Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
bab. 32 Di Serang


__ADS_3

...Happy Reading....


Sementara di jalan raya, Giandra memeluk kuat perut Reza yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh. Tubuhnya merinding ketakutan."Za__Reza!" tapi suaranya tak di hiraukan Reza. Laki laki itu terus melajukan motornya gila gilaan. Tak peduli tikungan, lampu merah, belokan dia gas full. Bukan tanpa alasan Reza membalap gila gilaan seperti itu. Dia sedang menghindari kejaran dua mobil yang mengikuti mereka, dan alasan lain, karena hatinya tengah di kuasai amarah melihat Giandra keluar dari Hotel.


Tadi setelah meninggalkan Giandra di pinggir jalan, dia hanya pergi menjauh sedikit, bukan kembali ke kostnya. Tujuannya hanya untuk memantau dan menjaga Giandra dari jauh. Dia tidak mau kejadian semalam terjadi lagi pada Giandra, karena musuh masih mengintai Giandra.


Giandra mengatakan kepadanya punya urusan di area itu, tapi tidak di sangka Giandra malah masuk ke dalam hotel dengan penampilan yang berbeda. Hatinya tidak tenang. Mau apa Giandra masuk ke dalam Hotel mewah bintang lima dengan pakaian seperti itu? Dia Teringat kembali tanda merah di leher Giandra. Mungkinkah Giandra__? Akh, tidak, tidak! Reza menepis pikiran buruknya itu. Tapi meski begitu, dia tetap bertahan menunggu Giandra keluar. Karena dia tahu Giandra tidak akan menginap karena besok pagi harus ke sekolah. Dan dugaannya benar, Giandra keluar dari Hotel Setelah 2 jam lebih berada di dalam sana entah melakukan apa dan bersama siapa.


Flash back.


Melihat Nathan masuk ke dalam kamar mandi, Giandra segera bangun, saat berdiri tiba tiba dia merasa sakit kepala. Giandra merasakan sesuatu keluar dari lubang hidungnya, darah."Muncul lagi!" gumamnya, lalu mengambil tisu beberapa lembar untuk membersihkan darah di hidungnya. Giandra memang beberapa kali mimisan seperti itu jika terlalu capek dan stress. Setelah membersihkan darah dan membuang tisu ke tempat sampah, Giandra buru buru memakai pakaian, lalu keluar meski takut. Dia tahu Nathan akan sangat marah dan pasti akan menahannya menginap di hotel. Dan Giandra tidak mau itu. Dia harus pulang karena besok pagi harus pergi sekolah, dan alasan lain tidak ingin menimbulkan kecurigaan orang rumah. Memikirkan pulang larut malam seperti ini saja dia tidak tenang. Apa yang harus di jawab jika Bibi Fatma bertanya?


Setelah sampai di bawah, Giandra menolak tawaran Manager hotel yang ingin mengantar pulang menggunakan mobil Hotel, yang sebenernya adalah mobil Nathan yang di kendarai Tim. Giandra buru-buru ke jalan raya mencari taksi. Tapi dia kembali di buat terkejut dengan keberadaan Reza yang tiba tiba berhenti depannya.


"Reza, kamu belum pulang?" terkejut.


"Aku menunggumu, cepat naik!" kata kata itu terdengar tegas dan terdengar tidak mengenakan. Di tambah lagi tatapan yang begitu tajam.

__ADS_1


"Menungguku? Astaga, Itu artinya Reza tahu aku dari Hotel?" batin Giandra panik.


"Cepat naik!" kata Reza kembali melihat Giandra bengong. Matanya melirik dua mobil di seberang sana yang mencurigakan.


Giandra segera naik di antara rasa terkejut dan bingung mendengar Reza sengaja menunggunya. Reza memakai kan helm di kepalanya, dan juga jaket tebal. Giandra jadi merasa tidak tenang melihat wajah Reza yang tampak tegang memancarkan kemarahan. Selanjutnya Reza naik, membawa tangan Giandra memeluk perutnya."Peluk erat, jangan di lepas." kata Reza. Giandra menurut. Detik selanjutnya Reza melarikan kenderaan roda duanya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli teriakan bahkan tangisan ketakutan Giandra meminta berhenti dan pelan pelan saja.


FlashBack On.


