Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 17. Status Bersyarat


__ADS_3

Eldo menanti akhir pertemuan Dicky dan Sonia dengan gusar. Ia bahkan sudah menyampah, dengan dedaunan yang terus dipetik dari pohon kerdil di sisi kiri tempat duduknya. Meskipun ia masih bisa menangkap sosok mereka, namun ketidaksabaran terus menggelitik hatinya. Laki-laki ini terus berdiri dan kembali duduk. Ia hanya melakukan gerakan yang sia-sia, hanya untuk mengiringi kegelisahannya.


“Apa maksudmu, denganku? Kerutan dahi Dicky menggambarkan rasa tidak enak yang menyusup.


“Aku mau kamu jadi pacarku. Andai kamu bersedia, maka tidak hanya informasi yang akan aku berikan. Tapi, tubuhku ini juga akan jadi milik kamu.” Sonia mengangkat dagu mangsa yang diincar dengan jari lentiknya.


“Morgan, bagaimana dengannya?” Dicky menanggapinya. “Bukankah kalian saat ini telah mengikat hubungan?”


“Aku pasti akan membuangnya, janji!” Sonia meyakinkan laki-laki yang diharapkannya. “Lagipula, aku hanya menganggapnya sebagai mainan saja. Jika sudah ada yang baru, untuk apa bertahan dengan yang lama?” Ia membersihkan ujung-ujung kukunya yang tidak tampak kotor.


“Jangan buang dia! Aku setuju dengan syaratmu. Aku akan jadi pacarmu, tapi ada perjanjian yang tidak bisa kamu langgar.” Dicky menatap Sonia dengan sangat serius.


“Sebutkan saja! Tidak ada yang gak bisa aku lakukan.” Senyum cerah mengiringi jantung Sonia yang sedikit berseriosa. “Apalagi untuk mendapatkan pria seperti kamu.” Ia menyentuh wajah laki-laki yang bersedia menjalin ikatan dengannya.


Dicky mengambil tangan Sonia, lantas menjatuhkannya. “Jangan menyentuh wajahku!” sentaknya. “Aku mau kamu tetap menjalin hubungan dengan Morgan, lantas cari tahu segala yang menyangkut dia dan Adel. Aku juga tahu ini tugas yang mudah untukmu, karena kamu punya banyak mata di kampus ini. Jangan pernah secuil pun juga kamu menyakiti Adel! Kemudian yang terpenting, aku tidak mau kamu bersikap seperti p*lacur di depanku. Jangan menggodaku, aku sama sekali tidak tertarik dengan gunung palsumu.” Dicky mengeraskan genggaman tangan pada kedua lututnya. “Yang terakhir, jangan sampai ada yang tahu, bahwa kita telah menjalin ikatan!”


“Menggaet cowok populer memang gak mudah ternyata. Tenang saja, aku bisa melakukan semua yang kamu minta.” Sonia memamerkan senyum culasnya.  Kemudian menyangkal dalam hati, lihat saja nanti, mau sampai kapan kamu akan sanggup menolak tubuhku yang menggairahkan ini?


“Jika sudah ada titik temu, maka kita telah sepakat. Sekarang, ceritakan semua yang kamu ketahui mengenai mereka!” Dicky memberi perintah.


“Ok, ok! Morgan memberi tahuku mengenai perselingkuhan Adel dengan Alvin. Kamu kenal dengan Alvin, kan? Cowok miskin yang satu jurusan dengan mereka.” Sonia berdecak. “Aku tidak mengerti, kenapa Adel bisa menyia-nyiakan cowok setengah tajir seperti Morgan dan hanya demi beralih pada laki-laki tak berduit serupa Si Alvin itu? Gadis itu–”


“Jangan banyak berbelit! Lanjutkan ceritamu!” Kalimat Dicky memangkas deretan kata yang hendak dilontarkan oleh gadis tersebut.


“Iya, iya, sabar dong!” Sonia menggerakkan lehernya dengan genit. “Gadis yang kamu bela itu, diam-diam telah menjalin hubungan dengan sahabat pacarnya. Jadi, pacarku itu mengakhiri hubungan dengan sepupu kamu. Tetapi baru-baru ini Adel mengakui, bahwa ia yang telah membuang Morgan. Aku sendiri tidak tahu, siapa yang benar di antara mereka? Lagipula, aku tidak perduli, entah Morgan masih berstatus atau pun sudah jomblo! Aku hanya ingin menggerogoti uangnya saja. Sekaligus melampiaskan kekesalanku pada gadis yang selalu mencuri perhatianmu dariku.”


