Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 4. Egois


__ADS_3

Di dalam kelas Adeline celingukan mencari keberadaan Morgan. Baru kali ini ia berharap Morgan tidak menampakan batang hidungnya. Padahal Ia selalu mencari sosok kekasihnya itu, jika sehari saja tidak terlihat. Gadis ini merasa takut, andaikan Morgan memaksa untuk menggugurkan bayi yang dikandungnya. Dia tidak sampai hati menghilangkan janin yang tidak berdosa. Dalam hati menyuarakan, bahwa keburukan yang ia lakukan dengan Morgan, bukan merupakan kesalahan dari makhluk kecil yang saat ini bertumbuh di perutnya.


Ketakutan yang selama ini menjadi praduga, telah terkuak di hadapan Adeline sendiri. Gadis ini tidak pernah menyangka, Morgan yang selama ini dipuja, ternyata tega menjadikan kehamilan sebagai selimut hitam untuk masa depan nanti. Lelaki yang berjanji akan bertanggung jawab untuk segalanya, sekarang ingkar dengan semudah itu. Mereka yang melakukan perbuatan terlarang, maka mereka juga yang harus menanggung segala dampak yang akan terjadi. Gadis ini tidak ingin mengakhiri hubungan dengan kekasihnya, namun ia juga tidak ingin mengikuti keinginan gila tersebut.


“Del!” Morgan menghampiri Adeline.


“Kamu yang duduk di atas meja saya, mau gantiin ngajar?” Dosen tiba-tiba masuk dan menegur salah seorang mahasiswa.


Morgan celingukan mencari tempat duduk. “Nanti kita bahas lagi yang kemarin.” Suara Morgan hampir tidak terdengar.


Adeline bisa merasa sedikit lega, karena semua kursi yang berada dekat dengan tempat duduknya, ternyata sudah penuh semua. Setidaknya untuk beberapa waktu, Morgan bisa berada sedikit jauh darinya. Kalau saja tidak ada tugas penting yang harus diserahkan pada dosen, maka ia lebih baik tetap berada di kampus. Gadis ini benar-benar tidak punya keberanian untuk menggugurkan janin yang dikandungnya.


Sangat jauh berbeda dengan Morgan, egonya yang sangat tinggi membuat laki-laki itu dengan seenaknya mengambil keputusan sepihak.


Perasaan dan isi otak Adeline saat ini dipenuhi dengan khayalan yang tidak jelas. Ia membayangkan perut yang dipijat seperti cerita-cerita horror yang akan merenggut nyawa ibu dan bayinya. Dia berkhayal bergentayangan dan membalas dendam kepada Morgan atas segala yang ia diterima. Sesuatu yang tidak masuk akal memnuhi pikiran. Namun saat tersadar, sesekali ia membiarkan matanya menatap dosen yang sedang menerangkan sesuatu. Tetapi tidak berselang lama, imajinasinya kembali melayang. Pada realita yang terjadi, pengumuman yang diberikan dosen pengajar kali ini hanya keluar masuk kedua telinganya. Ia terus saja seperti itu selama kelas tersebut berlangsung.


“Adel!” masih terdiam dan pria yang duduk tidak terlalu jauh melempar bolpoin tepat mengenai kepala Adeline. Kemudian, keterkejutan sasaran mencuat.


“Apaan, sih!!” Adeline menekuk wajah.


“Ngelamun saja, dipanggil dosen tuh!” Timpal gadis yang duduk di belakang Adeline.


Adeline panik dan segera mengalihkan pandangannya pada dosen yang berjalan mendekat. “I-Iya, Pak?!”


“Iya, iya! Baru sekarang kamu menyahut. Sudah jontor mulut bapak panggil kamu.” Suara dosen tenggelam oleh riuhnya penghuni kelas tersebut. “Ada yang lucu?!” Seketika itu juga, tawa bersahutan teredam.


“M-maaf Pak, tadi saya benar-benar tidak mendengar saat Anda panggil,” jawab Adel.


