Anak Ibu

Anak Ibu
Episode 5. Murahan


__ADS_3

Morgan memperhatikan Sonia yang tampak menggemaskan. Gadis centil itu, sejenak bisa menghapus rasa kecewa terhadap sang mantan kekasih. Ia sebenarnya masih sangat mencintai Adeline. Namun jika harus memilih mengorbankan masa depan hanya untuk seorang gadis, maka ia lebih baik membuangnya. Ia memutuskan memilih untuk mencari yang jauh lebih baik dari Adeline dan seseorang yang bisa mengerti akan dirinya. Morgan lebih menyukai wanita yang selalu menurut padanya, dari pada gadis pembangkang seperti Adeline.


Adeline mengumpat lirih, “Dasar penjahat kelamin!” Ia menggigit geram pada bibir bagian bawahnya. “Kamu … kamu itu cuma penyihir kotor gak tahu malu!” Kamu itu cuma sekerdil kutu yang menggigit inangnya. Kamu habiskan aku dan sekarang kamu buang jauh-jauh.” Ia merasa darahnya naik sampai ke ubun-ubun. “Murahan! lebih bagus kamu sama p*lacur itu. Aku doakan kamu menderita dikemudian hari.” Ia menatap dengan tajam. “Dan kamu Sonia, suatu saat kamu pasti akan merasakan yang sekarang aku rasa. Kamu dan dia sama brengseknya!”


Adeline sejak dari tadi terus memperhatikan Morgan duduk berdampingan dengan Sonia yang berperang canda di kejauhan. Ia menangis menatap keharmonisan mereka. Dia merasa, bahwa Morgan benar-benar tidak berperasaan. Laki-laki itu bahkan seperti tidak perduli dan khawatir, meskipun telah menghamili anak gadis orang. Walau Adeline masih mencintai Morgan, namun cinta dan juga benci hanya berbatas sehelai kain tipis. Jika kain tersebut terbakar, maka cinta yang bercampur dengan kebencian pasti akan selalu membekas.


“Dasar j*lang!” Adeline menggumamkan makian, yang tanpa disadari nada suaranya telah naik satu oktaf.


“Siapa yang J*lang, Del?”


Adeline terkejut mendapati Alvin berdiri di belakangnya. Gadis itu berkilah dengan memastikan Alvin telah salah mendengar. Kemudian, dipehatikannya sikap pria itu yang terlihat mengikuti arah di mana kedua mata Adeline tertuju. Muncul guratan-guratan aneh yang terlukis dari wajah pria tersebut.


Alvin merasa tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Ia terus menatap Morgan dan Sonia dengan sesekali melirik Adeline. Ia ingin bertanya, namun bekas tangis yang masih sangat jelas terlihat membuatnya enggan bersuara. Jika benar prasangkanya, maka ia akan menyeret Morgan seketika itu juga. Akan tetapi, ia ragu untuk memastikan yang sebenarnya terjadi antara Adeline dan pacarnya.


Rasa penasaran semakin menggila, Alvin berusaha menyusun kata yang tepat untuk memastikan segala yang telah terlihat jelas oleh kedua matanya. “Sejak kapan mereka akur?” Melirik Adeline dan yang didapatkan hanya diam. “Emm … bukankah Morgan jijik sama tingkah Sonia yang selalu berusaha mengekor padanya?” Kesunyian bergelayut pada angin yang menabrak tubuh Alvin, serta hanya nyanyian dahan-dahan pohon yang hinggap di telinganya. Kemudian, sejenak terdiam membiarkan waktu berlalu melewati heningnya mulut mereka yang mengatup rapat.


“Bagaimana menurutmu tentang mereka?” Retina Adeline masih berfokus pada dua makhluk yang dibencinya.


Alvin merasa serba salah mendengar pertanyaan Adeline. Ia bingung harus menyusun kata agar tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. “M-mereka biasa saja.”


“Jadi, Morgan dan Sonia sudah biasa seperti itu?” Adeline memalingkan pandangan untuk sejenak kepada pria yang saat ini berjajar dengannya.


Alvin kelabakan mendengar sanggahan Adeline. “B-bukan biasa seperti yang kamu pikirkan!” Setiap bagian tubuh Alvin mencerminkan, bahwa ia berada dalam kepanikan.


“Sepertinya mereka sangat bahagia. Ya kan, Vin?” Adeline menatap Alvin dengan senyum getirnya.


Alvin tertawa rancu. “Paling juga cuma saling ejek saja, makanya mereka tertawa begitu.” Tangan kanannya berusaha mencari sandaran yang tepat pada tembok dan yang satunya tertumpu pada pinggang.