“Adel bukan tipe gadis seperti itu. Kamu jangan coba-coba bohong padaku!” Sorot mata bengis mewakili keterkejutan Dicky mendengar informasi tersebut. “Meski tidak ada Adel sekali pun, aku tidak berhasrat untuk memperhatikan gadis sepertimu. Kamu bukan tipeku.” Dicky sedikit melempar celaan pada gadis itu, tanpa memperdulikan raut masam yang menghiasi wajah lawan bicaranya.


“Jangan munafik! Aku tahu, kamu suka sama sepupumu sendiri. Lagipula, terserah dengamu! Mana yang kamu percaya, antara ucapanku atau pemikiranmu tentangnya?!” Sonia merasa tidak senang dengan tuduhan yang ia terima.


“Jangan sok ngerti tentangku!” sentak Dicky. “Selain itu, apalagi yang kamu tahu?”


“Apalagi ya?” Sonia menendang-nendang kerikil kecil dengan ujung sepatunya. “Ah, aku ingat! Aku dengar Adel sering muntah-muntah di kosnya.” Ia merasa bersemangat. “Jangan-jangan?" Gadis ini mengisyaratkan dengan gerakan tangan menirukan perut yang membesar. “Aku yakin telah terjadi tabrakan yang menghasilkan.” Ia terkekeh.


“Kamu jangan menyebarkan gosib sembarangan. Awas saja, kalau sampai kamu berani membohongiku!” Dicky mengancamnya.

__ADS_1


“Aku selalu jujur padamu, Sayang. Memang seperti itulah yang telah dikatakan Morgan padaku.” Sonia menyipitkan matanya. “Dan yang pasti, aku juga percaya dengan informanku yang ….” Ia bertingkah seperti orang yang ingin memuntahkan isi perutnya. “Sepertinya itu benar.”


“Tutup saja mulutmu itu! Jika sampai aku tahu, kamu yang menyebarkan berita seperti ini, maka aku sendiri yang akan memutilasi tubuhmu dan membuangnya ke kolam lele.” Dicky mengintimidasinya. Dalam benak ia berujar, aku tidak bisa mempercayakan hal seperti ini pada Sonia. Sebaiknya, aku pastikan sendiri kebenarannya. “Siapa yang memberitahumu? Apa aku mengenalnya?”


“Ih, ngerih deh! Kamu ini, jadi orang kejam banget sih?” Sonia tampak bergidik. “Jika kamu sering ke tempat Adel, aku rasa kamu pasti kenal dia.” Sonia menatap deretan tanaman berbunga untuk membuang kengeriannya.


“Aku hanya butuh nama dan juga seperti apa orang itu?” Dicky mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar.


“Ratna. Tapi aku yakin, dia gak akan mau menceritakan mengenai Adel pada orang yang tidak begitu akrab dengannya.” Sonia memperingatkan laki-laki yang terlalu ingin tahu mengenai gosib yang ia ceritakan.


“Aku akan mengurusnya. Sekali lagi aku peringatkan kamu! Jauhi Adel, atau hubungan kita berakhir,” sentak Dicky.


“Ok, ok, Don’t worry, Babe!” Aku tidak akan menyentuh sepupumu itu.” Namun dalam hati Sonia berkata, mana mungkin aku membiarkan berita panas seperti itu menguap begitu saja? Aku akan memastikan, bahwa yang Ratna katakan memang benar. Pasti akan terjadi kehebohan di kampus ini. Dua teman dalam satu kamar, telah mengalami tragedi yang sama. Wow … sungguh sangat mengagumkan!


Dicky menyalakan ponsel dan memeriksa pesan masuk seperti spam, yang berasal dari nomor yang sama. Kemudian ia membuka dan membaca isi salah satu pesannya, ‘kamu keterlaluan lamanya. Darahku sudah habis kudonorkan pada ribuan nyamuk yang telah mati’. Ia tertawa ringan mengetahui, bahwa Eldo sudah tidak sabar lagi mendengarkan informasi yang didapatkannya. Namun, laki-laki ini tidak akan pernah menceritakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin pacar lama Adel tersebut, kembali memperkeruh hidup gadis yang dicintainya.


“Terima kasih informasinya. Ingat! Laporkan padaku, apa pun yang Morgan lakukan! Mengerti?!” Dicky beranjak dari kursi kayu yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


“Kamu mau pergi? Matahari saja belum sepenuhnya terbenam,” sergah Sonia.


“Kamu pikir, aku ini ikan? Seenaknya saja menyamakan gadis secantik diriku dengan makhluk air yang licin itu.” Sonia merengut kesal.


“Setidaknya mereka makhluk asli. Gak seperti kamu manusia jadi-jadian.” Dicky mencerca gadis tersebut.