“Bagaimana telinga kamu bisa mendengar, kalau pikiran kamu jalan-jalan sendiri. Kamu tidak suka, jika saya berada di kelas ini?!” Dosen menyilangkan tangan ke belakang tubuhnya.


“Saya selalu sangat suka dengan Bapak.” Adeline segera mengambil sebuah flashdisk yang masih berada di dalam tasnya. “I-Ini buktinya!” menyodorkan benda kecil tersebut kepada dosen. “Tugas saya sudah selesai dan sesuai janji, maka saya bisa dapat nilai bagus.” Adel tersenyum rancu.


Dosen tersebut mengerutkan dahi dan mengambil tugas mahasiswanya itu. “Kamu memang yang pertama, tapi saya periksa dulu. Kalau benar layak dan sesuai, ya sudah jelas. Saya murah soal nilai, tapi tidak untuk sikap. Nilai kamu saya kurangi karena kejadian ini.” Dosen mulai melangkah meninggalkan Adeline yang kebingungan.


“Yah, yah! Gak bisa gitu, dong pak!!” Adeline hendak beranjak mengejar dosen.


Dosen itu membalikkan badan. “Bagaimana kalau saya kembalikan tugas kamu sekarang?”

__ADS_1


Adeline tertawa getir. “Tidak perlu Pak, kurangi saja nilai saya. Tapi Pak, jangan banyak-banyak, sedikit saja ya!” Adeline mengiringi kalimatnya dengan isyarat tangan.


“Terserah Bapak! Kalau saja kamu bukan jadi kebanggaan Bapak, sudah pasti tidak akan saya terima tugas kamu ini,” dosen tersebut berujar.


“Maaf Pak, saya tidak akan mengulangi.” Adeline tertunduk malu di tempanya duduk dan dosen pun keluar meninggalkan ruang kelas itu.


Beberapa teman Adeline bergerombol mendekat. “Untung kamu pintar, Del. Coba kalau kaya kita-kita,” melirik ke teman yang lainnya, “sudah pasti dapat nilai terendah atau bahkan gak ada nilainya sama sekali.” Kemudian, mereka pun berlalu.


Kelas semakin sepi, rasa takut mulai menyusup. Adeline mencium bau yang dikenalnya. Ia ingin berlari saat itu juga. Namun ketika ia hendak beranjak, tubuhnya tertahan oleh tangan Morgan yang bersarang di pundak.


“Kamu mau menghindariku?” Morgan memberi tekanan pada bahu Adeline sehingga terduduk kembali.


Adeline merasa gugup. “B-bukan begitu, Gan.”


“Jadi?” Morgan menarik kursi dan duduk tepat di sebelah kekasihnya.


“J-jadi?” Adel tampak kebingungan.


“Kenapa kamu mengulang kata-kataku?” Kening Morgan mengkerut.


Adeline menarik napasnya dalam-dalam. “Aku tidak mau pergi denganmu ke tempat itu.”


“Pacaran mulu! Ngantin yuk, Gan!” Seorang pria menepuk punggung Morgan.


“Gak deh, Vin. Aku lagi pengen nempel sama Adel nih.” Morgan menyeringai berusaha menyembunyikan aibnya.


“Tempel terus biar gak diambil orang!” Pria tinggi kurus dan sedikit kekar yang bernama Alvin keluar ruangan bersama dengan kroni kroninya dan tinggalah mereka berdua di tempat yang sunyi.


Adeline membuka mulutnya. “Aku mau kamu mengakui anak ini dan bertanggung jawab. Kita menikah secepatnya.” Ia mencuri pandang pada wajah Morgan. Ia ingin mengetahui reaksi yang dipancarkan oleh kekasihnya.


“Aku gak mau. Kamu sudah gila, bagaimana dengan masa depan kita?” Memegang kepala dengan kedua tangan. “Pokoknya singkirkan bayi itu.”


