Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 15. Jadi Tumbal Pelarian


__ADS_3

Riena meninggalkan kedua laki-laki yang sedang duduk bersama dengannya sekarang. Ia berniat bergegas mengambil ponsel yang tertinggal di dalam ruangan.  Wanita ini tidak ingin kehilangan seseorang yang dianggap mampu untuk menjembatani hubungannya dengan pria yang ia cintai. Namun dengan berat hati Riena merasa, bahwa Dicky pasti akan kembali melarikan diri darinya begitu ia pergi.


Bola mata Dicky tidak sedetik pun terlepas dari gadis yang terus membuatnya terkekang. Ia bersorak dengan waktu yang terus berjalan mengiringi langkah cepat Riena yang telah meninggalkannya. Ia kemudian mulai mengangkat pinggul, ketika gadis itu telah mulai masuk ke dalam ruangan tersebut.


Eldo terus memperhatikan gerak-gerik teman sekolahnya itu, lantas senyum geli mengimbangi. Ia tidak bisa menelaah, seberapa dalam masalah yang Dicky hadapi saat ini. Menurut Eldo, gadis pemilik kafe tersebut sangat cantik dan mungkin juga sedikit agresif. Ia merasa mereka berdua sangat cocok bila disandingkan.


“D-do, aku pergi dulu. Terima kasih buat bantuannya.” Dicky mulai melangkah. “Telepon aku, jika kamu tidak sedang bersama dengannya,” pintanya. “Jangan sampai lupa ya!” Dicky menambahkan isyarat yang mana ibu jari menyentuh telinga, sedangkan jari kelingking mengarah pada mulut tebalnya. Ia tampak setengah berlari meninggalkan seorang teman yang masih merasa tertegun.


Eldo juga hendak melarikan diri mengikuti pria yang lebih dahulu keluar dari kafe. Namun ia terlambat, Riena memergokinya sedang berdiri. Kemudian, laki-laki ini berpura-pura meregangkan otot yang sama sekali tidak terasa kaku. Lantas ia bergumam, “habislah aku.”


Riena menggenggam erat ponsel yang saat ini dibawanya. Kemudian, ia segera bergabung kembali bersama dengan teman dari laki-laki yang sangat dicintainya. “Kamu bisa menyebutkan nomor kamu sekarang.” Pemilik kafe ini menyentuh layar ponsel dengan jari lentiknya. “Berapa?”


Eldo kebingungan untuk mencari alasan, sedangkan gadis yang mengaku sebagai pacar temannya tersebut, terus saja menatapnya. “Ng …” suaranya terdengar hampir seperti nyamuk yang belajar terbang. “Anu … begini,” ia kelabakan hingga tanpa sengaja mengeluarkan handphone dari dalam saku baju yang dikenakannya.


“Kenapa sekarang kamu malah jadi seperti tukang selingkuh, yang ketangkap basah sama bininya?” Riena mulai mengernyitkan dahi. “Cepat, mana nomornya?! Tadi katanya mau ngasih?”


“I-iya, ini baru mau nyalain ponsel.” Eldo menekan tombol yang berada di samping tubuh benda yang saat ini berada di tangannya. “Aku cari dulu nomorku.” Ia mencoba mengulur waktu dengan men-scroll secara perlahan.


“Kok lama? Sebenarnya, kamu ini berniat ngasih nomor ke aku apa gak?” Riena mulai merengut.


“N-niat kok, ini juga masih proses mencari. Sabar dulu ya,” ia mencoba berkilah. “N-nah, kan …!” Ponsel milik Eldo seketika mati.


“Ada apa?” Riena melongok pada benda yang sedang berada di telapak tangan Eldo.


“Mungkin saja baterainya habis,” celetuk Eldo beriringan dengan senyum kelegaan.


“Bilang saja kalau gak niat kasih nomor kamu,” sanggah Riena. Masa nomor sendiri gak hafal sih?” ia tampak bersungut-sungut.


“Aku membeli handphone ini dua hari yang lalu, begitu juga dengan nomornya,” Eldo mencoba membuat alasan.


“Masa dua hari tidak cukup buat menghafal nomor yang hanya beberapa digit angka saja? Apa kamu bodohnya keterlaluan?”


“Sialan, ini semua gara-gara Dicky. Aku sampai terlihat seperti orang bebal di depan gadis cantik seperti ini,” gumamnya.


“Bukannya menjawab, tapi malah sibuk bicara sendiri.” Riena merasa kesal.


“T-tidak seperti yang kamu kira. Aku sekarang terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan tempat kerjaku yang baru. Jadi aku belum ada waktu untuk hanya sekedar mengingat nomor, meskipun itu sangat gampang untuk melakukannya,” Eldo berusaha berkilah.

