
...Happy Reading....
Giandra berjalan cepat mendekati Tiara.
"Tiara__Tiara__!" panggilnya agak keras. Yang di panggil celingak-celinguk mencari sumber suara. Dan setelah ketemu dia terkejut melihat Giandra."Gia?" berjalan mendekati Giandra.
Keduanya langsung berpelukan ketika sudah berhadapan.
"Kamu kok ada di sini?" tanya Giandra setelah keduanya melepas pelukan.
"Aku mau ke sekolah itu__!" kata Tia seraya melihat ke arah gedung sekolah Bina Nusantara."Kebetulan sekolah kita akan bertanding basket melawan sekolah Bina Nusantara. Aku ingin menjadi suporter buat kasih semangat agar sekolah kita menang." Tia menjelaskan. Dia belum tahu kalau Giandra sudah pindah sekolah.
"Oh gitu!" tanggapan Giandra kaget. Jadi Bina Nusantara akan bertanding dengan sekolah lamanya, Jaya Wijaya. Dan dia sama sekali tidak tahu.
"Kamu sendiri ngapain di depan sekolah ini? Mau dukung sekolah kita? Ayo sekalian aja kita ke dalam." kata Tia. Tapi kemudian wajahnya berubah begitu matanya melihat seragam sekolah Giandra."Ini kenapa kamu pakai seragam sekolah Bina Nusantara?" tanyanya melihat logo sekolah BN yang menempel di kemeja putih Giandra.
Wajah Giandra berubah murung yang tadinya ceria karena bertemu temannya.
"Kamu pindah ke sekolah ini?" tanya Tia.
Giandra mengangguk lemah.
"Sejak kapan? Kok Aku gak tahu?" Tiara terkejut. Soalnya baru beberapa hari yang lalu dia bertemu Giandra di sekolah mereka.
"Baru hari ini. Aku pindah mendadak!"
Tiara terkejut."Apa yang terjadi? Kenapa bisa pindah ke sini? Terus panti dan adik adikmu bagaimana?" memberondong Gia dengan pertanyaan karena saking kagetnya.
"Panjang ceritanya." jawab Gia lemas.
"Kita cari cafe terdekat. Aku mau mengobrol banyak sama kamu." kata Tia. Karena mereka sedang berdiri di trotoar.
"Kantin sekolah saja, biar dekat!" tawar Giandra.
"Boleh juga."
Mereka masuk kembali kedalam sekolah dan menuju kantin. Kantin tampak sepi karena semua siswa berada di lapangan menyaksikan pertandingan. Hanya ada satu dua orang saja sedang mengobrol sambil menikmati minuman dingin.
Tia dan Giandra mengambil tempat duduk di balkon agar lebih nyaman dan bebas ngobrol. Tidak berapa lama pesanan mereka datang, hanya jus alpukat saja, karena keduanya masih kenyang.
"Tia, bagaimana keadaan bapakmu? Apa masih di rumah sakit?" Giandra memulai obrolan.
__ADS_1
"Masih menginap dan dalam perawatan dokter, tapi sudah melakukan operasi dua hari kemarin!"
"Syukurlah. Semoga bapakmu segera sembuh biar cepat keluar dari rumah sakit."
"Aamiin!"
"Boleh aku tahu kau dapat biaya dari mana buat operasi bapakmu? Apa kau sudah dapat pinjaman?" tanya Giandra. Karena saat bapak Tia masuk rumah sakit dan harus melakukan operasi seperti kata dokter, Tia seperti orang gila mencari pinjaman ke sana ke mari, ke beberapa tempat. Tapi tidak dapat. Dia juga ikut menemani Tia mencari pinjaman, Tapi tak satupun yang menolong mereka.
"Aku berusaha sendiri Gi! Ada yang bersedia memberiku uang hingga aku bisa membayar biaya operasi dan pengobatan bapak!" kata Tia tersenyum senang. Tapi entah kenapa Gia dapat melihat ada kesedihan yang terselip dari senyuman itu.
"Alhamdulillah Tia, kamu di pertemukan dengan orang baik mau nolong kamu!"
"Iya Gi __!" kata Tiara lemah.
Lagi-lagi Giandra melihat ada yang aneh dari mata Tia.
"Kamu sendiri kenapa bisa pindah sekolah? Kita gak bertemu baru 4 hari tapi sudah banyak kejadian yang terjadi." tanya Tia.
Giandra membuang nafas berat. Wajahnya berubah mendung seketika. Dia tertunduk lesu.
"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" Tia memegang ke dua tangan Giandra. Kedua bola mata sahabatnya ini tampak basah dan memerah.
"Apa pak Kusnadi telah mengusir kalian dari panti?" tanyanya kembali. Karena dia tahu, Kusnadi pemilik rumah yang menjadi panti asuhan tempat tinggal Giandra dan adik adiknya menagih biaya perpanjangan kontrak. Tapi Giandra dan Bik Rima belum memiliki uang. Uang yang telah di siapkan untuk perpanjangan kontrak terpakai untuk biayai pengobatan Qenan dan Qinan. Kusnadi mengancam akan mengusir mereka dari rumah itu.
"Giandra, bicaralah. Kita selalu terbuka selama ini, tak ada satupun yang kita sembunyikan. Apa yang telah terjadi?"
Giandra menyeka air mata yang telah jatuh di kedua pipinya."Aku-aku telah bertemu dengan ibu kandung ku dan dia mengajak aku tinggal di kota ini!" kata Giandra sangat pelan.
Tiara terkejut."Maksud mu, ibumu yang meninggalkan kamu dan kakakmu dulu?"
Giandra mengangguk.
