
...Happy Reading....
Giandra hendak membaringkan tubuhnya, tapi tiba-tiba dia teringat jaket dan ponsel Reza yang di letakkan di sofa ruang bawah saat pulang tadi. Giandra turun dari ranjang dan segera keluar dari kamarnya untuk mengambil kedua benda milik Reza. Ketika mendekati kamar mamanya, langkahnya melambat tak kalah melihat seorang pria keluar dari kamar Regina. Memakai kaus putih dan celana bokser pendek warna hitam sepaha. Giandra memerhatikan pria itu dengan teliti.
"Siapa dia? Kenapa keluar dari kamar mama?" batinnya. Tubuh tinggi atletis dan berkulit putih di lihat dari lengan dan kakinya yang putih bersih tanpa noda. Giandra berhenti tiga meter di belakang pria itu, yang sedang memegang kenop pintu. Selanjutnya kenop di tarik, pintu tertutup.
Lalu pria itu berbalik, wajahnya yang datar berubah terkejut melihat keberadaan Giandra di depannya, tapi wajah itu kembali berubah datar dalam hitungan tiga detik. Dia menatap Giandra yang masih menatapnya.
"Anda siapa? Kenapa keluar dari kamar mama?" tanya Giandra penuh selidik. Tadi dia hanya melihat tubuh bagian belakang pria ini, dan sekarang dia melihat wajah pria ini. Jauh berbeda dengan wajah pria yang dilihat bersama Regina di dalam mobil tadi. Wajah ini sangat tampan dan kharismatik. Tidak memiliki kumis seperti pria tadi. Rambut juga berbeda. Dan usia pria ini lebih muda dari mamanya. "Apa mama selingkuh? Dan pria ini selingkuhan mama?" batinnya. Karena tadi dia melihat Regina dengan pria lain di mobil, lalu masuk hotel. Pria yang di yakini adalah Nathan, suami mamanya.
Giandra teringat perselingkuhan Regina di masa. Menyelingkuhi papanya dengan pria yang lebih muda dari papanya. Ternyata mamanya tidak berubah, tidak cukup dengan satu dan dua pria. Atau sudah seberapa banyak pria yang berhubungan dengan mamanya?
"Apa mama tidak merasa cukup dengan rumah megah, mewah juga harta kekayaan suaminya yang sekarang?" batinnya. Apa sebenarnya yang di cari mamanya? Dada Giandra terasa sesak, hatinya panas jika benar mamanya selingkuh lagi.
"Kenapa Anda diam Tuan? Aku sedang bertanya?" kembali Giandra bertanya karena pria ini hanya diam dan menatapnya. Tatapan pria yang begitu dingin dan raut wajahnya yang datar sebenarnya membuat tubuh Giandra bergidik takut, tapi Giandra berusaha menekan ketakutannya.
Bukannya menjawab, pria ini malah terus menatap Giandra tanpa berkedip. Matanya menilik dari rambut Giandra yang sedikit ikal bergelombang di ikat pendek, dan memakai bando. Mengenakan dres tidur selutut warna pink, berlengan pendek, sandal tidur berwarna krem. Tapi satu yang menarik perhatian mata pria ini, dua tanda merah di leher Giandra yang mulai memudar. Senyuman tipis terpatri sekilas lalu menghilang cepat. Selanjutnya tatapannya beralih pada perban di lengan tangan kiri Giandra. Cukup lama dia melihat perban itu.
Giandra menutupi perban lukanya dengan telapak tangan saat menyadari di perhatikan.
"Tuan, saya tidak tahu hubungan Anda dengan mama, tapi satu hal yang anda perlu tahu__Mama memiliki suami. Dia adalah wanita yang telah bersuami." katanya tegas penuh penekanan, ada rasa marah juga. Lalu dia melangkah melewati pria itu. Baru lima meter menjauh dari pria itu, Regina keluar dari kamar mengenakan piyama seksi dari bahan tipis. Dia melihat Giandra yang sedang berjalan.
__ADS_1
"Giandra _!" panggilnya dengan suara rendah.
Langkah Giandra melambat, lalu berhenti.
"Kemarilah, mama ingin bicara sebentar dengan kamu." kata Regina kembali.
Kalau bukan karena teringat perjanjian kontrak, Giandra tidak mau mengikuti perintah Regina. Dia sudah dapat menebak kalau mamanya pasti akan memperkenalkan dia dengan pria itu. Terus di suruh menerimanya.
Menghela nafas kasar sesaat, lalu berbalik. Giandra melangkah perlahan mendekati kedua manusia yang sedang melihat ke arahnya.