“Saling ejek bisa semesra itu ternyata.” Air mata Adeline mulai tergenang.


Alvin semakin terjerumus dengan kata-katanya sendiri. Tetapi, ia merasa cukup aneh dengan Adeline yang hanya diam memandang kekasihnya ditempeli ulat bulu yang menggelikan seperti Sonia. Berbeda dari biasanya, di manapun ada Morgan pasti Adeline juga tampak batang hidungnya dan begitu sebaliknya.


“Vin, bukankah kita ini cukup dekat?” Adeline masih terus menatap Morgan dengan guliran air mata yang mulai jatuh.

__ADS_1


“I-iya, kita teman dekat. Kamu, aku, dan juga Morgan.” Alvin semakin takut untuk menjawab.


“Apakah kita terlihat seperti mereka, jika sedang bercanda?” Tangis Adel terus mengalir. “Seperti yang kamu gamblangkan tadi. Bisakah kamu diam saja, jika tanganku terus bergerilya pada tubuhmu?”


Alvin bergumam, “haduh, sepertinya aku salah ngomong.” Ia merasa semakin terhimpit. “Tapi Del,” memperhatikan beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. “Tenangkan dulu diri kamu!” Alvin merasa beberapa mata terpatri pada tubuhnya. “Sepertinya kita diperhatikan. Aku jadi merasa seperti penjahat.”


Adeline mengusap air matanya. “Maaf ya, Vin. Kamu boleh pergi, jika memang memalukan bersamaku!” Ia masih mendaratkan pandangannya pada Morgan.


“B-bukan begitu, Del.” Alvin menyuarakan kalimat dengan sangat pelan, hingga hampir tidak terdengar oleh Adel.


Alvin hanya bisa menjawab pertanyaan Adeline di dalam hatinya. Seandainya tangan Adel menyentuh wajahnya, Alvin pasti akan sangat senang. Tidak perlu seperti itu pun, cukup dengan hanya menggenggam jemari gadis yang bersamanya saat ini, juga sudah membuat ia merasa seperti bermimpi.


Morgan berhenti tertawa ketika pandangannya menangkap sosok yang dicintainya selama ini. Ia mendapati dirinya yakin, bahwa mata Adeline tertuju padanya. Ia memperhatikan gadis yang dicintainya itu bersama dengan Alvin. Seketika kengerian muncul, saat ia dapat melihat dengan samar wajah Adeline yang tampak seperti berada di pemakaman. Namun kecemburuan yang timbul, juga menyodok-nyodok hatinya. Morgan memperhatikan Alvin yang sepertinya terus berujar dengan diselingi tawa, meskipun tampak Adeline tidak menimpali. Ia tahu, bahwa Alvin telah lama menyukai pacarnya. Pada mulanya, Morgan yang selalu tidak ingin kalah dengan Alvin, mencoba mendahului menyatakan cinta pada Adeline. Tanpa ia duga, perasaan bersambut dan merasa puas telah menang dari sahabatnya tersebut.


“Aku pergi dulu.” Morgan beranjak dari tempatnya duduk.


Sonia menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya. “Aku ikut ya, Sayang.” Suara manja mengalun mesra.


“Lain kali saja, aku ada urusan penting nih.” Morgan mulai melangkah meninggalkan gadis itu.


Kemudian, Morgan bergegas menuju ke tempat Adeline berada. Selalu ada rasa khawatir, jika membiarkan Adeline hanya berdua saja dengan Alvin. Meskipun Ia telah mengakhiri hubungan dengan kekasihnya, namun Morgan tidak akan membiarkan Alvin mendapatkan bekas pacarnya.


Adeline menyadari, bahwa langkah Morgan semakin dekat dengannya. Ia bergegas menghapus air mata yang sejak dari tadi terus menetes. Ia tidak mau, jika sampai pria yang dibencinya saat ini tahu, bahwa ia masih memendam cinta. Adeline memantapkan pikiran untuk menyambut Morgan. Ia juga ingin meyakinkan laki-laki yang membuangnya itu, kalau ia sudah melemparnya sangat jauh dan mengusir keluar dari hatinya.


“Hai, Vin!!” Morgan mendaratkan kaki tepat di depan sahabatnya tersebut. Kemudian, Alvin menghentikan geraknya dan menatap kaget pada Morgan. “Kenapa bengong? Lagi ngapain sih, berduaan di sini?” Morgan tertawa sinis.


“Seharusnya kita yang tanya begitu ke kamu. Ada apa kamu sama Sonia?” Nada suara Alvin terdengar sedikit ketus.


“Aku dan Sonia?” Morgan mencari alasan yang tepat. “Kami membahas materi kuliah,” kilah Morgan.


