wanita paruh baya, sembari menatap Adeline.


“Tadi ada Bang Dicky. Terus dia suruh Runi sampaikan pesannya ke Ibu,” celoteh Runi.


“Tumben Bang Dicky datang, tapi gak nemuin Ibu dulu. Wah, Ibu wajib protes ini,” Ibu Seruni sedikit berkelakar.


“Begini, Bu.” Seruni berkacak pinggang. “Bang Dicky bilang, ‘Mak Darni, saya mau ketemu Pak RT. Jadi saya titip gadis bernama Adel, yang saat ini bersama Runi. Kalau sampai ada yang hilang, meski cuma hidungnya sekalipun, maka saya gak akan mau ketemu sama Mak Darni lagi’, begitu kata Bang Dicky. Sekarang Runi sudah selesai jadi pengantar pesan. Runi mau nyusulin Bang Dicky dulu ya, Bu.”


“Iya, bilang sama Bang Dicky. Kalau hidungnya lepas, nanti Ibu kasih lem perekat super!” teriaknya mengiringi Seruni yang sudah berlari. Lantas, tawa Mak Darni berkumandang bersahutan dengan gadis yang dititipkan kepadanya.


Adeline yang tidak terbiasa menggendong bayi, kembali membetulkan posisi bocah tersebut yang terasa melorot.


Sedangkan Mak Darni tampak memperhatikan. “Belum pernah gendong bayi ya, Mbak?” Ia tersenyum sembari mengambil anaknya dari dekapan Adeline.


“Sudah pernah, Bu. Tapi hanya sekali, dan yang saya gendong juga lebih besar dari anak ibu. Jadi saya masih merasa takut, kalau anak ini sampai kenapa-kenapa.” Adeline meluruskan pakaiannya yang terlihat kisut.


“Anak Ibu yang ganteng.” Mak Darni menimang-nimang bayinya. Kemudian, ia beralih pada Adeline. “Panggil saja Mak Darni, seperti Bang Dicky biasa panggil saya,” pintanya.


“Sejak kapan Ibu ... Mak Darni mengenal Dicky?” Adeline mulai mencari obat untuk rasa penasarannya.


“Sudah lama sekali, Mbak. Hampir tiga tahun yang lalu.” Mak Darni duduk di atas akar besar yang menyembul keluar dari dalam tanah. “Runi yang membawanya ke sini. Sejak itu, dia menjadi berkah untuk sebagian anak-anak di tempat ini.” Ia mulai menyusui bayinya.


“Bagaimana Runi bisa mengenalnya?” tanya Adeline menyelidik.


“Saat itu kaki Runi terserempet motor milik Bang Dicky. Dengan sangat bertanggung jawab, dia membawanya berobat ke rumah sakit, kemudian mengantarkannya pulang.” Mak Darni mulai membongkar kenangannya. “Sebenarnya Kang Darno sangat marah dengan melihat kaki anaknya dibalut perban tebal saat itu. Namun, Bang Dicky sungguh memohon dan bersedia melakukan apa pun untuk kesembuhan anak kami. Jadi, kami memaafkan perbuatannya.”


“Jadi, Dicky yang menanggung biaya pengobatan Runi?” Adeline bertanya sambil menggoda-goda bayi yang saat ini meliriknya.


“Semuanya, termasuk membawa mobil untuk mengirim Runi menjalani perawatan ke rumah sakit. Dia juga mengantar anak saya ke sekolah dan menjemputnya pulang ke rumah.” Mak Darni terlihat sedih. “Saat ini saya terlalu banyak berhutang sama Bang Dicky. Setahun setelah kecelakaan yang menimpa Runi, mendadak Kang Darno meninggal dengan hutang yang sangat banyak. Ternyata suami saya itu penggila judi. Seminggu setelah kepergian Bapaknya Runi, saat itu rentenir mengobrak-abrik rumah saya. Karena pemilik kontrakan yang ketakutan, jika nanti akan terjadi sesuatu yang buruk dengan rumahnya, maka kami diusir saat itu juga. Tapi ketika itu, kebetulan sekali ada Bang Dicky di sini. Dia meyakinkan mereka, bahwa ia bersedia menanggung semuanya. Bahkan, dia sampai menjual mobil untuk melunasi utang Kang Darno. Kemudian, sisanya untuk membeli rumah kecil kami.” Mak Darni menghela napas. “Entah kapan saya bisa membalas kebaikannya Bang Dicky?”


Adeline tidak pernah menyangka, bahwa saudaranya bisa sedermawan itu. “Jadi karena itu, Runi terlihat sangat dekat dengan Dicky. Tapi saya perhatikan, anak-anak lain juga tidak kalah dekat denganya.”


Mak Darni tersenyum. “Bang Dicky itu ibarat seorang malaikat bagi mereka. Dia membantu biaya untuk beberapa anak yang sangat berkeras hati untuk tetap bersekolah, padahal keluarga mereka tidak mampu.”


“Tetapi, kenapa Runi...?”


“Berhenti sekolah? Apa itu yang ingin Mbak Adel tanyakan?” Mak Darni terkekeh masam dan Adeline mengangguk. “Runi sendiri yang ingin berhenti sekolah. Anak itu tidak tega melihat Ibunya kerepotan kerja sambil merawat adiknya yang masih bayi ini.” Wajahnya memunculkan aura kesedihan.


“Memang berat hidup yang Mak Darni jalani. tapi menurut saya, sebaiknya Runi tetap melanjutkan sekolahnya. Itu akan berguna untuk masa depannya nanti.” Adeline memperhatikan Mak Darni yang merasa sangat bersalah terhadap Runi.

__ADS_1


“Seruni itu anak yang sangat keras kepala. Jadi mungkin saya akan bisa membujuknya, ketika adiknya ini sudah dapat berjalan, bermain sendiri, dan tidak lagi membutuhkan air susu saya,” Mak Darni menyampaikan isi pikirannya selama ini.


Adeline sudah tahu Dicky sejak kecil, bahkan sejak mereka lahir di hari yang serupa. Namun, ternyata dia sama sekali tidak mengenalnya. Selama ini, Dicky yang ia ingat adalah seorang anak yang susah untuk diatur. Laki-laki itu juga selalu diunggul-unggulkan oleh orang tuanya. Bahkan, Mama tercinta telah mempercayakannya pada pria tersebut. Dia selalu merasa tidak pernah sedikit pun bisa menyukai saudara yang selalu saja dibanding-bandingkan dengan dirinya. Tapi pada akhirnya, ia melihat yang selama ini tidak bisa terlihat. Seketika itu juga, ia mulai merasa kagum dengan kebaikan hati Dicky yang telah tertangkap oleh kedua matanya.


__ADS_2