Reza seperti mendapatkan arahan dari seseorang lewat sebuah alat yang terhubung di telinganya, Reza membawa motor ke arah yang di arahkan oleh orang di seberang sana. Dia menurunkan sedikit kecepatan karena mendengar tangisan ketakutan Giandra. Dan itu membuat mobil yang memburu mereka berhasil mengejar dan menghadang di depan. Reza menginjak rem tiba-tiba dan membanting setir ke kiri detik detik kenderaan roda duanya itu hendak menghantam dasboard mobil. Reza turun dari motor. Sementara Giandra yang sejak tadi ketakutan ikut turun dengan kedua tangan masih memeluk perutnya dari belakang, menyembunyikan dirinya di belakang Reza."Reza, mereka mau apa? Mereka siapa?" tanya Giandra terbata di antara ketakutan, jantung berdegup kencang, tangan gemetar.


"Mereka siapa dan mau apa? Kenapa mereka mengejar kita? Berikan saja apa yang mereka mau. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kita."


"Tidak Giandra, aku tidak akan memberikan apa yang mereka mau!" Reza memegang wajah Giandra, menekan kedua matanya yang basah."Aku akan menghadapi mereka. Karena melarikan diri pun percuma!"


Giandra geleng kepala."Tapi Za, Mereka cukup banyak, mereka akan membunuhmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu! Berikan saja apa yang mereka mau!" Giandra segera memeluk tubuh jangkung Reza dengan terisak."Berikan saja, biar kita selamat! Aku takut Reza __!" Kata Giandra terisak. Bukan hanya karena memikirkan keselamatan Reza dan dirinya tapi dia juga teringat adik adiknya, terutama Qinan dan Qenan.


Reza mengusap rambut dan punggung Giandra lembut."Bagiamana mungkin aku memberikan apa yang mereka minta, tidak akan ku beri apa pun yang terjadi kepada ku. Karena yang mereka inginkan adalah dirimu." batin Reza.

__ADS_1


Selesai ucapannya, Beberapa pria keluar dari dalam mobil dan langsung menyerang mereka. Wajah mereka tertutup topeng. Reza meladeni serangan mereka setelah mendorong tubuh Giandra di belakang motornya. Baku hantam terjadi. Meski hanya seorang diri Reza mampu melawan gerombolan Mafia yang di bayar untuk membunuh Giandra. Reza yang sudah di bekali ilmu bela diri serta memainkan benda tajam pistol dan senjata api dari kecil tentu begitu mudah mengahapi gerombolan Mafia ini. Reza begitu lihai memainkan beda tajam yang di dapat dari salah seorang gerombolan tersebut. Dia memukul dan menghantam benda tumpul tersebut ke area titik vital mematikan hingga membuat beberapa musuh langsung roboh tak sadarkan diri. Selain menyerang dan menangkis serangan musuh, Reza juga melindungi Giandra berjongkok Ketakutan di belakang motornya.


"Reza, awas belakang mu!" seru Giandra keras melihat seorang musuh melayangkan pedang ke arah punggung Reza.


Tapi terlambat, senjata tajam milik salah seorang gerombolan terlebih dulu mengenai lengannya saat Reza hendak menghindar.


"Rezaaa __!" pekik Giandra. Hendak memburu ke arah Giandra tanpa memperdulikan lukanya.


"Tetap di situ." teriak Reza membuat langkah Giandra terhenti dan kembali ke posisi sebelumnya. Reza terus menghalau gerombolan Mafia yang mendekati Giandra. Dia menyerang dengan brutal dan membabi-buta sebelum mereka menyentuh Giandra. Akhirnya satu persatu gerombolan Mafia itu berhasil di lumpuhkan. Keduanya menarik nafas lega. Giandra segera merobek bagian bawah dress-nya lalu di ikat pada lengan Reza yang terluka untuk menekan darah yang terus keluar. Tapi kelegaan yang mereka rasakan hanya sesaat. Karena muncul 3 buah mobil menghadang di depan mereka.


"Za__! Sepertinya kita memang tidak akan selamat!" kata Giandra putus asa melihat begitu banyak pria bertubuh besar kekar berotot keluar dari mobil. Reza segera menaruh Giandra di belakangnya. Dan pertarungan pun kembali terjadi. Musuh lebih banyak menyerang dan menggunakan pedang. Keduanya di kepung. REZA mulai kewalahan karena harus melindungi Giandra. Seandainya hanya dia sendiri, pasti bisa leluasa menyerang dan melumpuhkan kawanan Mafia yang berjumlah lebih dari 20 orang ini meski dalam keadaan terluka di lengan. Tubuh Giandra di tarik ke sana kemari untuk menghindari serangan lawan.


...Bersambung....


Bab. 30 dan 31 sudah up dari semalam tapi belum lolos review,, di tunggu saja.


Jangan lupa tinggalkan dukungan buat author ya, Mksi sebelumnya. Mampir juga di karya author yang lain.

__ADS_1


__ADS_2