“Heeh … materi, apa yang bisa dibahas? Jurusan kalian saja berbeda.” Adeline melengos sinis.


“Ya, ya pokoknya ada. Kami membahas prodi masing-masing,” Morgan menyanggah.

__ADS_1


“Kenapa jadi bahas aku dan Sonia? Bagaimana dengan kalian?” Morgan melipat tangannya di depan dada.


Alvin mencoba menerangkan, “aku dan Adel---”


“Kami mencoba menjadi lebih dari sekedar teman!” Adeline memotong uraian Alvin.


“Kamu mau mendekati Adel tanpa sepengetahuanku?” Morgan menunjukan rasa tidak suka yang jelas terlukis di wajahnya.


“B-bukan begitu, Gan.” Alvin berusaha meluruskan.


“Kalau iya, memang kenapa?” Adeline melanjutkan.


Morgan terkekeh. “Buatku?” Menunjuk dirinya sendiri. “Gak masalah, kalau kamu memang mau.” Ia melirik perut Adeline. “Memangnya, dia bisa terima kamu yang seperti itu?” Menatap lekat pada mata Adeline lalu beralih ke arah Alvin. “Seorang sahabat yang tega berkhianat. Sungguh menggambarkan ikatan pertemanan yang kuat.” Morgan tersenyum mengejek.


“Ada apa dengan kalian sebenarnya? Kalau lagi ada masalah, lebih baik diselesaikan berdua. Jangan menyeretku ke dalam pertikaian kalian.” Darah Alvin mulai mendidih.


“Apa kamu berlagak hilang ingatan?” Mendengus sadis. “Sebenarnya, siapa yang sedari tadi bermanja-manja dengan belaian Si Ayam Kampus?” Sorot kebencian terpancar pada mata Adeline. “Cihh! Dasar cowok murahan.”


Tamparan hampir mendarat pada pipi Adeline, tetapi dengan sigap terpatahkan oleh genggaman jemari Alvin pada pergelangan tangan Morgan.


“Ada apa denganmu, Gan?” Melempar tangan Morgan dengan kasar. “Jangan jadi pengecut yang cuma berani sama perempuan.” Emosi Alvin semakin meledak.


“Kamu pikir, aku gak berani sama kamu?! Tantang Morgan. Nih, pukul! Ayo pukul, kenapa diam?” Morgan menyodorkan wajahnya ke arah Alvin.


“Sebagai sahabat, sebelumnya aku minta maaf. Tetapi kalau menyangkut Adel saat ini, dengan kamu yang seperti itu, maka lebih baik akhiri saja pertemanan kita.” Alvin masih berusaha menahan amarah yang terus membeludak.


“Ah!! Banyak bicara kau ini!!” Pukulan Morgan mendarat pada wajah Alvin, hingga tampak sedikit darah keluar di sudut mulut.


“Keterlaluan!!” Alvin menyarangkan tinjunya pada perut sahabatnya tersebut.


Kemudian Alvin mendapati Morgan tampak kesakitan. Wajah temannya itu membuat Alvin tersadar dengan yang telah ia perbuat. Pria itu mulai menyesal dan memapah Morgan ke ruang kesehatan. Ia meninggalkan Adeline begitu saja. Dia tahu, bahwa cintanya untuk Adeline masih sama dan belum berubah, namun ia tidak ingin menjadi seorang pengkhianat yang menikamkan belati pada jantung temannya sendiri.


Morgan berjalan tertatih kesakitan. Ia tidak bisa berbuat apa pun, selain menerima uluran tangan Alvin yang hendak membawanya. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa efek dari pembalasan Alvin begitu perih. Padahal ia pernah beradu, namun pukulannya tidak sesakit ini. Ia melirik dan memperhatikan Alvin dengan seksama. Morgan baru menyadari perubahan tubuh Alvin yang tampak semakin berotot. Pantas saja perutnya terasa ngilu.

__ADS_1


Morgan menduga, pasti Alvin telah mempersiapkan diri untuk merebut Adeline darinya suatu saat nanti. Akan tetapi, ia tidak akan pernah membiarkan. Jika ia tidak bisa bersama dengan Adeline, maka Alvin juga tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang telah dibuangnya. Dalam benak Morgan, tidak mungkin Alvin bisa merebut Adeline sampai kapan pun juga. Baginya, itu berarti suatu kegagalan yang merupakan sebuah kemenangan besar untuk teman karibnya tersebut. Secara tidak langsung, ia merasa harga dirinya akan runtuh, jika suatu saat Adeline jatuh ke tangan Alvin.


__ADS_2