“Kita sebentar lagi lulus,” berpikir sejenak, “dan jika memang harus, aku akan berhenti kuliah. Kamu tetap bisa melanjutkannya, bahkan setinggi yang kamu mau. Tetapi yang pasti, aku ingin kita memperjelas hubungan ini.”


“Nikah di usia muda?” Morgan berdiri dari tempat duduk dan bertingkah seperti orang linglung. “Kamu mau kita menghadapi rumah tangga yang tidak jelas? Aku tidak mau hubungan yang rumit seperti itu saat ini. Memangnya gampang mengurus istri dan anak?” Morgan menatap Adeline. “Kamu gak akan pernah ngerti susahnya jadi seorang suami.” Mendengus dengan kasar. “Kamu tahu kenapa?” Ia mengamati pacarnya yang masih terdiam dan mulai menitikkan air mata. “Perempuan itu cuma bisa nangis, nuntut ini itu, dan gak bisa ngelakuin apa pun yang menguntungkan. Semua masalah rumah tangga termasuk ekonomi selalu bergantung pada pria sepertiku!” Morgan berlagak angkuh.


Adeline menatap benci dengan orang yang sangat dikasihinya. “Aku hanya menuntut status, tidak lebih. Kamu boleh melakukan apa pun setelah kita menikah. Masalahku dan anak ini, aku jamin tidak akan memberatkanmu. Untuk biaya rumah tangga, aku akan bekerja dan mengusahakannya sebisaku. Jadi, kamu tenang saja. Aku tidak akan pernah menuntutmu macam-macam setelah menikah.” Tangisnya semakin membanjir. “Aku cuma mau anak ini punya pengakuan. Sudah itu saja!”

__ADS_1


Morgan semakin kesal dengan Adeline. Ia merasa gadis yang dicintainya itu benar-benar bodoh dengan mempertahankan benih yang baru tumbuh dan belum bernyawa. “Kenapa kamu ingin mempersulit dirimu sendiri? Lagipula, aku pasti akan menikahimu setelah memenuhi keinginan Mama dan  mewarisi perusahaan keluarga.” Morgan menyentuh kedua bahu Adeline. Ia ingin sekali meyakinkan gadis yang saat ini berada di hadapannya. “Kamu pasti akan mendapatkan kenyamanan, jika kelak aku meraih segala yang aku inginkan.” Ia menyentuh wajah kekasihnya. “Jadi, kita singkirkan dulu bayi itu untuk saat ini. Hanya sebentar, tidak akan lama. Suatu saat, kita juga pasti bisa memilikinya lagi.”


“Dasar gak berperasaan! Segampang itukah kamu menginginkah bayi ini menghilang? Aku tidak menyangka kamu punya sifat pengecut seperti ini. Morgan yang aku kenal selama dua tahun, bukan kamu yang saat ini bersamaku.” Adeline terisak. “Kalau kamu mau menghilangkan janin ini, lebih baik lenyapkan aku dulu.” Ia menepis tangan Morgan.


“Jadi, ini mau kamu? Baiklah kalau begitu. Bagiku, kamu dan anak itu sudah tidak ada lagi. Jika perutmu membesar nanti, jangan pernah mengakuiku sebagai laki-laki yang harus bertanggung jawab.” Morgan menatap lekat pada mata Adeline yang tergenang. “Hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku akan melupakanmu dan begitu juga dengan semua hal tentang kita.”


“K-kamu!” Suara Adeline tercekat di kerongkongan. “Dasar brengsek! Kamu itu cowok atau bukan? Pengecut kamu!” Sebagian sumpah serapah tertahan pada pangkal lehernya.


“Kamu yang menginginkan ini, bukan aku.” Morgan membungkuk dan wajahnya hampir sejajar dengan kepala Adeline. “Kalau kamu masih ingin melanjutkan hubungan kita, maka turuti saja kataku! Biarkan janin itu menghilang dan kita akan tetap bersama sampai kapanpun!”


