
Dicky memperhatikan Adeline yang terlihat gelisah. Kemudian, ia menggenggam tangan gadis itu, agar seorang yang dicintainya bisa merasa sedikit lebih tenang. Ia tahu saat ini perasaan sepupunya tersebut, bagaikan sedang berada di ujung taduk. laki-laki ini terus menatap Adeline, namun ia segera memalingkan muka, ketika Dokter Yanti sedikit menurunkan celana milik pasien itu. Meskipun ia terbiasa melihat gadis yang cantik itu tanpa sehelai kain di masa kecil, tapi saat ini telah berbeda. Kini hatinya seolah mencegah untuk mencuri pandang dari kesempatan langka tersebut. Ia sungguh tidak ingin menodai tubuh wanita yang sangat ia cintai dengan kedua matanya. Ia tidak ingin menambah kegagalan dalam menjaga wanita yang teramat dicintainya. Meskipun daun muda ini telah terpetik oleh tangan kotor, namun baginya masih tetap sangat berharga.
“Pak?” Dokter Yanti melihat suami dari pasien yang terus menatap ke arah pintu. “Suami, Ibu Adeline?” Ia berusaha menyadarkan Dicky yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Dic,” panggil Adeline lirih, dengan menarik tangan laki-laki yang saat ini masih berada di sampingnya.
“I-iya?” Tanpa sengaja Dicky menatap tangan Dokter Yanti yang berada di ujung lembah sedikit berumput. Kemudian, tanpa sadar wajahnya berubah seketika.
“Bagaimana saya bisa menjelaskan, kalau Anda tidak mau melihat?” Dokter Yanti menghela napas.
“M-melihatnya tanpa busana? S-saya sudah sering. S-sudah setiap hari, Dok.” Tiba-tiba saja serangan gagap menerpa suami palsu Adeline. Kata-kata rancu keluar dari mulutnya.
Dokter berwajah agak keriput itu tersenyum geli. “Saya tidak meminta untuk melihat Istri Anda.” Ia menunjuk pada tampilan layar. “Saya hendak menjelaskan tentang ini. Tetapi, sepertinya Anda tidak memperhatikan.”
Dicky mengikuti telunjuk dokter yang mengarah pada layar yang tampak agak buram, dengan gambar abstrak yang bergerak. “Apa itu, Dok?”
“Sebelum saya menjelaskan, terlebih dulu saya ucapakan selamat, karena Ibu Adeline telah positif hamil.” Dokter Yanti menatap pasien dan suaminya secara bergantian dengan senyum yang hangat.
Dicky merasa hujan badai sedang terjadi di sekelilingnya. Hatinya sakit, jantung juga bergemuruh seakan tersambar petir. Ia menatap lekat pada mata gadis yang tidak sedikit pun mengarahkan pandangan padanya. Laki-laki ini hanya bisa menelan pahitnya ludah yang seperti racun mematikan. Dalam hati ia bertanya, siapa cowok itu? Morgan ataukah Alvin? Kenapa kamu bisa berubah menjadi gadis yang buruk seperti ini, Del?
Sedangkan Adeline, ia hanya bisa memalingkan wajah enggan untuk beradu mata dengan informan mamanya tersebut. Ia di bawa ke tempat ini saja sudah merupakan musibah besar, apalagi dengan terbongkarnya rahasia, maka gadis ini merasa seperti telah mati dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak ingin membayangkan sesuatu yang nanti akan menimpa, bisa jauh lebih berat lagi dari saat ini.
“Kenapa kalian diam saja dan hanya saling menatap? Apa Anda tidak merasa senang mengetahui, bahwa ternyata Istri Anda benar-benar hamil? Bukankah sepertinya Anda sangat menginginkannya?” Wanita paruh baya itu mengerutkan kening.
“T-tentu saja! Saya sungguh sangat senang bisa mengetahui, bahwa sebentar lagi saya akan mendapatkan keturuan darinya.” Dicky terbahak untuk menutupi kesedihan yang saat ini sedang menggerogoti hatinya. Kemudian, ia kembali menatap gadis yang tampak terbujur membisu.
Dokter Yanti beralih pada Adeline. “Saya harap, Anda bisa dengan hati terbuka menerima kenyataan, bahwa telah ada yang tumbuh di dalam rahim.” Ia menyentuh tangan pasien yang sedang menggenggam rapat. “Saya yakin, Anda akan merasa takjub dan luar biasa, ketika mulai bisa merasakan kehidupan yang bergerak di dalam sana.” Ia melirik perut gadis itu.