__ADS_1


“Aku tidak percaya dengan kata-katamu,” ujar Riena.


“Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Kebetulan aku ada kelas sore ini.” Eldo melihat jarum pada arlojinya dan bergegas meninggalkan gadis yang menatap dengan sinis.


Kemudian Eldo masuk ke dalam mobil, mengambil ponsel lain di dalam tas, lantas menekan beberapa angka yang telah ditinggalkan oleh temannya pada selembar tisu putih. Selanjutnya nada khas berpola mulai berbunyi mengiringi ketukan jari tangan Eldo pada setir mobil. Ia menunggu Dicky menjawab panggilannya dengan ketidaksabaran yang berlebih.


“Hallo, siapa ini?” terdengar suara renyah dengan sedikit gemuruh angin dan suara erangan motor yang mengimbanginya.


“Aku, Eldo!” ujarnya.


“Apa? Kribo?” Dicky membuat sepiker ponselnya semakin melekat pada telinga.


“Bukan Kribo!” Eldo menaikkan suaranya.


“Kribo siapa?” tanya Dicky.


“Eldo!” ia sedikit bernada tinggi.


Iya, aku dengar. Tapi, aku tidak kenal dengan orang bernama Kribo. Mungkin kamu salah nomor.” Kemudian, ia mengakhiri teleponnya.


“Dasar orang gila,” Dicky menggerutu.


Kemudian, Eldo kembali mencoba menghubungi pemilik nomor tersebut. “Anak ini benar-benar–”


Suara dari dalam ponsel mulai menyembur, “Hallo! Siapa lagi ini?!” teriak Dicky, ketika menyerahkan uang ongkos ojeknya.


“Aku, Eldo! Ini Eldo, Dic!” teriaknya dengan lantang.


“Bilang dong dari tadi! Gak perlu teriak-teriak juga! Aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas! Kamu pikir temanmu ini sudah tuli!” Dicky memperhatikan sekitarnya. “Aku tunggu kamu di taman kampus!”


“Tadi –” Sambungan telepon Eldo berakhir. “Suaraku pelan, ia salah dengar. Aku naikkan intonasinya, dia malah marah-marah,” keluhnya.


Tanpa menunggu lagi,  Eldo segera menjalankan mobil menuju ke tempat janji temu mereka. Ia ingin sekali mencaci maki Dicky yang telah menumbalkannya sebagai dalih penyelamatan diri sendiri. Selain itu, dia juga berniat meminta ganti rugi atas segala kekesalannya terhadap laki-laki yang tidak bertanggung jawab tersebut.


Sedangkan Dicky, ia tampak celingukan mencari keberadaan gadis yang ingin ditemuinya. Sebenarnya, ia merasa enggan dan malas untuk berada sangat dekat dengan gadis yang dianggapnya menjijikkan. Namun rasa penasaran mengenai hubungan wanita yang dicintainya dengan Morgan, seakan membuat bulu kuduk kembali turun untuk menghadapi gadis liar seperti Sonia. Laki-laki ini yakin, ia pasti bisa menangani seorang gadis yang mungkin akan bertingkah tidak jauh berbeda dengan sikap Riena terhadapnya.


Sepertinya Sonia menyadari, bahwa Dicky sedang memperhatikan di kejauhan. Tidak berselang lama, ia melambaikan tangan pada pria yang terus menatapnya. Gadis ini tampak sumringah, mendapati laki-laki yang selalu menjauh darinya, kini memberinya tatapan yang penuh arti. Meski pun mereka berada di tempat yang cukup jauh, namun perasaan Sonia memacu pemikirannya sendiri.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Dicky segera melangkahkan kaki ke tempat Sonia berada. Ia ingin mengetahui segala sesuatu yang sebernarmya terjadi antara Sonia, Morgan, dan juga Adeline. Laki-laki ini tidak bisa sepenuhnya percaya, bahwa gadis seperti Sonia dapat mencintai seorang laki-laki dengan tulus. Kalau wanita itu hanya sekedar bermain-main dengan Morgan yang telah mengecewakan Adeline, maka ia tidak akan tinggal diam. Gadis yang ia cintai, tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Ia tidak ingin air mata Adeline terjatuh hanya gara-gara laki-laki seperti Morgan dan juga seorang licik seperti Sonia.


“Tumben kamu tidak mengacukanku?” Sonia duduk di atas sebuah kursi taman panjang. Kemudian dengan tangkas ia menarik lengan Dicky, hingga membuat pria itu duduk bersebelahan dengannya. “Sepertinya, kita sudah lama tidak sedekat ini.” Ia menjatuhkan kepalanya ke bahu laki-laki yang berada di sampingnya, lantas mengambil tangan kiri Dicky. Ia bermaksud untuk masuk dalam pelukan laki-laki yang tampak kekar itu.