"Bukan kah itu hal yang bagus Gi?"
Giandra geleng kepala."Justru ibuku lebih buruk dari yang dulu Tia. Dia tidak berubah sama sekali. Aku bahkan berpikir, apa aku dan kak Jiandra anak kandungnya atau tidak?" air mata Giandra merembes keluar.
Secara perlahan-lahan Giandra menceritakan kedatangan Regina ke panti dan membantu mereka, lalu berlanjut dengan kontrak perjanjian untuk balas budi bantuan yang diberikan Regina.
"Astaghfirullah _!" ucap Tia kembali terkejut setelah mendengar cerita Giandra. Dia tidak menyangka segitu jahatnya Regina. Manusia sekaligus ibu yang tidak punya hati dan perasaan pada anak sendiri.
Giandra juga menceritakan keadaan Qenan dan Qinan saat ini.
__ADS_1
"Aku bingung Ti, bagaimana caranya mendapatkan biaya pengobatan Qenan dan Qinan. Hanya mereka yang membuat aku pusing sekarang." Giandra kembali terduduk lesu.
"Aku telah mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat dan sudah mengirimkan lamaran pekerjaan di website mereka, tapi belum ada yang menghubungi ku. Aku juga sudah mencoba di beberapa aplikasi pencari kerja tapi lamaran ku ditolak! Bibi Rima juga sudah berusaha keras tapi tidak membuahkan hasil!"
"Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk mendapatkan uang secepatnya, aku akan melakukannya TI, Aku akan melakukan apapun untuk adik adikku.Seandainya mereka menerima lamaran pekerjaan ku, apapun pekerjaannya, akan ku lakukan."
Tiara sangat kasihan melihat sahabatnya, Dia mengelus lembut lengan Giandra yang terlihat sangat putus asa. Hatinya pilu, dan sakit. Karena dia pun beberapa kali di posisi seperti ini dulu. Dia sangat tahu perjuangan dan kerja keras Giandra dan Bik Rima untuk menghidupi anak anak panti, terutama untuk mendapatkan biaya pengobatan Qenan dan Qinan. Giandra bahkan ingin menjual satu ginjalnya, tapi tidak di setujui oleh Rima. Lebih baik Rima saja yang melakukannya. Tapi Giandra pun tidak setuju.
Ponsel Giandra berbunyi sekali, pertanda ada pesan masuk. Ponsel itu tergeletak di hadapan mereka jadi terlihat di jendela pemberitahuan siapa pengirimnya.
Tia yang sudah terbiasa membuka ponsel Giandra mengecek pesan masuk yang berasal dari Bik Rima.
..."Hidung Qenan terus mengeluarkan darah. Di beberapa bagian tubuhnya muncul tanda biru seperti lebam. Dan Qinan kembali pingsan. Dokter menyarankan untuk rawat inap. Dokter juga mengatakan agar Qenan melakukan kemoterapi kembali. Dokter meminta keluarga pasien untuk menandatangani semua prosedur persetujuan perawatan dan pengobatan, juga menyiapkan biayanya. Bibi sudah terlanjur menandatangani karena tidak tega melihat kondisi Qenan dan Qinan. Untuk biayanya Nanti kita pikirkan, yang penting Qenan dan Qinan di tangani dulu."...
Tiara terkejut setelah membaca pesan itu. Sementara Giandra syok. Tubuhnya lemas seketika bahkan kedua tangannya gemetar. Tiara segera memeluk Giandra yang sudah menitikkan air mata, mengusap punggungnya untuk memberi kekuatan.
"Maafin gue Gia karena gak bisa bantu kamu. Uang aku sekarang tinggal sedikit dan sengaja aku simpan untuk biaya pengobatan bapak yang masih di rumah sakit. Belum lagi untuk biaya sekolah adik adikku, biaya hidup kami sehari-hari! Aku___!"
"Aku tahu Ti, aku gak bermaksud minta tolong sama kamu. Karena aku juga tahu kesulitan kamu. Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan. Dari mana aku mendapatkan biaya Qenan dan Qinan secepatnya sementara bibi Rima sudah menandatangani prosedur pengobatan."
"Seandainya aku bisa bantu kamu Gi __!" Tia jadi tidak enak hati.
"Gak apa apa! Tapi boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa Gi?"
"Siapa orang yang membantu kamu meminjamkan uang untuk pengobatan bapakmu? Bisakah aku meminjam uang juga padanya? Nanti setelah aku bekerja, aku akan mengembalikannya sedikit demi sedikit. Tolong katakan padanya seperti itu."
Tia menarik nafas, dia berpikir dan ragu ragu untuk mengatakan"Sebenarnya__!"
Giandra menatapnya yang terlihat Ragu. "Sebenarnya apa Tia? Katakan saja. Apa ada syarat yang harus aku lakukan untuk melakukan pinjaman itu? Katakan saja, aku akan melakukan apapun itu demi adik adikku."
"Sebenarnya aku gak minjam, tapi uang itu aku dapat kan dari kerja keras ku berbagi keringat." kata Tia dengan rendah.
Dahi Giandra mengerut, berpikir apa maksud Tia, dia belum paham."Berbagi keringat? Maksudnya?" batinnya.
"Maksud kamu dengan bekerja keras? Kalau hanya itu aku pun akan berkerja keras. Aku mau melakukannya. Katakan apa pekerjaannya?" desak Giandra.
"Tapi aku ragu Gia, apa kau mau melakukannya?"
"Memangnya aku harus melakukan apa?" Giandra semakin bingung.
__ADS_1
"Itu Gi, jadi Sugar Baby."
...Bersambung....