“Selamat ya, Sayang! Kamu akan jadi seorang Ibu.” Dicky berpura-pura bahagia, agar kecurigaan Dokter Yanti tidak lagi kembali muncul.
__ADS_1
Adeline hanya bisa memalingkan muka, menahan tangis yang hampir menetes. Ia berusaha dengan sangat keras menahan malu yang hinggap di hatinya. Gadis ini sama sekali tidak mengerti dengan tingkah dan sikap yang ditunjukan oleh Dicky. Adeline berteriak di dalam benaknya, seharusnya bukan kamu, tapi Morgan yang berada di sini bersamaku. Rencana busuk apa yang akan kamu mainkan padaku sekarang? Apa kamu akan mengatakan segalanya pada Mama? Dengan air mata yang mulai terjatuh, di dalam hati ia mengumpat dan melayangkan sumpah serapah tanpa henti, pada Morgan yang tidak mau mengakui benih yang telah ditanam
Dicky merasa tersayat melihat air mata gadis yang dicintainya menetes. Kemudian, ia juga memperhatikan wajah Dokter Yanti yang merasa tidak suka dengan sikap Adeline. “Maafkan Istri saya, Dok,” ujarnya.
“Tidak apa-apa.” Lalu, dokter itu berujar pada asistennya, “Mbak, ambilkan tisu untuk Ibu ini!”
“Iya, Dok.” Wanita muda itu menuruti perintah atasannya.
“Baiklah, akan saya jelaskan.” Dokter cantik itu kembali menatap tampilan hasil USG. “Di sini baru bisa terlihat kantung ketuban. Namun saya bisa memastikan, bahwa saat ini Istri Anda sedang hamil muda.” Ia menunjuk pada gumpalan kantung kecil yang terpampang jelas di layar.
“Bagaimana kondisi janin dan ibunya, Dok?” Dicky memperhatikan dengan sangat serius.
“Saya rasa keduanya baik-baik saja. Tapi untuk lebih jelasnya, akan mulai bisa telihat pada usia kehamilan di atas tiga bulan.” Dokter Yanti membersihkan perut Adeline. Kemudian, ia kembali pada kursi nyamannya.
Baru sekali ini Dokter setengah tua itu mendapatkan pasien yang berpolah cukup unik, hingga ia lupa dengan prosedur pemeriksaan yang seharusnya ia terapkan sebelum USG. “Mbak! Tolong di cek dulu tekanan darahnya!” Ia memberi perintah pada seorang wanita muda yang menjadi asistennya.
Kemudian, Dicky mengikuti dokter tersebut duduk pada kursi yang berada berhadapan. “Berapa usia kehamilannya sekarang?” Dicky kembali memulai pertanyaan.
“Bisa diperkirakan baru menginjak usia tujuh minggu. Ini masih masuk trimester pertama. Pada masa ini akan sangat rawan untuk ibu hamil. Jadi sebaiknya, Anda benar-benar menjaga Ibu Adeline. Awasi kegitannya, jangan diperbolehkan melakukan aktivitas yang berat-berat,” Dokter Yanti mencoba menjelaskan.
“Kalau untuk makanan dan minuman yang diperbolehkan, bagaimana Dok?” Dicky terus berpusat pada lawan bicaranya.
“Sebisa mungkin makan makanan bergizi dan minum air putih yang cukup. Untuk lebih baiknya jangan langsung makan dalam porsi yang banyak, namun makanlah dengan porsi yang sedikit tapi sering. Ditambah lagi minum susu hamil yang sesuai dengan usia kandungan. Selanjutnya, usahakan jangan memakan makanan pedas dan berlemak. Kurangi mengkonsumsi minuman berkafein dan tidak diperbolehkan meminum minuman yang mengandung alkohol. Hindari juga makanan dan minuman lainnya yang tidak sehat. Lantas jauhi rokok dan asapnya. Jangan sembarangan mengonsumsi obat-obatan!” Dokter Yanti melirik Adeline. “Ini yang paling penting, ibu hamil tidak boleh stres, karena efeknya sangat berbahaya bagi janin. Tetapi untuk lebih baiknya, Anda bisa membaca artikel-artikel yang ada di sosial media. Di sana banyak sekali informasi yang bisa didapatkan,” Dokter tersebut menyarankan.
Sedangkan Adeline, masih terdiam di atas examination table dengan mata yang sembab. Ia bahkan merasa sangat takut untuk bergerak di ruangan yang luas itu. Tubuhnya saat ini terasa seperti terikat pada ranjang pemeriksaan tempatnya terbaring.
