Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab.18 Mr. L


__ADS_3

Happy Reading.


Giandra menghela nafas begitu menyadari kalau jaket dan ponsel Reza ada padanya lupa di kembalikan. Giandra hendak menghubungi Reza tapi dia tidak tahu menghubungi di nomor mana. Ponsel Reza yang ada pada tidak tersimpan satu nomor pun selain nomor bibi Rima di log panggilan. Giandra heran ponsel ini tidak memiliki kontak nomor siapa pun.


Seperti yang mereka rencanakan, ketiganya bertemu di cafetaria untuk mengerjakan tugas. Untung tempat nongkrong tersebut menyediakan tempat shalat. Jadi Giandra bisa shalat magrib dan isya di tempat itu. Tersedia juga Mukenah dan sajadah.


Giandra yang memiliki otak cerdas dengan cepat menyelesaikan ke tiga tugas mata pelajaran tersebut sebelum pukul setengah 9. Giandra memang sengaja mengerjakan dengan cepat karena berburu waktu untuk cepat pulang ke rumah sebelum pukul 9 malam. Icha dan Lala tinggal mengcopy, tapi mereka juga telah mengerti setelah mendapat penjelasan kembali dari Giandra Giandra.


"Terimakasih udah traktir aku ya?" ucap Giandra. Ketiganya keluar dari dalam cafe menuju parkiran.


"Gak perlu terimakasih, kamu udah bantu kami mengerjakan semua tugas itu. Berkat kamu, kami bisa mengerjakannya. Kami yang seharusnya makasih!" kata Icha


"Iya benar, tugasnya kebanyakan susah dan aku gak ngerti. Tapi berkat penjelasan kamu yang berulang kali, aku bisa memahaminya. Makasih ya Giandra?" timpal Lala. Otaknya memang lemah soal perhitungan.


"Sama sama!" ucap Giandra.


"Kamu pulang naik apa Giandra?" tanya Lala yang sedang memakai helm. Dia dan Icha datang dengan mengendarai motor bersama Icha. Kebetulan Icha menggunakan sepeda motor matic kakaknya yang lagi nganggur, gak kerja. Bukan tidak kerja, tapi shif kerjanya hanya sampai jam 4 sore.


"Aku akan di jemput sopir rumah. Beliau sementara dalam perjalanan ke sini." jawab Giandra.


"Kami akan menemanimu menunggu jemputan. Kita pulang sama sama!" kata Icha.


"Tidak perlu, kalian pergi saja. Mobilnya udah ke sini!" tolak Giandra.


"Gak, kami akan menunggu sampai mobil jemputan mu tiba." Icha dan Lala tetap bersikeras. Terpaksa Giandra menyetujui dan tidak menolak. Ketiganya duduk di bangku yang tersedia di trotoar.


"Ini jaketnya siapa?" tanya Lala melihat jaket kulit di lengan Giandra.


"Punya Reza."


"Kok bisa sama kamu?" Icha dan Lala kaget.

__ADS_1


"Tadi aku pulang sama dia."


"Pulang sama Reza? Kok bisa? Bukankah kamu tadi udah pulang duluan karena ada urusan?" kata Lala.


"Iya benar, tapi batal pulang. Saat hendak mencari taksi, aku gak sengaja ketemu sama teman dekat aku dari sekolah Jaya Wijaya. Dia ke sekolah kita karena ingin mendukung Tim Basketnya dari Jaya Wijaya. Aku gak sempet pamit sama dia waktu pindah ke sekolah ini dan dia juga gak tahu kalau aku udah pindah sekolah ini. Jadi kami ngobrol dan melepas Rindu." Giandra menjelaskan.


Icha dan Lala mangut mangut mengerti.


"Terus kenapa bisa pulang sama Reza?" tanya mereka.


"Karena untuk menghindari Lexi." kata Giandra. Dia menceritakan dari awalnya yang hanya ingin mengembalikan ponsel Reza, terus bertemu Lexi dan di paksa pulang bersama. Tapi untungnya ada Reza.


"Aku ingat perkataan kalian tentang sifat dan kelakuan buruknya. Aku bahkan sangat takut berhadapan sendiri dengan dia tak ada kalian. Tapi untungnya bisa lepas dari dia dan menemukan Reza di parkiran. Saat itu Reza juga mau pulang." Giandra mengakhiri penjelasannya.


"Syukurlah kamu bisa lepas dari pria kasar dan play boy itu." kata Icha.