Adeline mendengus mengejek. “Janji lagi? Terus saja seperti itu! Kalau perlu, sekalian saja buat kontraknya dan tanda tangan pakai materai. Tulis dengan jelas, bahwa kamu akan menikahiku dengan segala resikonya!” Kilahnya.


“Apa maksud kamu bicara seperti itu? Kamu pikir aku bohong? Gak perlu pakai kontrak segala. Aku cinta sama kamu, Del. Apa itu gak cukup sebagai bukti?” Morgan berdiri tegak dengan tangan berada di pinggang.


Adeline tertawa menyindir. “Aku tahu kamu tidak akan berani melakukannya.” Ia berdiri. “Kamu itu banci!”


“Plak!! Tamparan keras mendarat di pipi Adeline. “Sadar, Del! Kenapa kamu kacaukan hubungan kita, cuma hanya karena janin yang belum tentu bisa bertahan di rahim kamu.”


“Kamu?!" Adeline menatap sinis pada pacarnya. “Cuma?! Kamu bilang? Munafik!!” Ia melempar tasnya dan mengenai kepala Morgan.


“Aku tidak perlu pertanggung jawabanmu. Pergi dari sini!!” Adelime hendak mengangkat kursi. “Kalau tidak, aku akan melemparimu dengan ini.”


“T-tenang, Del! Letakkan kursi itu!” Morgan tampak terkejut.


“Aku bilang, keluar!!” Adeline hendak melempar benda yang sudah sedikit terangkat.


Morgan merasa panik “B-baik, aku akan pergi. Tetapi sekali ini aku perjelas, anak itu tidak ada ikatan lagi denganku. Hubungan kita selesai sampai di sini.” Ia mulai melangkah menjauhi gadis itu.


Adeline melempar kursi yang saat ini sedang dipegangnya, namun meleset dari sasaran, dan terjatuh tepat di depan Morgan. “Kamu mau pergi atau tidak?!” Ia kembali mengambil kembali kursi yang berada di dekatnya.


“Aku pergi sekarang! Ingat, jangan sampai menyesal dengan keputusanmu itu!” Morgan melangkah keluar ruangan.


Adeline kembali terduduk di kursi yang hendak dilemparnya. “Laki-laki brengsek!!” umpatnya.


Adeline semakin terisak menyesali dua tahun bersama laki-laki egois yang telah menghamilinya. Ia tidak pernah menyangka bisa melakukan kesalahan tersebut dengan pria tidak berperasaan. Gadis ini juga semakin tidak yakin, bahwa selama ini cinta yang dimiliki Morgan benar-benar tulus untuknya. Pria itu dan Tino, keduanya tidak berbeda dengan binatang yang berganti pasangan dengan mudahnya.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, maka Adeline tidak akan melakukan perbuatan amoral itu, atau bahkan ia sama sekali tidak ingin mengenal sosok Morgan. Meskipun masih ada cinta di hatinya untuk laki-laki itu, namun semua telah tertutup oleh benci yang semakin membengkak. Saat ini di dalam pikiran hanya berisi makian, cacian, hingga sumpah serapah yang tertuju pada kekasih yang selama ini melewati suka duka bersama dengannya.

__ADS_1


Dalam benak Adeline saat ini berujar, laki-laki semuanya sama saja!


Kaum pria tidak akan mau terjerat dalam benang kusut seperti yang Adeline alami saat ini. Mulut manis, rayuan gombal, serta janji-janji yang terlalu indah, seakan terasa seperti duri baginya. Morgan yang ia kenal selama ini, sangat berbeda dengan yang sekarang. Ia bagaikan dihadapkan dengan dua kepribadian dalam satu tubuh. Dalam hati Adeline berkata, mungkin saja semua sikap Morgan selama ini, hanyalah kepalsuan semata. Segalanya seperti mimpi buruk yang sedang ia alami, hingga membuat gadis ini ingin terbangun dari tidur panjangnya untuk menghapus kejadian yang telah membuat dirinya merasakan sakit.


__ADS_2