“Apa badanmu membatu, hingga gak bisa digerakkan? Apa kamu mau aku menggendongmu lagi?” Dicky tersenyum menggoda pada gadis yang tampak suram.
“T-tidak perlu! Aku punya kaki dan masih bisa menggerakkan tubuhku,” sangkal Adeline. Tanpa membuang waktu, ia bergegas turun dengan tenaga yang sebelumnya sempat menghilang.
__ADS_1
Sebenarnya Dicky lebih rela membiarkan gadis itu terbaring pada ranjang tersebut. Namun, ini bukan ruangan miliknya, bukan juga kamar milik Adeline. Sehingga, ia tidak bisa terus membiarkannya berdiam diri di tempat ini.
Kemudian Dokter yang baik hati itu mendekati Adeline. “Jika Ibu merasa frustasi atau stress, nanti bisa berdampak buruk pada Anda, terlebih lagi pada janin yang saat ini sedang berada dalam kandungan.” Ia tersenyum, kemudian menepuk pundak gadis itu. “Jaga kesehatan Anda dan janin yang saat ini sedang berusaha tumbuh. Kalau bukan karena keperdulian dari seorang ibu, mau dengan siapa lagi dia meminta tolong selain pada Tuhan? Maka dari itu, bantulah dia untuk bertahan dan terus berkembang di dalam rahim Anda. Meskipun sangat mendadak, namun ia adalah berkah Tuhan yang tidak bisa ditolak, jadi syukuri saja dengan cara membesarkan dan merawatnya sebaik mungkin.”
Lantas, Dokter Yanti menemui asistennya. Kemudian, ia kembali pada singgasananya. “Ini buku panduan yang harus selalu dibawa di setiap pemeriksaan. Saya juga akan memberi resep yang bisa ditebus di apotek depan.” Wanita berkeriput tersebut tersenyum ramah. “Jangan lupa melakukan pemeriksaan kembali bulan depan di tanggal yang sama!”
Dicky menerima sebuah buku, hasil USG, serta selembar kertas bertuliskan nama obat yang harus dibeli. Lalu, ia menatap lesu pada gadis yang saat ini telah berdiri mematung di sampingnya.
Adeline memperhatikan benda yang berada ditangan Dicky. Ia menginginkannya, namun gadis ini enggan untuk bersuara.
Mereka berdua hanya saling berdiam. Dicky menatap Adeline, namun gadis tersebut hanya tampak tertunduk dengan paras kuyu.
Dokter Yanti terus saja dibuat heran oleh dua anak muda yang dikiranya sepasang suami istri, dengan usia pernikahan yang baru seumur jagung itu.
Selanjutnya Dicky menggapit tangan Adeline meninggalkan ruangan dokter tersebut, lantas Dokter Yanti tampak mengekornya.
“Wah!! Pasangan muda sudah selesai periksanya?” teriak salah satu wanita tua yang sebelumnya sempat melakukan pendaftaran beriringan dengan Dicky.
Mereka berdua hanya menggagu. Dicky yang selalu tampak ramai, kini mengatupkan mulut. Sedangkan Adeline, hanya bisa menundukkan kepala.
“Gagal ya? Mungkin masih belum rezeki. Kalian masih muda dan perjalanan juga masih panjang. Nenek doakan, semoga disegerakan Tuhan.” Salah seorang prempuan tua memijat-mijat lengan Adeline.
“Amin!!” beberapa orang secara serentak menimpali. Sepertinya, mereka semua adalah orang-orang yang sebelumnya telah bersenda gurau dengan laki-laki supel itu.
Tawa Dokter Yanti seketika melambung disertai gelak beberapa orang yang baru saja mengeraskan suara, hingga klinik itu pun kini terdengar sangat riuh.
Menyaksikan periatiwa tersebut, Dicky langsung mengambil sikap agar tidak muncul pikiran buruk dalam kepala mereka. “Saya sangat bersyukur. Istri saya ini sekarang memang sedang hamil, Nek!” Ia tertawa lepas. Namun semua orang yang berada di sekeliling Dicky, seketika tertegun membeku. Mereka bahkan tidak ikut tertawa bersamanya
Untuk sesaat semua orang yang berada di klinik tersebut saling bertatapan seperti sedang bertelepati dengan beradu mata. Mereka terbengong-bengong bergantian mencermati laki-laki yang terus saja membuka mulut dengar lebar dan seorang gadis yang terlihat hampir saja menjatuhkan tangis. Di mata mereka, suami istri tersebut terlihat sangat tidak kompak.
__ADS_1