"REZA memang acuh dan tidak banyak bicara. Lebih suka menyendiri dan melakukan aktifitas olahraga, juga kegiatan yang asik. Tapi dia masih termasuk pria baik dari Lexi. Kami tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita di sekolah ini." kata Lala.


"Kamu tahu gak, suatu keberuntungan kamu bisa pulang sama Reza bahkan sampe makai jaketnya, di pinjami ponselnya juga! Jesika saja yang di gosip kan sebagai kekasihnya gak pernah naik motornya, apalagi makai barang barangnya. Makanya kami katakan Loe siswa di sekolah kita yang beruntung dekat sama dia." kata Icha.


"Benar. Kita aja yang sekelas dengannya gak dekat dengannya, bahkan ngobrol bebas pun gak pernah. Kalau pun ngobrol sama dia hanya yang penting saja." timpal Lala.


"Masa sih?" Giandra seakan tidak percaya.


"Gak ada juga siswa yang mau dekat dengannya, bersahabat dengannya, karena wajahnya yang selalu datar, sikapnya yang acuh, tatapannya yang dingin membuat mereka takut." kata Icha.


"Reza baik kok meski sikapnya begitu. Kalian saja yang terlalu takut dan tidak mencoba untuk menjadi sahabatnya." kata Giandra membela Reza.


"Gimana bisa bersahabat dengannya, bicara aja dia malas. Kita kalau bertanya sesuatu hanya di diamkan. Bikin malas dan bete. Bicara sama dia kayak bicara dengan tembok." ujar Lala ketus.


Icha mengangguk mengiyakan dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Giandra tersenyum lebar melihat ekspresi mereka."Jangan berpikir buruk begitu sama orang. Gak baik! Yang penting Reza tidak seperti Lexi yang suka merayu dan menggoda perempuan."


"Iya juga sih." Lala setuju dengan pemikiran Giandra.


Ponsel Icha berdering, tertera nama kakaknya pada layar. Icha segera mengangkatnya. Kakaknya meminta dia pulang sekarang karena motor mau di gunakan untuk keluar. Bos tempat dia kerja menyuruhnya untuk ke tempat kerja karena ada sedikit masalah.


"Ya sudah kalian pulang saja. Aku gak apa apa kok di sini." kata Giandra.


"Maaf ya Gia, kami harus pergi." kata Icha buru buru mengenakan helm, sama halnya dengan Lala.


"Iya gak apa-apa, hati hati kalian, jangan ngebut."


"Emangnya kita pembalap kayak Reza?" Celetuk Icha.


Ketiganya tertawa.


"By By_ Giandra sampai ketemu besok."


"By__!" Giandra melambaikan tangan.


Giandra duduk kembali di kursi yang berada di trotoar."Kok mobilnya belum sampai? Apa jalanan macet kali ya?" pikirnya. Ponselnya berdering sekali tanda ada notifikasi pesan masuk. Pesan dari Bik Rima yang mengabarkan kondisi terkini Qenan dan Qinan.


Giandra menghela nafas berat, tubuhnya lemas seketika. Dia berulang kali membaca pesan itu. Tiba tiba dia teringat aplikasi SugarDaddy yang di buat Tia tadi. Giandra Segera membuka aplikasi itu. Giandra terkejut melihat begitu banyak pesan yang masuk. Dia melongo membaca setiap pesan. Dia tidak menyangka bakal mendapat penawaran yang banyak. Tangannya gemetar membaca setiap penawaran yang masuk. Ada yang membayar sesuai penawaran, ada juga yang menawar turun harga, ada yang menawar dua kali lipat, bahkan 3 kali lipat, dan semua foto profilnya memiliki wajah tampan dan masih muda. Tapi dia teringat kata Tia, belum tentu foto profil itu adalah wajah asli mereka. Banyak yang editan dan menggunakan foto para model, dan aslinya malah pria tua dan gendut. Giandra belum membalas apa pun. Saat ini dia masih linglung dan gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Sungguh saat ini dia sangat takut dan bukannya senang.


Giandra di kaget kan dengan satu pesan penawaran yang masuk.


Mr. L "Apa kamu masih Virgin? Jika iya, saya akan membayar kamu 300 juta."


...Bersambung....


Maaf ada perubahan kalimat di bab ini.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dukungan untuk author ya, like, vote, kopi, dan kasih 🌟lima. Mampir juga di karya author yang lain ya, Makasih


__ADS_2