“Jadi-jadian?!” Sonia semakin merasa jengkel dengan mulut pedas dari mangsa yang saat ini berada dalam genggamannya.


“Kamu telah begitu banyak merubah tubuhmu.” Dicky memperhatikan gadis itu dari pucuk rambut, hingga ke ujung kaki. “ Ckckck … sekarang ini, aku seperti sedang bersama dengan hasil karya tangan Tuhan yang ternodai.”


“Kamu boleh menghinaku, tapi jangan tubuh mahalku!” Sonia mengaum seperti singa betina yang terinjak ekornya.


“Sudahlah, aku mau pergi!” Dicky meninggalkan gadis yang masih tampak bersungut-sungut marah.


Eldo menangkap sosok Dicky yang mulai menjauh dari Sonia. Ia bergegas mengejar, namun langkahnya terhenti untuk sejenak ketika melewati gadis manyun yang sedang menatapnya. Laki-laki ini melayangkan senyuman untuk menyapa gadis tersebut. Kemudian, ia berlalu mengikuti langkah Dicky yang semakin jauh darinya. “Dic!! Tunggu!” teriaknya.


Dicky menghentikan gerakkan kakinya. “Apa kamu tidak lelah membuntutiku?” ucap Dicky, ketika Eldo telah berdiri dengan sedikit terengah di depannya.

__ADS_1


“Kamu …,” bernapas dengan ritme pendek, “Kamu sudah janji memberitahuku!” Eldo kembali terengah.


Dicky membuang napas. “Apa yang mesti aku ceritakan padamu?”


“Kenapa malah tanya?” Napas Eldo mulai teratur. “Apa pun yang telah kamu dapat dari gadis itu, aku juga harus tahu.”


“Dia hanya gadis penggoda. Tidak banyak yang bisa aku dapat darinya,” Dicky berusaha berkilah.


“Tapi, tidak mungkin kamu betah selama itu dengannya.” Eldo membelalakkan mata. “Apa kamu mulai meresponnya?”


“Aku tidak suka gadis seperti dia,” sangkal Dicky.


“Kalau begitu, pasti ada yang dia katakan padamu.” Eldo berusaha membuka mulut yang sepertinya terkunci rapat.


“Dia hanya tahu, kalau Adel yang telah membuang Morgan karena ada cowok lain,” ujar Dicky.


“Mana mungkin … kamu percaya dengannya?” Eldo memperhatikan raut wajah Dicky yang tampak kesal.


“Aku tidak bisa mengiyakan atau pun menyangkalnya sekarang. Aku harus memastikannya sendiri,” Dicky menyembunyikan setengah informasi yang telah ia dapatkan.


“Aku juga akan mencari tahu kebenarannya,” timpal Eldo.


“Lebih baik kamu tidak melakukan tindakkan yang nantinya akan mejadi pisau tajam, kemudian membuat Adel terluka,” Dicky memperingatkan.


“Ok, aku akan berhati-hati dengan gerak-gerikku.” Eldo memicingkan matanya sebagai lambang semangat yang memanas.


Tangan kiri Dicky berkacak pinggang, sedangkan jari kokohnya memilin kepala karena rasa kesal yang ditahannya. “Kalimat yang kuucapkan tadi merupakan larangan, bukan persetujuan yang memacu antusiasmemu itu.”


“Aku ingin melakukan yang terbaik untuk Adel. Selama ini, dia sudah banyak terluka karenaku.” Paras Eldo meredupkan semangat yang telah memudar.


“Cukup hanya berdiam diri, maka dengan seperti itu, Adel pasti akan aman. Lebih baik, kamu tidak lagi mencampuri kehidupan Adel. Dia akan baik-baik saja tanpa kamu.” Senyum Dicky seperti menyiratkan kebencian yang telah lama dipendamnya.


“Seandainya bisa, aku ingin kembali merengkuhnya.” Helaan napas Eldo beriringan dengan rasa kekecewaan yang terus mengalir.


Matahari yang tenggelam senja itu, telah sedikit membongkar tabir kekelaman yang Adeline simpan dengan sangat rapat. Rahasia yang ingin disembunyikan, sepertinya akan mulai merangkak berdesakkan keluar dari persembunyian. Kehidupan tenang yang dijalaninya saat ini, mulai sekarang akan semakin berubah. Sedikit demi sedikit, benang takdir sudah mulai terbentuk. Hanya karena cukup sekali melakukan kesalahan fatal, menyerap nikmatnya nektar yang cuma setetes saja, maka ia harus merasakan racun yang berkepanjangan.

__ADS_1


__ADS_2