Dicky melepaskan sentuhan Sonia pada tangannya dengan sangat kasar. Pundaknya juga terangkat, sebagai tanda memberi penolakan terhadap gadis yang bertingkah genit dengannya. “Aku bukan pacarmu, jadi bersikap sewajarnya saja!” perintahnya.


“Kamu selalu saja bersikap seperti ini denganku.” Sonia melenguh. Apa tidak bisa kamu sedikit lembut terhadapku? Siapa tahu saja kita dapat saling suka?!”


“Aku rasa kamu pantas menerimanya, setelah kesalahan yang kamu perbuat kepada Adel. Lagipula, aku tidak mungkin suka dengan gadis yang sudi memungut bekas orang.” Dicky bersandar pada jajaran kayu yang menyatu dengan tempat ia duduk. “Terus terang saja, kamu sebetulnya tidak sungguh-sungguh mencintai Morgan. Aku sudah tahu itu dengan sangat pasti.”


“Maksud kamu?!”Sonia merasa tidak senang menerima hinaan yang diterimanya. “Dengar ya, Dic! Aku tidak pernah merasa telah melakukan salah terhadap saudara kamu itu.” Sonia menatap pria yang terkesan mengacuhkannya. “Apa dia mengadu yang tidak-tidak padamu? Apa Adel juga memfitnahku sebagai perebut pacarnya? Ataukah mungkin aku ini perusak hubungan mereka? Apakah seperti itu yang kamu dengar darinya? “Ia memberondong pertanyaan.


“Apa kamu yakin, kalau Adel tipe orang seperti itu?” Dicky mendengus kasar. “Bagaimana kalau terbalik?”


“Apa yang kamu maksudkan?” Sonia semakin geram.


“Bukankah kamu pemilik sebenarnya dari sifat buruk itu?” sergah Dicky.


“Kalu gadis lain yang mendengar kalimat itu keluar dari mulut kamu, mungkin semua benda sudah terbang bebas kepadamu.” Sonia tersenyum bengis. “Tidak sepantasnya laki-laki mencaci seorang gadis sepertiku.”


“Hehh … mencaci,” gumamnya. “Tidak ada gunanya aku berceloteh panjang lebar denganmu,” ujarnya. “Aku pasti akan melemparmu hingga ke dasar jurang, kalau kamu sampai berani menyentuh Adeline!” ancam Dicky kepada Sonia.


Sonia tertawa geli mendengar kalimat penekanan yang diarahkan padanya. Ia adalah tipikal gadis yang tidak pernah takut terhadap ancaman, yang dianggapnya hanya sebuah remahan tidak bermakna.“Asal kamu tahu, yang terjadi pada Adel itu bukan kesalahanku. Hubungan mereka berakhir, karena kesalahannya sendiri.”


“Maksud kamu? Aku tahu kamu hanya mengada-ada.” Dicky tersenyum ragu.


“Apa kamu sudah pernah bertanya pada Morgan mengenai ini?” Sonia melirik Dicky yang sepertinya berusaha mengulik permasalahan sepupunya. “Jangan hanya mau mendengarkan pengakuan Adel! Kamu juga harus menanyakannya pada Morgan,” sarannya.


“Kamu bisa menceritakan segala yang kamu ketahui tentang mereka kepadaku. Jadi, aku tidak perlu lagi bertemu laki-laki brengsek seperti dia,” ujar Dicky.


“Aku rasa, Morgan itu laki-laki yang baik. Tapi sangat disayangkan, Adel membuangnya begitu saja.” Sonia memainkan rambut panjangnya.


“Kamu bilang baik? Laki-laki seperti dia?” Dicky membuang napas dengan keras. “Aku tidak percaya, gadis sepertimu bisa termakan racun manisnya.” Amarah Dicky mulai naik ke ubun-ubun. “Aku beri tahu kamu, dia itu ular berbisa yang sangat mematikan. Jadi, lebih baik kamu menjauh saja darinya.” Ia memperingatkan Sonia.


“Apa kamu sekarang mengkhawatirkanku?  Lagipula, kamu masih menjadi yang pertama di hatiku. Dulu, sekarang, dan juga nanti. Semua masih akan tetap sama,” Sonia mengutarakan perasaannya.


Dicky merasa tidak bisa mempercayai ucapan Sonia begitu saja. Namun ia juga tidak memiliki bukti untuk mengatakan, bahwa segala perkataan gadis itu merupakan suatu kebohongan besar. Selain itu, Dicky tidak mungkin menanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan, mengenai perihal hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2