Regina tersenyum begitu Giandra tiba di depan mereka. Dia merangkul pundak putrinya ini. Perlakuannya sangat lembut membuat sakit hati Giandra. Sikap Regina benar benar berbeda saat mereka hanya berdua. Regina benar benar pintar bersandiwara dan bermuka dua.
"Gia, kebetulan kamu di sini mama akan kenalkan dia sama kamu. Kalian pasti belum saling mengenal karena baru pertama kali bertemu!" kata Regina masih dengan senyum lembut kepalsuannya. Dia menatap pria di depannya."Sayang, Kamu sudah tahu kalau aku memiliki seorang putri, tapi kau belum tahu namanya dan juga belum melihat wajahnya. Nah, ini dia putriku, namanya Giandra." kata Regina. Lalu dia menoleh ke sebelah melihat Giandra."Gia, kenalkan ini suami mama, Nathan." sambung Regina.
Astaga, Giandra mendesis geram dalam hati. Mamanya benar keterlaluan.
"Gia, kok diam? Salami dong papa tirimu." suara Regina menyadarkan Giandra dari lamunannya.
Giandra melihat kembali pada Nathan."Aku Giandra Tuan, putri mama!" katanya kaku. Dia menggerakkan tangan kanannya ke depan ingin menyalami tangan Nathan, meski sebenarnya dia enggan melakukannya, tapi dia harus lakukan sebagai bentuk kesopanan pada orang yang lebih tua. Respek tangan Nathan bergerak menyambut tangan Giandra, dingin di rasakan.
"Tuan? Kamu kok nyebut Nathan begitu? Harusnya panggil Daddy. Bukan Tuan." Kata Regina.
__ADS_1
Giandra kembali tercengang mendengar sebutan Daddy yang di lontarkan Mamanya."Maaf Ma, aku belum terbiasa." enggan menyebut pria lain Daddy, karena baginya sebutan Daddy/papa hanya untuk almarhum papanya.
"Itu namanya gak sopan, kamu harus biasakan memanggil Daddy." kata Regina menatap dengan sorotan tajam, kedua Rahangnya mengeras.
Giandra mengumpat kesal dalam hati. Lagi lagi dia tidak dapat menolak keinginan Regina melihat tatapan menyeramkan itu.
"Jangan hanya diam, cepat panggil Daddy." kata Regina kembali.
"Iya MA." jawab Giandra lemah, lalu menoleh pada Nathan sekilas. Tapi belum sempat dia menggerakkan bibirnya, Nathan terlebih dulu bicara.
"Giandra baru pertama kali bertemu dengan ku. Dia butuh proses untuk menerima orang baru di dalam hidupnya. Tidak perlu di paksa. Perlahan saja untuk membiasakan dirinya memanggil aku Daddy." kata Nathan yang sedari tadi hanya diam. Lalu wajahnya yang datar dan dingin itu tiba tiba tersenyum, dia menatap Giandra "Giandra, Aku Nathan. Suami mama mu, dan sudah pasti kau pun menjadi anak tiri ku. Aku berharap kau menyukai ku sebagai suami mama mu, dan juga menerima ku sebagai papa tirimu! Aku ucapkan selamat datang di rumah ini. Anggap rumah sendiri, dan buatlah dirimu nyaman tinggal di rumah ini. Lakukan apa yang membuat senang dan bahagia." kata Nathan ramah.
Giandra hanya mematung mendengar kata kata perkenalan itu.
"Kemari lah, biar kan aku memelukmu!" kata Nathan membuat Giandra tercengang. Kedua tangan Nathan terbuka lebar untuk menyambut Giandra.
Regina segera menyenggol lengan Giandra karena hanya bengong. Terpaksa Giandra melangkah mendekati Nathan dan masuk kedalam pelukan pria bertubuh atletis itu.
"Aku menyayangimu." terdengar bisikan di telinganya, di sertai usapan lembut di rambut dan punggungnya. Tubuh Giandra bergidik dan meremang berada dalam pelukan ini. Dia segera menarik tubuhnya dari dekapan ke dua tangan kekar itu, tak mau berlama-lama. Entahlah, dirinya seakan tak asing dengan suara dan pelukan hangat ini. Dan satu lagi, aroma wangi tubuh ini juga tak asing oleh hidungnya. Berusaha mengingat, tapi lamunannya buyar seketika oleh suara Regina."Aku senang melihat kalian dekat begini." katanya tersenyum.
"Maaf, Aku mau turun ke bawah, permisi." pamit Giandra.
__ADS_1
Setelah kepergiannya, Nathan melanjutkan tujuannya ke ruang kerja yang tadi sempat tertunda karena bertemu Giandra. Sedangkan Regina mengekor di belakangnya.
...Bersambung....